Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 40 ( Jingga dan David semakin menjadi-jadi )


__ADS_3

Setelah melaksanakan Shalat Ashar, Mentari kemudian memeriksa handphonenya untuk menghubungi Angga. Akan tetapi, ketika Mentari membuka kunci layar, Fajar saat itu telah mengirimkan pesan menanyakan keadaan Mentari.


"Lho, ini nomor siapa ya? kenapa dia menanyakan keadaanku, serta memberikan perhatian kepadaku? jangan-jangan ini lelaki iseng, ya sudahlah biarin aja gak perlu aku ladenin, gak tau apa aku sudah punya Suami," gumam Mentari.


Mentari kemudian melakukan sambungan video kepada Angga.


"Assalamu'alaikum sayang, gimana kabarnya hari ini, gak mual sama muntah terus kan?" tanya Angga yang saat ini berada di sebuah hotel di daerah Sulawesi.


"Alhamdulillah Bang, si kembar gak rewel, mungkin kasihan sama Bundanya karena Ayahnya saat ini sedang kerja keluar kota," mungkin juga mereka kasihan terhadap Bundanya karena harus berjuang untuk mendapatkan uang, lanjut Mentari dalam hati lalu tidak terasa airmatanya menetes.


"Sayang, kamu kenapa nangis? Mommy sama Stella bersikap baik kan sama Mentari?" tanya Angga.


"Alhamdulillah mereka baik kok Bang, Mentari kangen sama Abang, makanya Mentari menangis," jawab Mentari.


"Belum juga satu hari Abang tinggal, tapi Abang juga kangen banget sama kamu sayang, kamu jaga diri baik-baik ya, jaga juga si Kembar kesayangan kita, do'akan supaya pekerjaan Abang cepet selesai, biar Abang bisa cepet pulang," ujar Angga.


"Iya Bang, Mentari pasti selalu do'ain Abang, semoga Abang selalu diberikan kesehatan dan kelancaran," ujar Mentari yang di amini oleh Angga.


"Udah dulu ya sayang, Abang mau siap-siap meeting sama klien, Assalamu'alaikum sayang," ujar Angga dengan menci*um handphone nya.


"Wa'alaikumsalam Abang sayang," jawab Mentari lalu kemudian mematikan sambungan video nya.


Mentari kembali menangis, ketika mengingat perlakuan Mertua serta Adik iparnya yang menganggap Mentari seperti pembantu.


"Bang, maafin Mentari karena sudah berbohong, Mentari gak mau kalau Abang bertengkar dengan Mommy dan Stella, semoga saja Mentari kuat menghadapi semua ini, Mentari rasanya ingin menceritakan keluh kesah Mentari dalam pelukan Abang," gumam Mentari.


Kemudian handphone Mentari kembali berbunyi, dan dia mendapatkan satu pesan lagi dari nomor yang tadi sempat mengirimkan pesan juga.


📥"Maaf ya Mbak, tadi saya salah kirim pesan, tadinya saya mau kirim pesan tersebut kepada calon Istri saya, karena kebetulan namanya Mentari juga, ini dengan nomor Fajar," isi pesan dari Fajar.


"Jadi ternyata yang kirim pesan Mas Fajar," gumam Mentari, Mentari pun langsung membalas pesan Fajar.

__ADS_1


📤"Iya Mas Fajar gak apa-apa, mohon maaf jika tadi saya sudah salah sangka, makanya saya tidak membalas pesannya," balas Mentari


......................


Jingga yang sudah berdandan cantik langsung saja keluar dari dalam kamarnya untuk menyambut kedatangan David.


"Sayang, kamu ternyata sudah datang," ucap Jingga dengan bergelayut manja kepada David.


David yang melihat Jingga memakai baju seksi pun langsung menelan saliva nya.


"Kamu cantik sekali sayang."


"Tentu saja karena aku sengaja berdandan cantik spesial buat kamu," bisik Jingga di telinga David sehingga memancing hasratnya.


"Aku sudah tidak tahan sayang," ujar David.


"Kenapa terburu-buru, bukannya lebih lama lebih seru," ujar Jingga dengan menci*um kemudian melu*mat bibir David, sontak saja David langsung mengangkat Jingga ke dalam kamar.


