Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 23 ( Akan tetap menunggu )


__ADS_3

Mentari secara perlahan membuka matanya lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tempat ia di rawat.


Dimana aku? apa aku di Rumah Sakit? kenapa tanganku di infus? ucap Mentari dalam hati.


Mentari kemudian melihat ke arah tangan satunya lagi dan ternyata dipegang oleh Angga yang masih tertidur sambil duduk di kursi samping ranjang Mentari.


"Kasihan Bang Angga, pasti dia lelah karena sudah menjagaku," gumam Mentari.


Mentari yang merasa haus pun secara perlahan melepaskan pegangan tangan Angga, tapi Angga malah semakin erat memegang tangan Mentari.


"Bang Angga tidak akan melepaskan Mentari lagi untuk lelaki manapun, Bang Angga akan selalu membahagiakan Mentari seumur hidup Bang Angga," gumam Angga yang sepertinya tengah mengigau.


Mentari menatap lekat wajah Angga, dan dia merasa bersalah karena dulu sudah berkali-kali menolak cinta Angga.


"Maafin Mentari Bang, karena dulu Mentari sudah berkali-kali menolak cinta Bang Angga, semoga suatu saat nanti Mentari bisa membuka hati buat Bang Angga," gumam Mentari.


Angga yang merasakan pergerakan tangan Mentari pun langsung terbangun.


"Alhamdulillah akhirnya Mentari sadar juga," ujar Angga dengan langsung memberikan segelas air putih untuk Mentari.


"Makasih ya Bang, maaf kalau Mentari sudah mengganggu tidur Bang Angga."


"Bang Angga malah seneng kalau Mentari gangguin," jawab Angga dengan cengengesan. Mentari pun memutar bola matanya malas mendengar ucapan Angga.


Perawat kini terlihat masuk ke dalam ruang rawat Mentari untuk mengantarkan makanan, dan Angga langsung saja mengambil makanan tersebut.


"Terimakasih ya Sus," ujar Angga.


"Iya sama-sama Pak, semoga Istrinya cepat sembuh."


"Terimakasih do'anya," jawab Angga, sehingga membuat Mentari terkejut.


Angga yang melihat Mentari bengong pun langsung angkat bicara.

__ADS_1


"Maaf ya jika Bang Angga tidak menyangkal perkataan orang yang sudah mengira jika kita pasangan Suami-istri, Bang Angga cuma gak mau menjelaskan panjang lebar aja," ujar Angga yang merasa tidak enak oleh Mentari.


Mentari masih terlihat termenung lalu menghembuskan nafas panjang.


"Bang Angga tidak perlu meminta maaf, seharusnya Mentari berterimakasih atas semua yang sudah Bang Angga lakuin."


"Kalau begitu sekarang Mentari harus mau Bang Angga suapi."


"Gak usah Bang, Mentari bisa sendiri kok."


"Pokoknya tidak ada penolakan," ujar Angga yang sudah bersiap untuk menyuapi Mentari, dan mau tidak mau Mentari pun membuka mulutnya.


Beberapa saat kemudian, Bu Rima datang ke Rumah Sakit membawakan baju ganti untuk Mentari, serta membawa sarapan untuk Angga.


Tok..tok..tok.


Bu Rima mengetuk pintu lalu mengucap Salam. Sebelumnya Angga sudah memberitahu nama ruangan tempat Mentari di rawat kepada Bu Rima sehingga Bu Rima tidak kesusahan untuk mencarinya.


"Assalamu'alaikum," ucap Bu Rima.


"Alhamdulillah Mentari sekarang kelihatannya sudah lebih baik," ujar Bu Rima.


"Iya Bu, kan ada Angga yang merawatnya, jadi Ibu tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Mentari," ujar Angga.


"Terimakasih ya Nak Angga atas semua kebaikan Nak Angga, Ibu gak tau apa jadinya jika tidak ada Nak Angga."


"Iya sama-sama Bu, Mentari adalah perempuan penting dalam hidup Angga, jadi Angga pasti akan melakukan apa pun untuk Mentari," ujar Angga sehingga membuat Mentari dan Bu Rima saling berpandangan.


Mentari dan Bu Rima bukannya tidak tau tentang perasaan Angga untuk Mentari. Akan tetapi, mereka pura-pura tidak tau karena Mentari baru saja kehilangan sosok Suaminya.


