Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 8 ( Berebut Mentari )


__ADS_3

Fahri merasa risih dengan Mentari dan Angga yang masih saja berpegangan tangan, sehingga akhirnya Fahri menegur mereka berdua.


"Ekhem, bisa gak tangannya kalian lepasin? mataku sakit liatnya," sindir Fahri sehingga membuat Bu Asih tersenyum, sedangkan Mentari langsung melepaskan tangan Angga dan terlihat salah tingkah.


"Harusnya kamu tidak usah cemburu Fahri, sebentar lagi Mentari itu bakalan jadi pacar gue," ujar Angga.


"Berarti baru calon kan? belum tentu Mentari juga nerima kamu," ujar Fahri dengan menatap tak suka kepada Angga.


"Kalian ini dari jaman sekolah dulu kalau ketemu pasti saja ribut," ujar Bu Asih.


"Jadi mas Fahri sama Bang Angga dulu temenan ya?" tanya Mentari.


"ENGGAK !!" jawab Angga dan Fahri secara bersamaan.


"Kompak banget sih jawabnya," goda Mentari.


Fahri dan Angga adalah teman dari semenjak mereka berdua kecil, tapi setiap bertemu mereka selalu saja berdebat, meskipun begitu mereka berdua tetap saling peduli dan saling menyayangi jika salah satu dari mereka ada yang terkena masalah.


"Mentari ini sudah malam, sebaiknya mas Fahri antar pulang ya, sekalian mau ketemu sama orangtua kamu, mas takut jika mereka salah paham apabila mas tidak menemuinya," ujar Fahri.


"Eh Bro, Mentari itu datang ke sini sama gue, jadi balik juga harus gue yang anterin lah," ujar Angga yang tidak mau kalah.


"Tapi Ga, gue itu mau sekalian ke rumahnya, kalau rumah loe kan beda arah, jadi mendingan loe langsung pulang saja,"ujar Fahri.


"Sudah, kalian berhenti berdebat, biar Mentari sendiri yang memilih dia mau pulang sama siapa," ujar Bu Asih mencoba untuk menengahi perdebatan Fahri dan Angga.


"Jadi Mentari pilih siapa?" tanya Angga.


"Pertanyaan loe salah Ga, jadi Mentari bingung karena harus memilih, harusnya Mentari mau pulang dianter sama siapa? gitu Ga," ucap Fahri.


"Ah sama aja artinya, udah jelas Mentari pasti milih gue," ujar Angga.


"Sebaiknya aku pulang sendiri saja daripada harus mendengar kalian terus berdebat," ucap Mentari.

__ADS_1


"Lho kok gitu sih? bahaya kalau gadis pulang hampir tengah malam begini sendirian, kalau memang kamu lebih memilih pulang sama Angga, biar mas Fahri ngalah dan ngikutin mobil kalian dari belakang karena ada sesuatu hal yang harus mas Fahri pastikan."


Tiba-tiba ponsel Angga berbunyi, dan di sana tertera nama Ibunya, setelah Angga angkat ternyata Angga disuruh segera pulang karena keluarga mereka akan segera berangkat keluar Negeri untuk liburan.


"Maaf ya Mentari Bang Angga gak bisa nganterin Mentari pulang, Bang Angga lupa kalau satu jam lagi harus segera berangkat ke Bandara karena Bang Angga sekeluarga akan pergi berlibur," ujar Angga.


"Alhamdulillah," ucap Fahri secara spontan.


Sepertinya Fahri belum sadar kalau sebenarnya dia sudah jatuh cinta terhadap Mentari, Ibu selalu berdo'a semoga kalian berdua dapat bersatu, ucap Bu Asih dalam hati.


"Awas aja loe Fahri kalau sampai macem-macem sama Mentari !" ancam Angga.


"Gue gak janji Ga," jawab Fahri dengan sengaja memanas-manasi Angga.


"Mentari jaga diri baik-baik ya dari Fahri, karena seujung kuku pun Bang Angga tidak akan rela jika Mentari sampai dipegang oleh Fahri," ujar Angga, tapi Mentari hanya diam tanpa mengucap satu patah kata pun karena baginya baik Angga atau pun Fahri bukan siapa-siapanya.


Akhirnya dengan berat hati Angga pergi dari kediaman Fahri.


