
Setelah David pergi, Angga menatap lekat wajah cantik Istrinya.
"Kenapa Abang melihat Mentari seperti itu? daritadi juga ketika Mas David duduk di sini Abang gak banyak bicara," ujar Mentari.
"Abang cemburu makanya tadi diem aja pas kamu ngajakin David duduk di sini."
"Kenapa pake cemburu segala sih? yang penting kan hati Mentari hanya buat Abang seorang."
"Sejak kapan Istri Abang yang cantik ini pintar menggombal?" tanya Angga dengan mencubit hidung Mentari.
Dari kejauhan Fajar terus saja memandangi interaksi antara Angga dan Mentari yang terlihat sangat bahagia.
Hatiku rasanya sakit sekali melihat kemesraan Mentari dan Angga. Sadar Fajar, Mentari itu sudah menjadi milik oranglain, kamu harus bisa menerima kenyataan kalau dia tidak akan pernah bisa kamu miliki, ikhlaskan dia, biarkan dia bahagia dengan Suaminya, batin Fajar.
Fajar sudah berniat untuk menjaga jarak dengan Mentari, tapi dia harus kembali melihat wajah Mentari yang selalu terbayang-bayang dalam ingatannya karena saat ini mereka berada di tempat yang sama dikarenakan Fajar harus mengecek pekerjaan yang berada di daerah Puncak juga. Fajar berusaha untuk menghindari bertemu dengan Mentari, tapi ternyata mereka menginap di hotel yang sama.
"Sebaiknya aku bergegas pergi dari sini, kalau lama-lama berada di sini hatiku akan terus merasakan sakit," gumam Fajar.
Mentari melihat Fajar yang berada di sana juga dan dia berniat untuk mengenalkan Fajar kepada Suaminya sebagai lelaki yang saat ini sudah dia anggap Kakak olehnya, sehingga dia melambaikan tangan kepada Fajar. Sesaat netra mereka berdua bertemu, tapi Fajar tidak menghiraukan lambaian tangan Mentari dan memilih untuk segera pergi dari tempat tersebut.
"Sayang, kamu melambaikan tangan sama siapa?" tanya Angga.
"Tadi sepertinya aku melihat temanku deh Bang."
"Laki-laki atau perempuan hemm?"
"Memangnya kalau laki-laki kenapa?"
"Abang bakalan mengurung kamu di dalam kamar supaya tidak dapat bertemu siapa pun," goda Angga dengan menaik turunkan alisnya, sehingga Mentari memutar malas matanya.
"Kita mending jalan-jalan ke kebun teh yuk Bang, udara di sini kan masih sejuk, nanti kita bisa Selfi juga di sana."
"Abang ikut saja kemana pun perginya Istri Abang yang cantik ini."
"Udah gak usah ngegombal terus, nanti hati aku bisa meleleh," ujar Mentari dengan menarik lembut tangan Angga.
Akhirnya Mentari dan Angga memutuskan untuk berkeliling dengan berjalan kaki menikmati sejuknya udara pagi hari di puncak dengan sesekali melakukan selfi.
__ADS_1
Ketika Angga mengangkat telpon dari anak buahnya, mereka berdua berjalan beriringan, dan Angga terlihat fokus mendengarkan laporan yang diberikan oleh anak buahnya.
Fajar saat ini masih berada di parkiran memperhatikan Angga dan Mentari.
"Maafkan aku Mentari, karena tadi aku tidak menghampirimu. Aku tidak akan sanggup jika harus melihat kebersamaan kamu dan Angga," gumam Fajar.
Tiba-tiba Fajar melihat sebuah motor yang terlihat melaju kencang ketika Mentari dan Angga menyebrangi jalan. Fajar yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat Mentari pun langsung saja berlari.
"Mentari awas !!" teriak Fajar dengan memeluk tubuh Mentari yang berada di belakang Angga dan membawanya ke pinggir jalan, kemudian mereka berdua terjatuh dengan kepala Fajar yang membentur batu.
Brak
Motor yang melaju kencang tadi menabrak sebuah pohon yang berada di depannya.
Angga hanya diam mematung karena kejadian tersebut begitu cepat dan dia terlihat kaget karena hampir saja Mentari tertabrak oleh motor.
Semua orang yang berada di sana terlihat membantu pengendara motor untuk bangun.
