Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 56 ( Fajar Amnesia )


__ADS_3

Fajar sudah tiga jam berada di ruang operasi, dan Mentari terlihat cemas sehingga dia terus saja mondar mandir.


"Sayang, sebaiknya kamu tenang dulu," ujar Angga dengan membawa Mentari untuk duduk.


"Kenapa Dokter belum keluar juga ya Bang? Mentari takut kalau Mas Fajar sampai kenapa-napa, ini semua juga terjadi karena dia berusaha untuk menyelamatkan Mentari, dan mungkin jika tadi Mas Fajar tidak menyelamatkan Mentari, saat ini Mentari yang berada di dalam sana," ujar Mentari dengan menangis dalam pelukan Angga.


"Mentari yang sabar ya, sebaiknya kita terus berdo'a untuk kesembuhan Fajar."


Dokter baru keluar setelah empat jam melakukan operasi, Mentari dan Angga langsung saja menghampirinya.


"Dok bagaimana keadaan Mas Fajar?" tanya Mentari.


"Pasien saat ini masih belum melalui masa kritisnya, kita berdo'a saja karena kalau sampai besok pasien belum sadar juga, maka kemungkinan besar pasien akan mengalami koma," jelas Dokter.


Mentari langsung saja menangis mendengar perkataan Dokter, dia merasa bersalah dengan keadaan Fajar saat ini.


Sebagai seorang Suami seharusnya aku yang menyelamatkan Mentari, tapi kenapa saat Mentari membutuhkanku harus Fajar yang selalu ada untuknya, batin Angga.


Fajar saat ini sudah dipindahkan ke ruang perawatan, dan Mentari terus saja mengaji di samping ranjang Fajar.


Angga sebenarnya cemburu karena Mentari terus saja duduk di samping Fajar.


"Sayang, kamu mengajinya di sini saja ya," ujar Angga yang saat ini duduk di sofa.


"Iya Bang, sebentar lagi juga selesai," jawab Mentari.


Setelah selesai mengaji, Mentari kemudian menghampiri Angga, dan dia tau betul kalau saat ini Suaminya sedang cemburu kepada Fajar.


"Abang kenapa? Abang cemburu ya sama Mas Fajar?"


"Gak Abang jawab juga Mentari sudah tau jawabannya kan,"


"Abang percaya sama Mentari kan? Mentari hanya menganggap Mas Fajar sebagai seorang Kakak, jadi Abang jangan khawatir ya."


"Bukan Kakak ketemu gede kan?" ujar Angga.


"Abang ada-ada aja sih, ingat di dalam perut Mentari saat ini ada apa?"


"Astagfirullah, maafin Ayah ya Nak, kenapa Abang sampai lupa," ujar Angga dengan mencium dan mengelus perut Mentari.

__ADS_1


"Ya sudah sekarang sebaiknya Abang tidur duluan, supaya kita nanti bisa gantian menjaga Mas Fajar.


"Abang mau tidur di sini boleh?" tanya Angga dengan menidurkan kepalanya di atas paha Mentari.


Mentari terus memijit dan mengelus kepala Angga sampai akhirnya Angga tertidur.


Mentari kembali duduk di kursi samping ranjang Fajar, dan membiarkan Angga tidur di sofa. Setelah pukul 23.00 Mentari akhirnya tertidur dengan posisi kepala di atas ranjang Fajar.


Pukul 03.00 Fajar membuka matanya secara perlahan, dan dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, sampai akhirnya dia melihat Mentari yang saat ini tidur di sampingnya.


"Dimana aku? siapa perempuan ini?" gumam Fajar, lalu memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Awww, kenapa kepalaku sakit sekali."


Mentari yang mendengar suara Fajar pun akhirnya terbangun.


"Alhamdulillah Mas Fajar akhirnya sadar juga," ucap Mentari.


"Kamu siapa? kenapa aku berada di sini?" tanya Fajar.


"Astagfirullah, apa Mas Fajar mengalami amnesia? Mas Fajar tunggu dulu ya, Mentari mau memanggil Dokter," ujar Mentari, lalu keluar dari ruang perawatan Fajar.


Ketika Dokter memeriksa Fajar, Mentari memutuskan untuk duduk di samping Angga yang masih terlelap.


"Dokter kenapa saya tidak mengingat apa pun?" tanya Fajar.


"Sepertinya Anda mengalami amnesia Pak, sebaiknya sekarang Anda jangan berpikir terlalu keras, karena itu dapat merusak syaraf motorik Anda," ujar Dokter.


