
Cerahnya pagi ini, sang surya saja harus berkecil hati karena sinarnya kalah terang dari pesona Habiba.
"Maa Syaa Allah... Pengantinnya kan Tari, kenapa auranya ada di istriku?" Goda mesra babang, dengan tangan bersidekap dada.
"Masih pagi loh habibi, nanti aku gak sarapan karena sudah kenyang kebanyakan glukosa" Memberikan senyum tulus sebelum tertutup cadar sempurna.
"Boleh peluk?" Habiba langsung masuk ke dalam pelukan sang suami, mengecup ceruk leher Bintang lembut tanpa lebih.
"Jangan cium ya habibi, nanti make up aku rusak!" Kekeh Habiba yang malah menciumi pipi sang suami.
"Dede... Umi lucu yah, curang pula. Abi gak boleh cium cium tapi pipi abi penuh lipstik" Merangkum wajah istrinya yang masih tersenyum simpul.
Yah... Seperti biasa Habintang akan larut dengan sorot netra masing masing.
Menyalurkan kasih sayang melalui tatapan yang mengalirkan desiran penuh cinta dalam hati.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum Bintang, Habiba..." Suara bunda memanggil dari balik pintu kamar mereka.
"Walaikumsalam bund" Sahut mereka kompak, Bintang yang membuka pintu karena sang istri belumlah siap dengan cadarnya.
CEKLEK
"Masuk bun.." Bintang membuka pintu sedikit lebar, membiarkan bunda Sara masuk.
Di sambut senyum hangat Habiba yang masih berdiri mematung di tempatnya semula.
"Maa Syaa Allah... Anak bunda cantik sekali.." Kini giliran bunda yang merangkum wajah Habiba.
Ya, Habiba menggunakan riasan full make up. Memperkuat di bagian mata, meski akan tertutup niqob berserta hijab yang menutup sedikit penglihatannya.
"Makasih bunda..." Sahut Habiba malu.
PLAK
"Rezeki kamu loh bang, dapat istri kaya anak bunda ini" Lah... Anaknya kan babang Bin, mana itu jemari bunda sudah membayang di kulit lengan Bintang. Hah!!
"Sayang, abah dan Umma serta keluarga pesantren sudah nunggu di bawah" Ucap bunda lembut.
Tentu senyum mengembang Habiba yang menjadi candu Bintang itu terukir sempurna. Rona bahagia pun terlukis nyata disana.
"Bunda tunggu di bawah, kalian cepat turun!!" Titah bunda lembut.
"Kami di sini sajalah bunda..." Eh, Habiba memancang suaminya bingung.
Apakah babang enggan menghadiri akad adiknya atau enggan bertemu keluarga sang istri??
"Sayang banget istriku sudah ngalahin bidadari surga gini,, rugi kalau di anggurin" Kumat dong itu si Bintang, yang menggoda terang terangan.
Huuuhhh.. Sabar bunda yang menghempaskan nafas lelah karena polah Bintang.
"Habiba sayang, sabarnya tolong diluaskan sampai langit ke tujuh ya... Jika suamimu ini masih belum sadar juga, panggil bunda dan..." Bahaya sekali sang bunda sudah menjeda kalimatnya.
"Ikhlasin saja apa yang akan bunda lakukan untuk menyadarkan bocah ini!" Kelanjutan kalimat menggemaskan dari bunda Sara.
Habiba mengulum senyum, sudah hafal dengan kelakuan suami dan mertuanya itu. Kedekatan khas mereka.
"Baik bunda, In Syaa Allah..." Jawab Habiba.
Habiba langsung kembali ke meja riasnya, selepas kepergian bunda. Biarkan saja Bintang yang hanya memancangnya penuh senyuman tamvan.
__ADS_1
"Kenapa cantik banget seh?" Meresahkan sekali wajah babang yang bersungut tak suka.
"Aku akan hapus, jika suamiku ini melarang" Bagaimanapun ridho suami itu utama untuk Habiba.
