Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Menahan Sakit


__ADS_3

TAP TAP TAP


Langkah seorang dengan gagahnya, memasuki sebuah ruangan di mana sudah ada beberapa orang pria disana.


"Bro..." Sapa seorang dari dalam.


"Assalamu'alaikum..." Bedakan sekarang yang sudah punya istri solehah.


"Walaikumsalam..." Kompak mereka menyambut salam Bintang.


Bintang mendudukkan b*kongnya di kursi samping Rado, si arsitek gesrek.


"Calon abang ipar duduk samping gue" Hadeuh... Godain doang gak berani lamar. Payah!!


"Kasihan Tari kalau sama lo, kebawa error" Cibiran Ryan tepat sasaran, mewakili pikiran Bintang.


Sebuah bantal kursi turut mewarnai pembicaraan mereka, turut terbang ke wajah Rian seolah membalas hinaannya.


"Kalian sepertinya berjodoh" Aiiihhh... Candaan siapa ini? Koq kayanya benee. Eh!!


"Brian... Lo mau nyumbang apa, kalau mereka married?" Nah.. Babang Bin malah ngadi ngadi kan. Suka nambah nambahin yang ada.


"Gue yang bayar catering..." Celetuk Brian. Rian dan Rado sudah meradang dengan godaan kedua Sahabatnya.


Dimana Reno?


Biasa babang Reno belum bisa hadir, masih ada pekerjaan. Secara diantara mereka Reno lah yang harus mengurusi kantor sang papa.


"Bin... Kapan mulai manggung? Tari aja kalau lo sibuk" Bintang memicing, selalu kesal jika bawa bawa sang adik.


"Biar Tari juga punya ilmu, toh bokap lo juga selalu ngasih mata mata buat Tari selama ini" Lanjut Brian yang memang benar adanya.


"Biar nanti gue bilang Tari, harus minta ijin ke ayah dan bunda dulu" Sahut Bintang akhirnya.


Mereka tengah menjalankan projek untuk video mereka, sekarang mencari uang lebih mudah lewat internet. Wajah mereka yang tidaklah jelek cukup mampu menarik perhatian khalayak milenial.


"Untuk sewa aman kan ini..." Eh... Rado minta gratisan sewa kan ini sama si Rian, hemat cost.


"Hemmm..." Gelegar mereka bertiga, Rian hanya bergumam malas. Meskipun biasanya Rianlah yang menanggung soal alat musik dan studio. Lah secara dia bosnya studio...


KLUNTING


Sebuah pesan masuk ke ponsel Bintang, matanya menyipit namun tetap santai membuka isi pesan.


Gue ke rumah ayah dan bunda ya... Nanti malam, serius gue lamar adek lo

__ADS_1


"Koq wajah lo gitu Bin?" Kepo Rian, melihat raut wajah Bintang yang campur aduk. Meski kesan gantengnya tetep dominan lah yak!! Maaf Othor suka orang ganteng soalnya...


"Owh ini... Udah gue iyain koq orangnya..." Sahut Bintang. "Nanti malam gue gak bisa ikut yah, mau ada acara di tempat bunda" Lanjut Bintang, sebagai kode jawaban pesan dari Rado. Jadi... Yang chat itu bang Rado??


Yaa Allah... Mereka duduk jejeran loh, koq malah chatingan. Jangan selingkuh bang Bin...


"Kalian masih pada mau disini?" Tanya Bintang sedikit menepuk paha Rado. Dan Rado bergeming guys... Tidak berani membalas, bisa bisa lamarannya di tolak sebelum sampai depan gerbang ayah Hendra... Menyakitkan!!


"Gue mau ketemu klien di Habintang cafe, mau bikin rumah katanya..." Sahut Rado.


"Cafe gue jam segini belum buka dodol..." Gemas Bintang.


"Nanti Bintang, jam 11... Gue ***** juga nih" Kesal Rado. Mereka ngelayap terlalu pagi bukan.


"***** *****... Ini sudah ada merk nya yak... HA BI BA.." menekan kata Habiba. Mereka semua tahu Bintang berubah menjadi lebih baik, karena Habiba. Dan entah apa yang kan terjadi jika ia tak menikah dengan Habiba...


Haaaahhh... Ruangan itu terlalu berisik karena ke empat laki laki itu. Sayangnya Reno sibuk, jam segini ia pasti sudah ada di akntornya.


"Gue cabut yak... Ke bengkel nih, lumayan ini pada modif..." Ujar Bryan bangkit, di susul ketiga temannya yang memang harus bekerja di tempat masing masing.


Bryan sudah pergi dengan mobilnya, Rian sudah kabur dengan motornya dan kini giliran Rado yang menahan Bintang pergi.


"Tinggal ke rumah, gak usah sok gak enak gitu. Urusan di Terima apa gak itu bukan hak gue Do" Serobot Bintang, yang sangat paham mengapa Rado menahannya.


"Gue grogi Bin..." Celetuk Rado jujur Sejujurnya.


