Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 64 ( Adikku sayang, Adikku malang )


__ADS_3

Setelah selesai membungkus semua masakannya, Mentari dan Fajar memutuskan untuk segera pergi berjualan sebelum cahaya matahari semakin panas.


"Mas Fajar sebaiknya di rumah saja ya, kasihan Mas kan belum sembuh benar," ucap Mentari.


"Aku tidak akan membiarkan kamu berjuang sendirian Mentari, bukankah seorang Kakak harus selalu melindungi Adiknya? dan itu yang akan selalu aku lakukan," ujar Fajar dengan menjinjing keranjang dagangan Mentari.


"Bismillah..semoga dagangan hari ini laris ya Mas," ucap Mentari.


"Iya Amin, semoga saja. Kita pokoknya harus semangat," ujar Fajar dengan tersenyum, sehingga membuat Mentari menjadi lebih bersemangat.


Fajar dan Mentari terus berkeliling ke setiap rumah untuk menawarkan dagangannya, tapi dagangan mereka baru berkurang sedikit saja.


"Mentari, Mas punya ide nih supaya dagangannya cepat habis," ujar Fajar yang sudah terlihat berkeringat, sehingga Mentari mengelap keringat di wajah Fajar, dan semua itu membuat Fajar merasa bahagia.


"Mas Fajar punya ide apa?" tanya Mentari.


"Bukannya di sini dekat dengan Pasar ya? bagaimana kalau kita berjualan di Pasar saja? kita juga tidak akan terlalu cape, dan pastinya dagangan kita akan cepat habis karena di sana kan banyak orang," tutur Fajar.


"Ide bagus tuh Mas, kenapa aku gak sampai kepikiran ya. Yuk sekarang kita ke sana," ucap Mentari dengan antusias.


Mentari dan Fajar menawarkan dagangannya di tengah kerumunan orang, dan benar saja, dagangan mereka langsung habis dengan waktu yang singkat.


"Alhamdulillah, akhirnya dagangan kita habis juga Mas. Sebagai ucapan terimakasih, Mentari mau membelikan pakaian buat Mas Fajar, pakaian Mas Fajar kan cuma sedikit."


"Kamu tidak usah repot-repot Mentari, lebih baik uangnya kamu simpan untuk membeli perlengkapan bayi sama biaya persalinan."


"Pokoknya aku tidak akan mau menerima bantuan Mas Fajar lagi, kalau Mas Fajar gak mau menerima pemberianku," ujar Mentari.


"Iya, iya, kamu Maksa banget sih."


Mentari dan Fajar memutuskan untuk membeli pakaian di pasar, dan mereka berdua terlihat seperti pasangan yang bahagia.


"Mbak sama Mas nya terlihat serasi sekali ya, saya jadi iri," ujar pedagang pakaian. Mentari dan Fajar hanya menjawabnya dengan senyuman, karena mereka tidak mau menjelaskan panjang lebar apabila mereka berdua menyangkalnya.

__ADS_1


Setelah selesai berbelanja, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang.


"Mentari, terimakasih banyak ya sudah membelikan Mas banyak pakaian," ucap Fajar.


"Iya sama-sama Kakakku sayang, ini semua kan berkat bantuan dan usulan Mas Fajar juga," jawab Mentari dengan tersenyum manis sehingga membuat jantung Fajar berdetak kencang.


"Jangan senyum manis-manis, nanti kamu dikerubuti sama semut. Ya sudah sebaiknya sekarang kita langsung pulang, Mas takut nanti Mak lampir marah."


"Aku gak punya uang receh Mas. Eh Mas Fajar gak boleh ngatain orang sembarangan, pamali tau. Ya sudah yuk kita pulang sekarang, tapi sebaiknya kita Shalat dulu deh Mas."


"Iya siap Bos," jawab Fajar dengan tertawa bahagia.


"Alhamdulillah ya Mas, hari ini kita sudah diberikan rezeki yang banyak, dan kita harus menyisihkan sebagian dari rezeki kita karena di situ ada hak oranglain juga," ujar Mentari dengan memasukan uang ke dalam kotak amal Mesjid.


Sikapmu semakin membuat aku kagum Mentari, seandainya aku diberikan kesempatan untuk hidup bersamamu, aku pasti tidak akan pernah menyia-nyiakannya, dan aku pasti akan berusaha untuk membahagiakanmu seumur hidupku, ucap Fajar dalam hati.


Setelah selesai Shalat, mereka berdua memutuskan untuk langsung pulang, dan setibanya di rumah, ternyata Jingga sudah berada di sana.


