Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Amazing Bunda


__ADS_3

Tuuuttt


Sambungan suara telepon terhubung.


"... "


"Walaikumsalam bah" Sahut Bintang.


"..."


"Ini bah, insya Allah besok ayah dan bunda akan datang selepas Zuhur" Ujar Bintang.


"..."


"Mungkin besok saya telat bah, karena harus menjemput Mentari" Bintang masih dalam mode sopan.


"..."


"Baik bah. Assalamu'alaikum" Akhirnya sambungan telepon terputus.


Bintang masih menatap layar ponselnya yang gelap. Secarik senyum benar benar menghiasi wajah tampannya.


Bintang duduk di balkon kamar, dengan sebatang rokok dan segelas cokelat hangat. Sebelum pergi ke ABIN cafe untuk meninjau sumber pernghasilannya tersebut.


"Hekkhemm" Deheman seorang yang paling Bintang sayang.


"Duduk bun..." Bintang mempersilakan bundanya duduk.


"Abang udah dewasa ya sekarang, anak nakal bunda sudah mau bawa mantu" Seloroh bunda, menatap putranya sendu.


"Bunda, tumben nih melow" Goda Bintang.


PLAAK


"Bunda KDRT nih" manyun Bintang, bundanya suka sekali memukul lengan Bintang penuh kasih sayang.


"Abang, sudah siap lahir batin?" Tanya bunda, kentara sekali bunda khawatir dengan putra sulungnya.


"Karena kesiapan mental dan pikiran itu sangat penting" Nasihat bunda.


"Apa bunda ingin segera punya cucu?" Bunda Sara yang mellow mirip marshmello, membuang nafas kasar. Putranya benar benar luar biasa gesrek.


Bintang kini bersimpuh di depan sang bunda, mengulas senyum. Bunda membalas dengan usapan di surai kecoklatan Bintang, entah kemana rasa kesal itu menguap.


"Bunda, terimakasih ya. Bintang bahagia sekali punya bunda seperti bidadari" Ucap Bintang, kini matanya mulai memerah.


Bunda membalas tatapan sayang bercampur haru.


"Bintang juga tidak tahu bun, kenapa Habiba sangat mengalihkan perasaan Bintang"


"Bintang juga dengan lancarnya melamar Habiba bun" ujar Bintang, yang kini menyandarkan kepalanya di pangkuan sang bunda.


"Siapapun itu jodohmu, jaga wanita itu. Terlebih jaga perasaannya" Lirih bunda menahan haru.


Mengingat putranya yang kemarin masih belajar berdiri, kini bahkan sudah memiliki calon pendamping.


"Bunda, Bintang harus apa untuk membuat bunda bahagia?" Melting kan perasaan seorang ibu dengan pertanyaan sesederhana itu.


"Kok bunda malah nangis?" Bintang beralih merengkuh tubuh wanita yang telah melahirkannya.


Membiarkan bundanya menumpahkan rasa dalam dekapannya, meski tak terlalu kekar yang terpenting nyaman. Azeeek azeeek!!


"Bunda, ayo kita ke cafe Bintang. Abang traktir" Bunda tersenyum simpul, Bintang mengusap air mata yang membasahi pipi bundanya.


Sukses betul rayuan maut babang Bintang!


"Ayo bun, kita ke cafe berdua aja" Ajak Bintang lagi, menaikturunkan kedua alisnya.


"Bocah nackal" Ucap Bunda menarik hidung mancung Bintang. "Bunda ganti baju" imbuh bunda lalu mengecup kening Bintang.


"Apa nanti Habiba mengizinkan Bunda memeluk, mencium anak nackal bunda ini?" Tanya bunda dengan nada mulai bergetar.


"Kalau Habiba tidak mengizinkan, Bintang akan berikan banyak cucu buat bunda" Bunda mengernyit bingung.

__ADS_1


"Supaya bunda bisa peluk cium peluk cium duplikatnya Bintang" Kekeh Bintang. Oh itu cara Bintang agar sang bunda tak terlalu bersedih.


"Bunda,, jadi kan kita quality time?" Bintang menggoyang goyangkan tubuh bundanya yang masih dalam pelukan. Aduh sopan kali kamu babang Bin!


Bunda mengangguk, Tak ada salahnya kan jalan bersama anak lelakinya, quality time yang jarang terjadi.


"Bunda..." Langkah kaki bunda terhenti.


"Naik motor Bintang kayaknya seru deh" seloroh Bintang diiringi senyum menggoda. Benar benar Bintang nackal.


"Okey, tapi jika besok bunda masuk angin... " Bunda Sara sengaja menggantung kalimatnya.


"Owh oke oke bunda" Cepat babang Bintang, yang paham betul kemana arah pembicaraan sang bunda.


Bisa batalkan kalau bunda sampai masuk angin.


'Hebat kamu Habiba, bisa meluluhkan bahkan merubah putra nakal bunda. Bahkan mampu mengikatnya tanpa tuntutan' Monolog bunda Sara.


Akhirnya setelah menunggu sekitar sepuluh menit, bunda menghampiri Bintang yang tengah menunggu di teras.


"Wow... Bunda so beautiful" puji Bintang, dengan genitnya mengerlingkan satu matanya.


"Silakan bunda..." Ujar Bintang setelah membuka pintu mobil penumpang.


"Bunda aja deh yang nyetir" Ucap bunda mendapat gelengan dari Bintang.


