Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 66 ( Ingatan yang mulai kembali )


__ADS_3

Mentari, Fajar dan Angga terlihat saling berpandangan ketika mereka melihat Stella yang berlari seperti ingin muntah.


"Sayang, Stella kenapa ya? apa dia sedang tidak enak badan?" tanya Angga.


"Iya Bang, sepertinya Stella sedang tidak enak badan," jawab Mentari.


"Abang sebaiknya berangkat sekarang, udah siang juga, takutnya jalanan macet," ujar Angga dengan memeluk serta mencium kening Mentari, sehingga membuat Fajar merasakan sesak dalam dadanya.


"Abang hati-hati ya, Mentari harap Abang tidak terlalu dekat dengan Kak Jingga," ujar Mentari dengan mencium punggung tangan Angga.


"Iya sayang, Abang pasti tidak akan melakukan kesalahan yang sama, ya sudah kamu lanjutin lagi makannya, gak usah antar Abang sampai ke halaman. Fajar aku berangkat dulu ya," ujar Angga.


"Iya Angga, maaf kalau udah satu bulan lebih aku masih saja tinggal di sini."


"Kamu gak usah terlalu banyak pikiran, itu semua juga terjadi karena kamu sudah berjasa menyelamatkan Anak dan Istriku," ujar Angga lalu melangkahkan kaki keluar dari rumahnya.


Setelah kepergian Angga, Fajar kembali angkat bicara.


"Mentari, kamu baik-baik saja kan? mungkin kamu bisa membohongi semua orang dengan senyum palsu kamu, tapi tidak denganku, karena aku bisa melihat luka yang terpancar dari mata kamu."


"Mas Fajar tidak usah mengkhawatirkan Mentari, meskipun semua itu menyakitkan, tapi Mentari akan terus berjuang demi kedua bayi yang Mentari kandung."


"Apa harus kamu berjuang dengan mengorbankan diri kamu sendiri? aku tau semua itu menyakitkan untuk kamu, dan aku harap kamu bisa berbagi semua kesedihan yang saat ini sedang kamu rasakan kepadaku."


"Tapi tidak pantas seorang Istri menceritakan semua keluh kesahnya kepada lelaki lain."


"Kamu pernah bilang kan kalau kita sudah berkomitmen untuk menjadi Adik dan Kakak? jadi gak ada salahnya jika seorang Adik curhat kepada Kakaknya," ujar Fajar sehingga membuat Mentari termenung.


"Aku juga hanya perempuan biasa yang akan merasa terluka jika mendapatkan sebuah pengkhianatan dari Suamiku, tapi aku yakin jika Bang Angga sudah dijebak oleh Kak Jingga, jadi semua itu tidak sepenuhnya salah Suamiku Mas. Mulai sekarang aku akan mencoba untuk mengikhlaskan semuanya."


"Kenapa kamu begitu yakin dengan Suami kamu Mentari?"


"Sebuah rumah tangga harus di dasari oleh rasa saling percaya Mas. Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu mau masak buat jualan," ujar Mentari.

__ADS_1


"Mas ikut ya," ucap Fajar yang dibalas oleh anggukan kepala dan senyuman oleh Mentari.


Semua pekerjaan menjadi lebih cepat selesai karena Mentari dan Fajar merupakan tim yang solid.


"Terimakasih banyak ya Mas, karena Mas Fajar sudah membantu Mentari, jadi pekerjaan Mentari menjadi lebih cepat selesainya," ujar Mentari.


"Iya sama-sama, kan sudah menjadi kewajiban bagi seorang Kakak untuk membantu Adiknya. Oh iya, sebaiknya mulai sekarang kita berjualan di Pasar lagi saja gimana?"


"Aku ikut Mas Fajar aja, Alhamdulillah kemarin juga dagangan kita cepat habis. Aku juga nanti mau langsung ke rumah orangtuaku Mas, kasihan Bapak sama Ibu lagi gak enak badan, jadi sekalian aku mau bawain makanan buat mereka."


Mentari dan Fajar langsung saja berjalan menuju Pasar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Mentari. Benar saja, mereka berdua hanya memerlukan waktu satu jam saja untuk berjualan, karena yang membeli dagangan Mentari kemarin sangat menyukai masakannya, sehingga mereka kembali membeli masakan Mentari.


