
Seperti pagi kemarin, pagi ini Habiba turut turun ke dapur membantu mbok Yem.
Habiba bergegas lari ke arah pintu mendengar salam dari suaminya.
"Walaikumsalam yaa Habibi..." Bintang merentangkan tangannya, meminta Habiba masuk dalam dekapannya.
"Kan anget... di luar dingin!" selorohnya, sebelum menghujani wajah Habiba dengan kecupan.
"Kangen..." Padahal baru dari masjid loh, bukan dari luar kota berbulan bulan.
'Maa Syaa Allah... Imamku...' Habiba kembali mencari kenyamanan dalam dada bidang Bintang.
"Kangen juga sama suami?? hemm" Goda Bintang, menusuk nusuk pelan punggung Habiba.
"Hemmm..." Gumamnya singkat, masih memeluk tubuh yang selalu mendekapnya di malam hari.
"Mas... Nanti pulang kuliah aku ijin ke pesantren ya??" Lembut sekali... Namun Bintang hanya memasang wajah datar seolah berpikir.
"Tentu boleh... Nanti mas antar yak!!" Habiba auto mengangguk senang.
"Sayang... Ke kamar yuk!" Habiba patuh, meski konsekuensinya ia akan terlambat ke kampus.
Bintang mengganti pakaiannya, membiarkan Habiba duduk manis di sofa kamar.
"Habibati..." Panggilnya manja bin mesra.
"Ya Habibi!" Sahut Habiba tak kalah gemas.
Bintang terkekeh, merasa sangat spesial bagai seorang raja.
"Ini... Mas lupa... Maaf yaaa" Habiba menerima kartu debit, Bintang tidak memberikan istrinya ini kartu kredit.
"Habibati... Semua penghasilan masuk disini, mas juga punya seh secukupnya buat beli rokok" Hah jujur sekali loh abang sayang!
"Bad habits nya bisa di kurangi mas? maaf" Habiba menangkup wajah tampan sang suami.
"Rokok dan kamu itu sama sama bikin nyandu... Honey!!" Kekeh Bintang.
"Maaf mas ngerokoknya buat nemenin mikir, sayang! Biar gak stress" Imbuh Bintang, mengecup bibir Habiba singkat.
"Maaf kemarin aku tidak ada di samping mas" Sesal Habiba.
"Kemarin kamu pasti lagi banyak pikiran?" Lirih Habiba mencari kejujuran dari mata tajam namun teduh suaminya.
"Kok tauk?" Nada mengesalkan dari Bintang, mirip komedi di acara televisi.
"Sayang, jangan senyum senyum mulu. Kamu bercadar aja aku tergoda gimana kalau udah mode senyum begini. Pengen aku mangsa!" Habiba mencubit gemas pipi suaminya, rasanya tak habis kata untuk menggodanya.
"Mas... Aku serius..." Oh tidak Biba, nada manja yang kamu ucapkan itu buat suamimu semakin ingin menggoda. Hah!!
"Aku juga banyak rius honey" ucapnya lalu menoel dagu Habiba sayang.
__ADS_1
"Sudahlah mas, aku bisa terbang nyangkut di rumput teki kalau kamu terus godain aku" Manisnya neng Biba dengan semburat merah yang menghiasi wajahnya.
Dipikir loh ini rumput teki itu setinggi apa?
CUP
"Aku ganti baju dulu, mau ngampus.." Bintang masih di tempat setelah mendapat kecupan dari Habiba.
Akhirnya Bintang mengantar Habiba ke kampus.
Netra Bintang memindai jelas siapa lelaki yang menghampiri istrinya, sesaat Habiba memasuki gerbang kampus.
"Oh... Jadi kamu Affan?" Gumam Bintang yang turun menyusul Habiba.
"Habibati..." Panggilnya sedikit berteriak. Habiba auto tersenyum sekaligus was was melihat langkah lebar suaminya.
"Ada yang ketinggalan barang aku... Ya Habibi?" lembut menggetarkan jiwa, bahkan Affan terkesiap, tidak menyangka gadis yang ia ajak ta'aruf sudah menjadi istri orang.
'Yaa ampun beruntungnya yang jadi suami kamu' lebih baik mengagumi dalam diam.
"Sayang, nanti pulang jam berapa?" Tanya Bintang tanpa melirik Affan yang masih mematung diantara sepasang suami istri.
"Habibi... Kenalin ini Affan.. Dan Affan kenalin ini suami aku.. Bintang" Tak mau kan rumah tangga yang baru seumur hidup nyamuk sudah di rusak kesalahpahaman.
Bintang menatap istrinya sesaat, yang memberinya kode melalui kedipan mata.
"Bintang... Belahan jiwa ustadzah Arwa0.." Bahasanya itu loh bang, bikin panas dingin yang denger. Hadeuh!!
