Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 42 ( Senjata makan Tuan )


__ADS_3

Angga merasa ragu dengan jawaban yang diberikan Mentari kepadanya, tapi Mentari masih saja menutupi kesalahan yang dilakukan oleh Mommy Sandra supaya tidak terjadi perdebatan antara Angga dengan Ibu nya.


"Sayang, Abang harap Mentari tidak menyembunyikan apa pun dari Abang."


"Insyaallah Bang, ya sudah Abang cepetan mandi, Mentari mau menemui Ibu sama Bapak dulu ya," ujar Mentari mencoba untuk menghindar dari pertanyaan Angga, kemudian dia bergegas keluar dari kamarnya.


"Kenapa aku merasa Mentari menyembunyikan sesuatu dariku? semoga saja perkataan Mentari benar, dan itu hanya perasaanku saja," gumam Angga, lalu kemudian bergegas membersihkan diri.


......................


Mentari kini menghampiri Pak Hasan dan Bu Rima yang berada di ruang tamu dengan membawa dua gelas minuman beserta beberapa toples cemilan.


"Bu, Pak, maaf ya sudah lama menunggu," ucap Mentari.


"Tidak apa-apa Nak, maaf jika kedatangan kami jadi merepotkan Mentari," ujar Pak Hasan.


"Kenapa Bapak berkata seperti itu? Mentari malah seneng karena Bapak dan Ibu sudah datang ke sini."


"Untung kita datang ke sini Pak, karena kalau tidak, pasti kita tidak akan pernah mengetahui sikap Mertua Mentari terhadap Anak kita, karena Ibu yakin jika Mentari akan menutupi semuanya bahkan dari Suaminya sendiri," ucap Bu Rima.


"Bu, Mentari mohon, tolong Ibu jangan bicara apa-apa terhadap Bang Angga, karena Mentari takut jika Bang Angga dan Ibu nya akan kembali bertengkar, padahal mereka belum lama ini baru akur."


"Lalu sampai kapan Mentari akan menyembunyikan semuanya dari Nak Angga? Ibu tidak rela Nak jika Mentari sampai terus-terusan sakit hati."


"Mentari minta do'a nya saja kepada Bapak dan Ibu, supaya Mertua dan Adik Ipar Mentari bisa secepatnya menerima Mentari menjadi bagian dari keluarga mereka, ini semua juga Mentari lakukan demi kelangsungan rumah tangga Mentari karena Mentari ingin rumah tangga Mentari dan Bang Angga baik-baik saja," ujar Mentari dengan menangis, kemudian memeluk tubuh Ibu nya.


"Mentari tidak meminta pun, Ibu dan Bapak pasti akan selalu mendo'akan Mentari. Semoga saja Mentari bisa sabar dengan semua ujian dari Allah SWT," ujar Bu Rima dengan mengelus lembut kepala Mentari.

__ADS_1


Setelah selesai membersihkan diri, Angga kemudian keluar dari kamar untuk menemui Mertuanya.


"Pak, Bu, maaf ya Angga lama bersih-bersihnya, lho, kamu kenapa sayang? apa Mentari habis menangis?" tanya Angga yang melihat mata Mentari sembab.


"Mentari tidak kenapa-napa kok Bang, mungkin karena hormon kehamilan aja makanya Mentari gampang menangis."


"Iya Nak Angga, mungkin karena saat ini Mentari tengah hamil makanya dia menjadi sensitif. Oh iya Nak Angga, kalian kapan akan mengadakan syukuran kehamilan Mentari? saat ini usia kandungan Mentari kan sudah menginjak empat bulan, dan katanya ruh yang ditiupkan ke dalam janin biasanya pada usia kandungan tiga bulan sepuluh hari, jadi lebih cepat kita melakukan syukuran, maka akan lebih baik juga," ujar Bu Rima mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Kalau Angga gimana baiknya aja Bu, bagaimana kalau besok kita ngadain syukurannya sayang? mungpung Abang juga lagi gak ada tugas ke luar kota, dan sebaiknya kalau Ibu dan Bapak menginap di sini saja ya," pinta Angga.


Bu Rima dan Pak Hasan terlihat saling berpandangan, mereka sebenarnya tidak mau menginap di rumah Mentari karena Mommy Sandra pasti akan kembali menghina mereka, tapi Bu Rima juga tidak enak terhadap Angga, sehingga beliau menganggukan kepalanya.


