
Angga memutuskan untuk mengacuhkan Mentari karena dia selalu merasa bersalah apabila melihat wajah Mentari sehingga Angga selalu menghindarinya. Bahkan ketika Mentari tidur di sampingnya, Angga akan langsung pindah untuk tidur di sofa.
Ada apa dengan Bang Angga, apa dia sebegitu jijiknya terhadapku? apa salah Mentari Bang? batin Mentari kini bertanya-tanya.
Setelah Angga berangkat ke Kantor, seperti biasa Mentari memasak untuk berjualan supaya bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan juga untuk biaya persiapan persalinannya, karena tabungannya selama ini sudah di ambil semua oleh Mertuanya.
"Mentari kamu lagi ngapain?" tanya Fajar pada saat melihat Mentari memotong sayuran.
"Aku mau masak untuk berjualan Mas," jawab Mentari.
"Kenapa kamu harus berjualan? padahal Angga kan kerja? apalagi sekarang kamu lagi hamil, jadi kamu harus banyak istirahat."
"Bang Angga tidak tau kalau aku berjualan, karena yang menyuruhku berjualan Ibunya. Mas Fajar tau, kalau kita pertama kali bertemu pada saat aku pertama kali berjualan. Saat itu kita berdua bertabrakan di pintu Mesjid, dan pada saat kepalaku sakit, Mas Fajar menolongku, bahkan memborong semua daganganku. Bahkan Mas Fajar beberapa minggu yang lalu memesan nasi box untuk acara amal di Panti," cerita Mentari supaya secara perlahan Fajar mengingat sesuatu tentang masalalunya, karena Dokter menyarankan supaya orang terdekat Fajar menceritakan hal yang pernah Fajar lalui sebelum dia hilang ingatan, karena itu akan membuat ingatan Fajar cepat pulih.
Sekilas Fajar mengingat tentang kebersamaannya dengan Mentari, dan pertama kali yang Fajar ingat adalah ketika dirinya dan Mentari berciuman di dalam mobil.
"Ciuman," gumam Fajar.
"Apa Mas? apa Mas Fajar mengingat sesuatu?" tanya Mentari yang tidak jelas mendengar suara Fajar.
"Eh tidak Mentari, aku masih bingung saja, kenapa kamu merahasiakan semuanya dari Angga? bukannya Suami dan Istri itu harus saling terbuka ya?" tanya Fajar yang masih merasa heran.
"Mentari tidak mau kalau sampai Bang Angga bertengkar dengan Ibunya, karena Mentari tidak mau jika Bang Angga menjadi Anak durhaka. Mentari harus berjuang mencari uang untuk memenuhi kebutuhan Mentari sehari-hari Mas."
"Lho, memangnya Angga tidak ngasih kamu uang bulanan?"
"Bang Angga setiap bulan memberikan uang yang lebih dari cukup untuk Mentari, dan dia juga sudah memberikan uang untuk membeli perlengkapan bayi dan biaya persalinan. Akan tetapi, ATM Mentari di ambil sama Mommy Sandra, jadi Mentari harus berusaha untuk mengganti semuanya."
"Astagfirullah Mentari, ternyata selama ini kamu berjuang sendirian, bahkan kamu rela berkorban demi menutupi kebusukan orang yang sudah berbuat dzolim terhadapmu. Aku tidak rela mereka berbuat semena-mena terhadapmu, dan aku akan menceritakan semuanya terhadap Angga," ujar Fajar yang merasa geram.
__ADS_1
"Mentari mohon Mas Fajar jangan lakukan semua itu, karena semuanya hanya akan memperburuk keadaan saja. Mentari ikhlas menjalani semuanya, dan semoga saja semua ini menjadi amal ibadah untuk Mentari."
"Sungguh mulia sekali hati kamu Mentari, tapi mereka sudah keterlaluan, dan kamu tidak boleh diam saja, bagaimana kalau kita membalas perlakuan mereka?" ujar Fajar dengan cengengesan.
"Mas Fajar jangan aneh-aneh deh, kalau kita membalas perbuatan orang yang sudah jahat sama kita, apa bedanya kita sama mereka. Kita jangan membalas kejahatan dengan kejahatan juga karena semua itu tidak akan ada habisnya. Mentari selalu berharap semoga suatu saat nanti semua orang yang membenci Mentari akan berubah menjadi menyayangi Mentari."