"Affan, teman kampus Habiba..." Balasnya, tidak mungkin mengatakan 'laki laki yang mengagumi istrimu' cukup pertumpahan air mata jangan pertumpahan darah. Ah..!
"Habibi..." Bintang mengulas senyum, harus tahan sabar mempunyai istri cantik luar dalam.
"Hah... gue cemburu"
"Gue??"
"Jangan dekat dekat laki laki manapun. Kalau tidak mau suami kamu ini cosplay jadi monster upin ipin karena cemburu" Seolah tak perduli ini di area kampus, Bintang malah menangkup pipi Habiba. Pernyataan hak milik!
"Iya... itu juga berlaku buat kamu mas..." Reaksi babang yang bikin Habiba semakin jatuh hati.
"Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love" Maklumin saja dia kan seorang vokalis, mendadak gelar mini konser di kampus. Hiburan yang meresahkan! hah!!
"Habibi..." Lemah Habiba.
PROK PROK PROK
__ADS_1
Banyak dari kaum mahasiswi yang turut mendekat dan bersenandung.
"Mas... kamu bikin gaduh, aku gak siap cemburu loh" Pandangan lembut Habiba membuatnya ingin mengajaknya kembali pulang.
Riuh karena ulah suaminya sudah berlalu, bahkan kini ia sudah selesai dengan kelasnya.
"Hemm..." Deheman Eka menyadarkan Habiba yang masih terbayang kelakuan suaminya.
"Undangan gue mana Biba?" Eh... siapa seh tiba tiba minta undangan.
"Undangan apa Eka?" Jadi Eka yang menjadi tersangka.
"Undangan nikah lo sama Bintang... Ahh patah hati gue" seloroh Eka dengan wajah memelas maksimal.
"Bukan jodoh lo Ekooo" Sudah pasti kan ini si Mentari yang nyamber.
"Nama gue Meyka, Eka... Lah ini bocah satu malah manggilnya Eko..." Eka sudah sewot sewot dengan panggilan Mentari yang berbeda dari yang lain. Sabar yah Eko...!
"Ka... duduk dulu sini" Eka auto nurut sama Habiba, duduk si sampingnya. Mirip anak TK yang di ancam tidak akan di belikan permen.
"Biba... Koq gak ngundang gue" Rengek Eka yang sangat penasaran.
"Maaf ya Eka, nikahnya mendadak"
"Jangan mikir ngeres woy..." Serah Mentari yang paham akan pikiran Eka.
"Itu di jidat lo banyak tanda tanya" Imbuh Tari yang melihat Eka hanya melongo.
"Sorry Ka,," Tulus Habiba. Eka segera memeluk Habiba turut bahagia.
"Congratulations and be happy Habiba..." Senyuman Eka untuk Habiba, tidak untuk Mentari yang tampak kesal karena mendapat julukan lidah.
"Jangan berantem mulu, nanti jodoh loh" Seloroh Habiba menyatukan tangan Eka dan Mentari. Apem makan apem dong ah!!
"Kak Biba..." Eka dan Habiba mengalihkan atensi pada Mentari.
"Ah... Cie kakak..." Serobot Eka seraya terkikik, merasa lucu pada kedua teman kampusnya yang sekarang menjadi kakak adik...
"Itu di tunggu abang di depan?" Lupakan saja Eka yang bercicit cuit seperti beo.
Habiba mengernyit bingung, karena ia merasa masih ada satu kelas. Mentari hanya menggedikkan bahu.
"Masih ada 25 menit lagi, gue keluar dulu ya" Pamit Habiba pada kedua temannya. "Assalamu'alaikum.." Habiba benar benar berlalu meninggalkan Tari dan Eka.
Biarkan saja jika mereka akan adu mulut, adu kepalan pun boleh atau mungkin akan jingkrak jingkrak saling berpelukan! Mungkin!!
'Maa Syaa Allah, semoga ketampanan fisik suamiku itu pancaran dari hatinya' Bintang bersandar nyaman di samping pintu mobil, satu tangan dimasukkan ke kantong celana. Di tambah kaca mata hitam yang bertengger mesra di hidungnya. Meresahkan!
"Tar Tar... Lihat tuh..." tunjuk Eka yang ternyata turut keluar bersama Mentari.
"Apaan? kayak cacing kena garem!" cicit Mentari, lengannya bukan ****** bayi yang main di tepuk tepuk nyaman geto.
__ADS_1
"Laki orang meresahkan jantung gue!" Bener bener kan si Eka pengen di mandiin es boba di tangan Tari.
"Eh diem Ekooo!! Abang gue dah ada pawangnya. Jadi pelakor lo?" Geram Mentari, pengen ngunyah mulut Eka yang terus mengagumi abangnya.