
Mentari baru menyadari jika dia terus menggenggam erat tangan Fajar ketika Ibu Panti menggoda mereka berdua.
"Selamat ya Nak Fajar, kalian berdua sangat serasi. Semoga hubungannya langgeng ya, Ibu jadi iri dari tadi lihat yang pegangan tangan terus."
"Apa?" ucap Mentari, kemudian dia melihat tangannya yang dari tadi sudah memegangi tangan Fajar.
"Maaf saya gak sengaja," ujar Mentari dengan langsung melepaskan genggamannya terhadap Fajar, kemudian Mentari tertunduk malu.
Astagfirullah, kenapa aku bisa gak sadar sudah memegangi tangan Mas Fajar, Ampuni hamba Ya Allah, hamba adalah seorang Istri yang seharusnya menjaga sikap, batin Mentari yang terlihat menyesali perbuatannya.
Fajar yang memahami perasaan Mentari langsung saja angkat bicara.
"Udah gak usah sedih, lagian Mentari kan hanya menganggap Mas sebagai Kakak, jadi gak bakalan dosa kan kalau seorang Adik memegang tangan Kakaknya," ujar Fajar mencoba menghibur Mentari.
Mentari dan Fajar memutuskan untuk membagikan makanan serta uang kepada Anak Panti karena hari sudah semakin siang.
Semua orang yang berada di sana terlihat bahagia dan dengan lahap memakan masakan Mentari yang sangat lezat, tapi Fajar belum sempat memakannya karena dia pergi ke toilet terlebih dahulu.
Ketika Fajar hendak keluar dari toilet, dia merasa kaget karena di luar pintu toilet sudah banyak yang mengantri karena merasakan mulas pada perutnya.
"Mentari, kenapa dengan Anak-anak?" tanya Fajar.
"Mentari gak tau Mas, tadi mereka memakan masakan Mentari dengan lahap, tapi setelah itu mereka muntah-muntah serta merasakan mulas pada perutnya. Bagaimana ini Mas? apa mereka keracunan makanan yang dimasak oleh mentari? padahal Mentari juga tadi sempat makan dan gak terjadi apa-apa kok," ujar Mentari yang saat ini terlihat panik.
"Mentari tenang dulu ya, Mas mau telpon Dokter supaya bisa mengobati mereka."
Setelah Fajar selesai menelpon Dokter, beberapa saat kemudian beberapa Dokter akhirnya datang ke Panti Asuhan dan bergegas memeriksa Anak-anak Panti.
Beberapa Anak yang kondisinya parah langsung saja dilarikan ke Rumah Sakit supaya mendapatkan penanganan yang lebih intensif.
__ADS_1
Fajar yang melihat Mentari menangis pun berusaha untuk menenangkannya.
"Mentari jangan nangis terus donk, Mas tau kalau ini semua bukan perbuatan Mentari."
"Tapi Mentari yang sudah memasak makanannya Mas. Mentari bener-bener minta maaf karena semua ini terjadi atas keteledoran Mentari."
"Apa mungkin itu semua perbuatan Mertua Mentari? karena Mas lihat Mertua dan Adik Ipar Mentari tidak suka kepada Mentari."
"Mentari gak mau suudzon Mas, tapi apa Mommy tega melakukan semua itu?"
"Kita tidak tau isi hati seseorang kan? apalagi mereka secara terang-terangan sudah bersikap tidak baik terhadap Mentari. Mas harap Mentari selalu tegar menghadapi semua cobaan ini ya."
"Terimakasih banyak ya Mas Fajar, karena Mas sudah percaya sama Mentari, maaf jika Mentari sudah membuat kekacauan, dan hanya ini yang bisa Mentari berikan untuk membantu meringankan biaya yang harus ditanggung oleh Mas Fajar," ujar Mentari dengan memberikan kembali uang pembayaran nasi box dari Fajar.
"Mentari masih menganggap Mas Fajar sebagai Kakak kan? kalau Mentari menganggap Mas sebagai Kakak, tolong simpan uang hasil kerja keras Mentari," ujar Fajar dengan memasukan amplop tersebut ke dalam tas Mentari.
"Mentari gak usah takut ya, Mas gak bakalan membiarkan siapa pun menyakiti Mentari. Kalau Suami Mentari sampai tau kalau selama ini Mentari sudah berjuang sendirian untuk mencari uang, bukannya itu bagus karena Angga nanti akan mengetahui kebusukan yang telah dilakukan oleh Ibu dan Adiknya sendiri."
