Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 59 ( Mimpi buruk )


__ADS_3

Mommy Sandra saat ini sedang menginterogasi Stella yang baru pulang dengan kondisi tubuh yang lemas, dan sebagai seorang perempuan yang sudah berpengalaman Mommy Sandra tau betul penyebab Stella yang sekarang menjadi berubah dari cara jalannya.


"Stella, kamu dan David sudah melakukannya ya?" tanya Mommy Sandra dengan memicingkan matanya.


Stella yang ditanya seperti itu pun menjadi gelagapan.


"Ma_maksud Mommy apa?" tanya Stella dengan tubuh yang gemetaran.


"Mommy itu sudah berpengalaman, jadi tau apa yang sudah kamu lakukan, jadi kamu gak usah bohong sama Mommy."


"Maafin Stella Mom, Stella tidak bisa menjaga diri sampai akhirnya Stella melakukan kesalahan yang fatal," ujar Stella dengan memeluk erat tubuh Mommy Sandra.


"Sudahlah kamu jangan menangis, Mommy tidak akan menyalahkan kamu, yang penting kamu harus segera meminta pertanggungjawaban dari David, karena Mommy tidak mau kalau sampai kamu hamil diluar nikah."


Akhirnya, sebentar lagi aku akan mempunyai besan orang kaya, David pasti tidak akan bisa terlepas lagi dari genggaman Stella, dan mau tidak mau dia harus menikahi Stella, batin Mommy Sandra dengan tersenyum bahagia.


"Mommy kenapa sih daritadi Stella perhatiin malah senyum-senyum sendiri, emangnya Mommy gak ikutan sedih karena Stella sudah kehilangan sesuatu yang sangat berharga?"


"Kamu harusnya bahagia juga Stella, karena sebentar lagi kamu akan menjadi Ratu di rumah mewah David."


"Apa? jadi Mommy sengaja mengijinkan Stella liburan supaya Stella bisa menjadi Menantu orang kaya."


"Makanya kamu gunain otak kamu, udah bagus David mempunyai inisiatif untuk melakukannya, jadi sekarang David sudah terikat denganmu, dan kalau sampai kamu hamil mau tidak mau dia harus bertanggung jawab. Mommy berharap supaya kamu nikah sama orang kaya, bukan seperti Angga yang nikah sama orang miskin."


"Apa maksud Mommy berbicara seperti itu tentang Mentari?" tanya Angga yang saat ini sudah berada di belakang Ibunya.


"A_Angga, kapan kamu pulang Nak?"


"Pantesan saja kalian tidak menjawab Salamku, karena ternyata kalian sedang bergosip, dan lebih parahnya lagi Mommy tega mengatai Mentari sebagai orang miskin. Apa Mommy tidak sadar jika saat ini kita tinggal di rumah Mentari juga? dan Perusahaan yang Angga kelola juga setengahnya adalah milik Mentari peninggalan dari mendiang Suaminya."


"Mommy gak bermaksud menjelek-jelekan Mentari Nak, tapi itu kenyataan kan, dan dia juga menikah sama kamu sudah menjadi Janda."

__ADS_1


"Meski pun Mentari Janda, tapi dia masih perawan Mom, dan Angga yang pertama bagi Mentari."


"Sudahlah Angga, kamu memang sudah dibutakan oleh cinta, jadi semua yang Mommy bilang kamu tidak akan menerimanya."


Tapi ngomong-ngomong dimana ya si Menantu Benalu, kenapa dia tidak ikut pulang bersama Angga? apa mereka bertengkar lagi? aku jadi kepo, tapi kalau nanti aku nanya sama Angga yang ada dia bakalan marah-marah, ucap Mommy Sandra dalam hati.


Angga memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya saja karena dia tidak mau jika harus terus berdebat dengan Ibunya.


"Mentari, Abang kangen, padahal kita baru berpisah selama beberapa jam saja," gumam Angga dengan mencoba untuk memejamkan matanya.


......................


Saat ini di Rumah Sakit tempat Fajar dirawat, Mentari dengan telaten menyuapi Fajar dan memberikannya obat.


"Mas Fajar duduk dulu ya, kalau sudah makan sekurang-kurangnya tiga puluh menit kita gak boleh langsung tiduran," jelas Mentari.


"Baik Bu Dokter," ujar Fajar dengan tersenyum, karena dia merasa bahagia mendapat perhatian dari Mentari, meskipun dia belum mengingat apa pun tentang masalalunya.


