
Ketika Angga berada di dalam ruang kerjanya, Jingga datang ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
"Hay sayang, kamu udah makan siang belum?" tanya Jingga dengan menggerayangi tubuh Angga yang masih sibuk memeriksa pekerjaannya.
"Maaf Jingga, aku harap kamu jangan seperti ini," ujar Angga yang merasa risih terhadap perlakuan Jingga.
"Kenapa hemm? apa kamu merasa tergoda olehku?" ujar Jingga lalu secara tiba-tiba melu*mat bibir Angga tanpa tau malu.
Angga langsung saja mendorong tubuh Jingga, kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Apa maksud kamu Jingga? Apa kamu pikir aku akan tergoda oleh ja*lang sepertimu !!" teriak Angga yang merasa geram.
"Hinaan kamu akan aku ingat Angga, karena sebentar lagi kamu akan bertekuk lutut di hadapanku, dan kamu yang akan memohon-mohon mengemis cintaku," ujar Jingga dengan keluar dari ruangan Angga karena dia merasa kesal dengan penolakan yang Angga lakukan terhadapnya.
Angga mengusap rambutnya secara kasar, karena dia hampir saja goyah oleh godaan Jingga.
"Astagfirullah, maafkan aku Mentari, aku tidak ada niat sedikit pun untuk berselingkuh di belakangmu," gumam Angga dengan menitikkan airmata penyesalan, karena dalam hati kecilnya Angga mengakui jika dia sudah terbuai oleh sentuhan Jingga yang selalu berusaha untuk menggodanya, karena Angga juga lelaki normal yang akan tergoda apabila disuguhi pemandangan indah di depan mata.
......................
Mentari dan Fajar saat ini berada di perjalanan pulang menuju rumah Mentari, mereka berdua sama-sama terdiam karena masih teringat dengan perkataan Ibu Panti yang mengatakan jika di masa depan mereka akan hidup bersama.
Apa benar kalau di masa depan nanti aku akan hidup bersama Mas Fajar? tapi bukan berarti aku akan menikah dengannya kan? batin Mentari kini bertanya-tanya.
Fajar yang melihat perubahan sikap pada Mentari pun langsung angkat bicara.
"Mentari masih memikirkan perkataan Ibu Panti ya? udah gak usah dipikirin, lagian sebuah ramalan itu kan belum pasti, yang pasti itu adalah takdir dari Allah SWT. Sebaiknya saat ini Mentari berhati-hati terhadap Mertua sama Adik Mentari, belum lagi sekarang ada Jingga yang berusaha untuk mendekati Angga kan?" ujar Fajar.
__ADS_1
"Lho, darimana Mas Fajar tau tentang Kak Jingga? perasaan aku belum cerita deh sama Mas Fajar," ujar Mentari dengan menelengkan kepalanya melihat wajah Fajar yang terlihat panik.
Duh, kenapa aku sampai keceplosan sih? Mentari pasti curiga nih, batin Fajar.
"Tadi Mentari waktu di Panti cerita kok sama Mas, mungkin Mentari lupa," ujar Fajar mencoba mencari alasan.
"Masa iya sih Mentari lupa? tapi kejadian di Panti memang membuat pikiran Mentari kacau sih. Mentari bener-bener minta maaf Mas, Mas Fajar terima donk uang hasil jual nasi box tadi, supaya Mentari tidak merasa bersalah terus," ujar Mentari dengan menarik-narik tangan Fajar, sampai akhirnya Fajar hilang keseimbangan dan mengerem secara mendadak, lalu bibirnya kini menyentuh bibir Mentari.
Fajar dan Mentari masih terdiam dengan bibir yang saling menempel sampai akhirnya Mentari tersadar lalu mendorong tubuh Fajar supaya menjauh dari tubuhnya.
"Astagfirullah," ucap Mentari dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangan, lalu dia terdengar menangis.
Tapi Fajar masih terlihat bengong dengan memegangi bibirnya, karena itu adalah ciuman pertamanya.
Apa aku barusan bermimpi? ternyata seperti itu rasanya berciuman, ucap Fajar dalam hati.
Fajar baru sadar ketika mendengar tangisan Mentari yang semakin kencang.
"Aku sudah melakukan dosa besar Mas, aku tidak bisa menjaga harkat dan martabat sebagai seorang Istri, aku sudah mengkhianati Mas Angga."