"Kalau begitu Angga pesan catering saja ya buat acara besok," usul Angga, tapi tiba-tiba Mommy Sandra muncul di sana.


"Memangnya kamu mau pesan Catering Buat Apa Angga?" tanya Mommy Sandra.


"Buat acara empat bulanan Mentari besok Mom."


"Mom kok bicara seperti itu? lebih cepat kan lebih baik, lagian kenapa Mommy seperti tidak suka, itu kan buat mendo'akan cucu Mommy juga, supaya semuanya sehat dan lancar."


"Maksud Mommy bukan gitu, tapi ya sudahlah terserah kamu. Terus kenapa gak masak sendiri aja biar lebih hemat? kan di sini ada Bu Rima sama Mentari yang pintar masak."


"Angga gak mau kalau Istri Angga sampai kecapean Mom, Mentari juga lagi hamil muda. Mommy seharusnya jangan berkata seperti itu, memangnya gak malu nyuruh-nyuruh masak sama besan? harusnya kita itu melayani tamu Mom," ujar Angga.


"Gak apa-apa Nak Angga, kalau memang mau masak di sini, biar Ibu saja yang masak sekalian bikin rujaknya," ujar Bu Rima.


"Enggak Bu, Ibu itu adalah Ibu Angga juga, harusnya Ibu dan Bapak yang Angga layani, tapi kalau untuk bikin rujak gak apa-apa kan Angga minta tolong sama Ibu?"

__ADS_1


Nak Angga memang baik, bagaimana jadinya jika dia tau kalau Ibu kandungnya sudah tega menyakiti hati Istrinya sendiri, batin Bu Rima.


"Iya gak apa-apa Nak, Ibu malah seneng bisa ada kerjaan, jadi gak cuma duduk-duduk manis aja di sini," sindir Bu Rima dengan melirik ke arah Mommy Sandra yang sedang duduk manis sambil mengecat kembali kuku-kuku tangannya.


Sial, sepertinya orang miskin itu menyindirku, awas saja kalian kalau tidak ada Angga, aku pasti akan membuat perhitungan, batin Mommy Sandra.


"Bu, Pak, sebaiknya kita sekarang makan siang dulu yuk, Angga sudah kangen banget sama masakan Mentari," ujar Angga dengan tersenyum ke arah Istrinya, lalu menggandeng Mentari menuju meja makan.


Bu Rima juga mengikuti Angga dan Mentari dengan mendorong kursi roda Pak Hasan, tapi Mommy Sandra terlihat masih diam saja tanpa mau bergeming dari tempatnya.


"Mom, ayo kita makan," ajak Angga.


"Mommy nanti aja Ga, masih kenyang soalnya," jawab Mommy Sandra.


"Gak sopan lho Mom, ada tamu kok gak ditemenin," ujar Angga


Males banget aku harus satu meja makan sama orang-orang miskin, tapi mau gimana lagi daripada Angga nanti curiga, batin Mommy Sandra, lalu memutuskan untuk bergabung di meja makan.


Mentari kini melayani Suaminya dengan mengisi piring Angga dengan nasi serta masakan buatannya, begitu juga Bu Rima yang mengisi piring Pak Hasan.


"Angga beruntung sekali Bu, karena mempunyai Istri yang baik serta pintar memasak seperti Mentari," puji Angga.


"Semua orang juga bisa memasak Angga, jadi itu bukan sesuatu yang spesial dan patut untuk dibanggakan," celetuk Mommy Sandra.


"Kenapa Mommy berkata seperti itu? memangnya Mommy bisa masak? bukannya setau Angga kalau Mommy itu gak bisa masak ya?"


"Mommy bukannya gak bisa masak, tapi kalau kita bisa pesen catering kenapa harus cape-cape masak sendiri," jawab Mommy Sandra.

__ADS_1


"Itu Mommy juga lebih memilih catering buat makan, padahal cuma buat makan tiga orang lho, jadi wajar kan kalau Angga pesan catering buat syukuran empat bulanan, apalagi Angga berencana buat ngundang 200 orang," ujar Angga.


Duh kenapa aku jadi keceplosan sih, jadi senjata makan Tuan kan, batin Mommy Sandra dengan tersenyum kecut.


__ADS_2