Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Sorot Mata Penuh Cinta


__ADS_3

Bintang masih cengar cengir, duduk bersebelahan dengan Habiba, istrinya... Ahay membuncah gak seh suara hatinya, akhirnya bisa bersanding juga dengan gadis yang menghias dunianya.


Setelah acara sungkeman yang diwarnai haru biru lautan, semua orang menikmati perasmanan khas jalanan.


Area pesantren seperti bazar jajanan gratis. Semua santriwan dan santriwati disana pun turut menikmatinya.


"Bintang... Mantu bunda jangan di godain mulu" Kesal bunda Sara.


"Gak koq bun, cuma liatin istri aja..." Sahut Bintang seadanya.


Sudahlah, Biba makin menunduk malu, mulut suaminya sulit dikondisikan.


"Biba, kalau Bintang nakal, langsung telepon bunda ya" Nasihat bunda yang patut di contoh.


"Baik tan... Eh bunda" Jawab Biba, ia tak ingin salah sebut lagi. Merasa tak enak sudah di peringatkan beberapa kali.


"Bunda, Uma, Biba, abang, mbak Zahra.. Mau makan apa ini, nanti Tari pesankan" Ujar Mentari memberi penawaran.


"Ayo Tar, pesan sama mbak ajah" Ujar Zahra.


"Lah, mbak yakin?" Tanya Tari memastikan.


Zahra mengangguk "Mbak juga pengen lihat lihat di depan Tar".


" Uma, tante. Mau di bawakan apa?" Kini Zahra yang tampak semangat.


"Kalau untuk pengantin baru, satu porsi saja biar romantis" Bukan Zahra namanya jika tidak sempat menggoda.


"Bunda ikut saja, pengen lihat juga" Ucap bunda lalu bangkit.


"Uma mau ikut juga?" Zahra dengan nakal mengedipkan matanya pada Uma.


Zahra ini menantu idaman banget kan ya..


"Iya boleh" Sahut Uma singkat, kemudian bangkit.


'Yes!!' Sorak dalam hati Bintang, situasi yang menguntungkan.


"Uma..." Rengek Habiba. Bintang masih bergeming, duduk santuy. Menjadi penonton saja rencana para wanita.


"Biba temani suamimu, nanti Tari yang akan antar makanan kalian" Tutur Uma lembut, membuat Habiba pasrah dan kembali duduk.


DEG DEG DEG


Jantung Habiba sangat sulit diajak bercanda, malah semakin rusuh membuat huru hara.


"Ayok, kalau mau keluar" Ajak Bintang, ia tahu jika Habiba masih sangat tidak nyaman jika hanya berdua dengannya.


"Emmm... Apa mas lapar?" Tanya Habiba tanpa memandang suaminya. Malu malu kucing tetangga ceritanya kan.


"He'emm laper seluruh tubuh" Sahut Bintang asal.


"Maksudnya??" Tanya Habiba penasaran.


Bintang melepas jasnya, merasa sangat gerah. Tapi Habiba malah memalingkan wajahnya.


Ini mereka sebenarnya masih di ruang depan, dan semua orang berada di halaman untuk menikmati kuliner abang abang gerobak.


Lumayan kan rejeki si abang abang kaki lima yang di borong dadakan. Alhamdulillah.


"Biba, ayo keluar" Ajak Bintang, menggandeng tangan Habiba.


Auto nyengir ini loh si babang, reflek Habiba menarik lagi tangannya... Haissshh gagal!!


"Mas a... aku... " Habiba bahkan sampai terbata mirip anak PAUD belajar baca.

__ADS_1


"Cium aja deh..." Goda Bintang mencondongkan tubuhnya.


"M... mas, jangan buat jantungku lelah deh" Jujur Habiba, yang merasa jantungnya tak baik baik saja.


"Kita baru sah loh, koq lelah seh??" Bintang memasang wajah kecewa.


"Bu... bukan gitu mas" Habiba merasa bersalah dengan ucapannya.


"Maaf..." Imbuh Habiba lirih.


Bintang mengangkat dagu Habiba, lalu memberikan senyuman hangat "Aku bercanda, sayang".


"Ke kamar yuk..." Random banget kan si abang nih. Muka Habiba sudah memerah menahan segala rasa.


"Mas, tadi katanya laper?" Jelas banget kan Habiba mengalihkan pembicaraan.


"Mau langsung pulang ke rumah kita atau mau disini dulu" Ucap Bintang, tanpa menjawab pertanyaan Habiba.


"Mas, malam ini disini dulu ya. Aku capek" Jujur Habiba.


"Assalamu'alaikum" Bunda masuk bersama Mentari.


"Walaikumsalam..." Sahut Biba dan juga Bintang.


Bunda meletakkan beberapa bungkus makanan di atas meja.


"Bunda, sama Tari pulang dulu ya? Ayah sudah nunggu" Ujar bunda Sara, Mentari memindai wajah Habiba yang tampak salah tingkah.


"Ada salam dari ayah, tante dan teman teman kamu" Imbuh bunda Sara.


"Bunda, gak nginep aja?" Tanya Habiba, lebih mendekat ke ibu mertuanya.


