
Mentari memberanikan diri keluar dari dalam kamarnya untuk membaca Surat Yasin di samping Jenazah Suami dan mertuanya. Isak tangis masih terdengar dari mulutnya, bahkan para pelayat pun banyak yang ikut menangis karena merasa prihatin dengan nasib Mentari.
Dari kejauhan Jingga yang melihat bendera kuning di depan rumah Mentari pun tertawa bahagia.
"Kasihan ya Mentari, baru juga menikah tadi pagi sekarang dia sudah menjadi Janda," ujar salah satu pelayat yang lewat di depan Jingga.
"Bu maaf, memangnya siapa yang meninggal?" tanya Jingga, karena dia mengira jika Mentari juga ikut meninggal.
"Yang meninggal Suami sama Mertua Mentari Neng, kasihan sekali nasib Mentari, padahal mereka baru menikah tadi pagi," jawab Ibu tersebut, lalu kemudian berlalu meninggalkan Jingga yang masih termenung.
"Jadi yang meninggal Fahri dan Ibunya? aku kira Mentari juga ikut meninggal, padahal aku sangat membenci Adikku yang sok baik itu karena dia selalu menjadi pusat perhatian semua orang. Lihat saja Mentari ini adalah awal kehancuranmu !!" gumam Jingga dengan tersenyum licik.
Keesokan paginya, Mentari ikut mengantar Jenazah Fahri dan Bu Asih ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Airmata Mentari terus saja menetes mengiringi prosesi pemakaman kedua orang yang sangat iya sayangi. Bu Rima dan Pak Hasan pun selalu mendampinginya untuk memberikan Mentari kekuatan.
Setelah prosesi pemakaman selesai, Bu Rima dan Pak Hasan mengajak Mentari pulang, tapi Mentari meminta waktu untuk membaca Surat Yasin di makam Suami dan Mertuanya.
"Nak, sebaiknya kita pulang sekarang ya, Ibu takut jika Mentari sampai sakit, cuaca saat ini juga sudah terlihat mendung," ajak Bu Rima.
"Bu, Pak, sebaiknya Ibu dan Bapak pulang duluan saja ya, Mentari mau membaca Surat Yasin dulu buat Mas Fahri dan Ibu," jawab Mentari.
"Kalau begitu Bapak dan Ibu menemani Mentari dan ikut baca Yasin juga ya," ucap Pak Hasan.
"Pak, Mentari minta waktu untuk sendiri ya, Insyaallah Mentari akan mencoba untuk mengikhlaskan kepergian Suami dan Mertua Mentari," ujar Mentari.
"Ya sudah kalau memang itu kemauan Mentari, Ibu dan Bapak pulang duluan ya Nak, Mentari jaga diri baik-baik, Ibu tau Mentari pasti bisa melewati semua ini," ucap Bu Rima kemudian pulang terlebih dahulu dengan mendorong kursi roda Pak Hasan.
Setelah kepergian kedua orangtuanya, Mentari memulai membaca Surat Yasin, dan lagi-lagi airmata Mentari tiada hentinya menetes.
Setelah selesai mengaji, Mentari kini pamit kepada Suami dan Mertuanya untuk pulang ke rumahnya yang memang tidak jauh dari pemakaman.
__ADS_1
"Mas Fahri, Ibu, Mentari pulang dulu ya, insyaallah besok Mentari ke sini lagi," ujar Mentari dengan mencium batu nisan Fahri dan Bu Asih.
Ketika Mentari masih mencium batu nisan Suaminya tiba-tiba Jingga datang menghampiri Mentari.
"Kasihan banget ya, baru juga nikah sudah jadi Janda," sindir Jingga.
"Kak Jingga," ucap Mentari dengan membulatkan matanya.
"Iya gue, kenapa? loe pikir gue hantu?" jawab Jingga.
"Kak, atas nama Mas Fahri dan Bu Asih, Mentari minta maaf jika selama mereka hidup, mas Fahri dan Ibu pernah melakukan kesalahan kepada Kakak," ucap Mentari.
"Gue itu gak sebaik loe Mentari, buat apa gue maafin orang yang sudah nyakitin hati gue, mendingan gue bales juga orang itu !!" jawab Jingga.
"Astagfirullah Kak, tidak seharusnya Kakak berbicara seperti itu, manusia itu tempat salah dan dosa," ucap Mentari.