"Oh no bunda, bisa bisa aku di ketawain semut karena di setirin wanita cantix. Terlebih bunda ini ratunya Bintang" Celoteh Bintang, penuh dengan rayuan pulau kelapanya.


Akhirnya Bintang melajukan mobilnya, bergabung dengan pengendara lain.


"Bunda, bunda ikhlaskan kalau aku menikah?" Tanya Bintang serius.


"Yang penting kamu pegang komitmen dan bertanggungjawab" Senyum tipis bunda, cukup menutupi perasaannya, ia harus rela melepaskan putranya.


"Kamu harus tahu, perempuan itu berpikir dengan perasaannya bukan dengan logikanya" Imbuh bunda Sara.


"Hehehe seperti bunda kan??" seloroh Bintang. Bunda hanya diam enggan menjawab.


"Bun, kita sudah sampai" Ucap Bintang. Ia turun kemudian membukakan pintu untuk bundanya.


"Kenapa gak jujur punya cafe?" Tanya bunda Sara, Bintang hanya nyengir kuda.


"Ini Bintang nyicil bun" Jujur Bintang.


"Bisa ya? kaya perumahan" celetuk bunda Sara yang tak paham.


"Bunda mau duduk di dekat jendela atau yang menghadap jalan?" Berharap bundanya nyaman.


"Mas Bintang..." Sapa seorang karyawan Bintang.


Padahal itu bunda mau jawab loh, sudah hampir membuka mulut dan... GAGAL!


"Mbak Dian, ini bunda. Dan bunda ini mbak Dian yang bantu aku mengelola cafe" Ucap Bintang memperkenalkan kedua wanita itu.


"Saya Dian bu" Sopan Dian memperkenalkan Diri.


"Sara, bundanya Bintang" Ramah bunda menjawab.


Ini bunda Sara memperhatikan sekitar tatapannya terus menelisik meski bibirnya terkatup rapat.


"Bunda, apa yang kurang dari cafe Bintang?" Bunda hanya menggeleng pelan.


"Kurang camilan ini loh" ah babang Bin lupa memesan camilan.


"Maaf bunda" Bintang menggaruk kepalanya.


Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, termasuk para karyawan cafe.


"Bundanya mas Bintang meresahkan" ujar salah seorang karyawan, bernama Rani.


"Lah namanya aja Sultan, perawatan mahal" celetuk mbak Dian.


Bintang memandang bundanya yang menikmati minumannya.

__ADS_1


"Enak bun?"


"ehm lumayan" Sahut bunda. "kenapa?" tanya bunda balik.


"Gak papa kan selera bunda tinggi" ujar Bintang.


"O..." sahut singkat bunda Sara.


"Lah ko 'O' doang bun?" Ini bunda mulai kesal loh dengan perhatian Bintang, yang banyak tanya. Hadeuh bunda!


"Katanya kamu vokalis?" Tanya bunda, menatap lekat wajah Bintang yang masih setelan full senyum.


"Bunda tunggu di sini ya... muach" Bintang berlari kecil menuju ke panggung live music.


"Hallo gue mau ngikut nyumbang lagu, untuk wanita paling gue sayangi. Yang lembut penuh kasih sayang" Ujar Bintang.


Bunda agak tersinggung itu loh di bilang lembut. Hehehe.


Bunda ~ Melly Goeslaw


Kubuka album biru Penuh debu dan usang


Kupandangi semua gambar diri Kecil bersih belum ternoda


Pikirku pun melayang Dahulu penuh kasih


Teringat semua cerita orang Tentang riwayatku


Kata mereka diriku selalu dimanja


Kata mereka diriku selalu ditimang


Nada-nada yang indah Selalu terurai darinya


Tangisan nakal dari bibirku Takkan jadi deritanya


Tangan halus dan suci Telah mengangkat tubuh ini


Jiwa raga dan seluruh hidup Rela dia berikan


Kata mereka diriku selalu dimanja


Kata mereka diriku selalu ditimang


Oh, bunda ada dan tiada


Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku


Pikirku pun melayang Dahulu penuh kasih


Teringat semua cerita orang Tentang riwayatku


Kata mereka diriku selalu dimanja


Kata mereka diriku selalu ditimang


Oh, bunda ada dan tiada


Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku.


Dari tempat duduknya, netra bunda mulai menitik bening. Lagu yang sering bunda dengar, namun sangat menyayat saat putranya sendiri yang mempersembahkan.


"Terimakasih bunda, maaf ya, putra nakal bunda ini selalu membuat bunda khawatir. Abang juga belum bisa buat bunda bahagia, karena ayah sudah sangat membuat bunda bahagia" Ucap Bintang, suaranya bergetar menahan haru.


PROK PROK PROK


Suara tepukan tangan riuh mengiringi untaian kata yang Bintang sampaikan.


"Kenapa ayah gak di ajak quality time?" Tanya seorang pria paruh baya, yang kini tampak awet muda dengan setelan kaos berkerahnya.


"Abang gitu, cuma bunda yang di ajak" Tari pun menimpali ucapan ayahnya.


Nah kan malah jadi acara ngumpul keluarga.

__ADS_1


Sebenarnya bunda Sara yang mengirim pesan agar ayah dan Mentari menyusul ke ABIN cafe.


Benar benar amazing bunda Sara 🌹


__ADS_2