"Bang Angga mengerti jika Mentari belum bisa membuka hati untuk Bang Angga, tapi Bang Angga akan tetap menunggu sampai suatu saat nanti Mentari membuka hati buat Bang Angga," ucap Angga dengan tersenyum.


Bu Rima dan Mentari tidak bisa berkata apa-apa, dan Angga pun mengerti tentang kebingungan mereka.

__ADS_1


"Mentari atau Ibu tidak perlu menjawab apa pun, Angga hanya mencurahkan isi hati Angga saja. Mentari jangan menjadikan semua itu sebagai beban ya," sambung Angga dengan mengelus lembut punggung tangan Mentari. Mentari pun hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


"Nak Angga sebaiknya sarapan dulu, kasihan pasti sudah lapar juga kan?" ajak Bu Rima memecah ketegangan yang terjadi di ruangan tersebut.


"Terimakasih ya Bu, maaf sudah ngerepotin, padahal Angga sudah ada niat untuk sarapan di kantin," ujar Angga dengan lahap memakan masakan yang dibawa Bu Rima.


"Seharusnya kami yang berterimakasih kepada Nak Angga karena sudah berkenan menjaga Mentari," jawab Bu Rima.


"Angga justru senang jika terus menjaga Mentari walaupun seumur hidup Angga," jawab Angga yang lagi-lagi membuat Mentari bingung karena kejujurannya.


Mentari yang merasa tidak enak kepada Angga pun kini angkat bicara, karena dia tidak mau jika harus memberikan Angga harapan palsu.


"Bang Angga, maaf ya jika dulu Mentari berkali-kali sudah menolak cinta Bang Angga, dan terimakasih banyak karena sudah tulus mencintai Mentari. Bang Angga ini orang kaya dan sukses, pasti banyak perempuan yang lebih segala-galanya di Bandingkan Mentari berebut cinta Bang Angga."


"Tapi yang Bang Angga inginkan hanya Mentari."


"Mentari takut jika tidak akan bisa membuka hati Mentari untuk lelaki manapun lagi."


"Bang Angga tau ini semua terlalu cepat karena Mentari baru saja kehilangan orang yang Mentari cintai, tapi Bang Angga takut jika tidak mengungkapkan semuanya sekarang Mentari akan di ambil oleh lelaki lain. Jadi Mentari harus tau kalau Abang akan tetap menunggu sampai Mentari bisa membuka hati untuk Bang Angga walaupun Abang harus menunggu selama bertahun-tahun lagi. Mentari jangan melarang Bang Angga untuk berjuang ya," pinta Angga yang sudah terlihat berkaca-kaca.


"Baiklah jika itu keinginan Bang Angga, Mentari tidak akan melarangnya," jawab Mentari karena dia tidak mau jika terus-terusan menyakiti hati Angga dengan menyuruhnya untuk berhenti berjuang, karena dalam lubuk hatinya saat ini masih terukir nama Fahri.


"Terimakasih ya, Bang Angga pegang kata-kata Mentari, jadi kalau sampai Mentari menerima lelaki lain, ada Ibu yang menjadi saksinya kalau Bang Angga sudah terlebih dahulu mengikat Mentari meskipun hanya dengan kata-kata," ujar Angga dengan cengengesan.


"Nak Angga tenang saja, pasti akan Ibu dukung," ucap Bu Rima dengan memberikan dua jempol tangannya.


"Alhamdulillah akhirnya Angga dapat dukungan. Angga pasti akan berusaha membantu Mentari keluar dari traumanya Bu."


"Ya sudah kalau begitu sebaiknya Nak Angga sekarang pulang dulu sekalian istirahat ya, biar Ibu yang ganti menjaga Mentari."


"Kalau begitu Angga permisi dulu ya Bu, Mentari. Ibu tolong jaga pujaan hati Angga ya," ujar Angga dengan tersenyum kemudian mengucap Salam sebelum pergi.


"Bu, apa Mentari sudah benar dalam mengambil keputusan? tapi Mentari takut jika Mentari tidak dapat melupakan bayang-bayang Mas Fahri dan kembali lagi menyakiti hati Bang Angga."

__ADS_1


"Mentari harus optimis, yakinlah Allah SWT tidak akan pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan Umat-Nya."


__ADS_2