Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 17 ( Kecelakaan maut )


__ADS_3

Bu Asih kini angkat bicara setelah melihat Fahri dan Mentari membuka pintu kamar mereka.


"Fahri, Mentari, Ibu mau pamit pulang sekarang ya," ujar Bu Asih.


"Lho kenapa Ibu tiba-tiba memutuskan untuk pulang sekarang, bukannya Ibu mau menginap di sini karena gak ada teman di rumah?" tanya Mentari.


"Iya tadinya Ibu mau menginap di sini, tapi barusan pihak Yayasan penyalur Asisten rumah tangga menelpon Ibu, mereka bilang jika barusan sudah mengirim Asisten rumah tangga ke rumah, jadi kasihan kan kalau harus disuruh balik lagi ke Yayasan," jawab Bu Asih.


"Iya juga sih Bu, terus Ibu sekarang pulangnya mau naik apa?" tanya Fahri.


"Tadi Ibu udah pesan Grab, tapi barusan malah di cancel," jawab Bu Asih.


"Ya sudah kalau begitu biar Fahri antar pulang dulu sebelum kami berangkat ke Puncak, lagian Mentari juga belum sempet packing-packing," ujar Fahri.


"Maaf ya Ibu jadi ganggu kalian," ujar Bu Asih yang merasa tidak enak.


"Ibu kok ngomong begitu sih sama Anak sendiri. Ibu tenang saja, kami berdua juga masih punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama," ujar Fahri dengan tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu Ibu pulang dulu ya Mentari, Fahri nya Ibu pinjam dulu sebentar," ujar Bu Asih dengan memeluk menantu kesayangannya.


"Iya Bu, Ibu sama mas Fahri hati-hati ya di jalan, Awas mas jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya," ucap Mentari.


"Iya sayang, mas tinggal dulu ya sebentar, ingat pesan mas tadi," ujar Fahri dengan mencium kening Mentari lalu memeluk tubuh Istrinya dengan erat.


Entah kenapa rasanya mas tidak rela melepaskan pelukan ini sayang, batin Fahri.


"Duh..Pengantin baru meluknya lama amat," goda Bu Asih.


"Eh maaf Bu, Fahri lupa kalau ada Ibu," ucap Fahri dengan cengengesan.


Akhirnya Fahri dan Bu Asih kini masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya mengucapkan Salam, dan mereka tampak melambaikan tangannya kepada Mentari.


"Kenapa ya daritadi hatiku rasanya gak enak banget, semoga saja tidak akan terjadi sesuatu yang buruk," gumam Mentari dengan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


"Sayang ayo makan dulu," ajak Bu Rima dan Pak Hasan.


"Nanti aja Bu, Mentari nunggu mas Fahri pulang," jawab Mentari.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu kami makan duluan ya," ujar Bu Rima.


"Iya Bu, Mentari juga mau packing-packing baju dulu, supaya nanti saat mas Fahri datang kami bisa langsung berangkat," jawab Mentari dengan masuk ke dalam kamar.


Pada saat Mentari masuk ke dalam kamar, yang pertama kali dia lihat adalah Foto dirinya bersama Fahri yang ditempel di dinding.


"Baru juga kita berpisah beberapa menit saja, rasanya aku sudah kangen banget sama kamu mas," gumam Mentari dengan senyum-senyum sendiri.


Tiba-tiba Foto yang Mentari pandangi kini terjatuh ke lantai kemudian pecah.


Prangggg


Mentari pun langsung kaget dibuatnya.


"Astagfirullah, semoga saja ini bukan pertanda buruk," gumam Mentari dengan mengambil pecahan pigura yang hancur.


Awwww


Tangan Mentari mengeluarkan darah karena tergores oleh pecahan kaca.


Dilain tempat Fahri dan Bu Asih sedang panik karena rem mobil yang saat ini dikendarai oleh Fahri sudah tidak berfungsi.


"Fahri juga tidak tau Bu, padahal tadi semuanya baik-baik saja, dan kemarin mobilnya sudah di servis juga," jawab Fahri dengan terus mencoba menginjak rem, karena saat ini mereka berada di jalan yang menurun.


"Sebaiknya kita terus berdo'a Nak," ajak Bu Asih. Sehingga Fahri dan Bu Asih terus melapalkan do'a yang mereka bisa.


