
Mentari menggeser posisi Habiba, ia masih saja masuk dalam pelukan sang abang.
Sedang Habiba yang berdampingan dengan kedua mertuanya.
Jika dalam pelukan bunda pasti akan banyak tausyiah dan wejangan sepanjang pantai maldives.
"Tari... Malu dong sama kakak ipar kamu!" Bunda menginterupsi.
Wajah bunda nampak kesal dengan polah putrinya yang tiba tiba kolokan, namun senyum tulus Habiba mengalihkan kekesalannya.
"Bunda... Biarin aku meluk abang iiihh!" Rengek Tari.
Sungguh Habiba ingin sekali tertawa dengan tingkah Tari, kenapa jadi mirip murid PAUD yang minta main ayunan di jam pelajaran. Iiissttt...
"Nanti Rado cemburu..." Babang malah semakin menggoda sang adik.
Semenjak kepulangan Rado tadi bersama papinya, Tari langsung meleyot mirip kerupuk kena air.
Oh... Ada apa dengan Tari?
Flashback On
CUP
Bintang mengecup kening Mentari begitu lama, menangkup kedua sisi wajah adik satu satunya yang tampak dirundung kegalauan. Hah...
"Abaaaang..." Rengeknya berhambur memeluk Bintang.
"Kak Biba... Pinjem abang bentar" Ujar Tari yang semakin sesenggukan.
Hemm... Baju babang sampai basah karena campuran ingus dan air mata Mentari. Fiyuuh!
"Belum siap?" Mentari mengangguk, sebagai jawaban.
"Mau abang batalin?" Habiba hanya duduk memancang interaksi kedua kakak beradik tersebut.
"Kasihan bang Rado, nanti kecewa" Sahut Mentari membingungkan.
"Dari pada kamu yang malah tiap hari nangis..." Mencoba menenangkan sang adik.
Oh... Nakalnya babang, netranya tetap setia pada sang istri. Bahkan wajah teduhnya menenangkan di saat Bintang tengah menangani sang adik yang kerasukan siluman manja.
"Bukan gitu bang, Tari belum siap kalau suruh nikah sekarang" Ujarnya dengan bayangan bayangan yang berseliweran di kepala.
Habiba masih saja mengulum senyum, diapun pernah di situasi seperti ini. Lihatlah sekarang, awalnya menolak kehadiran Bintang, akhirnya menerima dan sekarang?
Turut manja dan selalu merasa rindu meski baru sekejap mata berpisah. Ditambah sudah ada janin yang bersemayam dalam rahimnya.
"Emang mau dinikahin sekarang?" Goda Bintang, memang perlu ini si Tari di kasih pelajaran serius.
"Yak enggaklah... Kan tadi Tari dah ngomong" Sahutnya terisak.
"Kan masih ada tiga hari lagi" Semakin menggoda sang adik.
"Huwaaa... Abang tiga hari kan cepet" Tangisnya semakin menjengkelkan di telinga Bintang.
Hemm... Mungkin Tari belum tahu enaknya jadi menolak dan jika sudah tahu akan menyesal. Hehehe.
"Lamarannya mau di tolak?" Masih sabar loh ini si babang menghadapi Tari. Jangan sampai tanduk keluar dan nyeruduk kaya banteng.
"Ya gak juga..." Kini bukan hanya Bintang yang melongo mendengar jawaban Tari, Habibapun turut menutup mulutnya menahan tawa.
Adiknya ini memang langka di pasaran, the one and only.
"Tar... Kata bunda bang Rado sudah di depan..." Habiba menginterupsi. Terlalu lama jika harus menunggu drama dari Mentari.
__ADS_1
"Habibati... Tolong bantu perbaiki wajah Tari yah, mas mau ke depan dulu" Dikira wajah Tari jalan aspal bolong bolong kali yak sampai di perbaiki segala.
"Ketok magic kali bang" alhamdulillah sekali Tari sudah mampu berseloroh ketus.
Beberapa saat menunggu dengan jantung bergejolak, akhirnya Mentari turun beriringan dengan Habiba.
Di sana sudah ada papi Rado, ayah dan bunda tentu saja si babang Bin juga sudah berada disana.
Lihatlah senyum papinya bang Rado, tampak menyetujui pilihan putranya.
"Sejak kapan adik kamu memakai cadar Bin?" Eh... Papinya Rado salah orang kah?
Semua pasang mata tertuju pada papinya Rado.
"Pih..." Rado nampak tak enak hati dengan keluarga Tari.
"Iya tahu, itu istrinya Bintang..." Huuhh... Ya ampun orang tua sekarang sukanya nge prank.
Senyum papinya Rado benar benar seolah tak ada rasa bersalah, setelah membuat degup jantung mereka sunyi sejenak.
"Pak Hendra dan Ibu Sara, apa bisa pernikahan mereka dilaksanakan dalam tiga hari ke depan?" Tembak langsung papi Rado. Papi Gunawan.
Biba meringis, dengan kuat Tari meremas jemarinya. Ia pun sama terkejutnya dengan Tari tentang hari pernikahan mereka.
Tapi lebih cepat lebih baik, kedua keluarga sudah setuju. Hanya Tari yang terlalu overthinking dengan pernikahannya sendiri...
"Serahkan kepada anak anak pak.." Mencoba bijak karena ia tahu Mentari sedari tadi takut menikah meski tidak menolak lamaran Rado.
"Gimana nak Tari?" Tembak papi Gunawan, hingga Tari tergagap.
Dengan sabar Habiba mengusap lembut punggung tangan Mentari mencoba menenangkan gadis itu.