Deggg


Jantung Mentari rasanya berhenti berdetak mendengar pengakuan Jingga, Mentari merasa geram dengan perkataan Jingga, tapi dia terus saja mengucapkan istighfar dalam hatinya supaya tidak terpancing oleh Jingga.


"Apa maksud Kak Jingga berbicara seperti itu?"


"Kamu tuh polos apa bo*doh hemm? atau kamu budeg juga?" teriak Jingga.


Fajar yang melihat Jingga merasakan sakit pada kepalanya, sehingga Fajar terus saja memegangi kepalanya.


"Pelakor, pembunuh, dia orang jahat," gumam Fajar dengan suara yang pelan sehingga nyaris tidak terdengar.


Mentari yang melihat Fajar kesakitan pun bergegas menghampirinya.


"Mas Fajar kenapa? apa kepala Mas Fajar merasa sakit lagi? sebaiknya sekarang Mas Fajar istirahat saja di kamar," ujar Mentari yang hendak memapah Fajar. Akan tetapi, Angga terlihat datang, sehingga Mentari mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Angga, kamu lihat sendiri kan kelakuan istri tercintamu, dia secara terang-terangan memeluk tubuh lelaki lain. Sebaiknya kamu usir saja pasangan Benalu itu," tunjuk Mommy Sandra kepada Mentari dan Fajar.


Angga yang melihat kehadiran Jingga merasa ketakutan, dia takut jika Jingga memperlihatkan video me*sum mereka.


"Ngapain kamu di sini Jingga? aku sudah bilang kan sama kamu supaya kamu jangan pernah menampakan diri lagi di hadapanku !!" teriak Angga.


"Apa seperti ini perlakuan kamu kepada calon istri dan Ibu dari Anak-anakmu kelak?" tanya Jingga, sehingga lagi-lagi Mentari merasakan sesak dalam dada nya.


"Kamu jangan berbicara sembarangan, sebaiknya kamu pergi sekarang juga !!" bentak Angga.


"Sepertinya calon Suamiku ini tidak sabaran sekali ya, sebaiknya sekarang juga aku perlihatkan video me*sum kita kepada Adikku sayang, yang nasibnya sangat malang ini," ujar Jingga dengan mengeluarkan handphone dari tas selempang yang dia kenakan.


"Apa maksud Kak Jingga dengan video me*sum? apa yang sebenarnya sudah kalian lakukan di belakangku?" tanya Mentari dengan tubuh yang sudah gemetaran.


Jingga akhirnya memberikan handphone tersebut kepada Mentari. Mentari langsung terperangah, bahkan hampir pingsan ketika melihat video tersebut, untung saja Fajar menahan tubuhnya.


Jingga dan Mommy Sandra sudah tertawa bahagia melihat ekspresi Mentari, dan Angga sudah menjatuhkan dirinya di atas lantai.


Akhirnya semua yang aku takutkan terjadi juga, Mentari saat ini pasti merasa terpukul melihat aksi bejat yang telah aku lakukan bersama Jingga, batin Angga.


"Kamu yang sabar ya Mentari, pasti di balik semua ini ada hikmah yang tersembunyi," ucap Fajar mencoba untuk menghibur Mentari.


Kamu harus kuat Mentari, tunjukan kepada semua orang kalau kamu sanggup melewati semua ini, kamu tidak boleh kalah oleh Pelakor, batin Mentari bermonolog.


Semua orang sudah yakin jika Mentari akan marah terhadap Angga ketika Mentari melangkah mendekati Angga yang masih duduk di atas lantai. Akan tetapi, Mentari malah memeluk tubuh Angga.


"Jadi sikap Abang terhadap Mentari berubah karena Kak Jingga? apa Abang pikir hanya dengan sebuah video Mentari akan mempercayai semuanya? bukankah dalam rumah tangga harus di dasari oleh saling percaya?" ucap Mentari sehingga Angga langsung menatap lekat wajah perempuan yang sangat dia cintai, kemudian membalas pelukan Mentari.


Jingga dan Mommy Sandra merasa geram dengan sikap yang Mentari tunjukan.


"Dasar perempuan bo*doh, sudah jelas-jelas aku memberikan bukti perselingkuhanku dengan Angga !!" teriak Jingga.


"Itu hanya sebuah video kan? apa kamu pikir aku akan lebih percaya dengan sebuah video dibandingkan dengan Suamiku sendiri? maaf Kakakku sayang jika aku harus membuatmu kecewa," ujar Mentari, lalu membawa Angga masuk ke dalam kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2