
Bu Rima dan Pak Hasan merasa terkejut dengan perkataan Mentari, karena ternyata Fajar adalah orang yang telah menyelamatkan nyawa Mentari, padahal sebelumnya mereka sudah berpikiran yang tidak-tidak.
"Jadi Nak Fajar ini adalah orang yang sudah menyelamatkan Mentari? Terimakasih banyak ya Nak, karena Nak Fajar sudah menyelamatkan nyawa Mentari dan bayi yang berada dalam kandungnya."
"Sama-sama Bu, sudah kewajiban kita untuk menolong sesama, lagipula Mentari sudah saya anggap sebagai Adik saya sendiri," jawab Fajar, karena tidak mau kedua orangtua Mentari salah paham.
Kenapa ya, aku merasa jika Nak Fajar tidak hanya menganggap Mentari sebagai Adiknya saja? tapi sepertinya Nak Fajar mempunyai perasaan lebih terhadap Mentari, ucap Pak Hasan dalam hati.
"Bu, ini Mentari bawa makanan buat Ibu, Ibu dan Bapak pasti belum makan kan?"
"Terimakasih banyak ya Nak, maaf sudah merepotkan. Ibu memang belum sempat memasak, karena kondisi Ibu masih belum sembuh benar."
"Apa kita pergi ke Dokter saja untuk memeriksa kondisi Ibu dan Bapak?"
"Gak usah Nak, sekarang kami sudah lebih baik. Oh iya, Ibu dengar Nak Fajar hilang ingatan ya? apa sekarang Nak Fajar masih belum mengingat sesuatu?" tanya Bu Rima.
"Iya Bu, saya masih belum mengingat semuanya, tapi secara perlahan saya mulai mengingat satu persatu kejadian yang pernah saya alami."
"Nak Fajar yang sabar ya, Ibu yakin jika sebentar lagi Nak Fajar pasti akan mengingat semuanya."
"Terimakasih banyak Bu, semoga secepatnya ingatan saya segera pulih, saya tidak mau kalau terus menyusahkan Mentari dengan tinggal di rumahnya."
Bu Rima dan Pak Hasan kembali berpandangan, ada rasa khawatir akan terjadi fitnah kepada Mentari dan Fajar, apalagi mereka mengetahui sikap Mertua Mentari yang tidak suka kepada Mentari.
"Mentari tau apa yang ada dalam pikiran Ibu dan Bapak, tapi Mentari berharap Ibu dan Bapak tidak perlu mengkhawatirkan semuanya. Justru Mentari bahagia karena ada Mas Fajar yang selalu membantu Mentari. Mentari sekarang merasa mendapatkan dukungan dari Mas Fajar."
"Ibu percaya sama kalian Nak, tapi masih ada rasa takut dalam hati Ibu, jika Bu Sandra menyakiti Mentari lagi."
"Insyaallah Fajar akan selalu menjaga Mentari Bu," ucap Fajar mencoba untuk menenangkan orangtua Mentari.
Bu Rima dan Pak hasan merasa senang karena ada Fajar yang akan selalu menjaga Mentari, tapi di sisi lain mereka takut jika Fajar dan Mentari akan saling jatuh cinta karena kedekatan mereka. Fajar yang melihat kekhawatiran di wajah kedua orangtua Mentari pun kembali angkat bicara.
__ADS_1
"Fajar tau batasan kok Bu, Pak, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan." Karena sebenarnya yang perlu dikhawatirkan saat ini adalah Angga yang sudah masuk ke dalam jebakan Jingga. Aku takut jika Jingga akan berhasil merebut Angga dari Mentari, lanjut Fajar dalam hati.
"Bu, Pak, Mentari ke dapur dulu ya mau menata makanan ke dalam piring, biar kita bisa makan sama-sama."
"Mas ikut juga ya biar bantu sekalian," ujar Fajar yang mengekor di belakang Mentari.
"Bu, kenapa ya Bapak merasa jika Nak Fajar bukan hanya menganggap Mentari sebagai Adik saja, tapi Bapak lihat Nak Fajar suka sama Mentari," bisik Pak Hasan.
"Ibu juga merasa seperti itu Pak, karena tatapan Nak Fajar kepada Mentari terlihat berbeda. Tapi Ibu lihat Nak Fajar orang yang baik, semoga saja dia bisa menjaga Mentari dari gangguan Mertua dan Adik iparnya."
