
"A_Abang"lirih Realyn.
Menyadari jika sang adik merasa kurang nyaman Ardi pun akhirnya mengurai pelukannya.Menatap dengan lembut wajah sang adik lalu membelai wajah cantik itu.
"Lupakan.Lupakan apa yang Abang katakan tadi jika itu membuatmu tidak nyaman.Abang tidak akan menuntut jawabanmu Dek.Abang hanya ingin mengutarakan apa yang selama ini Abang rasakan dan selama bertahun-tahun ini Abang sembunyikan.Abang lelah jika harus terus berpura pura tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu.Apalagi saat ini perasaan itu kembali hadir dan kian menggebu setelah malam panas itu.Maaf jika Abang lancang karena memiliki rasa ini"jelas Ardi yang tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya dan juga rasa khawatir jika setelah ini sanga adik akan menjauh darinya.
"Ke_kenapa minta maaf?A_Abang tidak salah,bukankah perasaan itu tumbuh tanpa kita minta dan tidak bisa kita atur pada siapa rasa itu jatuh dan menetap?"
"Kamu tidak marah sama Abang?"
"Kenapa harus marah?Abang tidak menykitiku dan tidak melakukan hal yang membuatku terluka.Jadi kenapa aku harus marah?"
"Setelah ini,kamu tidak akan menjauh dan menghindarikukan?"
"Pertanyaan yang konyol.Yang ada Abang yang menjauh dan menghindar karena harus bersama dengan Kak Mayra"jelas Realyn yang tiba tiba memasang wajah berenggut.
Membuat Ardi merasa gemas dengan tingkah sang adik yang kini menunjukan seolah dirinya tengah dilanda rasa cemburu pada istri pertama dari sang kakak sekaligus suami untuknya itu.
Melihat sang istri yang berenggut Ardi pun akhirnya tertawa lepas dan kembali merasa rileks setelah beberapa saat merasa tegang saat mengutarakan perasaan nya.
"Kok ketawa sih?iss,nyebelin.Awas ah aku mau tidur,sudah malam capa juga"ucapnya sembari bangkit dari duduknya diatas pangkuan Ardi.
__ADS_1
Namun saat Realyn akan naik keatas ranjang tubuhnya kembali tertarik ke arah belakanh hingga Realyn harus berbalik dan menabrak dada bidang Ardi.
Jantung Realyn kembali berpacu dengan cepat saat tangan kekar Ardi kembali melikari pinggang nya dan mengunci tubuh yang dulunya mungil kini nampak lebih berisi.
"Kenapa?marah,hhmm?"
"Ng_nggak,kanapa juga harus marah?"jawab Realyn yang kembali dilanda rasa gugup saat Ardi mendekatkan wajahnya diwajah sang adik.
"Kalau tidak marah,lihat Abang dong"
Perlahan Realyn pun memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk bertatapan dengan kakak yang kini sudah menjadi suaminya.
"Janji ya,setelah ini jangan pernah menghindariku apalagi pergi dariku"tanya Ardi yang hanya dijawab anggukan oleh Realyn.
"Iya Abang sayang,aku janji"
"Eh?panggil apa tadi?"
"Ng_nggak ada.Sudah ah ayo kita tidur,sudah malam dan aku cape"jawabnya gelagapan dan meminta untuk keduanya tidur untuk menghindari pertanyaan sang suami.
"Baiklah,ayo kita tidur"
__ADS_1
Melihat wajah sang istri yang terlihat begitu tegang,Ardi pun memilik untuk mengalah dan tidak lagi menggoda sang istri.
Perlahan Ardi mengurai pelukannya dan menuntun Realyn untuk naik ke atas ranjang.Keduanya pun kompak membaringkan tubuh lelah mereka di atas ranjang di salah satu kamar hotel berbintang yang tengah mereka tempati saat ini.
Setelah memastikan Realyn berbaring dengan nyaman,Ardi pun segera membenahi selimut untuk menutupi tubuh keduanya.Lalu ikut berbaring di samping Realyn.Ardi menyusupkan sebelah tangannya ke bawah ceruk leher Realyn untuk dijadikan bantalan oleh sang istri.
Ardi pun kemudian mendekap erat tubuh Realyn memastikan jika sang istri tidur dengan nyaman di dalam pelukannya.
"Tidurlah dan selamat Bermimpi indah sayangku"ucapan Ardi memberikan ucapan selamat tidur pada sang istri sembari membenamkan satu kecupan di keningnya
Realyn sendiri hanya bisa mengangguk untuk menjawab ucapan penghantar tidur yang diberikan oleh Ardi.
Saking gugupnya Realyn sampai tidak bisa mengeluarkan satu kata pun.Namun dia juga tidak bisa menutupi betapa bahagianya dia saat ini.
Bisa tertidur di dalam pelukan sang suami yang begitu dia rindukan selama ini.Namun tidak bisa dia utarakan demi menjaga perasaan seseorang.
*
*
...🌸🌸🌸...
__ADS_1
"