
Setelah Angga keluar dari kamar perawatan Mentari karena Bu Rima menyuruhnya untuk pulang dan beristirahat, hanya sekitar 15 menit saja Angga sudah terlihat datang kembali.
"Lho, Nak Angga kenapa balik lagi? ada yang ketinggalan ya?" tanya Bu Rima.
"Iya Bu, hati Angga ketinggalan di sini makanya Angga balik lagi," ujar Angga dengan terkekeh.
"Bang Angga kenapa belum pulang? kasihan Abang pasti cape belum istirahat dari semalam, tapi Abang sepertinya sudah ganti baju ya, kapan ngambilnya?" tanya Mentari dengan heran karena Angga saat ini sudah mengganti bajunya dan terlihat rapi.
"Bang Angga selalu bawa baju ganti di mobil, jadi tadi mandi kilat dulu terus balik lagi deh ke sini."
"Kenapa gak pulang aja sih sekalian buat istirahat, Mentari gak mau ya kalau nanti Mentari sembuh, tapi Bang Angga yang malah jadi sakit."
"Di rumah juga Bang Angga kesepian, semua keluarga Abang kan di luar Negeri, paling hanya sesekali saja mereka ke Indonesia, jadi Bang Angga lebih baik di sini aja nungguin Mentari biar gak ada yang nyulik," jawab Angga dengan cengengesan.
"Ya sudah deh terserah Abang aja," ujar Mentari yang sudah bingung harus bicara apa lagi.
......................
Seminggu sudah Mentari menjalani perawatan di Rumah Sakit, Angga selalu setia mendampingi Mentari mengikuti proses pengobatan, karena Bu Rima dan Pak Hasan sibuk mengurusi acara tahlil mendiang Fahri dan Bu Asih.
"Bang Angga, barusan Mentari dapat telpon dari pengacara mas Fahri buat menandatangani pengalihan harta warisan dari mendiang mas Fahri dan Bu Asih, apa Bang Angga bisa mengantar Mentari ke tempat pengacara terlebih dahulu sebelum kita pulang ke rumah?" tanya Mentari.
"Siap Ratuku, kemana pun Mentari pergi Bang Angga pasti akan selalu mengantar Mentari," jawab Angga.
Mentari yang mendengar sebutan Ratuku dari Angga pun langsung meneteskan airmata karena dia teringat kepada Fahri yang selalu memanggilnya dengan sebutan seperti itu juga.
"Mentari kenapa? Apa Bang Angga telah melakukan kesalahan?"
"Tidak Bang, Mentari tidak apa-apa, hanya saja Mentari teringat kepada mendiang mas Fahri yang selalu memanggil Mentari dengan panggilan Ratuku juga," jawab Mentari.
__ADS_1
"Astagfirullah, maaf ya Mentari, Bang Angga benar-benar gak tau."
"Gak apa-apa Bang, Mentari juga harus bisa menghadapi semua kenyataan ini, Mentari harus berusaha untuk ikhlas dan bangkit demi orang-orang yang Mentari sayangi. Terimakasih ya Bang, selama ini Bang Angga selalu ada untuk Mentari, semoga saja suatu saat nanti Mentari bisa membuka hati buat Bang Angga."
"Dan Bang Angga akan selalu menunggu hingga hari itu tiba, serta akan menjadikan Mentari satu-satunya Ratu di hati Bang Angga," ujar Angga dengan tersenyum.
"Bang, sebaiknya kita berangkat sekarang ya, Mentari udah gak betah di Rumah Sakit. Kasihan juga jika Pengacara dan pihak jasa raharja kalau terlalu lama menunggu," ajak Mentari mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ya sudah, yuk Bang Angga gendong."
"Bang..udah deh jangan bercanda, memangnya Mentari anak kecil apa," ujar Mentari dengan tersenyum malu, lalu buru-buru berjalan karena menghindari Angga yang terus saja berusaha untuk menggodanya, sehingga tiba-tiba Mentari bertubrukan dengan seseorang.
"Maaf Mbak saya gak sengaja," ujar Mentari dengan mengambil tas perempuan tersebut yang jatuh lalu kemudian mengembalikannya.
"Kak Jing_ga," ucap Mentari dengan tergagap.
"Mentari tidak kenapa-napa kan?" tanya Angga.