"Apa habibati ku ini merajuk?" Lah, itu tangannya sudah menyelusup masuk ke hijab Habiba. Huuuh!!
"Tidak habibi, aku hanya berhias untukmu" Jemari lembut Habiba riang sekali bermain di pipi sang suami.
Posisi Bintang yang memeluknya posesif dari belakang, membuat Habiba hanya mampu mengusap wajah tampan Bintang.
CUP
Mencuri sedikit ciuman di pipi sang istri sebelum memasang niqobnya.
"Seneng ya, buat aku berdebar setiap waktu" Gerutu Habiba penuh kejujuran.
"Oyaaa?... Aku malah selalu bahagia dan terbang setiap waktu saat bersamamu dan resah penuh kekhawatiran saat jauh darimu" Kalah Habiba jika menyangkut kata kata gombalan.
"Sini mas bantu pasang niqobnya, jangan godain mas mulu" Lah, rese kan si babang. Ia yang lagi ngegombal kenapa nyalahin Habiba.
"Terimakasih mas" Lebih baik dipercepat, suaminya akan mengeluarkan kamus gombalan yang akan mengulur waktu mereka.
Kamus gombalan yang tidak terdaftar di KBBI.
"Mau mas gendong?" Penawaran yang harus Habiba tolak saat ini.
"Boleh, nanti malam saja mas..." Nantang sekali Habiba sekarang, ia sudah menggenggam tangan suaminya dan menariknya turun ke bawah.
Sepanjang menuruni tangga, netra Bintang tak pernah luput memancang apapun yang melekat di tubuh sang istri.
Jemari yang saling bertaut meski berlapis sarung tangan, gelombang pakaian karena gerakan langkah Habiba serta netra Habiba yang terlihat meski hanya sedikit, semakin menambah gelenyar yang mengalun mengiringi rasa.
"Habibati, kamu suka banget buat aku jatuh berulang kali..." Ujar Bintang dengan gaya tengilnya.
Menelisik apa yang melekat pada tubuh sang suami, meski ia paham maksud ucapan Bintang.
Bintang menggeleng " Rasanya begitu indah, enggan untuk berlalu. Jangan berlalu ya?".
"Jika tidak berlalu makan akan terasa membosankan mas..." Sungguh Bintang harus menahan rasa gemasnya pada sang istri.
Kelopak netra Habiba yang sedikit menyipit, menandakan sang empunya tengah tersenyum mengulik jemari Bintang yang ingin membuka cadar dan menyesap bibir ranum di dalamnya.
"Hekhemm..." Dehem ayah Hendra menyadarkan kedua sejoli yang tengah menanti anak pertama.
"Kalian ini ngobrol di tangga, besok ayah pasang eskalator, supaya tangganya bisa turun sendiri" Lanjut ayah dan segera berlalu.
Malu loh memergoki anak dan mantunya yang sepertinya tengah menyalurkan cinta dalam tatapan.
Ada pelangi di matanya kah? Atau ada kerlip bintang kecil yang mengurai kegelapan?
"Assalamu'alaikum..." Sapa Habiba dan Bintang, menyalami umma, abah, mas Reza, Fathan dan Zahra.
Tentu tidak ada jabatan tangan antara Zahra dan Bintang. Jangan lupa ada mbah Hasyim juga disana.
Bintang duduk berdampingan dengan Habiba, setelah Habiba bermanja manja dengan umma tentunya.
"Biba, pegang perutnya..." Tiba tiba saja Zahra sudah duduk di sebelah Habiba.
Tentu ia juga bosan menunggu Tari yang belum turun. Ia di minta langsung oleh bunda Sara untuk mengaji di acara pernikahan Tari.
"Mbak... Gak apa apa?" Tanya Biba, melihat wajah sendu kakak iparnya.
__ADS_1
Zahra mengangguk untuk menutupi kesedihannya " Mbak Oke saja koq, alhamdulillah".
