Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 30 ( Hasil merebut, pasti direbut juga )


__ADS_3

Ketika Mentari merasakan indahnya rumah tangga, berbanding terbalik dengan Jingga yang saat ini baru mengetahui jika Suaminya telah menikah lagi.


Jingga yang sudah geram kepada Bram pun, langsung saja mendatangi kediaman perempuan yang menjadi istri siri Bram, karena semenjak Jingga hamil besar Bram tidak pernah pulang, bahkan saat melahirkan saja Jingga hanya di antar oleh pembantu seakan Bram sudah tidak peduli lagi kepada dia dan Anaknya.


Brakk


Suara pintu rumah terdengar di buka paksa, dan ternyata itu adalah Jingga yang sudah menerobos masuk ke dalam rumah Bram dan istri siri nya yang bernama Lastri.


Jingga ke sana kemari mencari Bram, sampai akhirnya dia mendengar suara laknat dari sebuah kamar.


Jingga yang sudah menduga jika itu adalah suara Bram dan istri siri nya, langsung saja menerobos masuk ke dalam kamar. Dan ternyata benar dugaan Jingga jika itu adalah Bram dan Lastri yang saat ini sedang melakukan aktifitas panas.


Bram hanya melihat sekilas ke arah Jingga, tanpa menghentikan permainannya, seakan Jingga tidak pernah ada di tempat tersebut.


Jingga merasa geram, hatinya terasa remuk berkeping-keping karena melihat dengan mata kepalanya sendiri adegan dewasa yang dilakukan Suaminya dengan perempuan lain, sampai akhirnya tubuh Jingga lemas dan jatuh di atas lantai.


Bram menyudahinya sampai satu jam dengan Jingga sebagai seorang penonton. Ketika Bram sudah merasa puas dia langsung berdiri mendekati Jingga.


"Mau apa kamu kemari? apa masih kurang uang dan status yang aku berikan kepadamu !!" ucap Bram dengan mengangkat dagu Jingga secara kasar.


"Kamu tega mas, kamu tega mengkhianatiku," tangis Jingga akhirnya pecah.


"Kamu harusnya sadar diri Jingga, semenjak kamu hamil, kamu tidak pernah bisa memuaskan hasratku, jadi apa salahnya aku mencari kesenangan di luar," ucap Bram dengan tidak merasa berdosa sedikit pun terhadap Jingga.


Jingga yang merasa geram langsung berlari dan menjambak rambut Lastri.


"Dasar perempuan ja*lang, beraninya kamu merebut Suamiku," ujar Jingga dengan membabi buta.


Lastri tidak tinggal diam, dan dia langsung berdiri serta menampar Jingga.


Plak


Satu tamparan keras kini mendarat di pipi Jingga.


"Jaga mulut kamu Jingga, bukannya kita berdua sama-sama ja*lang? kamu tidak usah sok suci, karena kamu sendiri telah merebut mas Bram dari istrinya sampai-sampai istri pertama mas Bram bunuh diri. Jadi kamu bukan hanya seorang ja*lang Jingga, tapi juga seorang pem*bunuh !!" teriak Lastri.


"Berani-beraninya kamu !!" ujar Jingga yang hendak menampar Lastri, tapi Lastri langsung mencekal tangan Jingga.

__ADS_1


"Hasil merebut, pasti direbut juga, ingat itu Jingga !!" ucap Lastri penuh penekanan, lalu menghempaskan tangan Jingga dan mendorongnya sampai jatuh.


Bram bukannya menolong Jingga, tapi dia membiarkannya begitu saja.


Bram tersenyum mendengar perkataan Lastri yang begitu berani, lalu kemudian memeluk tubuh lastri dan menciumnya di depan Jingga sehingga Jingga semakin kepanasan.


"Kalian berdua benar-benar tidak tau malu !!" teriak Jingga.


"Seharusnya kamu berkaca dulu sebelum berkata itu kepadaku Jingga," ujar Lastri yang sengaja memanas-manasi Jingga dengan melu*mat bibir Bram.


"Sekarang sebaiknya kamu pergi dari sini Jingga, karena kamu hanya merusak kesenanganku saja !!" teriak Bram dengan mengangkat tubuh Lastri, lalu membaringkannya di atas kasur, karena hasratnya sudah kembali bangkit.