Prok..prok..prok
"Woow hebat sekali ya seorang Mentari yang polos dan lugu, baru saja Suaminya meninggal bahkan tanah kuburannya juga masih basah, tapi sekarang sudah kembali berpacaran. Apa mungkin memang kamu selingkuh sama dia makanya kalian sampai mencelakakan Fahri?" ujar Jingga dengan mendorong tubuh Mentari, untung saja Angga dengan sigap menahannya dari belakang.
"Jaga mulut kamu Jingga, aku bisa melaporkan kamu dengan tuduhan pencemaran nama baik !! Mentari itu gadis baik-baik, dan seharusnya sebelum kamu berkata seperti itu, kamu sebaiknya ngaca dulu supaya kamu sadar orang seperti apa kamu sebenarnya !!" ujar Angga dengan menarik lembut tubuh Mentari lalu meninggalkan Jingga yang terlihat diam mematung.
"Kenapa sih si Mentari selalu di kelilingi oleh lelaki yang tulus mencintainya? sedangkan aku, walaupun Mas Bram kaya, tapi dia tidak pernah punya waktu untukku bahkan hanya untuk sekedar mengantar memeriksa anaknya yang sekarang ada dalam perutku ini," gumam Jingga dengan terlihat kesal.
dari kejauhan ada sepasang mata yang selalu mengawasi gerak-gerik Jingga, lalu sesaat kemudian orang tersebut memotret wajah Jingga yang saat ini terlihat meneteskan airmata, dan orang tersebut langsung mengirimkan potret tersebut kepada Bos nya.
Di tempat lain, terlihat seorang Pria tampan menyunggingkan senyuman ketika melihat foto yang dikirimkan oleh salah satu anak buahnya.
__ADS_1
"Aku bahagia melihat kamu menangis Jingga, bersiap-siaplah karena sebentar lagi kamu akan mendapatkan hukuman atas meninggalnya Kak Dewi," ujar lelaki tersebut dengan mengepalkan kedua tangannya yang saat ini tengah menahan amarah.
Lelaki tersebut adalah Fajar, Adik dari Dewi mendiang Istri Bramantyo. Fajar bertekad untuk membalas dendam terhadap Jingga dan Bram atas kematian Kakaknya.
......................
Sepanjang perjalanan Mentari terlihat melamun, dia terus saja memikirkan Jingga. Mentari khawatir melihat Jingga yang saat ini berada di Rumah Sakit, dia takut jika keadaan Jingga sedang sakit dan tidak ada yang mengantarnya.
"Mentari kenapa melamun terus? jangan dengerin omongan Jingga ya," ujar Angga.
"Bukan itu yang Mentari pikirin Bang, justru Mentari kasihan sama Kak Jingga karena sepertinya dia sedang tidak enak badan, tapi tidak ada orang yang mengantarnya untuk berobat," jawab Mentari.
"Hatimu terbuat dari apa sih? padahal udah jelas Jingga selalu nyakitin kamu, tapi Mentari masih saja mikirin keadaannya," ujar Angga.
"Bagaimanapun juga Kak Jingga adalah Kakak kandung Mentari Bang, sudah seharusnya kita saling menyayangi."
"Meskipun Jingga tidak menyayangi kamu?"
"Iya Bang, meskipun Kak Jingga tidak menyayangi Mentari, tapi Mentari sangat menyayanginya."
"Tapi Jingga sudah keterlaluan Mentari, dia sudah jahat sama kamu, Bang Angga aja gak rela denger kamu dibully terus sama dia."
"Kalau kita balas balik jahat juga kepada orang yang sudah jahat sama kita, lalu apa bedanya kita sama mereka Bang?"
Angga nampak termenung mendengar jawaban Mentari, lalu terlihat beberapa kali menghembuskan nafas secara kasar.
"Iya sih, Mentari bener juga," ujar Angga dengan tersenyum.
"Kita tidak boleh mengotori hati dan tangan kita untuk membalas perlakuan orang yang sudah berbuat jahat sama kita, meskipun jujur Mentari sering merasakan sakit hati karena Mentari juga hanyalah manusia biasa. Tapi bukankah apa yang kita tanam itu juga yang akan kita tuai," jelas Mentari, sehingga membuat Angga semakin jatuh hati terhadap sosok Mentari.
__ADS_1