Saat ini kepala Fajar terlihat berdarah dengan kondisi yang tidak sadarkan diri, Mentari yang melihatnya pun langsung berteriak meminta tolong.
"Bang Angga tolong," teriak Mentari.
"Sayang, kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Angga.
"Mentari tidak kenapa-napa Bang, tapi sepertinya Mas Fajar terluka parah," ujar Mentari dengan memeluk tubuh Angga.
"Apa Mentari kenal dengan lelaki ini?"
"Iya Bang. Mentari tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang, karena saat ini kita harus segera membawanya ke Rumah sakit."
"Ya sudah, sebaiknya Abang sekarang ambil mobil dulu, Mentari tunggu di sini ya," ujar Angga dengan bergegas ke hotel untuk mengambil mobilnya.
Pengendara motor yang hampir menabrak Mentari hanya mengalami luka ringan, dan dia langsung menghampiri Mentari dan Fajar yang saat ini masih belum sadarkan diri.
"Maafkan saya ya Mbak, tadi rem motor saya mengalami blong."
"Semua ini adalah takdir Mas, saya hanya berharap Mas Fajar tidak kenapa-napa," ujar Mentari dengan menitikkan airmata.
__ADS_1
Saat ini Fajar dibawa oleh Angga dan Mentari ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
"Sayang, kamu kenal Fajar dimana?" tanya Angga.
"Mas Fajar sempat menolong Mentari ketika Mentari pulang dari pasar Bang, saat itu kepala Mentari sakit dan Mentari hampir pingsan di pinggir jalan," jelas Mentari.
Maafin Mentari Bang, Mentari tidak mungkin berkata jujur kalau Mas Fajar adalah pelanggan masakan Mentari. Mentari takut Abang nanti marah kalau tau Mentari jualan, batin Mentari.
"Kenapa Mentari tidak cerita sama Abang kalau Mentari hampir pingsan?" tanya Angga.
"Maaf Bang, Mentari tidak mau kalau Abang sampai khawatir, karena saat itu Abang berada di Sulawesi."
"Maafin Abang ya sayang, karena Abang tidak ada saat Mentari butuhkan, bahkan tadi yang menyelamatkan Mentari bukan Abang, padahal Abang berada di dekat Mentari, tapi Abang malah sibuk mengobrol di telpon," ujar Angga yang merasa menyesal.
"Sudahlah Bang, Abang jangan menyesali semuanya karena semua yang terjadi dalam kehidupan kita adalah takdir. Semoga saja Mas Fajar baik-baik saja," ujar Mentari.
Setelah sampai di Rumah Sakit, Fajar langsung dibawa ke ruang IGD.
Ya Allah, semoga saja Mas Fajar tidak kenapa-napa, mungkin kalau tadi Mas Fajar tidak menolongku, saat ini aku yang berada di dalam sana, batin Mentari.
Beberapa saat kemudian Dokter keluar dari ruang IGD.
"Dok bagaimana keadaan Mas Fajar sekarang?" tanya Mentari.
"Pasien harus segera di oprasi, karena kepalanya mengalami luka yang serius, dan besar kemungkinan pasien akan mengalami amnesia," jelas Dokter.
"Sayang, kalau begitu Abang ke bagian administrasi dulu ya, kamu tunggu di sini sebentar," ujar Angga dengan melangkahkan kaki menuju bagian administrasi.
Setelah Angga menyelesaikan administrasi, Fajar kemudian dibawa menuju ruang operasi.
"Apa Fajar mempunyai keluarga yang bisa kita hubungi?" tanya Angga.
"Setau Mentari, Mas Fajar sudah tidak mempunyai keluarga, dan kedua keponakannya berada di luar negeri."
"Kita harus bagaimana sekarang? dompet dan handphone Fajar juga hilang, padahal besok kita harus pulang, tidak mungkin kan kalau kita meninggalkannya di sini sendirian," ujar Angga yang merasa bingung.
"Kalau Abang izinin, biar Mentari saja yang menunggu Mas Fajar di sini sampai Mas Fajar pulih," ujar Mentari.
__ADS_1
Angga sebenarnya tidak rela jika Mentari harus merawat Fajar, tapi dia tidak mempunyai pilihan lain, sehingga dengan berat hati Angga menyetujui usul Mentari.