Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 50 ( Kesalahpahaman Angga terhadap Mentari )


__ADS_3

Mentari akhirnya sampai di depan rumahnya, dan Fajar sengaja tidak ikut turun karena tidak mau Mentari mendapatkan masalah lagi jika Mommy Sandra atau Stella sampai melihat Fajar mengantarkan Mentari.


"Mas aku turun duluan ya, sekali lagi ter_" ucapan Mentari terpotong karena Fajar menempelkan telunjuknya di bibir Mentari.


"Mas udah tau kalau Dek Mentari mau mengucapkan terimakasih lagi kan? udah sana cepetan turun sebelum Mak Lampir mengamuk," ujar Fajar dengan tertawa.


"Aku kok malah geli ya denger Mas Fajar panggil aku pake kata Ade," ujar Mentari dengan mengerucutkan bibirnya.


"Hemm, mancing-mancing nih," gumam Fajar.


"Siapa yang mancing-mancing?" tanya Mentari dengan memicingkan matanya.


"Eh itu, Mas lupa kalau besok ada yang ngajak mancing," jawab Fajar dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya udah aku turun sekarang ya, Assalamu'alaikum Kak," ucap Mentari dengan tersenyum.


"Wa'alaikumsalam Dek," sayangku, cintaku, jantung hatiku, lanjut Fajar dalam hati.


Fajar terus saja melihat Mentari yang melangkahkan kaki memasuki halaman rumahnya sampai Mentari tidak terlihat lagi dari pandangannya.


"Astagfirullah, rasanya sakit sekali karena harus membohongi perasaan sendiri. Bangun Fajar bangun, Mentari itu Istri oranglain, buang perasaan cintamu untuk Mentari jauh-jauh," gumam Fajar dengan mengacak-acak rambutnya.


Akhirnya Fajar kembali melajukan mobilnya, tapi bayang-bayang Mentari terus saja menari-nari dalam pikirannya, sehingga dia hampir saja menabrak seorang perempuan.


"Mentari," gumam Fajar, karena dia melihat wajah perempuan tersebut seperti Mentari, sampai akhirnya Fajar mengucek matanya.


"Hati-hati donk Mas kalau nyetir," ujar perempuan tersebut.

__ADS_1


"Iya maaf Mbak, saya tidak sengaja," teriak Fajar.


Lama-lama aku bisa gila jika terus saja memikirkan Mentari, karena aku melihat wajah perempuan lain pun berubah menjadi Mentari, ucap Fajar dalam hati.


......................


"Assalamu'alaikum," ucap Mentari ketika masuk rumah.


Bukannya menjawab ucapan Mentari, Mommy Sandra malah marah-marah terhadap Mentari.


"Heh Menantu Benalu, kemana saja kamu seharian ini? pulang nganterin makanan malah keluyuran, gak tau apa kalau aku sama Stella sakit perut gara-gara masakan kamu !!" bentak Mommy Sandra.


"Maaf Nyonya, tadi saya mengikuti acara amal dulu di Panti Asuhan, kalau masalah Anda yang sakit perut saya tidak tau apa-apa karena saya juga memakan masakan tersebut, tapi Alhamdulillah perut saya tidak sakit. Anda coba tanya kepada diri Anda sendiri apakah Anda merasa telah memasukan sesuatu ke dalam masakan saya," sindir Mentari.


"Kurang ajar kamu Menantu Benalu, jadi kamu menuduh aku memasukan obat penguras perut ke dalam masakan kamu?" teriak Mommy Sandra yang saat ini hendak menampar pipi Mentari, tapi Mentari langsung mencekal tangan Mommy Sandra.


"Mentari !!" teriak Angga.


"Bang," ujar Mentari yang langsung menghampiri Angga, lalu mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan Suaminya, tapi Angga langsung menepisnya.


"Apa yang sudah kamu lakukan sama Mommy? Kenapa kamu tega mendorong Mommy sampai jatuh?" tanya Angga dengan suara yang tinggi.


"Semua tidak seperti yang Abang pikirkan, tadi Mentari hanya mencoba untuk menghalangi Mommy yang mau menampar Mentari," ujar Mentari yang mencoba untuk membela diri.


"Mentari, kenapa kamu tega memfitnah Mommy? padahal dari pagi Mommy sudah sibuk membantu pekerjaan kamu di rumah, sampai-sampai tubuh Mommy merasa lemas karena kecapean. Apa Mommy salah jika Mommy bertanya kepada Mentari kemana saja dia seharian ini karena dia baru saja pulang? tapi dia malah marah-marah sama Mommy," ujar Mommy Sandra dengan berakting menangis supaya mendapatkan simpati dari Angga.


