
Ardi terus menimang bayi mungil itu agar lebih tenang didalam gendongan nya.Beberapa kali kepala kecil mungil itu menoleh lke arah brangkar dimana sang ibu tengah terbaring tak sadarkan diri sudah sebulan lamanya dia menutup mata cantiknya itu.
Meski tidak menangis histers namun sang bayi nampak begitu gelisah walaupun kini sudah ada didalam gendongan sang ayah.
Merasa gerakan sang anak agak aneh dan terus menoleh ke arah ranjang dimana Realyn terbaring Ardi pun dengan sigap berinisiatif mendekatakan tubuh mungil itu untuk lebih dekat lagi dengan sang Ibu.
Dan benar saja,setelah semakin dekat Shasa nampak jauh lebih tenang.Ardi pun akhirnya memutuskan untuk duduk kembali dikursinya semula sembari mengayun putri kecilnya agar tertidur.
Namun etah apa yang dirasakan oleh bayi mungil itu,meski sudah beberapa kali matanya menutup kerena kantuk namun detik kemudian mata itu terbuka kembali.
"Kenapa tidak tidur sayang kalau ngantuk?bobo ya Nak,Ayah akan disini menemanimu"
Bisik Ardi pada putrinya,namun nampaknya tidak berpengaruh pada bayi mungil itu.
"Kenapa Nak?apa dia tidak mau tidur"
Tanya Mamah putri mendekati Ardi saat melihat pria itu nampak tengah menenangkan sang putri.
"Iya Mah,tidak tahu kenapa dia tidak mau tidur.Padahal terlihat ngantuk banget"keluh Ardi.
"Coba baringkan didekat Realyn,siapa tahu dia mau tidur dekat dengan ibunya"
"Tapi,apa tidak apa apa membiarkan bayi tidur satu ranjang dengan orang sakit?"
__ADS_1
"Seharusnya sih nggak boleh,tapi dicoba saja dulu.Kasihan jugakan kalau nahan kantuk nanti sakit"
"Baiklah,kita coba ya.Bismillah"
Ardi pun langsung membaringkan tubuh mungil putrinya itu tepat disamping tangan Realyn yang terbebas dari jarum dan selang infus yang sudah satu bulan ini menancap ditangan nya.
Dan benar saja,tidak membutuhkan waktu lama bahkan tidak perlu botol susu agar bayi itu tertidur.Mata mungil nan lentik itu tertutup dengan sendirinya saat tubuhnya menempel dengan tangan ibunya.
"Masya Allah Nak,kamu pasti kengen sama Bunda ya?sampai rewel demi tidur didekat Bunda"
Lirih Ardi dengan mata yang berkaca kaca.Tak kuat menahan haru saat melihat putrinya tertidur lelap disamping tubuh ibunya yang masih setia menutup kedua mata indahnya.
"Biarkan mereka istirahat Nak.Kamu lebih baik makan dulu gih.Biar Mamah yang menemani mereka disini"
"Selesaikan lah,biar mereka berdua Mamah yang jaga"
Ardi pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sofa dimana menu makan untunya sudah tertata rapih di atas meja.
Meski enggan untuk memasukan makanan itu kedalam mulutnya namun Ardi harus memaksakan nya.
Tidak mungkin baginya menjaga putri dan istrinya dalam keadaan sakit.Maka meski pun selera makan nya telah hilang namun Aedi harus tetap memaksakan diri untuk mengisi perutnya agar bisa tetap bertahan demi manjaga dan merawat istri serta anaknya.
Sementara Mamah Putri kini menatap kedua wajah yang sama sama tengah menutup mata mereka.
__ADS_1
"Bangun sayang,lihatlah.Putrimu begitu merindukanmu Nak"lirihnya.
Tangan nya terulur menggenggam tangan putri kecilnya yang kini sudah memiliki putri kecil juga.
Satu tetes cairan bening meluncur dari sudut mata indahnya.Rindu,satu kata dengan sejuta rasa yang bergemuruh didalam dadanya.
Saat Mamah Putri sibuk menetralkan kembali perasaan nya tiba tiba tangan nya merasakan pergerakan dari tangan putri yang ada didalam genggaman nya.
Meski belum yakin sepenuhnya,tapi Mamah Putri meyakini jika putrinya sudah bisa merespon apa yang dia bicarakan.
"Masya Allah Nak,cepat panggil dokter Ar"
Seru Mamah Putri mengejutkan Ardi yang tengah menikmati makanannya.
"Ke_kenapa Mah?"
"Istrimu Ar,ta_tangan istrimu bergerak"
Deg...
*
*
__ADS_1
...🌸🌸🌸...