"Mentari tidak pernah mengkhianati Suami Mentari, kita melakukannya atas dasar ketidaksengajaan, jadi Mentari jangan mempunyai pemikiran seperti itu, lupakan semuanya, meskipun Mas tidak akan pernah bisa melupakannya, lanjut Fajar dalam hati.
"Tapi Mentari merasa berdosa Mas, meskipun Mas Angga tidak mengetahuinya, tapi Allah SWT mengetahui semuanya dan melihat perbuatan kita."
Aduh, bagaimana cara meyakinkan Mentari kalau aku bener-bener gak sengaja, aku jadi merasa berdosa karena sudah membuat Mentari menangis, batin Fajar.
Akhirnya Fajar memutuskan untuk menepikan mobilnya di sebuah Mesjid.
__ADS_1
"Kenapa kita berhenti di sini Mas?" tanya Mentari.
"Sebaiknya kita turun dulu, bukannya Mentari merasa berdosa karena merasa telah mengkhianati Angga? Mas juga merasa berdosa karena sudah membuat Mentari menangis, jadi sekarang kita sama-sama Shalat Taubat untuk memohon ampunan kepada Allah SWT, supaya hati Mentari menjadi tenang, sebentar lagi juga sudah masuk waktu Ashar, jadi kita sekalian Shalat Ashar juga."
Mentari dan Fajar berpisah untuk mengambil air wudhu, kemudian setelah itu mereka masuk ke dalam Mesjid untuk melakukan Shalat Taubat.
Mereka saat ini melaksanakan Shalat di tempat yang sama, tapi terhalang oleh gorden penyekat antara Pria dan Wanita. Setelah itu mereka berdua berdo'a dengan khusyuk, sampai-sampai Mentari terus menumpahkan airmatanya memohon ampunan kepada Sang Pencipta.
Ampuni hamba Ya Allah, karena hamba sudah melakukan dosa yang besar, hamba telah melakukan maksiat meskipun tanpa disengaja, sesungguhnya Engkau maha mengetahui, sebait do'a yang Mentari panjatkan.
Fajar juga terlihat khusyuk memanjatkan do'a.
Ya Allah ampuni hamba karena telah mencintai Istri oranglain, hamba tau jika perasaan ini salah, hamba mohon berikan keikhlasan kepada hamba untuk menghapus perasaan cinta kepada Mentari dan mengubahnya menjadi rasa sayang seorang Kakak terhadap Adiknya, ucap Fajar dalam do'anya.
Adzan Ashar terdengar berkumandang ketika mereka berdua selesai memanjatkan do'a, sehingga Fajar dan Mentari melaksanakan Shalat Ashar berjamaah di Mesjid tersebut.
Setelah selesai melaksanakan kewajiban mereka sebagai Umat Muslim, Mentari dan Fajar bertemu di depan Masjid, dan mereka berdua terlihat saling berpandangan.
Bagiku, mencintaimu adalah Anugrah terindah yang pernah aku rasakan, dan kejadian barusan adalah dosa terindah yang tidak akan pernah aku lupakan. Semoga kamu selalu diberikan kebahagiaan Mentari, mulai sekarang aku akan mencoba untuk mengganti perasaan cintaku menjadi perasaan sayang seorang Kakak untuk Adiknya, meskipun itu tidak akan mudah untuk aku lakukan, ucap Fajar dalam hati.
Ada rasa tidak enak dalam hati Mentari melihat mata Fajar yang terlihat sembab. Mentari berpikir Fajar juga sudah menangis karena merasa berdosa kepadanya, padahal kejadian tadi murni ketidaksengajaan.
"De, yuk masuk," ucap Fajar.
"Kok sekarang berubah panggilannya Mas?" tanya Mentari.
"Kamu kan sekarang Adik aku, jadi sudah seharusnya Mas manggil Mentari Ade," ujar Fajar dengan membukakan pintu mobil untuk Mentari.
__ADS_1
"Terimakasih banyak ya Mas atas semuanya, dan maaf atas kejadian tadi, seandainya Mentari tidak menarik baju Mas Fajar, mungkin kejadian tadi tidak akan pernah terjadi," ucap Mentari.
"Daritadi Kakakmu ini sampai bosen tau gak dengerin kata terimakasih sama maaf, kita tidak akan bisa memutar ulang waktu, jadi lupakan semuanya, anggap saja tadi kamu dicium semut atau nyamuk, dan simpan saja kata maaf itu buat nanti kalau Lebaran," canda Fajar, sehingga Mentari dan Fajar sama-sama tertawa dan berusaha untuk melupakan semuanya.