"Baru beberapa bulan ini Mas, dan Mas Fajar selalu menolong saya. Terimakasih ya Mas atas semua kebaikan Mas Fajar, Semoga Allah SWT membalasnya," ucap Mentari yang di Amini oleh Fajar.


Mentari kemudian mengeluarkan vitamin miliknya, lalu meminumnya. Akan tetapi, setelah meminum vitamin tersebut kepalanya tiba-tiba terasa pusing dan hampir terjatuh, untung saja Fajar langsung menarik tubuh Mentari hingga Mentari memeluk tubuh Fajar.


"Kamu tidak kenapa-napa kan? apa perlu aku panggil Dokter?" tanya Fajar yang terlihat cemas.


"Makasih banyak Mas, sepertinya tidak perlu, palingan juga ini pusing biasa karena saya sedang hamil," jawab Mentari.


"Tapi aku khawatir karena wajah kamu terlihat pucat."


"Yang saya khawatirkan sekarang justru Mas Fajar, apalagi Mas Fajar belum bisa mengingat apa pun. Maaf ya Mas itu semua terjadi karena Mas telah menolong saya."


"Sudah kewajiban kita untuk saling menolong, dan aku pasti akan lebih menyesal lagi kalau tidak bisa menolong kamu."

__ADS_1


"Ya sudah, sebaiknya sekarang Mas istirahat lagi, saya juga sudah mengantuk."


"Mentari kamu tidur di ranjang saja ya, biar saya yang tidur di sofa."


"Yang sakit di sini kan Mas Fajar, Mas Fajar aneh-aneh saja sih, udah sekarang Mas tidur supaya cepet sembuh, gak betah juga kan harus tidur di Rumah Sakit," ujar Mentari dengan membantu Fajar kembali berbaring, kemudian menyelimutinya.


Mentari akhirnya merebahkan diri di atas sofa, dia terus saja teringat kepada Angga. Ada rasa bersalah karena tidak bisa ikut pulang bersama Suaminya, tapi dia akan lebih merasa bersalah lagi apabila meninggalkan Fajar yang saat ini hidup sebatang kara.


Ya Allah semoga semuanya cepat selesai, semoga Mas Fajar cepat sembuh dan bisa mengingat kembali semuanya, dan aku juga tidak mau menjadi Istri yang durhaka karena sudah melalaikan kewajibanku sebagai seorang Istri, batin Mentari, lalu berusaha memejamkan matanya.


Sesaat kemudian Mentari bermimpi melihat Angga menikah dengan Jingga dan meninggalkan dia bersama Anaknya, sehingga Mentari terus saja mengigau.


"Tidak, jangan pergi Bang, jangan tinggalkan Mentari," teriak Mentari dengan masih memejamkan matanya, sehingga Fajar yang mendengar teriakan Mentari langsung terbangun.


"Mentari bangun, Mentari bangun," ujar Fajar dengan menggoyang-goyangkan tubuh Mentari.


Mentari akhirnya terbangun, dan dia langsung terduduk dengan memeluk tubuh Fajar, karena dia belum sepenuhnya sadar, sehingga mengira jika Fajar adalah Angga.


"Jangan tinggalin Mentari dan Anak-anak Bang, Mentari tidak bisa hidup tanpa Abang," ujar Mentari dengan ketakutan sehingga terus mengeratkan pelukannya terhadap Fajar.


"Istighfar Mentari, kamu hanya mimpi buruk," ujar Fajar dengan mengelus lembut punggung Mentari yang masih terdengar menangis.


"Astagfirullah, Maafin Mentari Mas Fajar, Mentari tadi mengira jika Mas Fajar adalah Bang Angga," ujar Mentari dengan melepas pelukannya terhadap Fajar.


"Memangnya kamu tadi mimpi apa sampai berteriak-teriak dan menangis?"


"Mentari bermimpi jika Bang Angga menikah dengan Kak Jingga sehingga Bang Angga meninggalkan Mentari dan Anak-anak."


Nama Jingga sepertinya tidak asing untukku, dan kenapa aku merasa marah mendengar nama Jingga? batin Fajar.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, semua itu hanya mimpi kan, dan mimpi adalah bunga tidur," ujar Fajar mencoba untuk menenangkan Mentari.

__ADS_1


Semoga saja semua itu tidak menjadi kenyataan, entah kenapa semua itu seperti nyata, batin Mentari.


__ADS_2