"Gak sayang, kalian istirahat saja" jawab bunda Sara membelai lembut wajah Habiba yang masih tertutup cadar.


Setelah kepergian bunda, Fathan masuk membawa tas ransel yang berisi beberapa baju Bintang.


"Kata abah, kalian istirahat saja. Di depan sudah tidak ada tamu" Ujar Fathan.


"Uma dimana mas?" Tanya Habiba yang tak melihat umanya kembali masuk.


"Uma disini, tadi lewat pintu samping. Uma ke kamar dulu ya, ngantuk" Tutur Uma.


"Mbak Zahra kemana uma?" Bukankah tadi Uma pergi dengan Zahra.


"Mbak mu lagi jalan jalan sama mas Reza, Uma minta mereka mengawasi santriwati yang masih habisin jajanan gerobak" Jawab Uma sambil berlalu.


"Mas, terimakasih tasnya" Tulus Bintang, Sedang Fathan hanya mengangguk samar.


Habiba membawa beberapa bungkus makanan, sedang Bintang membawa tas ranselnya.


"Biba, kamar mandi dimana?" Tanya Bintang setelah masuk ke dalam kamar Habiba.


"itu mas" Tunjuk Habiba.


Bintang melangkah ke dalam kamar mandi dengan tergesa, sudah gak tahan buang air kecil.


"Habibati, jangan buka cadarnya dulu" Ujar Bintang sebelum memasuki kamar mandi.


Habiba duduk, seraya menyiapkan makanan yang tadi bunda bawakan.


"Astaghfirullah lupa bawa minum" gumam Habiba.


Habiba menulis di secarik kertas lalu meletakkan di atas nakas. Terus turun untuk mengambil minuman.


"Loh, Biba, kamu koq di dapur?" Tanya abah yang melihat putrinya masih di dapur.

__ADS_1


"Ambil minum bah, lupa tadi" jawab Habiba.


"Biba, layani suamimu sebaik mungkin. Dia imammu sekarang" Nasihat abah.


"In syaa Allah bah" Patuh Habiba. Abah mengecup kening Habiba sebelum berlalu ke kamarnya.


"Assalamu'alaikum" Ucap lirih Habiba saat masuk ke dalam kamarnya.


Ternyata suaminya masih berada dalam kamar mandi, lama juga si babang.


CEKLEK


Suara pintu kamar mandi terbuka, rambut Bintang sudah basah dengan tubuh berbalut handuk yang melingkari pinggangnya.


'Astaghfirullahalazim, senam jantung ini namanya' Habiba sudah kembali fokus pada makanan di depannya.


Dengan santai Bintang mengambil baju di dalam tasnya. Ini lupa apa sengaja di lupa lupain seh?


"Biba..." Panggil Bintang yang kini berdiri di hadapannya.


"Astaghfirullahalazim" Pekik Habiba yang merasa kaget.


Sepertinya Habiba masih sawan, melihat Bintang bertelanjang dada.


Bintang duduk jongkok di hadapan Habiba, "Boleh aku buka cadarnya?" Tanya Bintang, Habiba mengangguk sebagai jawaban.


"Cantik..." Puji Bintang tulus, Habiba hanya menunduk tanpa menjawab.


"Mas, silakan dimakan dulu" Ujar Habiba, Bintang hanya tersenyum, sangat kentara kegugupan di wajah Habiba.


"A.. aku bersih bersih dulu mas" Ucap Habiba, hendak bangkit namun Bintang menahannya.


"Biba, kita makan dulu" Habiba pun patuh.


Suapan suapan yang Bintang berikan terasa berbeda dari suapan Uma dan abah.


Satu jam pun berlalu, Habiba sudah selesai makan bahkan sudah selesai mandi.


Mereka duduk di kursi kaca balkon kamar Habiba, Bintang masih menatap Habiba lekat.


"Mas, jangan liatin aku begitu" Ujar Habiba.


"Kamu lebih cantik, dari yang di halte bus" Habiba tersenyum dengan ucapan absurd Bintang. Melemparkan ingatan pada saat pertama kali mereka bertemu.


"Biba..." Bintang menggenggam tangan Habiba.


Habiba ini masih mode penyesuaian detak jantung, bawaannya gugup dan deg deg an.


Bintang membawa wajah Habiba agar memandangnya, "Biba..." Nada suara berat Bintang.


"Look at me!" Habiba meremang dengan cara bicara suaminya.


Perlahan Bintang mengunci pandangan Habiba. Bintang membawa tangan Habiba agar menyentuh dada kirinya.


"Luar biasa rasa ini untukmu Habiba, Sampai pernah aku berpikir melepaskanmu" Masih lekat memandang manik mata Habiba. Indah!


"Mas..." Rasanya sulit untuk Habiba melanjutkan kata katanya dalam situasi seperti ini.


Bintang mengecup kening Habiba dalam, ada rasa bahagia di sana.


"Terimakasih, sudah menerimaku" Senyum Bintang sangat memabukkan. Candu!


"Terimakasih atas perjuanganmu melalui jalur langit" Tulus Habiba.


Mereka hanya sama sama tersenyum dan mengunci pandangan, seolah menikmati sorot mata penuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2