Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 58 ( Pilihan yang sulit )


__ADS_3

Setelah Jingga dan David sampai di rumah Jingga, David kembali angkat bicara.


"Honey, aku mohon sama kamu, jangan lakukan semua itu ya," ujar David mencoba berbicara dengan lembut supaya bisa membuat hati Jingga luluh.


"Apa maksud kamu David? apa sekarang kamu merasa kasihan sama Mentari?" selidik Jingga dengan menatap lekat wajah David.


"Coba kamu pikirkan sekali lagi Jingga, saat ini Mentari sedang hamil, apa kamu tega merebut Angga dengan kondisi Mentari sekarang ini?"


"Sepertinya kamu belum tau sepenuhnya siapa aku David, karena aku tidak akan menyerah sampai semua keinginanku tercapai."


"Kamu sudah cukup membuat Mentari hancur dengan menyabotase mobil Fahri sehingga dia meninggal."


"Diam kamu David, tutup mulut kamu, jangan pernah kamu mengungkit masalah itu lagi, karena aku tidak mau kalau sampai ada oranglain yang mengetahui jika aku adalah dalang dibalik kematian Fahri !!"


"Stop ambisi gila kamu Jingga, jangan menghancurkan hidup kamu sendiri, aku tidak mau kalau sampai semua itu berbalik menghancurkan kamu," David menggenggam tangan Jingga dengan berlutut dihadapannya.


"Jadi kamu rela berlutut kepadaku hanya demi si Mentari si*alan itu? baik kalau itu keinginan kamu, sekarang juga aku akan meminum ini supaya janin dalam kandunganku ma*ti," ujar Jingga yang saat ini hendak meminum obat penggugur janin.


Ini adalah pilihan yang sulit untukku, karena aku harus memilih menyelamatkan hidup Mentari dan Anaknya, atau memilih menyelamatkan Anak kandungku sendiri yang saat ini berada dalam kandungan Jingga, batin David yang saat ini berada dalam dilema.


"Kamu sepertinya sudah siap untuk kehilangan darah daging kamu David," ujar Jingga yang sudah mendekatkan obat penggugur janin ke dalam mulutnya.


"Hentikan Jingga !! teriak David dengan melempar obat penggugur janin yang akan Jingga minum.


"Oke aku akan menuruti semua kemauan kamu, sekarang kamu bebas melakukan semua yang kamu inginkan, dan aku tidak akan melarangnya lagi," ujar David.


Maafkan aku Mentari, karena aku tidak bisa menyelamatkan rumah tangga kamu, aku tau betul Jingga pasti tidak akan pernah menyerah sampai dia mendapatkan semua keinginannya, ucap David dalam hati.


"Terimakasih ya sayang, kamu memang yang terbaik, kamu tenang saja, meskipun aku nanti sudah menikah dengan Angga, tapi kamu akan tetap menjadi pemuas hasratku," ujar Jingga dengan memeluk tubuh David.

__ADS_1


"Ya sudah, sebaiknya sekarang kamu minum obat, terus kamu istirahat," ujar David dengan memberikan obat kepada Jingga, lalu menyelimuti Jingga.


"Sayang, kamu temani aku tidur ya, aroma tubuh kamu sedikit mengurangi rasa mual yang aku alami saat ini, Mungkin bayi ini menginginkan Ayahnya untuk selalu berada di dekatnya," ujar Jingga dengan memeluk tubuh David, sehingga David merebahkan tubuhnya di samping Jingga.


......................


Angga saat ini berada dalam dilema, karena dia harus kembali pulang, dan meninggalkan Mentari bersama Fajar.


"Sayang, aku sebenarnya gak mau pulang, apa kita nyuruh seseorang aja ya buat merawat Fajar, supaya kamu bisa ikut aku pulang," bisik Angga di telinga Mentari, karena dia tidak mau kalau sampai Fajar mendengar usulnya.


"Mentari mengerti perasaan Abang saat ini, tapi Mentari gak enak kalau harus meninggalkan Mas Fajar, apalagi kondisinya saat ini masih belum stabil," jawab Mentari dengan berbisik di telinga Angga, sehingga membuat Fajar merasakan sesak dalam dadanya karena dia mengira jika Mentari dan Angga sedang bermesraan.


Fajar akhirnya membalikan badannya, karena tidak kuat menahan sakit yang menusuk hatinya.