"Alhamdulillah Mas, sekarang dagangan kita sudah habis. Apa sekarang Mas Fajar mau ikut ke rumah orangtuaku?"


"Tentu saja, dengan senang hati aku akan ikut kemana pun kamu pergi," supaya aku bisa terus menjaga kamu Mentari, lanjut Fajar dalam hati.


"Mas Fajar tunggu dulu sebentar ya, aku mau ke toilet dulu. Aku titip tas sama keranjangnya ya," ujar Mentari.


"Apa perlu aku antar?" tanya Fajar.


Setelah Mentari pergi ke toilet, ada beberapa orang yang memakai jas hitam menghampiri Fajar yang sedang duduk menunggu Mentari.


"Kalian mau apa?" tanya Fajar dengan memicingkan matanya.


"Maaf Tuan, apa Tuan tidak mengenali kami? kami adalah Anak buah Tuan," ujar Rendra salah satu kepercayaan Fajar.


"Maaf, saat ini ingatanku masih belum pulih sepenuhnya, jadi aku belum bisa mengingat kalian semua."


"Kami sudah mencari Anda kemana-mana Tuan, kami sangat khawatir ketika mendengar Tuan kecelakaan."


"Kalian tidak usah mengkhawatirkan keadaanku, aku baik-baik saja."


"Lalu apa tugas kami sekarang Tuan?"

__ADS_1


"Kalian pantau terus gerak gerik Jingga, jangan sampai dia mencelakai Mentari, dan sebaiknya kalian mengawasiku dari jarak jauh saja."


"Apa Tuan tidak mau pulang ke rumah?" tanya Rendra.


"Nama kamu Rendra kan? sekarang aku sudah mulai ingat meskipun hanya sedikit. Seperti biasa kamu handle semua pekerjaanku Rendra, karena aku tidak akan pulang dulu sebelum Mentari aman, karena saat ini masih ada orang yang berusaha untuk mencelakainya."


"Baik Tuan, kalau Tuan memerlukan apa pun Tuan bisa hubungi saya," ujar Rendra dengan memberikan kartu namanya.


"Oke nanti aku hubungi kamu. Sebaiknya kalian sekarang pergi dulu, karena sebentar lagi Mentari pasti akan kembali ke sini."


Rendra beserta anak buah Fajar yang lainnya memutuskan untuk berbagi tugas. Sebagian dari mereka di suruh mengawasi Jingga, dan sebagian lagi akan mengawasi serta mengikuti Fajar supaya bisa melindungi Fajar dan Mentari jika mereka berdua berada dalam bahaya.


"Mas Fajar maaf ya nunggunya lama, Mentari barusan mules."


"Iya gak apa-apa, sebaiknya sekarang kita langsung berangkat saja ke rumah orangtua kamu."


"Gak apa-apa kan kalau kita naik angkot?" tanya Mentari.


"Iya gak apa-apa kok," asalkan sama kamu, apa pun pasti akan aku lakukan Mentari, lanjut Fajar dalam hati.


Setelah menempuh setengah jam perjalanan, akhirnya Mentari dan Fajar sampai di rumah orangtua Mentari.


"Yuk Mas kita langsung masuk saja, sepertinya Ibu tidak berjualan," ujar Mentari, karena melihat warung Ibunya yang tutup.


"Assalamu'alaikum," ucap Mentari dan Fajar yang saat ini sudah berada di depan pintu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Rima dan Pak Hasan yang melihat kedatangan Mentari. Mereka mengira jika suara lelaki yang datang dengan Mentari adalah Suaminya. Akan tetapi, ketika orangtua Mentari melihat jika itu bukan Angga, mereka merasa terkejut.


"Ayo Mas Fajar, perkenalkan ini orangtua Mentari."


"Saya Fajar Bu, Pak," ucap Fajar dengan mencium punggung tangan Bu Rima dan Pak Hasan.


"Maaf Mentari, siapa Nak Fajar ini? tidak seharusnya kan kamu berjalan dengan lelaki yang bukan muhrim kamu?" tanya Pak Hasan.

__ADS_1


"Iya Pak, Mentari tau. Maaf karena Mentari ke sini membawa Mas Fajar. Mas Fajar ini adalah orang yang telah menyelamatkan Mentari waktu Mentari hampir tertabrak motor saat liburan di Puncak," jawab Mentari.


__ADS_2