
Angga berada dalam dilema karena sepertinya dia akan sulit mendapatkan restu dari keluarganya untuk menikah dengan Mentari sang pujaan hati.
"Apa pun yang terjadi, aku akan tetap menikahi Mentari, meskipun keluargaku sendiri tidak merestuinya," gumam Angga.
Keesokan harinya Angga masih tetap menyambangi rumah Mentari dengan alasan mengembalikan rantang makanan.
Untung saja ada rantang makanan ini, jadi aku mempunyai alasan untuk datang ke rumah Mentari, batin Angga.
"Assalamu'alaikum," ucap Angga ketika melihat Mentari sedang menyiram tanaman di depan rumahnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mentari dengan tersenyum.
"Mentari bisa gak senyumnya jangan manis gitu? takutnya nanti kamu digigit lebah karena dikira madu," ujar Angga dengan cengengesan.
"Pagi-pagi udah gombal aja Bang," ucap Mentari.
"Habisnya kalau melihat Mentari yang bersinar memancarkan kecantikannya, Abang jadi pengen gombal terus," ujar Angga.
"Udah gak usah gombal, takutnya nanti hidungku terbang dengerin gombalan Bang Angga. Oh iya Bang, tumben pagi-pagi gini sudah ke sini?" tanya Mentari.
"Ini Abang mau nganterin Rantang bekas makanan kemarin," jawab Angga.
"Padahal ga dibalikin juga gak apa-apa Bang, kasihan kan nanti berangkat kerjanya kesiangan, apalagi sudah seminggu kemarin Bang Angga bolos karena nungguin aku di Rumah Sakit," ujar Mentari.
"Buat Mentari apa sih yang enggak," goda Angga dengan menaik turunkan alisnya.
Bu Rima yang mendengar suara Angga pun langsung bergegas keluar untuk menemuinya.
"Eh ternyata calon menantu Ibu udah datang," celetuk Bu Rima, sehingga Mentari menatap tajam Ibunya tersebut.
"Alhamdulillah, akhirnya Abang di akui juga sama Ibu," ujar Angga dengan mencium punggung tangan Bu Rima.
__ADS_1
"Ayo Nak Angga masuk, Ibu udah masak banyak khusus buat Nak Angga," ajak Bu Rima dengan menggandeng tangan Angga untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Siapa sih sebenarnya Anak Ibu? giliran ada Bang Angga aja, aku langsung ditinggalin," gumam Mentari dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Angga, Mentari dan beserta kedua orangtuanya kini sudah terlihat berkumpul untuk sarapan bersama. Pak Hasan pun angkat bicara untuk membahas pembangunan Mesjid atas nama mendiang Fahri dan Bu Asih.
"Oh iya, perusahaan Nak Angga bukannya bekerja di bidang kontruksi ya? apa Nak Angga bisa membantu Mentari untuk mewujudkan niatnya membangun Mesjid atas nama Suami dan Mertuanya?" tanya Pak Hasan.
"Insyaallah saya bisa bantu Pak, kebetulan ada bagian Arsitek nya juga yang nanti bisa merancang gambar sesuai yang diinginkan Mentari, kalau untuk pekerja bangunannya Bapak mau dari pihak kami, atau memberdayakan masyarakat sekitar?" tanya Angga.
"Sebaiknya kalau untuk pekerja kita gunakan jasa warga sekitar saja ya, kasihan juga sekarang banyak yang lagi nganggur," jawab Pak Hasan.
"Iya Pak, lebih bagus seperti itu."
"Mentari gak mau ya kalau nanti Bang Angga gak Profesional."
"Maksud Mentari apa?" tanya Angga.
"Bang Angga nanti pasti gak bakalan mau kan kalau Mentari bayar?" ujar Mentari.
"Tau lah, kemarin juga biaya Rumah Sakit Mentari, Bang Angga yang bayar semua."
"Ya sudah kalau begitu Bang Angga bakalan bersikap profesional, nanti biar Karyawan Bang Angga yang mencatat rinci semua pengeluarannya," ujar Angga.
Akhirnya aku bisa bersama dengan Mentari terus tanpa harus bolos kerja, Mommy kan mata duitan, jadi kalau aku mengerjakan proyek dari Mentari pasti dia gak bakalan ngomel-ngomel terus, batin Angga.