"Sepertinya Nyonya sudah kegatelan, makanya dia minta digaruk, padahal Tuan Bram baru saja meninggal, belum lagi saat ini bayinya masih di rawat, manusia macam apa sih dia, gak punya perasaan sekali," gumam Mbok Sri.


"Hayo, Mbok Sri lagi ngapain di depan kamar nyonya?" tanya Pak Firman yang berniat untuk menyeduh kopi.


"Astagfirullah, Pak Firman ngagetin saja. Si Mbok lagi dengerin suara laknat dari kamar Nyonya," jawab Mbok Sri dengan terkekeh pelan.


"Hus, gak boleh dengerin kayak gituan, mendingan kita intip saja sekalian," ajak Pak Firman.


"Aduh Gusti, koe lebih parah lagi dari aku, yowes kita balik lagi ke tugas masing-masing, nanti bahaya kalau kamu denger desa*han dan erang*an dari kamar Nyonya, bisa-bisa kamu pengen cepet-cepet balik," sindir Mbok Sri dengan menyeret tangan Pak Firman menuju dapur.


"Tunggu Mbok, aku masih penasaran pengen lihat yang mulus-mulus juga."


"Ayo cepet, pokoknya gak ada acara mengintip, nanti mata koe bintitan baru tau rasa," ujar Mbok Sri.

__ADS_1


"Yowes lah aku nurut wae apa kata Si Mbok," ujar Pak Firman, lalu mereka berdua akhirnya melangkahkan kaki menuju dapur.


"Gila banget ya Mbok si Nyonya, baru juga Suaminya meninggal udah main e*na-e*na, belum lagi sekarang bayi nya kan masih di rawat," ujar Pak Firman.


"Iya Si Mbok juga gak habis pikir sama jalan pikiran Nyonya, kok bisa ya ada manusia kayak gitu, jadi merinding nih bulu kuduk."


"Kok merinding? memangnya Nyonya setan apa? tapi kalau ada setan secantik itu sih saya juga mau," celetuk Firman sehingga mendapat lemparan serbet dari Mbok Sri.


"Yowes aku balik dulu ke Pos Mbok, nanti Nyonya takut marah kalau lihat aku ngerumpi di sini," ujar Pak Firman, lalu melangkahkan kaki untuk kembali ke Pos jaga.


Di dalam kamar Jingga, David menyudahi permainannya setelah melihat Jingga lemas tak berdaya.


"Apa kamu puas sayang?" tanya David.


"Iya sayang, aku puas sekali," jawab Jingga dengan lirih.


Aku beruntung sekali karena bisa mendapatkan uang serta kepuasan dari Jingga, baru kali ini aku mendapatkan klien yang masih muda, karena biasanya yang aku layani Tanteu-tanteu semua, lumayan kan aku bisa membelikan hadiah untuk Stella kenalanku tadi siang, supaya dia mengira kalau aku adalah orang kaya, batin David.


David dan Jingga memang seumuran, tapi karena teman-teman Sosialita Jingga Tanteu-tanteu semua, jadi mereka menyebut David sebagai Berondong.


"Sayang, apa kamu mau berhenti menjadi berondong di arisan Tanteu-tanteu sosialita? aku tidak mau jika kamu memuaskan mereka juga, karena kamu hanya boleh memuaskan hasratku saja," rengek Jingga.


"Tapi kalau aku tidak bekerja memuaskan mereka, aku tidak tau harus kerja apalagi, aku juga harus membayar kuliah, belum lagi saat ini aku adalah tulang punggung keluarga setelah Ayah meninggal dunia," ujar David.


"Apa kamu mau jadi Supir pribadi aku? kamu cukup antar jemput aku ke Kantor, dan setelah itu kamu bebas bawa mobil aku buat kuliah," ujar Jingga.


David nampak berpikir sejenak.


Ide bagus tuh, kalau aku jadi Supir Jingga dan bebas bawa mobil mewahnya, berarti aku bisa ngajak Stella jalan-jalan, gengsi juga kan kalau tiap hari bawa motor, sepertinya Stella juga Anak orang kaya, batin David.


"Oke sayang, aku mau jadi Supir pribadi kamu, apa kamu mau aku puaskan lagi," ujar David dengan menci*um bibir Jingga.

__ADS_1


"Sudah sayang, aku sudah gak kuat," ujar Jingga dengan segera berlalu ke kamar mandi sebelum David kembali menggempurnya.


__ADS_2