Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 47 ( Obat Penguras Perut )


__ADS_3

Mentari sudah berjibaku mengerjakan pesanan Fajar mulai dari jam 02.00 sebelum Angga terbangun, dan pada saat Adzan Subuh berkumandang, Mentari telah selesai membereskan semuanya.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga masakannya, tinggal aku bungkus saja nanti kalau Bang Angga sudah berangkat bekerja."


Sebelumnya, saat kemarin Jingga datang ke rumah Mentari, Jingga juga sudah memberikan obat penguras perut kepada Mommy Sandra ketika mereka mendengar jika Mentari mendapatkan pesanan makanan, jadi Mommy Sandra bergegas mencampurkan obat tersebut ke dalam masakan Mentari ketika Mentari melaksanakan Shalat Subuh.


Untung saja Mentari terlebih dahulu memisahkan masakannya untuk Angga dan yang lainnya sebelum Mommy Sandra memasukan obat penguras perut ke dalam masakan Mentari, jadi Angga dan Mentari tidak ikut sakit perut.


"Ternyata Bang Angga benar-benar menyukai masakanku, sampai-sampai hanya tersisa sedikit, sebaiknya sekarang aku makan dulu lauk sisa Bang Angga, biar buat Mommy dan Stella aku ngambil lagi dari wajan sebelum aku memasukannya ke dalam box," gumam Mentari.


Mentari akhirnya mengambil kembali masakan dari wajan yang sudah Mommy Sandra campur dengan obat penguras perut dan memisahkannya untuk Mommy Sandra dan Stella.


Setelah Angga berangkat bekerja, Mentari bergegas memasukan semua makanan dan menatanya ke dalam box.


"Alhamdulillah beres juga, semoga semua pekerjaanku menjadi amal ibadah, dan seterusnya diberikan kelancaran, Amin," gumam Mentari.


Setelah Mentari berangkat untuk mengantarkan pesanan Fajar ke Panti Asuhan Mutiara Bunda, Mommy Sandra dan Stella bergegas pergi ke dapur untuk makan.


"Akhirnya si Benalu pergi juga, Mommy udah lapar banget, untung saja sebelum Mommy mencampurkan obat penguras perut ke dalam masakannya, dia sudah terlebih dahulu memisahkan lauk buat kita," ujar Mommy Sandra yang tidak mengetahui jika makanan yang sebelumnya dipisahkan oleh Mentari telah habis dimakan oleh Angga, jadi Mommy Sandra dan Stella kebagian makanan yang sudah Mommy Sandra campur dengan obat penguras perut.


Mommy Sandra dan Stella akhirnya makan masakan Mentari dengan lahap.


"Aduh Mommy kenyang banget," ujar Mommy Sandra dengan mengelus perutnya yang merasa kekenyangan.


"Iya Mom, Stella jg kenyang banget nih, tapi tunggu dulu deh, kenapa perut Stella tiba-tiba mules ya."


"Iya perut Mommy juga mules banget nih."


Akhirnya Mommy Sandra dan Stella terus bolak balik ke toilet sampai mereka berdua merasa lemas.

__ADS_1


"Semua ini gara-gara Mommy masukin obat ke masakan si Benalu sih, jadi kita kena imbasnya juga kan," ujar Stella.


"Kok kamu nyalahin Mommy sih, kan yang punya ide sama ngasih obat Jingga. Tapi obatnya ampuh banget, kita aja sampai lemas begini. Semoga saja rencana kita berhasil, Si Menantu Benalu nanti akan disalahkan dan pasti dia akan masuk penjara, biar dia membusuk di Penjara sekalian" ujar Mommy Sandra kemudian tertawa terbahak-bahak bersama Stella.


......................


Mentari saat ini telah sampai di Panti Asuhan Mutiara Bunda, dan Fajar sudah menunggu kedatangan Mentari di halaman Panti.


"Mbak, makasih ya sudah berkenan datang, saya merasa bahagia karena biasanya saya menghadiri acara amal ini sendiri," ucap Fajar.


"Memangnya keluarga mas Fajar kemana?" tanya Mentari.


"Saya sebenarnya sudah Yatim Piatu, dan Kakak saya satu-satunya juga sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu, jadi saat ini keluarga saya yang tersisa tinggal dua keponakan saya yang tinggal di luar Negeri," jawab Fajar.