"Apa saya akan mengingat kembali semuanya?" tanya Fajar.


"Saya tidak bisa memastikan semua itu, mudah-mudahan saja ingatan Anda cepat kembali. Kalau begitu saya permisi dulu, dan kalau ada apa-apa Anda bisa menekan tombol yang berada di atas ranjang," ujar Dokter, kemudian keluar dari ruang perawatan Fajar.


Saking paniknya aku sampai lupa kalau mau memanggil Dokter tinggal menekan tombol saja, batin Mentari.


Mentari kembali menghampiri Fajar, lalu memberikan segelas air putih untuknya.


"Terimakasih ya, maaf aku sudah merepotkan, nama kamu siapa?" tanya Fajar.


"Nama saya Mentari Mas, dan seharusnya saya yang berterimakasih kepada Mas Fajar, karena Mas Fajar juga berada di sini karena sudah menyelamatkan saya pada saat saya hampir tertabrak motor," ujar Mentari.

__ADS_1


"Jadi nama saya Fajar?"


"Iya Mas, tapi hanya nama itu yang saya tau, karena dompet dan handphone Mas Fajar hilang."


"Apa saya mempunyai keluarga?" tanya Fajar.


"Mas Fajar pernah bercerita sama saya kalau Mas Fajar sudah tidak mempunyai orangtua dan Kakak Mas Fajar juga sudah meninggal dunia, tapi Mas Fajar masih mempunyai dua keponakan yang saat ini berada di luar negeri," ujar Mentari.


"Lalu laki-laki itu siapa?" tanya Fajar pada saat melihat Angga.


"Dia adalah Suami saya, namanya Bang Angga," jawab Mentari.


Jadi Mentari sudah menikah? kenapa hatiku sakit mendengarnya? meskipun aku tidak mengingat apa pun, entah kenapa aku merasa sangat dekat dengannya, dan aku merasakan getaran aneh dalam dada, apa sebelum kecelakaan aku mencintainya makanya aku menyelamatkan Mentari dengan mempertaruhkan nyawaku? tanya Fajar dalam hati.


"Mentari mau Shalat Subuh dulu ya Mas, sebaiknya sekarang Mas Fajar istirahat lagi supaya cepet sembuh," ujar Mentari dengan membantu Fajar untuk kembali berbaring, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi untuk wudhu.


Setelah selesai Shalat, lalu Mentari bertadarus.


Subhanallah, suara Mentari begitu merdu dan menyejukkan hati, Angga beruntung karena bisa mendapatkan Istri saleha seperti Mentari, ucap Fajar dalam hati.


Setelah selesai mengaji, Mentari akhirnya membangunkan Angga untuk Shalat Subuh juga.


"Bang bangun, Abang Shalat Subuh dulu ya," ujar mentari dengan mengelus lembut kepala Angga.


"Sayang, kenapa malam gak bangunin Abang buat gantian berjaga?" tanya Angga.


"Gak apa-apa Bang, Mentari juga semalam tidur, Alhamdulillah Mas Fajar barusan udah sadar, tapi sekarang dia amnesia."


Angga terlihat diam mencerna perkataan Mentari, lalu dia melihat Fajar yang saat ini tersenyum melihat ke arahnya.


Kenapa Fajar pake amnesia segala sih? berarti dia harus tinggal di rumahku kalau sudah keluar dari Rumah Sakit, dia kan gak ingat apa-apa. Kok aku sekarang takut ya kalau dia bakalan jatuh cinta sama Istriku? apalagi Mentari harus merawat Fajar di sini, batin Angga.


"Abang kenapa sih diem aja, masih ngantuk ya?" tanya Mentari dengan memijit pelipis Fajar.


Kenapa hatiku rasanya sakit melihat perlakuan Mentari kepada Angga, padahal jelas-jelas Angga itu Suaminya, dan aku juga bukan siapa-siapa Mentari, batin Fajar.


"Sekarang Abang Shalat dulu gih, takutnya waktu Shalat Subuh keburu habis," ujar Mentari dengan menggandeng tubuh Angga untuk berdiri, karena Angga terus saja memeluk tubuh Mentari.


"Oh ya Mas Fajar, terimakasih ya karena Mas Fajar sudah menyelamatkan Istri dan Anak saya," ucap Angga dengan masuk ke dalam toilet.

__ADS_1


Jadi Mentari saat ini sedang hamil? Ya Allah, kenapa hatiku bertambah sakit, perasaan apa ini? batin Fajar terus bertanya-tanya.


__ADS_2