"Ah... Biar groginya nambah Thor" Eh..!!


"Gue telepon bunda dulu, mau ngabarin. Untuk Tari surprise ajah" Ujar Bintang menepuk bahu Rado.


Rado masih menunggu dan harap harap cemas akan jawaban bunda Sara di seberang sana. Ah... Ditolak sebelum datang apa di Terima untuk di tolak?


"Nih... Bunda mau ngomong langsung" Bintang menyodorkan ponselnya ke Rado. Ia hanya berdiri tampan bersandar di kap mobilnya.


"Assalamu'alaikum bunda..." Sopan Rado, alhamdulillah sudah plus salam juga.


"..." Bunda Sara.


"Eh... Eh... Eeeee mau silaturahim ke rumah bunda..." Tampak pucat dan sangat lucu di mata Bintang.


"... " Bunda Sara.


"Iya sekalian mau ngomong penting sama bunda, om dan Tari juga" Melirik arah Bintang yang tanpa ekspresi. Horor banget tuh muka bang!


"... " Bunda Sara.

__ADS_1


"Nanti bunda selepas Isya.." Bintang melihat Rado yang malah menggigit kukunya seperti perempuan.


"..." Bunda Sara.


"Iya makasih bunda... Walaikumsalam" Rado menghembuskan nafas kasar. Dan... Betapa leganya, si mulut berbicara dengan sedikit terbata. Masih untung lah dari pada gagu! Huh!!


Dengan senyum mengembang Rado mengembalikan ponsel Bintang, biarkan saja Bintang masih dengan wajah datarnya. Yang penting kan Mentari ya kan??


"Waras? Banyakan baking soda lo?" Sindir Bintang, meski dalam hatinya merasa senang jika adiknya akan punya lelaki yang menjaganya.


"Lo sakitin Mentari... Gue..." Ancaman Bintang dengan gaya memotong leher. "Plus gue sunat, kasih ke piranha.." Lah lah lah habis dong bang??


Setelah ancam ancaman itu Bintang melajukan mobilnya ke cafe, sudah lama ia tidak ke sana. Kasihan juga kan mbak Dian, Habiba juga ia tahan di rumah untuk selalu menemaninya yang sakit. Manjah!!!


Baru jam satu siang, tubuhnya merasa begitu letih. Ia memilih menjemput istrinya di kampus. Menunggunya beberapa saat, tentu juga ada Mentari bersama dengan Habiba.


"Habibati..." Rengek Bintang, setelah Habiba dan Mentari dihadapannya. Mentari hanya menggeleng samar melihat kelakuan abangnya.


"Kamu yang nyetir yak... Mas capek banget, nyeri" Habiba mengangguk sebagai jawaban.


"Iya mas... Ayo Tari, kita anter pulang" Riang dong Mentari, lumayan kan ongkos dari Bintang utuh juga.


Dalam perjalanan Bintang hanya meletakkan kepalanya di sandaran jok mobil, kesehatannya belum pulih total ternyata.


"Tar... Nanti gue anter depan rumah aja yah... Salamin ke bunda. Mau anter abang kamu ke rumah sakit dulu" Ujar Habiba. Suaminya yang biasanya ceria kini tampak lemah.


"Siap kak.. Apa Tari ikut ajah" Sahut Tari, ia pun melihat wajah abangnya yang sepertinya menahan sakit.


"Gak usah... Nanti abang dan kak Biba juga nginep koq" Habiba tak merespon ucapan Bintang, ia pun tak paham dengan rencana dadakan sang suami. Tari saja tak membalas lagi, ia melihat abangnya yang memejamkan mata.


Habiba kembali melajukan mobilnya langsung ke rumah sakit, mungkin ada yang suaminya rasakan hingga meminta diantar ke rumah sakit.


"By... Sudah sampai" Lembut Habiba membangunkan Bintang. 'Wajah kamu pucat banget seh..' benar benar khawatir dengan keadaan Bintang.


Padahal hari ini hari pertama Bintang beraktivitas setelah adu jotos dengan Panji, dan tubuhnya langsung kembali drops...


Habiba memancang wajah Bintang, yang perlahan membuka matanya. Bulu mata Bintang yang tak lentik mengerjap lucu.


"Nanti jatuh cinta loh, di pandang terus!" Seloroh Bintang. Eleuh babang... Padahal belum melek sempurna loh itu, sempet yaaaah!!


"Maa syaa Allah Habibi... Semoga kamu selalu menggoda aku yah, sampai akhir hayat kita" Ucap Habiba manis, semanis manisnya...


"Sampai akhir hayatku Habibati..." Lirih Bintang tersenyum.


"Mas..." Resah Habiba, yang tiba tiba menerobos masuk hatinya. Tidak sopan!!

__ADS_1


"Ayok masuk!!" Ajak Bintang. "Mau mas gendong... Hemmm!!" Habiba tersenyum dengan penawaran sang suami.


"Boleh... Kalau di dalam kamar..." Mengecup pipi Bintang dari balik cadarnya.


__ADS_2