
Saat ini Jingga mencari alasan kepada Mommy Sandra supaya bisa pulang ke rumahnya, sehingga dia berpura-pura mengangkat telpon.
"Ada apa Bi? baiklah kalau begitu saya pulang sekarang juga," ucap Jingga lalu berpura-pura menutup telponnya.
"Mom, maaf ya Jingga sekarang harus pulang, karena barusan Baby Suster Rayna telpon kalau Rayna panas lagi, jadi Jingga mau membawanya ke Dokter."
"Memangnya kamu gak mau masak dulu buat Mommy?"
"Maaf Mom, Jingga buru-buru, nanti Jingga pesan makanan aja ya buat Mommy, Jingga pamit ya Mom," ujar Jingga dengan memeluk tubuh Mommy Sandra lalu bergegas untuk pulang.
Sebelumnya Jingga sudah memesan taksi online, sehingga ketika Jingga keluar dari rumah Mentari, taksi yang dia pesan sudah tiba.
"Untung saja aku punya alasan untuk bisa terlepas dari Nenek lampir, sebaiknya aku pesenin makanan aja deh buat dia. Enak aja mau nyuruh aku masak, memangnya dia pikir aku si Mentari apa, nanti tanganku bisa lecet kalau dipake masak, seumur-umur juga aku belum pernah memasak," gerutu Jingga yang merasa kesal.
"Mbak, kita mau kemana?" tanya supir taksi.
"Sesuai aplikasi ya Pak, saya sekarang mau tidur dulu, jadi jangan ganggu," ujar Jingga. "gara-gara si Nenek lampir, semaleman aku gak bisa tidur," gumam Jingga dengan mencoba untuk memejamkan matanya.
Setelah menempuh satu jam perjalanan akhirnya taksi yang ditumpangi Jingga sampai di depan rumahnya, tapi Supir taksi online bingung karena Jingga masih tidur.
"Aku bangunin gak ya? tadi dia bilang gak boleh ganggu, tapi sekarang sudah sampai di rumahnya, kalau aku bangunin takut dimarahi juga," gumam Supir taksi online, sampai akhirnya David datang dan berhenti di belakang mobil yang saat ini ditumpangi oleh Jingga.
"Pak, kenapa mobilnya berhenti di sini, tolong pergi dari sini ya mobil Bapak sudah menghalangi jalan dan saya mau masuk," ujar David.
"Maaf Mas, tapi saya saat ini sedang bingung, soalnya penumpang saya saat ini masih tidur."
David kemudian melihat ke jok belakang, dan dia terkejut ketika melihat Jingga tertidur di dalam mobil.
"Astaga Jingga, kok bisa sih kamu sampai ketiduran di mobil."
"Kenapa Bapak gak bangunin dia?" tanya David.
"Tadi sebelum tidur Mbak nya sudah berpesan supaya saya jangan mengganggunya, jadi saya takut kalau saya bangunin nanti Mbak nya bakalan marah."
__ADS_1
"Iya sih Pak, kalau marah dia suka keluar tanduk sama taring," ujar David dengan terkekeh.
"Terus sekarang gimana Mas? soalnya saya mau narik lagi."
"Ya sudah kalau begitu saya gendong aja ke dalam, tolong bukain pintu mobilnya ya Pak," ujar David.
Akhirnya David menggendong Jingga untuk masuk ke dalam kamar.
Setelah David merebahkan tubuh Jingga di atas ranjang, dia memutuskan untuk keluar dari kamar Jingga. Akan tetapi, sebelum dia melangkahkan kakinya, Jingga sudah terlebih dahulu menarik tangan David sehingga membuat David terjatuh di atas tubuhnya.
"Aku merindukanmu sayang," ujar Jingga dengan memeluk tubuh David.
"Aku juga honey, tapi aku sekarang sangat cape jadi aku tidak bisa memuaskan hasratmu," karena aku sudah sangat puas berolahraga dengan Stella, jadi aku sudah benar-benar kehabisan tenaga, lanjut David dalam hati.
Jingga merasa kecewa dengan penolakan David, tapi sesaat kemudian Jingga merasa aneh karena tiba-tiba dia merasakan gejolak yang sangat hebat pada perutnya.
Jingga kemudian berlari ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya.
"Aku kenapa ya? apa karena bau busuk si Nenek lampir makanya sampai sekarang aku masih muntah-muntah," gumam Jingga.
"Honey, kamu tidak kenapa-napa kan? kamu sudah sarapan belum?"