Mommy Sandra memang terlihat lemas karena tadi dia sempat diare, tapi Angga mengira jika Ibunya sudah berkata jujur.

__ADS_1


"Apa benar semua perkataan Mommy? padahal selama ini Angga sudah berprasangka buruk terhadap Mommy, Angga pikir selama ini Mommy yang sudah berbuat jahat kepada Mentari," ujar Angga yang saat ini merasa bersalah terhadap Ibunya.


"Jawab Mentari, jangan diam saja !!" bentak Angga dengan menggoyang-goyangkan tubuh Mentari.


"Abang sudah mendengar semua penjelasan dari Mommy kan? Abang bisa membenarkan semuanya, karena percuma Mentari berkata jujur pun Abang gak bakalan mungkin percaya kepada Mentari," jawab Mentari.


Siapa yang harus aku percaya? selama ini Mentari adalah Istri yang baik, tapi bagaimanapun juga Mommy adalah Ibu kandungku, batin Angga yang saat ini berada dalam dilema.


"Maaf Bang, Mentari ke kamar duluan," ujar Mentari dengan menangis, kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Angga merasa bersalah karena sudah menuduh Mentari, tapi Angga masih belum yakin dengan kejadian yang sebenarnya, Apa mungkin jika Ibunya tega menampar Mentari? tapi dia melihat jika tadi Ibunya yang terjatuh karena di dorong oleh Mentari.


"Kamu kenapa diam saja Angga? apa kamu tidak percaya dengan perkataan Mommy? kamu harus tau kalau selama ini Mentari tidak sebaik yang kamu pikirkan, Mentari sudah bersikap semena-mena terhadap Mommy, apa kamu tega melihat Mommy menderita karena disakiti oleh Istri kamu? kamu harus ingat, kalau Mommy adalah perempuan yang sudah melahirkan kamu,"


"Mom, tolong beri Angga waktu untuk memikirkan semua ini, Angga tau kalau Mommy adalah Ibu yang telah melahirkan Angga ke Dunia ini, tapi bagaimanapun juga Mentari adalah Istri Angga Mom."


"Jadi kamu lebih percaya kepada Mentari dibandingkan Mommy?"


"Bukan seperti itu Mom. Maaf ya Mom, Angga mau bersih-bersih dulu, gak enak badan Angga udah lengket," ujar Angga dengan berlalu meninggalkan Mommy Sandra.


"Rasain kamu Mentari, secara perlahan aku akan membuat Angga membenci kamu, kemudian berpaling kepada Jingga," gumam Mommy Sandra dengan tersenyum licik.


Angga saat ini membuka pintu kamarnya, dia melihat Mentari yang sedang menangis. Tadinya Angga akan menghampiri Mentari, tapi dia mengurungkan niatnya lalu kemudian masuk ke kamar mandi.


Kenapa Bang Angga tidak mempercayai semua perkataanku, sedangkan oranglain saja bisa percaya kepadaku, padahal Mas Fajar baru saja mengenalku, tapi sedikit pun dia tidak meragukan perkataanku. Saat ini aku ingin sekali menangis dalam pelukan Bang Angga, tapi sekarang apa pun yang aku katakan, Bang Angga pasti tidak akan mempercayainya lagi, bahkan Bang Angga sepertinya sudah tidak peduli kepadaku dan bayi yang ada dalam kandunganku saat ini, ucap Mentari dalam hati yang merasa kecewa dengan sikap Angga.


Mentari sampai tertidur karena seharian ini dia sudah bekerja keras, belum lagi kurang tidur karena sudah memasak dari dini hari.

__ADS_1


"Maafkan Abang ya sayang, Abang tidak tau harus percaya kepada siapa, saat ini Abang berada dalam dilema." gumam Angga dengan mengelus kepala Mentari, Angga merasa bersalah karena sudah membentak Mentari, tapi di sisi lain Angga tidak mungkin menyangkal semua yang dia lihat, karena jelas-jelas tadi dia melihat kalau Ibunya terjatuh di hadapan Mentari. Angga akhirnya merebahkan diri di samping Mentari, kemudian ikut tertidur dengan memeluk tubuh Istri yang sangat dicintainya.


__ADS_2