"Eh loe gak usah ceramahin gue PEMBAWA SIAL !!" teriak Jingga.
"Loe itu sudah merebut semuanya dari gue, kasih sayang kedua orangtua kita, perhatian semua orang, bahkan lelaki yang gue cintai juga sudah loe ambil !!"
"Tapi Kakak dan Mas Fahri sudah putus dan Kakak sudah menikah dengan lelaki lain, kenapa Kakak harus menyebut Mentari sudah merebutnya?"
"Asal loe tau, gue ngelakuin itu semua juga gara-gara Fahri tidak mau gue ajak ber*cinta sebelum menikah, karena dia hanya memikirkan loe !!"
"Astagfirullah Kak, bisa-bisanya Kakak merendahkan harkat dan martabat Kakak sebagai seorang perempuan," ucap Mentari yang terlihat kecewa dengan Jingga.
"Heh, itu semua bukan urusan loe, yang dosa juga gue, lagian pembawa sial seperti loe gak pantas buat ceramahin gue, makanya loe pikir baik-baik kenapa bisa Fahri dan Ibunya meninggal, itu semua juga karena mereka sudah masuk ke dalam hidup loe, makanya mereka terkena sial !!" teriak Jingga dengan tertawa terbahak-bahak.
Mentari yang sudah merasa sakit hati dengan perkataan Jingga pun kini berlari sekuat tenaga meninggalkan Jingga yang masih tertawa bahagia.
"Lihat saja Mentari, gue gak akan berhenti mengganggu hidup loe !!" teriak Jingga.
__ADS_1
Tiba-tiba ada yang memegang bahu Jingga dari belakang, tapi Jingga tidak berani untuk menoleh.
Aduh, siapa yang sudah megang-megang bahu gue, jangan-jangan Fahri jadi hantu dan berusaha untuk membalas dendam, kenapa bulu kuduk gue jadi merinding begini, batin Jingga.
Lalu dengan kaki yang gemetar Jingga pun berlari dari kuburan.
"Lho Neng kenapa lari? memangnya Mamang ini hantu?" teriak Penjaga kuburan.
"Padahal mamang kan cuma mau tanya, yang di bawah kakinya uang siapa? ya sudah aku ambil aja lumayan buat beli kopi sama rokok," gumam penjaga kuburan dengan berjalan kembali menuju pos jaga.
Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya mengiringi langkah Mentari yang terus berjalan tak tentu arah.
Mentari hampir saja tertabrak oleh sebuah mobil apabila pengemudi mobil tersebut tidak segera menginjak rem.
Apa aku memang pembawa sial sehingga menyebabkan orang-orang yang berada di dekatku terkena sial juga? batin Mentari.
Mentari yang sudah tidak kuat menahan semuanya pun akhirnya pingsan.
Pengemudi mobil yang hampir menabrak Mentari akhirnya turun dan menggendong tubuh Mentari lalu membawanya ke dalam mobil.
"Sepertinya wajah perempuan ini tidak asing bagiku," gumam lelaki yang saat ini membawa Mentari.
"Dimana ya rumah perempuan ini? sebaiknya aku membawa dia pulang ke rumah saja mungpung semua keluargaku masih di luar Negeri, padahal tadinya aku mau ke rumah Mentari karena aku sudah rindu sekali kepadanya," gumam lelaki tersebut yang ternyata adalah Angga.
Sesampainya di rumah, Angga pun membawa Mentari ke dalam kamarnya.
"Duh gimana ini, aku gak mungkin kan gantiin baju perempuan ini? tapi jika tidak aku bantu ganti, kasihan juga kalau sampai sakit karena bajunya basah, lebih baik aku pakaikan saja baju yang aku beli untuk Mentari," gumam Angga yang masih belum mengenali wajah Mentari karena sekarang Mentari memakai jilbab.
Angga pun mencoba mengganti baju Mentari dengan menutup tubuh Mentari menggunakan selimut, lalu ketika Angga membuka jilbab perempuan yang ditolongnya dia merasa terkejut karena ternyata perempuan tersebut adalah Mentari.
"Astagfirullah, apa aku gak salah lihat?" gumam Angga yang masih tidak percaya jika perempuan yang berada di hadapannya adalah Mentari, gadis yang selama ini selalu dia puja-puja.
__ADS_1