Fajar begitu terpana mendengar penuturan pujaan hatinya.
Pantas saja meskipun aku hilang ingatan, aku masih bisa merasakan perasaan cinta kepada Mentari, karena tidak hanya wajahnya saja yang cantik, tapi hatinya begitu mulia, ucap Fajar dalam hati.
"Jangan melamun Mas, nanti kesambet lho. Sebaiknya Mas Fajar istirahat saja supaya lekas sembuh."
"Aku bosen istirahat terus, mendingan aku bantuin kamu memasak."
"Memangnya Mas Fajar bisa masak gitu?"
"Setidaknya aku bantuin ngeliatin kamu masak," gurau Fajar.
"Kamu kalau tersenyum terlihat lebih cantik Mentari," gumam Fajar.
"Apa Mas?"
"Eh tidak, maksudku aku bantu kamu motong-motong sayuran aja, ayo cepat ajarin," ujar Fajar dengan mengambil pisau.
"Mas Fajar tinggal potong-potong saja seperti ini, jangan terlalu besar dan jangan terlalu kecil juga," jelas Mentari dengan memberi contoh kepada Fajar. Akan tetapi, tiba-tiba tangan Mentari terkena pisau sehingga mengeluarkan darah.
"Astagfirullah Mentari, hati-hati donk, tangan kamu jadi berdarah kan," ujar Fajar dengan menghisap tangan Mentari yang berdarah.
Mentari sampai membulatkan matanya melihat perlakuan Fajar.
__ADS_1
"Maaf Mentari, aku tidak bermaksud bersikap kurang ajar terhadap kamu, tapi itu akan membantu menghentikan pendarahan pada jari tangan kamu."
"Iya terimakasih Mas, Mentari hanya terkejut saja. Duh bagaimana ini, tangan Mentari sakit banget."
Fajar bergegas mencari kotak P3K, kemudian dia bergegas memakaikan betadine serta plester di tangan Mentari.
"Sekarang Mentari kasih arahan saja apa yang harus Mas lakuin, nanti biar Mentari yang masukin bumbunya."
"Maaf ya Mas, Mentari sudah ngerepotin Mas Fajar," ucap Mentari yang merasa tidak enak hati kepada Fajar.
"Heh Menantu Benalu, kamu itu bo*doh apa to*lol? jelas-jelas dia yang sudah merepotkan kita, dia juga sudah menumpang hidup di rumah ini. Bagus deh kalau dia tau diri, jangan hanya jadi Benalu juga," ucap Mommy Sandra yang tiba-tiba sudah berada di dapur.
"Nyonya tidak sepantasnya berkata seperti itu kepada Mas Fajar, karena bagaimanapun juga Mas Fajar adalah tamu di rumah ini, dan sudah kewajiban kita untuk menghormati tamu," ujar Mentari.
"Kalian berdua memang sangat serasi, kalian sama-sama Benalu. Selamat bekerja pasangan Benalu," ujar Mommy Sandra, lalu meninggalkan Fajar dan Mentari.
Mentari merasa tidak enak terhadap Fajar, sehingga dia meminta maaf.
"Maafin Mertua Mentari ya Mas, Mentari harap Mas Fajar tidak tersinggung dengan perkataan Mommy Sandra."
"Udah, Mentari gak usah banyak pikiran, sebaiknya sekarang kita mulai memasak, nanti Mas juga bantu Mentari jualan," ucap Fajar dengan tersenyum.
"Makasih banyak ya Mas, Mentari merasa jika sekarang Mentari mempunyai dukungan, dan Mentari merasa tidak sendirian lagi. Mas Fajar memang Kakak yang baik," ucap Mentari.
"Apa, Kakak?" tanya Fajar heran.
"Iya, kita kan sudah berkomitmen kalau Mas Fajar akan menganggap Mentari sebagai Adik, dan Mentari akan menganggap Mas Fajar Kakak."
Jadi Mentari hanya menganggapku sebagai seorang Kakak saja? sebenarnya aku merasa kecewa, tapi yang penting sekarang aku bisa selalu berada di samping Mentari, dan berusaha membantu serta melindunginya, dan itu sudah membuatku merasa bahagia, batin Fajar.
__ADS_1
Fajar memulai memasak dengan arahan dari Mentari, dan semuanya cepat selesai karena mereka berdua sudah bekerja sama dengan baik.