"Nanti Allah juga akan kasih kepercayaan lagi pada mbak Zahra, In Syaa Allah" Senyum sejuk Habiba tak luput dari tatapan Bintang dan Umma.
"Aamiin... " Zahra mengulas senyum, ia pun yakin jika Allah akan memberikan anak lagi setelah keguguran tahun lalu.
BRUM
BRUM
Suara motor tampak berisik di halaman rumah ayah Hendra, siapa lagi jika bukan teman teman babang dan calon pengantin, Rado.
Pengantin pria tampak gagah dengan tuxedo putih. Tak mengurangi ketampanan Rado yang berkulit sedikit cokelat.
"Assalamu'alaikum..." Ramai kan ini Ryan, dan Brian di tambah Reno yang juga tidak kalem hari ini.
"Walaikumsalam..." Serempak mereka yang sudah menyambut kedatangan calon mempelai pria.
Calon pengantin wanita masih ada di kamar tamu bawah, pihak WO masih mempersiapkan kamar pengantin yang sedikit lagi rampung.
Nampaknya kamar Tari akan di ubah jadi kamar cinderela dengan banyak hiasan bunga dan lilin lilin. Heummm, sudah mirip mau ngepet kan tuh, di tambah kain kain putih yang menambah kesan mistis. Eh.. Romantis.
Ayah Hendra mempersilakan besan dan rombongan untuk duduk sejenak. Biarkan saja calon pengantin wanita yang masih bersiap.
Sudah ada MC yang berdiri gagah di depan, memberikan sambutan berjejer jejer kalimat. Bukan lagi sepatah atau dua patah kata, saking banyaknya kalimat yang meluncur dengan susunan rapi nan apik.
DRRRTTT
Tak menunggu lama Habiba mengangkat telepon Eka. Gadis itu sepertinya salah alamat.
"Habibi..." Bisik Habiba memegang lengan, seraya mengusap dada bidang sang suami.
"Ehmm... Iya Habibati, nanti yah di kamar" Bisik babang gak jelas banget.
"Temenin aku jemput Eka, dia kesasar" Lah, itu bola mata biasa aja kali bang, drama banget di buat melotot begitu.
Tidak mungkin Habiba menjemput Eka seorang diri, suaminya pernah mewanti wanti agar ia tak pernah keluar sendirian.
Hemm.. Banyak pasang mata menyaksikan betapa Habiba begitu menghormati suaminya, dari caranya mengusap lengan Bintang, untuk berbicara.
Tapi ada juga yang baper karena Bintang dengan nyaman melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, sedikit menunduk untuk mendengarkan istrinya berbicara.
"Gimana Bintang gak bucin coba??" Reno, menunjuk dengan ekor matanya.
"Yang di sentuh Bintang, gue yang meremang.." Mulut Ryan emang yah, habis makan Oli kali. Licinn!
PLAK
Akhirnya tangan Bryan yang mendarat manja di pahanya. Hemm panas gak tuh paha.
Jika gak banyak orang mungkin mereka akan adu panco ibu jari. Kesel loh, itu paha belum di asuransikan sudah di tabok mesra.
Tanpa Biba ketahui suaminya sedang pantomim bogeman mentah pada ketiga sahabatnya. Jelas saja ia mendengar, karena mereka memang berdekatan.
Mereka berjalan keluar rumah menjemput Eka, dan ternyata Eka baru saja turun dari taxi.
"Maa Syaa Allah Eka..." Betapa takjubnya Habiba, Eka tampak berbeda dengan gamis panjang warna hijau Sage.
"Habibi masuk sana, aku yang tunggu Eka" Berani sekali Habiba mengusir suaminya.
CUP
__ADS_1
Bintang mengecup pucuk kepala istrinya "Hemm cantik... Tapi mas cintanya sama Habiba seorang" Ucap Bintang yang langsung kembali masuk.
Tentu saja netranya mengawasi sang istri dari dalam, ada nyamuk nempel satu aja akan terlihat olehnya.