"Mentari ayo sebaiknya kita pulang juga," ujar Fahri dengan menarik tangan Mentari.


"Iya sayang kalian hati-hati ya, Fahri jaga Mentari baik-baik ya," ucap Bu Asih.


"Iya Bu, Fahri pasti akan selalu menjaga calon menantu idaman Ibu baik-baik dan selamat sampai tujuan," ucap Fahri dengan tersenyum lalu mencium punggung tangan Ibunya.


Mentari yang mendengar Fahri berbicara seperti itu pun terlihat membulatkan matanya, dan pipi Mentari kini berubah menjadi merah merona.


"Yuk Mentari kita pulang, jangan bengong aja," ujar Fahri dengan menarik lembut tangan Mentari, dan mereka berdua pun pergi setelah mengucapkan Salam.


Dalam perjalanan menuju rumah Mentari tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari bibir Fahri mau pun mentari, sehingga akhirnya mereka berdua angkat bicara secara bersamaan.


"Mas Fahri"


"Mentari"

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Fahri dan Mentari yang lagi-lagi berucap secara bersamaan.


"Mas aja duluan," ujar Mentari.


"Dimana-mana juga perempuan duluan," jawab Fahri.


"Aku sudah lupa mau bicara apa," ucap Mentari yang memang lupa mau berkata apa saking groginya karena saat ini bisa berdekatan dengan pemuda yang selalu ia idam-idamkan.


"Kok bisa?" tanya Fahri yang kini menatap lekat wajah Mentari yang cantik, sehingga secara perlahan dia mendekatkan wajahnya ke depan wajah Mentari.


Hembusan nafas Fahri seakan menerpa wajah Mentari, sehingga reflek Mentari memejamkan matanya.


Mentari kamu harus sadar kalau Fahri itu adalah pacar Kakak kamu sendiri, kamu jangan sampai terbawa perasaan karena kalian juga bukan muhrim, jadi tidak seharusnya kamu melakukan hal yang melanggar hukum agama. batin Mentari kini berkecamuk, sehingga reflek Mentari menghalangi bibirnya menggunakan sebelah telapak tangannya, dan akhirnya yang Fahri cium adalah telapak tangan Mentari.


"Maaf Mentari aku khilaf," ujar Fahri dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf ya mas Fahri, tidak seharusnya kita berdua melakukan itu karena kita bukan muhrim, dan mas Fahri harus ingat kalau mas Fahri adalah pacar Kak Jingga," ucap Mentari.


Degg


kenapa jantungku rasanya berhenti berdetak? Kenapa hatiku rasanya sakit ketika Mentari mengingatkan tentang statusku dengan Jingga, Mentari memang sangat berbeda dengan Jingga karena dia bisa menjaga kehormatannya, tapi Jingga secara terang-terangan malah menawarkan sendiri kehormatannya kepadaku, mungkin selama ini perkataan Ibu benar kalau aku sudah salah memilih calon istri, batin Fahri.


Keheningan pun kini kembali terjadi, saat ini Fahri merasa malu dengan tindakan yang telah dia lakukan kepada Mentari, sampai akhirnya Mentari angkat bicara.


"Alhamdulillah Mas Fahri kita sudah sampai," ucap Mentari, tapi Fahri sepertinya tidak mendengar perkataan Mentari karena dia masih terlihat melamun.


"Mas Fahri mau turun gak?" tanya Mentari kepada Fahri dengan memegang bahunya.


"Astagfirulloh Mentari, maaf ya aku malah asyik melamun," jawab Fahri.


"Iya tidak apa-apa mas, memangnya apa yang mas pikirkan? apa Mentari boleh tau?" tanya Mentari.


"Mas malu sama kamu, tidak seharusnya tadi mas lancang untuk mencium kamu," jawab Fahri yang saat ini terlihat menyesal.

__ADS_1


"Sudahlah mas, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, sebaiknya mas lupakan semuanya," ucap Mentari yang membuat jantung Fahri kini berdetak kencang.


Kamu memang perempuan spesial Mentari, aku pasti akan memperjuangkan cinta kamu setelah hubunganku dan Jingga berakhir karena kamu memang pantas untuk diperjuangkan, batin Fahri.


__ADS_2