
"Bagaimana,apa tidak ada yang ketinggalan?"tanya Ardi pada kedua oranng tua nya.
Saat ini Ardi dan juga Realyn tengah bersiap untuk mengantarkan kedua orangtua Ardi ke Bandara.
Hari ini kedua orang tua Ardi dan jug Ardan akan kembali ke Singapura untuk kembali melanjutka pekerjaan mereka dan kehidupan mereka yang memang berasal dari sana.
Meski asli Indonesia namun mereka sudah nyaman dengan kehidupan mereka disana.Selain bisnis yang sudah berjalan dengan baik,ternyata hidup dinegri orang tidak seburuk yang dibayangkan.
Malah mereka jauh lebih nyaman disana dari pada dinegara nya sendiri.Hal itu bukan berarti mereka tidak cinta dengan tanah air.
Tentu saja mereka masih mencintai tanah air hanya saja kahidupan mereka sekarang ada disana.
"Semua sudah siap,ayo kita berangkat sekarang"
Semuanya pun kini masuk kedalam mobil yang sama.Ardi menggunakan mobilnya untuk mengantarkann ayah,ibu serta adik satu satunya itu ke Bandara.
Dan setelah menempuh waktu hampir satu jam,mobil Ardi pun tiba diBandara.Saat Ardi tengah sibuk menurunkan koper koper milik keluarga nya Ardan pamit ke toilet terlebih dahulu.
"Bang,aku tinggal ke toilet dulu bentar ya.Nanti kita ketemu diruang tunggu keberangkatan"
"Ok,jangan lama lama.Takut ketinggalan entar"
"Ok"
Ardan pun mempercepat langkahnya karena sudah tidak tahan lagi menahan panggilan alam itu.
__ADS_1
Setelah mengantri dengan beberapa orang yang sudah datang lebih dulu akhirnya kini giliran dirinya yang masuk kedalam salah satu bilik yang ada didalam toilet pria itu.
Setelah selesai menyelesaikan urusan nya di toilet Ardan pun keluar dan berjalan menuju ke arah keberangkatan.
Ditengah jalan Ardan mendapatkan sebuah notif pesan diponselnya.Karena itu adalah urusan pekerjaan maka Ardan pun memeriksanya sambil berjalan.
Hingga tanpa sengaja Ardan menabrak tubuh seseorang hingga tubuh mungil itu terpental dan akhirnya tersungkur jatuh kelantai.
"Awww,ssstttt"pekiknya karena lututnya berbenturan dengan lantai hingga menimbulkan denyut yang cukup menyakitkan.
"Astghfirullahaladzzim,maaf mbak.Kamu nggak apa apa?"tanya Ardan mencoba membantu membangunkan gadis berhijab itu.
Namun belum juga tangan nya sampai ditubuh sang gadis,Ardan langsung menariknya kembali saat melihat wajah yang kemarin bertemu di acara pernikahan sang Kakak.
"Kamu?"
"Ardan,namaku Ardan Ayana.Bukan Mas yang kemarin"gerutu Ardan yang langsung memasang wajah muram.
"Ah iya maaf"jawab Ayana jadi merasa tidak enak hati karena lupa dengan nama pria yang kini ikut berjongkok didepan nya.
"Ayo bangun,baju kamu nanti kotor.Bisa bangun sendiri?aku bisa bantu sih,tapi aku yakin kamu pasti menolaknya"kata Ardan yang mendadak kebingungan sendiri saat berhadapan dengan seorang gadis sholehah yang begitu menjaga jarak dan sentuhan lawan jenis yang bukan mahram nya.
"Bisa pinjam bahu kamu?"
"Bahu aku?untuk apa?"
__ADS_1
"Untuk aku gunakan sebagai pegangan biar nggak jatuh untuk ke dua kalinya"
"Oh begitu,baiklah silahkan.Tenang bajuku bersih kok jadi aman"Ardan pun mendekatkan dan sedikit mencondongkan tubuhnya agar Ayana bisa memegang bahu pria itu yang tertutup kemeja dan juga jaket bomber yang dia pakai.
Dengan begitu meski mereka bersentuhan namun masih terhalang oleh pakaian yang pria itu kenakan dan itu cukup aman untuk Ayana.
Ayana pun sedikit mencengkram bahu Ardan dan tanpa disengaja kulit bahu Ardan terbawa masuk kedalam cengkraman sang gadis.
Ardan pun hanya bisa memejamkan mata dan mengigit bibir bawahnya saat rasa nyeri dan perih itu dirasakan dibahu kekarnya.
Dan akhirnya Ayana pun bisa bangkit dan berdiri dengan susah payah menahan sakit dan linu dibagian lututnya.
"Terima kasih"lirih Ayana saat sudah berhasil berdiri dibantu oleh bahu Ardan sebagai pegangan.
"Kaki kamu baik baik saja?bisa berjalan?"
"Sakit sih,tapi kayanya masih bisa dipake jalan"
"Kamu mau kemana?biar aku bantu?"
"Tidak usah,terima kasih.Sebentar lagi adikku tiba dan aku disuruh menunggu disini"
"Oh begitu,yakin nggak apa apa menunggu sendirian?"
"Yakin,silahkan saja jika sudah mau pergi.Aku nggak apa apa kok.Adik aku juga lagi jalan kesini"
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu,aku temani sampai adik kamu tiba disini,ya"
...***...