Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 36 ( Disuruh jualan )


__ADS_3

Mentari masih berkutat dengan pekerjaan rumahnya yang semakin hari semakin banyak, apalagi sekarang Mertuanya menyuruh Mentari untuk memasak yang banyak.


"Nyonya maaf, kenapa saya harus memasak yang banyak ya?" tanya Mentari kepada Mommy Sandra.


"Itu supaya kamu bisa menghasilkan uang, jadi tidak terus-terusan menghabiskan uang Suami kamu," jawab Mommy Sandra sambil bersantai dengan mengecat kuku.


"Tapi Alhamdulillah Mentari merasa cukup dengan uang bulanan pemberian dari Bang Angga," ujar Mentari.


"Mana ATM uang bulanan kamu?" tanya Mommy Sandra.


Mentari pun bergegas ke dalam kamarnya untuk mengambil ATM pemberian Angga yang biasa dia pakai untuk belanja bulanan.


"Ini Nyonya," ucap Mentari dengan memberikan ATM yang diminta oleh Mertuanya.


"Mulai sekarang, ATM ini aku yang pegang, jadi untuk kebutuhan sehari-hari kamu harus mencarinya sendiri dengan berjualan !!" ucap Mommy Sandra penuh penekanan.


"Tapi Nyonya, saya sebentar lagi harus membeli perlengkapan bayi, jadi saya harus menabung juga," jawab Mentari.


"Itu bukan urusanku, kalau kamu mau uang cari saja sendiri, jangan mau enak-enak saja terima hasil tanpa bekerja, makanya mulai sekarang kamu yang rajin jualannya !!" ujar Mommy Sandra dengan entengnya.


Ya Allah, berikanlah hamba kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ujian ini, batin Mentari dengan berlinang airmata.


Mentari kini bergegas membungkus lauk dan sayuran yang telah dia pasak, lalu kemudian memasukannya ke dalam keranjang.


"Bismillah, semoga hari ini jualanku lancar," ujar Mentari dengan melangkahkan kaki menyusuri jalan untuk menjajakan dagangannya.


"Permisi Bu, saya mau menawarkan lauk dan sayuran yang sudah matang, siapa tau Ibu-ibu ada yang berkenan membeli," ujar Mentari yang kini menawarkan dagangannya karena melihat Ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan pos ronda.


"Lho, bukannya Ibu ini Bu Mentari istri nya Pak Angga yang rumahnya mewah itu ya?" tanya Bu Sari.


"Iya Bu," jawab Mentari singkat.


"Ibu kenapa berjualan? memangnya masih kurang ya jatah bulanan dari Suami?" sindir Bu Sari.

__ADS_1


"Alhamdulillah uang yang diberikan oleh Suami saya lebih dari cukup Bu, tapi saya ingin mempunyai kesibukan, makanya saya mencoba untuk berjualan," jawab Mentari.


Ampuni hamba Ya Allah, karena hamba telah berbohong, hamba tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada oranglain, karena bagaimanapun juga aib rumah tangga tidak boleh di umbar-umbar, ucap Mentari dalam hati.


"Kalau saya jadi Bu Mentari, mendingan saya duduk cantik saja di rumah, ngapain harus cape-cape kerja kalau uang dari Suami cukup," ujar Ibu-ibu yang bernama Wati.


"Saya justru salut sama Bu Mentari, masih muda dan cantik, tapi tidak malu untuk berjualan keliling, apalagi saya dengar Ibu sedang hamil muda ya?" tanya Bu Ani.


"Iya Alhamdulillah Bu, saya saat ini sedang hamil," jawab Mentari.


"Ya sudah kalau begitu saya beli daging sama sayurnya 2 bungkus Bu. Ayo Bu Wati, Bu Sari cepetan milihnya, kasihan Bu Mentari nanti kepanasan jualannya, apalagi cuaca sekarang panas sekali," ujar Bu Ani.


Setelah Ibu-ibu tersebut membayar dagangannya, Mentari pun pamit untuk kembali berkeliling.


"Terimakasih banyak ya Bu, karena sudah berkenan membeli dagangan saya, kalau begitu saya permisi dulu," ujar Mentari dengan kembali melangkahkan kaki nya.


"Alhamdulillah Ya Allah, semoga semua dagangan hari ini habis," gumam Mentari.