"Fajar, aku pulang dulu ya, tolong jaga Mentari baik-baik, dan jangan sampai Mentari lecet sedikit pun," ujar Angga yang saat ini menghampiri Fajar.


"Abang kok ngomongnya seperti itu sih, yang sekarang sedang sakit kan Mas Fajar, jadi harusnya Mentari yang menjaganya," ujar Mentari.


"Kalau kamu mau membawa Mentari pulang silahkan saja Angga, aku tidak akan melarangnya, lagian aku juga bukan siapa-siapa kalian, jadi kalian tidak punya tanggung jawab untuk mengurusku, biar nanti aku minta bantuan saja kepada Perawat di sini," jawab Fajar.


"Abang sih ngomong seperti itu, jadi Mas Fajar tersinggung kan," bisik Mentari.


"Sayang, Fajar juga sudah mengijinkan kita untuk pulang, jadi sebaiknya ikut Abang pulang sekarang ya, nanti Abang bayar Suster deh buat merawat Fajar sampai sembuh," rengek Angga sehingga membuat Fajar merasa muak.


"Bang, jangan kayak Anak kecil deh, saat ini Mas Fajar sedang hilang ingatan, nanti bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat kepadanya, semua ini terjadi karena Mas Fajar nolongin Mentari kan, jadi sudah menjadi kewajiban kita untuk membalas budi," ujar Mentari.


Angga nampak berpikir, kemudian dia mengajak Mentari untuk keluar dari ruang rawat Fajar.


"Sayang, Abang sebenarnya berat buat ninggalin kamu, seharusnya ini menjadi Babymoon kita, tapi ya sudahlah kalau memang kamu mau tetap berada di sini untuk merawat Fajar," ucap Angga dengan cemberut.

__ADS_1


Cup


Mentari mengecup bibir Angga, dan itu membuat mood Angga kembali baik.


"Abang percaya sama Mentari ya, Mentari pasti bisa menjaga diri dengan baik dan akan selalu setia kepada Abang, jadi Abang jangan cemberut seperti itu lagi," ujar Mentari dengan memeluk erat tubuh Angga.


Aku sebenarnya percaya sama Mentari, tapi entah kenapa aku takut jika sampai Fajar merebutnya dariku, batin Angga.


"Ya sudah, kalau begitu Abang pulang dulu ya sayang, maaf Abang gak bisa nemenin kamu. Jaga diri kamu baik-baik, dan jaga si Kembar juga ya, Abang sangat menyayangi kalian," ujar Angga dengan mengelus serta mencium perut Mentari.


"Hati-hati ya Ayah, jangan nakal ya kalau gak ada kami," ujar Mentari dengan menirukan suara Anak kecil.


"Iya sayang. Abang sebenarnya gak mau melepas pelukan Mentari, tapi mau gimana lagi, kerjaan Abang juga banyak banget dan gak bisa ditinggalin," ujar Angga yang dengan berat hati melepaskan pelukannya kepada Mentari, kemudian dia mencium kening Istri yang sangat dicintainya.


"Assalamu'alaikum," ucap Angga.


"Wa'alaikumsalam," jawab Mentari dengan melambaikan tangannya.


Fajar mengira jika Mentari sudah ikut pulang bersama Angga, sehingga membuat hati Fajar merasa sedih.


Harusnya aku tidak boleh begini, Mentari kan bukan siapa-siapa aku, apa cintaku padanya begitu besar, sehingga aku hilang ingatan pun aku masih merasakan cinta kepadanya, ucap Fajar dalam hati, dengan terus membayangkan wajah Mentari yang begitu cantik.


Tiba-tiba Fajar mendengar ucapan Salam.


"Kenapa aku bisa sampai gila seperti ini, kenapa sekarang aku mendengar suara Mentari," gumam Fajar.


"Bang Fajar kepalanya sakit ya?" tanya Mentari yang melihat Fajar memegangi kepalanya.


"Lho, kenapa sekarang aku malah melihat Mentari ada di sini? apa karena kecelakaan itu sekarang aku menjadi berhalusinasi?" gumam Fajar, sehingga membuat Mentari tersenyum.

__ADS_1


"Mas Fajar kenapa sih? ini beneran Mentari, jadi Mas Fajar tidak sedang berhalusinasi," ujar Mentari dengan senyumannya yang manis, sehingga membuat Fajar tersenyum malu, dan merasakan hati yang berbunga-bunga karena ternyata Mentari masih peduli kepadanya.


__ADS_2