"Innalillahi, maaf ya Mas saya tidak tau. Mas Fajar yang sabar ya, Allah SWT akan selalu bersama orang-orang sabar, jadi Mas Fajar tidak boleh merasa sendirian," ujar Mentari.


"Mas Fajar bisa menganggap saya sebagai Adik, itu pun kalau Mas berkenan," ucap Mentari.


Aku ingin menjadi orang yang berarti dalam hidup kamu mentari, aku ingin menjadi seseorang yang selalu mendampingi kamu dalam suka dan duka, tapi bukan menjadi Kakak juga kali, batin Fajar yang merasa kecewa.


"Kok mas Fajar diem aja? memangnya mas gak mau ya jadi Kakak Mentari?"


"Eh maaf tadi mas sedang memikirkan sesuatu, mas mau kok, yuk sekarang kita masuk," ujar Fajar dengan menggandeng tangan Mentari.


"Mas, maaf tangannya, aku udah punya Suami lho," ujar Mentari.


"Bukannya tadi Mentari bilang kalau Mas harus menganggap Mentari sebagai Adik? jadi gak apa-apa kan kalau seorang Kakak jagain Adiknya supaya tidak terjatuh," ujar Fajar dengan tersenyum karena dia mempunyai alasan untuk berdekatan dengan Mentari, sehingga Mentari yang mendengar jawaban dari Fajar pun tidak bisa berkutik.


Sesampainya di dalam Panti Asuhan, Ibu Panti beserta Anak-anak di Panti Asuhan tersebut menyambut kedatangan Fajar yang memang sudah menjadi donatur tetap melanjutkan Almarhum orangtuanya yang sudah menjadi donatur di Panti Asuhan tersebut.

__ADS_1


Fajar tertawa bahagia dengan menggendong serta bermain dengan Anak-anak Panti, sehingga Mentari yang melihatnya pun ikut tersenyum.


"Sungguh mulia hati mas Fajar," gumam Mentari.


"Nak Fajar memang Pemuda yang baik, tapi baru kali ini saya melihat dia membawa seseorang ke Panti Asuhan ini. Semoga hubungan Mbak dan Nak Fajar langgeng ya, kalian nampak begitu serasi," ujar Ibu Panti.


Mentari hendak menyangkal hubungan dia dan Fajar, tapi ketika Mentari hendak berbicara beliau keburu di panggil untuk membagikan makanan dan uang santunan oleh Fajar.


Fajar yang melihat Mentari melamun pun akhirnya menghampiri Mentari.


"Hei kenapa melamun? oh iya Mas sampai lupa, ini uang nasi box nya. Makasih banyak ya sudah bersedia nganterin sampai sini," ujar Fajar dengan memberikan amplop berisi uang kepada Mentari.


Mentari langsung membuka uang dalam amplop tersebut yang ternyata berjumlah 10 juta rupiah.


"Mas kenapa uangnya banyak banget, padahal seharusnya cuma 5 juta saja," ujar Mentari dengan mengembalikan uang 5 juta lagi kepada Fajar.


"Itu buat keponakan Mas, Mentari bilang Mas kan harus menganggap Mentari sebagai Adik, jadi gak salah kan kalau seorang Kakak memberikan uang jajan untuk Adiknya," ujar Fajar dengan terkekeh karena lagi-lagi dia membuat Mentari tak bisa melawan kemauannya.


"Tapi Mas gak ada maksud terselubung kan?" selidik Mentari dengan memicingkan matanya.


"Dosa lho udah suudzon sama aku," ujar Fajar dengan cemberut, sehingga Mentari merasa tidak enak karena telah menuduhnya.


"Maaf deh, terimakasih banyak ya Kak. Udah jangan cemberut nanti gantengnya hilang," ujar Mentari.


"Mas gak marah, tapi Mentari harus bantu bagiin nasi sama uang santunannya."


"Siap Bos, yuk sekarang kita bagiin," ujar Mentari dengan antusias sehingga dia tidak sadar kalau sudah menarik tangan Fajar, lalu menggenggamnya dengan erat.


Fajar merasa bahagia, lalu senyum-senyum sendiri tanpa berniat mengingatkan Mentari, karena dia ingin merasa dekat dengan perempuan yang sangat dicintainya meskipun Fajar sadar jika dia sudah berdosa dan tidak mungkin bisa memiliki Mentari.

__ADS_1


__ADS_2