"Justru itu yang Mentari takutkan Mas, Mentari gak mau kalau terjadi keributan antara Bang Angga dan Ibunya, Mentari gak mau kalau sampai Suami Mentari menjadi Anak durhaka, karena bagaimanapun juga Surga ada di telapak kaki Ibu."
Sungguh mulia hati kamu Mentari, kamu rela berkorban meskipun kamu yang harus tersakiti, batin Fajar.
"Hati kamu memang baik Mentari, tapi kamu tidak harus mengorbankan diri sendiri hanya demi kebahagiaan oranglain kan,"
"Bagaimanapun juga Mommy Sandra adalah Mertua Mentari yang harus selalu Mentari hormati, dan Bang Angga juga adalah Suami Mentari, jadi sudah seharusnya semua itu Mentari lakukan demi kebahagiaan mereka," ujar Mentari dengan berderai airmata.
"Mas sangat salut kepada Mentari, tapi kalau memang Mentari ingin menangis, menangislah supaya beban di hati Mentari sedikit berkurang," ujar Fajar dengan memberikan sapu tangannya kepada Mentari.
"Buat apa ini Mas?" tanya Mentari.
__ADS_1
"Buat Mentari makan. Ya buat lap ingus kamu lah, cepetan lap, tuh Mentari lihat sendiri, ingusnya sampai belepotan begitu kan," canda Fajar sehingga membuat Mentari tersenyum.
Fajar berkali-kali menyuruh Mentari untuk pulang, dia tidak mau kalau sampai Mentari kecapean karena membantu mengurus Anak-anak Panti yang keracunan.
"Mentari sebaiknya pulang saja biar Mas anterin sekarang, kasihan lho bayi kamu kalau Ibunya kecapean."
"Mas, Mentari gak enak sama semua yang ada di sini, semuanya terjadi kan karena Mentari juga."
Ibu Panti yang mendengar ucapan Mentari langsung saja menghampirinya.
"Nak Mentari jangan menyalahkan diri sendiri, semuanya sudah takdir dari Allah SWT, Ibu yakin kalau Nak Mentari tidak mempunyai niat untuk mencelakai siapa pun. Meskipun Ibu baru pertama kali bertemu dengan Nak Mentari, tapi Ibu sangat yakin kalau Nak Mentari adalah orang baik."
"Terimakasih ya Bu karena Ibu sudah percaya sama Mentari," ucap Mentari dengan menangis terharu kemudian memeluk Ibu Panti.
"Mungkin ini terdengar konyol dan memang di luar nalar manusia, tapi Ibu diberikan kelebihan oleh Allah SWT, dan Ibu melihat dalam penerawangan Ibu, saat ini ada orang-orang terdekat Nak Mentari yang sedang berusaha untuk mencelakai Nak Mentari serta mencoba untuk menghancurkan rumah tangga Nak Mentari. Sebaiknya sekarang Nak Mentari berhati-hati karena sebentar lagi akan ada badai besar yang menghantam rumah tangga Nak Mentari.
"Subhanallah, jadi Ibu mempunyai kelebihan?" tanya Mentari.
"Iya Nak, dan maaf jika tadi Ibu berkata kalian sangat serasi. Sebenarnya Ibu tau jika Nak Fajar bukan pacar Nak Mentari, dan Nak Mentari saat ini tengah hamil juga kan? tapi percaya atau tidak, di masa depan nanti kalian berdua akan ditakdirkan untuk hidup bersama," ujar Ibu Panti sehingga membuat Mentari dan Fajar salah tingkah.
"Oh iya, sebaiknya Nak Mentari pulang saja, kasihan kalau sampai kecapean," sambung Bu Panti.
"Tapi Bu, Mentari harus bertanggung jawab dengan semua kekacauan yang terjadi, Mentari juga gak bakalan tenang sebelum melihat Anak-anak kembali sehat."
"Nak Mentari tenang saja, keadaan di sini juga sudah lebih baik. Ibu sangat berterimakasih kepada kalian berdua karena sudah berkenan datang ke Panti Asuhan ini. Oh iya kapan-kapan Nak Mentari main ke sini lagi ya, Ibu mau minta di ajarin masak juga."
"Iya insyaallah Bu, kalau begitu Mentari pamit dulu ya, sekali lagi Mentari mohon maaf yang sebesar-besarnya," ucap Mentari.
Fajar akhirnya mengantarkan Mentari untuk pulang, meskipun Mentari sudah berkali-kali menolaknya, tapi lagi-lagi Fajar beralasan jika seorang Kakak harus melindungi Adiknya, sampai akhirnya Mentari tidak dapat menolak keinginan Fajar.
__ADS_1