Setelah beberapa jam Mentari menawarkan dagangannya, dagangan Mentari masih tersisa banyak, sehingga ia duduk sebentar di depan Mesjid untuk beristirahat dan melaksanakan Shalat Dzuhur, karena baru saja dia mendengar suara Adzan yang telah berkumandang.


Fajar yang baru saja tiba di Indonesia untuk mengecek proyeknya, memutuskan untuk berhenti di Mesjid tersebut juga untuk melaksanakan Shalat.


Pada saat Mentari keluar dari dalam Mesjid, dia tidak sengaja bertabrakan dengan Fajar yang hendak masuk ke dalam Mesjid.


"Astagfirullah," ucap Mentari yang hampir saja terjatuh, untung saja Fajar bergegas menangkap tubuh Mentari.


Mentari, apa saat ini aku sedang bermimpi bertemu denganmu? ternyata wajahmu lebih cantik dari yang aku lihat di Fhoto, batin Fajar.


Dari kejauhan terlihat seseorang memotret Mentari yang seakan-akan telah di peluk oleh Fajar, dan orang itu adalah Anak buah Jingga yang disuruh mengawasi gerak-gerik Mentari.


"Terimakasih Mas, maaf saya jalannya buru-buru sehingga tadi tidak melihat Mas. Kalau begitu saya permisi dulu, sekali lagi saya ucapkan terimakasih, Assalamu'alaikum," ucap Mentari, lalu kemudian mengambil keranjangnya, dan kembali berjalan untuk menawarkan dagangannya yang masih tersisa banyak.


"Wa'alaikumsalam," gumam Fajar dengan terus melihat ke arah Mentari.

__ADS_1


Kenapa Mentari membawa keranjang? apa dia sekarang berjualan keliling? aku harus memastikan semuanya, aku tidak mau kalau perempuan yang aku cintai hidup menderita, batin Fajar.


Setelah melaksanakan Shalat Dzuhur, Fajar memutuskan untuk mencari Mentari yang ternyata masih berjalan belum terlalu jauh dari Mesjid. Fajar terlihat khawatir karena melihat Mentari berjongkok di bawah teriknya cahaya Matahari, sehingga Fajar bergegas menepikan mobilnya.


"Mbak tidak kenapa-napa kan?" tanya Fajar dengan membantu Mentari untuk berdiri.


"Mas yang tadi di Mesjid kan? Alhamdulillah saya baik-baik saja Mas, tapi kepala saya sedikit pusing karena saya juga lagi hamil muda," jawab Mentari.


Jadi Mentari saat ini sedang hamil? tega sekali Suaminya, istri sedang hamil, tapi di suruh bekerja. Maafkan aku Mentari, aku kira selama ini rumah tangga kamu bahagia, makanya aku tidak lagi menugaskan Anak buahku untuk mengawasimu, batin Fajar.


"Apa Mbak mau saya antar pulang?" tanya Fajar.


"Terimakasih Mas, saya tidak mau merepotkan, dagangan saya juga masih banyak, jadi saya harus kembali berjualan," jawab Mentari.


"Kalau boleh saya tau, Mbak berjualan apa?" tanya Fajar.


"Saya berjualan makanan, ada lauk dan sayuran yang sudah matang," jawab Mentari.


"Ya sudah kalau begitu saya borong semua dagangan Mbak, kebetulan di rumah saya akan mengadakan acara keluarga," ujar Fajar berbohong supaya bisa membeli masakan Mentari.


"Alhamdulillah Ya Allah, ya sudah kalau begitu saya bungkus dulu mas," ujar Mentari dengan memasukan dagangannya ke dalam kantong kresek.


"Berapa semuanya Mbak?" tanya Fajar.


"Semuanya dua ratus ribu Mas," jawab Mentari.


Fajar menyerahkan uang seratus ribuan sebanyak sepuluh lembar kepada Mentari.


"Maaf Mas, semuanya hanya dua ratus ribu," ujar Mentari dengan mengembalikan uang delapan ratus ribu kepada Fajar.


"Anggap saja itu rezeki untuk Anak Mbak," ujar Fajar.


"Terimakasih banyak Mas, bukannya saya menolak rezeki, tapi saya bukan pengemis, jadi saya hanya akan mengambil hak saya saja," ucap Mentari.

__ADS_1


Sungguh wajahmu secantik hatimu Mentari, seandainya aku diberikan kesempatan, aku tidak akan pernah menyakitimu, batin Fajar.


__ADS_2