"Kalau aku tidak mau pergi kamu mau apa mas?" teriak Jingga.


"Aku tidak akan segan-segan menceraikanmu dan membuatmu menjadi gelandangan !!" tegas Bram, sehingga nyali Jingga menciut, lalu kemudian pergi dari rumah tersebut.


"Aaaaaa..kenapa semuanya jadi seperti ini," teriak Jingga.


"Lihat saja nanti, aku akan membuat perhitungan denganmu Lastri," ujar Jingga dengan tersenyum licik.


Lastri yang melihat Bram sudah tertidur pulas pun langsung saja bangkit dari pelukan Bram.


Nikmati saja hari-hari terakhirmu tua bangka, karena sebentar lagi kamu akan hidup di dalam Neraka karena harus bertanggung jawab dengan semua perbuatanmu, batin Lastri.


Lastri adalah salah satu Anak buah Fajar, dan dia merasa berhutang budi kepada Fajar yang telah membebaskannya dari rumah bor*dir, sehingga Lastri bertekad akan membalas budi terhadap Fajar.


Fajar pun akhirnya menugaskan Lastri supaya menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Bram dan Jingga, dan secara perlahan menghancurkan mereka berdua.


Lastri dengan senang hati melakukan perintah Fajar, apalagi dia bisa mendapatkan uang banyak dari Bram.


......................


Di tempat lain, tepatnya di Rumah Sakit tempat Angga di rawat, Mentari saat ini sedang memasukan pakaian miliknya dan Angga ke dalam tas, karena hari ini Angga sudah diperbolehkan pulang setelah dua minggu melakukan perawatan intensif.


Setiap hari Angga terus saja menempel kepada Istrinya, seperti sekarang ini, meskipun Mentari sedang sibuk memasukan pakaian, tapi Angga terus saja memeluk tubuh Mentari dari belakang.


"Bang, lepasin dulu pelukannya biar cepet beres-beresnya, memangnya Abang gak mau pulang," ujar Mentari.

__ADS_1


Angga pun langsung melepas pelukannya, lalu bergegas membantu Mentari memasukan baju ke dalam tas.


"Akhirnya beres juga," ujar Angga dengan kembali memeluk tubuh Mentari.


"Tapi Abang gak rapi masukin baju nya," ucap Mentari.


"Yang penting cepet beres-beresnya, soalnya Abang udah gak sabar pengen pulang."


"Ya sudah, sekarang Mentari telpon supir dulu buat jemput kita."


"Gak usah sayang, Abang udah bisa nyetir sendiri kok."


"Abang yakin? Mentari gak mau lho kalau sampai Abang kenapa-napa."


"Sayang gak usah khawatir, selama Mentari ada di samping Bang Angga, Abang pasti akan baik-baik saja," ujar Angga dengan mendaratkan kecupan singkat di bibir Mentari.


Akhirnya Angga dan Mentari kini telah keluar dari Rumah Sakit.


"Lho Bang, sepertinya kita salah jalan, jalan ke rumah kan belok kanan, kenapa kita lurus," ucap Mentari.


"Abang mau ajak Mentari ke suatu tempat," ujar Angga.


"Tapi Ibu sama Bapak nanti kasihan pasti sudah nunggu kita di rumah," ujar Mentari.


"Sayang tenang saja ya, tadi Abang sudah mengabari Ibu kalau kita tidak akan langsung pulang ke rumah," ujar Angga dengan tersenyum.


Angga kini meminta Mentari untuk menutup matanya, lalu dituntunnya Mentari untuk turun dari mobil.


"Sekarang coba sayang buka matanya," ujar Angga.


Mentari terkejut dengan pemandangan yang saat ini berada di depan matanya, karena saat ini Mentari sedang berada di depan sebuah rumah yang sangat mewah.


"Ini rumah siapa Bang?" tanya Mentari.


"Selamat datang di istana kita permaisuriku. Ini adalah rumah yang akan kita tempati bersama Anak-anak kita nanti. Bang Angga sebelumnya meminta maaf karena tidak meminta ijin terlebih dahulu kepada Mentari. Sebenarnya rumah ini adalah hasil dari keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan kita."


"Iya gak apa-apa Bang, lagian kita sekarang kan sudah jadi Suami-istri, jadi semua yang kita punya adalah milik bersama," jawab Mentari dengan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2