"Belum sayang, aku juga heran kenapa aku bisa sampai muntah-muntah, apa mungkin karena aku masuk angin ya?"
"Sebaiknya sekarang kita sarapan dulu, kamu pasti belum makan kan? mata kamu juga kayak Panda gitu, memangnya semalam kamu tidak tidur?"
"Aku semalam gak bisa tidur sayang, biasanya aku selalu kamu peluk, tapi semalam aku malah tidur sama Nenek lampir, mana tidurnya ngorok lagi," ujar Jingga sehingga membuat David tertawa mendengarnya.
"Sayang, kok kamu malah ketawain aku sih."
"Udah-udah, kamu jangan ngambek, aku udah lapar banget nih, yuk makan," ujar David dengan merangkul Jingga untuk sarapan bersama.
Tiba-tiba Jingga merasa mual lagi ketika melihat makanan yang ada di meja, sehingga dia kembali berlari untuk mengeluarkan isi perutnya.
__ADS_1
"Honey, sebaiknya kita ke Dokter sekarang saja, aku takut kalau kamu sampai kenapa-napa," ujar David dengan membopong Jingga untuk masuk ke dalam mobil.
Setelah sampai di sebuah Klinik yang tidak jauh dari rumah Jingga, Jingga dan David pun turun untuk memeriksa kondisi Jingga yang saat ini terlihat lemas, sampai-sampai David harus menggendong tubuh Jingga supaya tidak terjatuh.
Setelah sampai di dalam Klinik, Jingga langsung saja diperiksa oleh Dokter.
"Sepertinya Istri Anda saat ini tengah hamil muda Pak, tapi untuk lebih jelasnya kita akan melakukan USG," ujar Dokter.
David dan Jingga saling berpandangan, perasaan mereka saat ini campur aduk.
Bagaimana ini, Jingga saat ini tengah hamil, padahal aku sudah berniat untuk menikahi Stella, karena Stella sebentar lagi pasti akan meminta pertanggungjawabanku, batin David.
"Sayang, aku tau apa yang saat ini sedang kamu pikirkan, nanti kita bicarakan lagi semuanya ya," ujar Jingga, mencoba untuk menenangkan David, padahal saat ini Jingga juga sedang berada dalam dilema karena dia tidak mungkin menikah dengan David sebelum melihat Mentari hancur.
Setelah Dokter melakukan USG, Dokter kembali angkat suara.
"Selamat ya Pak, Bu, kalian berdua akan menjadi orangtua, dan usia kandungan Ibu saat ini sudah memasuki dua bulan. Sebaiknya Ibu dan Bapak mengurangi olahraga malamnya ya karena di trimester pertama ini kondisi janin masih lemah, dan Ibu juga tidak boleh terlalu cape dan stres," jelas Dokter.
"Terimakasih banyak Dok, kalau begitu kami permisi dulu," ujar David dengan membopong Jingga untuk keluar dari ruangan Dokter.
Setelah mengantri obat, mereka berdua akhirnya kembali pulang menuju rumah Jingga.
"Sayang, apa aku gugurin saja ya kandungan ini," ujar Jingga ketika mereka berada si dalam mobil, sehingga membuat David kaget dan menginjak rem secara mendadak.
"Jangan gila kamu Jingga, bagaimanapun juga bayi yang berada dalam kandunganmu itu tidak berdosa, aku tau jika aku hanya seorang pengangguran dan hanya mengandalkan uang pemberian darimu, tapi aku akan berusaha untuk mencari uang yang halal untuk menghidupi Anak kita nanti," ujar David.
"Tapi aku belum bisa menikah denganmu sayang," ujar Jingga.
"Kenapa? karena kamu belum berhasil menghancurkan hidup Mentari?" tanya David.
"Iya, kamu benar sekali. Aku sekarang jadi punya ide, sebaiknya aku jebak saja Angga, dan aku akan menyuruh Angga untuk bertanggung jawab atas kehamilanku," ujar Jingga dengan tersenyum licik.
"Gila kamu Jingga, bagaimanapun juga bayi yang ada dalam kandungan kamu itu adalah Anak aku, lalu apa kamu tega merebut Suami dari Adik kandung kamu sendiri?"
__ADS_1
"Itu bukan urusan kamu David, kamu lebih memilih mana hem, aku menikah dengan Angga atau aku menggugurkan kandunganku?" tanya Jingga, sehingga membuat David diam tidak berkutik karena dua-duanya adalah pilihan yang sulit.