Setelah selesai menata masakannya ke dalam piring, akhirnya Mentari, Fajar bersama kedua orangtua Mentari memutuskan untuk makan siang bersama.
......................
Stella dan Mommy Sandra mencoba membeli beberapa testpack supaya bisa mengetahui Stella hamil atau tidak, dan setelah Stella melakukan beberapa kali tes dengan merk yang berbeda, hasilnya Stella positif hamil.
Stella langsung menangis histeris karena tidak mau hamil diluar nikah, lain hal nya dengan Mommy Sandra yang malah tertawa bahagia.
"Kamu itu pinter dikit donk Stella, kalau kamu hamil artinya kita bisa mendapatkan keuntungan yang besar, kamu bisa segera meminta pertanggungjawaban dari David, jadi Mommy bakalan punya Menantu kaya raya," ujar Mommy Sandra dengan terus tertawa bahagia.
"Aku gak yakin David mau segera menikahiku Mom, bagaimana kalau dia tidak mau bertanggungjawab?"
"Kamu tenang saja, Mommy akan pastikan David segera menikahi kamu, dan Mommy akan meminta supaya pernikahan kalian diselenggarakan secara mewah serta mengundang wartawan untuk meliput pernikahan kalian, supaya nanti menjadi trending topik di seluruh Dunia."
"Tapi Stella bukan artis Mom."
"Meskipun kamu bukan artis, tapi calon Suami kamu itu pengusaha kaya, jadi pasti mudah untuk David mewujudkan semua keinginan kamu, di jaman sekarang ini segala sesuatu itu bisa dibeli dengan uang Stella. Sebaiknya sekarang juga kamu suruh David supaya datang ke rumah ini."
Stella kemudian menggambil handphone nya untuk menghubungi David.
📞"Ada apa sayang, tumben kamu nelpon duluan," ucap David ketika mengangkat telpon Stella.
__ADS_1
📞"Sayang, kamu bisa datang ke rumah gak sekarang? ada hal penting yang ingin aku omongin."
📞"Emangnya gak bisa ya kalau ngomongin di telpon? sepenting apa sih, aku jadi penasaran," ujar David.
📞"Pokoknya kamu harus ke rumah sekarang juga ya, soalnya ini penting banget."
📞"Ya sudah, aku siap-siap dulu," ujar David kemudian menutup sambungan telponnya.
Saat mengangkat telpon dari Stella, David baru saja bangun, karena semalam dia sudah bersenang-senang dengan Jingga, sehingga mereka berdua memutuskan untuk tidur seharian ini.
"Sayang, siapa yang barusan telpon?" ujar Jingga yang ikut terbangun ketika mendengar David berbicara dengan seseorang di balkon kamarnya.
"Tadi temen aku yang telpon dan dia nyuruh aku supaya datang ke rumahnya."
"Kita kan udah sepakat kalau seharian ini bakalan habisin waktu berdua saja di dalam kamar."
"Tapi dia bilang ada urusan penting tentang kuliah yang harus diselesaikan."
"Jadi temen kamu lebih penting ya daripada aku? padahal aku sudah ngelakuin semua yang kamu mau, bahkan aku tidak pernah memperdulikan Anak kandungku sendiri hanya demi kamu," ujar Jingga.
Setelah mengetahui jika dirinya tengah hamil, Jingga selalu ingin bersama David, dan dia tidak bisa tidur kalau tidak ada David di sampingnya.
"Kenapa sih semenjak hamil kamu jadi manja sekali honey?"
"Mungkin ini bawaan bayi, sepertinya bayi dalam kandunganku selalu ingin dekat dengan Ayahnya," ujar Jingga dengan bergelayut manja kepada David.
"Aku janji perginya cuma sebentar kok, nanti aku balik lagi ke sini setelah menyelesaikan urusanku," ujar David mencoba untuk membujuk Jingga.
"Tapi yang tadi nelpon kamu bukan Tanteu-tanteu senang yang ingin kamu puaskan kan?"
"Bukan sayang, kamu lihat saja sendiri di handphoneku, namanya aja Komar, masa nama Komar seorang perempuan," ujar David dengan memperlihatkan daftar riwayat panggilan di handphonenya, sehingga membuat Jingga tersenyum bahagia.
__ADS_1