Ketika Fahri melihat orang yang hendak menyebrang sudah berada dekat di depan mobilnya, akhirnya Fahri pun membelokan setirnya sehingga menabrak pembatas jalan, dan ternyata di bawah pembatas tersebut adalah jurang, sehingga kecelakaan maut pun tidak dapat terelakkan lagi.


Mobil yang Fahri dan Bu Asih tumpangi kini telah masuk ke dalam jurang, warga sekitar yang menjadi saksi mata pun langsung menghubungi Polisi untuk membantu evakuasi korban.


......................


Dua jam kemudian kini telah berlalu, Mentari terus saja mondar mandir menunggu kedatangan Fahri yang belum juga pulang, sampai akhirnya Mentari tertidur karena kelelahan.


Mentari seperti mendengar suara seseorang yang memanggil namanya, sehingga dia secara perlahan membuka mata.


"Mentari sayang ayo bangun, mas sudah pulang."

__ADS_1


"Mas Fahri, Alhamdulillah akhirnya mas pulang juga," ujar Mentari dengan memeluk tubuh Suaminya.


"Sayang, maafin mas ya karena mas Fahri tidak dapat menjaga Mentari lagi, Mentari harus janji kalau Mentari akan hidup bahagia meskipun tanpa mas Fahri," ujar Fahri dengan mengelus punggung Mentari.


"Mas Fahri kenapa bicara seperti itu? kita mau berangkat bulan madu ke Puncak kan sekarang, ayo kita berangkat mas, Mentari juga sudah selesai packing-packing nya, Apa mas Fahri mau makan dulu sebelum pergi?" tanya Mentari.


"Mentari harus tau kalau mas Fahri sangat mencintai Mentari, jaga diri Mentari baik-baik ya, semoga Mentari mendapatkan lelaki yang lebih baik dari mas Fahri," ujar Fahri yang secara perlahan kini menghilang dari pelukan Mentari.


"Mas Fahri," teriak Mentari yang kini terbangun dari tidurnya.


"Astagfirullah, ternyata aku hanya mimpi, kenapa aku bisa mimpi seperti itu ya? dan rasanya mimpi itu benar-benar seperti nyata," gumam Mentari.


Adzan magrib kini telah berkumandang, Mentari bergegas melaksanakan Shalat Maghrib lalu kemudian keluar dari kamar untuk mengunggu kepulangan Suaminya.


"Mentari, Nak Fahri belum pulang juga ya?" tanya Bu Rima.


"Iya Bu, daritadi Mentari coba telpon juga nomornya tidak dapat dihubungi terus," jawab Mentari yang saat ini merasa khawatir.


Beberapa saat kemudian ada suara ketukan pintu dari luar rumah.


"Siapa ya Bu yang ketuk pintu? semoga saja itu mas Fahri," ujar Mentari dengan bergegas membukakan pintu.


Mentari terkejut karena ternyata yang datang adalah dua orang Polisi.


"Selamat malam, apa benar di sini rumahnya Bu Mentari?" tanya salah satu Polisi.


"Iya Pak benar, saya sendiri yang bernama Mentari," jawab Mentari.


"Maaf Bu, apa benar jika Ibu adalah Istri dari saudara Fahri?" tanya Pak Polisi lagi.


"Betul Pak, memangnya ada apa ya?" tanya Mentari yang saat ini sudah punya firasat tidak enak.


"Maaf Bu, kedatangan kami kemari mau menyampaikan kepada Ibu jika mobil yang ditumpangi oleh Pak Fahri dan Bu Asih telah mengalami kecelakaan, dan mobil tersebut masuk ke dalam jurang," ujar Pak Polisi.


"Tidak mungkin, tidak mungkin, ini semua bohong kan Pak? tidak mungkin Suami dan Mertua saya mengalami kecelakaan, lalu bagaimana kondisi mereka sekarang Pa, mereka baik-baik saja kan?" tanya Mentari dengan menangis histeris.


"Maaf Bu kedua korban telah meninggal di tempat," jawab Pak Polisi.

__ADS_1


Tubuh Mentari langsung lemas mendengarnya lalu kemudian Mentari pun tidak sadarkan diri.


__ADS_2