Tentu saja tangan Tari dingin berkeringat, sama seperti Habiba dulu.
"Eh... Eumm.. Terserah ayah dan bunda saja om" Bunda Sara dan ayah saling pandang dengan jawaban Mentari.
Itu adalah jawaban teraman yang mampu Tari berikan, bagaimanapun ia akan tetap mengikuti keputusan orang tuanya.
"Yakin kamu terserah ayah dan bunda?" Bunda Sara angkat suara, gemas juga dengan Tari yang malu malu takut begitu. Hemmm...
"Iya bundaaa.." Rado saja berdesir hebat mendengar jawaban Tari pada bunda nya.
Rado Rado gimana kalau Tari tadi yang langsung mengiyakan, mungkin akan koprol sampai genteng tetangga. Haaah!
"Kami Terima pak..." Sambar ayah Hendra.
Disini Habiba lah yang harus banyak bersabar, sabar menahan tawa, menahan sakit di tangan, sabar tidak memukul adik iparnya itu.
Mentari mendelik mendengar keputusan sang ayah yang tanpa basi basi langsung menyetujui.
Flashback Off
Dengan sabar Tari menenangkan hatinya sendiri, ia tak akan menolak menikahi Rado. Yah... Hanya saja waktunya terlalu dekat dan cepat tentunya.
"Ya ampun bang Rado, koq beneran mau nikahin gue seh..." Cicitnya dengan nada malu.
Sepertinya Tari ingin bunuh diri dengan membenamkan wajahnya di atas bantal.
Kurangajar sekali Rado menari nari penuh senyuman memenuhi kepalanya.
"Bang Rado mau gue usir baik baik atau mau pergi sendiri dari otak gue?" Nah kan, tanda tanda calon penghuni rumah sakit kewarasan. Uppss!
Tinggalkan Mentari yang masih tenggelam dalam pikiran rancunya. Beralih ke dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar Tari.
Hemmm... Babang tampak begitu tamvan dengan sarung dan peci hitam di kepalanya.
__ADS_1
Menguar aura wibawa seorang pemimpin, sang istri saja tidak pernah absen memindai wajah tamvan itu.
'Terimakasih Yaa Allah, kau kirimkan imam yang tampan hatinya dengan bonus rupawan sedap di pandang mata. Alhamdulillah!' senyum Habiba mengusik babang yang masih sibuk dengan laptopnya.
CUP
"Maaaasss..." Malu Habiba ketahuan memancang wajah suaminya.
"Habibati... Ngerusak konsentrasi mas!" Menarik satu pipi Habiba yang sudah merona karena malu.
"Ya udah, aku tidur sama Tari ajah..." Eh...
"Ada yah, orang ngambek makin ngegemesin dan makin cantik gini.." Babang sudah bersidekap dada, nampaknya ia harus mengikuti Tari dengan memainkan drama bersama sang istri.
Tak disangka babang, kelopak sang istri malah semakin berembun dengan nada datar Bintang.
Lah... Padahal lagi dipuji loh itu.
"Aku ke kamar Tari, biar gak ganggu konsentrasi mas..." Lirih Habiba mengusap pipinya yang telah basah.
CETLEK CETLEK
Cepat Bintang mengunci pintu kamar dan membawa kuncinya ke atas lemari, di jamin istrinya tidak akan sampai. Nackal sekali.
Tanpa menghiraukan Bintang Habiba masuk ke dalam kamar mandi, ia mengambil wudhu sebelum tidur.
Wajah Habiba yang basah memancarkan kecantikan alami yang mampu menjadi magnet tersendiri.
"Cantik sekali seh istriku..." Eitz Habiba langsung mundur.
"Mas... Aku sudah wudhu, mau sunat dulu!" Ancaman yang selalu Bintang dapatkan jika mengganggu istrinya yang sudah wudhu.
"Maaasss" Rengek Habiba menghindari sentuhan tangan sang suami.
Bintang begitu usil mengejar pelan istrinya, suka sekali melihat tampang kesal bercampur malu dari sang istri.
"Ayoo... Pasti ada yang akan wudhu lagi nih..." Habiba sudah pasrah.
Baru melihat jemari Bintang yang di gerakan seolah menggelitik saja sudah membuatnya geli, di tambah tampang mesum Bintang yang tiada obat. Huuuhh...
GREP
Akhirnya Habiba kalah juga, suaminya sudah membawanya ke atas ranjang mereka.
"Ayo cari pahala bareng bareng..." Ujarnya benar benar tak membiarkan sang istri mengelak lagi.
Habiba paham itu adalah kewajiban seorang istri, pahala dan nikamtnya yang tidak juga main main.
"Mas... Selesaikan dulu pekerjaannya" Pinta Habiba, mengusap lembut pipi Bintang.
"Khumairah ku ini sudah merusak konsentrasi..." Kekeh Bintang yang tiada henti menjelajahi setiap inci wajah Habiba.
"Apa aku mengganggu kamu?" Tanya Habiba dengan wajah sendu, meski masih menikmati sentuhan sang suami.
"Sangat mengganggu" Sahut Bintang menjadi.
"Maaf..." Lirih Habiba sudah menangis.
Bintang menghentikan aktivitasnya, memancang sang istri yang serius menanggapi ucapannya.
"Hemm... Habibati maaf yah, mas hanya bercanda" Ucapnya sendu.
"Ustadzah Arwa ini selalu berhasil mengambil alih duniaku... Cie cie.." Habiba benar benar dipaksa tersenyum dengan godaan babang.
Bukan hanya mengalihkan tapi sudah mengambil alih dunia babang Bin.
__ADS_1