Pembangunan Mesjid pun mulai dilakukan, dan Angga berlaku sebagai pemborong nya. Biasanya waktu yang diperlukan akan mencapai empat bulan, tapi Angga sengaja memangkas semuanya menjadi tiga bulan supaya Mentari tidak terlalu banyak mengeluarkan uang.
Mentari selama tiga bulan ini sering bolak balik Restoran untuk mengecek semuanya, sedangkan untuk urusan perusahaan dia menyerahkan semuanya kepada Angga karena kantor milik Angga letaknya berada di samping kantor milik Mentari, sehingga memudahkan Angga melakukan pekerjaannya sebagai seorang Presdir.
Hubungan Mentari dan Angga semakin hari semakin dekat, apalagi mereka berdua saat ini menjadi partner kerja. Mentari juga saat ini sudah selesai melewati masa idah, tapi Angga tidak mau menanyakan keputusan Mentari untuk menikah dengannya karena Angga takut jika Mentari belum siap, apalagi keluarga Angga masih belum memberikan restu kepada mereka berdua.
__ADS_1
Angga terus berusaha untuk membujuk Ibunya supaya memberikan restu, tapi keluarga Angga menolak keras terhadap hubungan Angga dan Mentari, meskipun mereka tau jika Mentari sudah berjasa terhadap kemajuan usaha Angga saat ini.
......................
1 tahun kini telah berlalu dari semenjak kepergian Fahri, dan Mentari saat ini sudah menjanda selama satu tahun juga.
"Mentari, sampai kapan kamu akan menggantung Nak Angga? apa belum cukup pengorbanan Nak Angga selama ini?" tanya Bu Rima.
"Mentari belum siap untuk membina sebuah rumah tangga Bu," ujar Mentari.
"Kapan kamu akan siap? hari ini sudah bertepatan dengan 1 tahun meninggalnya Suami Mentari, Apa itu masih belum cukup lama?" tanya Bu Rima.
Mentari kini nampak termenung mencerna kata-kata Ibunya.
"Ibu dan Bapak sudah tua Nak, kita juga ingin merasakan menggendong cucu," ujar Bu Rima.
Sebenarnya Bu Rima dan Pak Hasan sudah mempunyai seorang cucu dari Jingga yang saat ini berusia 4 bulan, tapi mereka tidak pernah mengetahui semua itu, karena Jingga selama kehamilannya tidak pernah menemui keluarganya.
Pada saat melahirkan, Jingga juga mengalami kesulitan, sehingga mau tidak mau dia melakukan operasi caesar, tapi dia masih saja belum menyadari semua kesalahannya karena mungkin saja itu semua adalah hukuman karena dia telah durhaka kepada orangtuanya serta selalu berbuat jahat kepada Adik kandungnya sendiri.
Fajar saat ini sudah mulai melakukan aksinya untuk menghancurkan Jingga dan Bram.
Beberapa bulan yang lalu ketika Jingga sedang hamil besar, Fajar sengaja mengirimkan seorang perempuan penggoda untuk merusak rumah tangga Bram dan Jingga, sehingga Bram akhirnya melakukan Nikah siri dengan perempuan tersebut tanpa sepengetahuan Jingga.
Bram juga masih sering mengganggu Mentari, tapi Angga selalu berusaha untuk melindunginya. Sampai akhirnya hari ini adalah puncak dari kegilaan Bram.
Bram sengaja mengirimkan lima orang Preman untuk menculik Mentari yang saat ini baru selesai mengecek Restoran.
Saat Mentari menunggu Angga di depan Restoran, tiba-tiba saja mulut Mentari di bekap oleh salah seorang Preman, setelah itu Mentari dibawa masuk ke dalam mobil.
Angga yang pada saat itu melihat penculikan Mentari, bergegas mengejar mobil tersebut dan langsung saja menghadang mobilnya di tengah jalan.
__ADS_1
Keempat Preman akhirnya turun untuk melawan Angga yang hanya seorang diri. sedangkan satu orang lagi ditugaskan untuk menjaga Mentari.
Mentari hanya bisa menangis dan berteriak dari dalam mobil melihat Angga yang sudah babak belur dan bercucuran darah karena pertarungan tidak seimbang, sampai akhirnya kelima Preman suruhan Bram dapat dikalahkan setelah kedatangan Anak Buah Fajar yang menolong Mentari dan Angga.