
Angga akhirnya berhasil membujuk Mentari untuk makan, dan mereka berdua kini berjalan beriringan menuju meja makan.
"Alhamdulillah akhirnya Anak Ibu mau makan juga," ujar Bu Rima.
"Nangis juga perlu tenaga Bu, jadi kalau Mentari gak mau makan lagi panggil aja nama Angga tiga kali," ujar Angga.
"Emang Bang Angga Jin apa?" ucap Mentari yang sudah mulai tersenyum.
"Gitu dong senyum, kalau senyum kan aura kecantikannya semakin bertambah," goda Angga.
"Udah deh Bang Angga jangan godain terus, nanti Mentari jadi males makan," jawab Mentari.
Angga pun langsung diam lalu menjawab ucapan Mentari dengan menggunakan isyarat tangannya yang menirukan gaya seperti menutup resleting pada mulutnya, dan kelakuan Angga lagi-lagi berhasil membuat Mentari tertawa.
Bu Rima dan Pak Hasan yang melihat keadaan Mentari sudah lebih baik akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Mentari dan Angga supaya mereka berdua tidak merasa canggung.
"Alhamdulillah ya Bu, kehadiran Nak Angga bisa membuat Mentari tertawa," ujar Pak Hasan.
"Iya Pak, sepertinya Nak Angga masih menyimpan perasaan untuk Mentari, padahal dulu Mentari bilang kalau dia sudah menolak Nak Angga sebanyak sepuluh kali," jawab Bu Rima.
"Sepertinya Nak Angga pejuang tangguh sama dengan Bapak ya yang dulu tidak pernah menyerah untuk mendapatkan cinta Ibu," goda Pak Hasan dengan tersenyum.
"Bapak masih ingat saja, Ibu kan jadi malu. Jadi sepertinya Nak Angga ada Gajah dibalik batu ya Pak?" ucap Bu Rima sehingga membuat Pak Hasan tertawa.
"Bukan Gajah dibalik batu Bu, tapi yang betul itu Udang dibalik batu, kalau Gajah yang ngumpet dibalik batu terlalu kebesaran, jadi sama aja bohong dong kalau masih kelihatan," ujar Pak Hasan dengan masih tertawa.
"Ibu jadi malu, tadinya mau sok-soan pake peribahasa," jawab Bu Rima dengan tersenyum malu.
Angga dan Mentari yang sudah selesai makan pun terlihat menghampiri Bu Rima dan Pak Hasan yang masih menertawakan perkataan Bu Rima.
"Bapak sama Ibu sepertinya lagi bahagia ya?" tanya Angga.
"Bapak pengen ketawa aja Nak, masa Ibu bilang peribahasa Udang dibalik batu malah ganti jadi Gajah dibalik batu," cerita Pak Hasan sehingga membuat Mentari dan Angga ikut tertawa juga.
__ADS_1
"Bu, Pak, makasih banyak ya atas jamuannya, Angga jadi gak enak malah ikutan makan di sini," ucap Angga.
"Enakin aja Nak Angga, Bapak juga seneng karena kehadiran Nak Angga bisa membuat Mentari kembali tersenyum."
"Kalau begitu Angga pamit pulang dulu ya, gak enak juga udah kelamaan main di rumah gadis, nanti takut jadi fitnah," ujar Angga dengan tersenyum.
"Mentari bukan Gadis lagi Bang Angga, Mentari sekarang adalah seorang Janda," ujar Mentari dengan tertunduk sedih karena kembali mengingat kepergian Suaminya.
"Mentari Gadis ataupun Janda, semua itu tidak penting bagi Bang Angga," ucap Angga, lalu kemudian mencium punggung tangan Bu Rima dan Pak Hasan.
"Bang Angga pulang dulu ya, besok Bang Angga ke sini lagi buat jemput Mentari. Ingat jangan kebanyakan melamun, nanti ayam-ayam tetangga pada mati mendadak," ledek Angga lalu mengucapkan Salam dan masuk ke dalam mobilnya.
Mentari lagi-lagi dibuat tersenyum dengan perkataan Angga dengan terus melihat ke arah mobil yang melaju meninggalkan halaman rumahnya, tapi sesaat kemudian dia menangis karena mengingat kejadian terakhir kali ketika dia berpisah dengan Fahri, sehingga Mentari tiba-tiba mengejar mobil Angga.
"Mas Fahri, Mas fahri jangan tinggalin Mentari Mas," teriak Mentari dengan menangis dan terus berlari mengejar mobil Angga sampai akhirnya terjatuh.
Angga yang melihat Mentari dari kaca spion langsung saja menghentikan mobilnya dan berlari untuk menghampiri mentari yang masih menangis di tengah jalan.
"Mas Fahri jangan pergi Mas," ucap Mentari dengan lirih lalu kemudian pingsan. Untung saja Angga dengan sigap memeluk tubuhnya.
"Mentari kamu kenapa Nak," ujar Bu Rima dan Pak Hasan dengan menghampiri Mentari dan Angga.
"Bu, Pak, sebaiknya Angga bawa Mentari ke Rumah Sakit ya. Mentari sepertinya masih syok dengan kepergian Fahri, jadi lebih baik kita sekalian mengobati mental Mentari dengan bantuan Psikolog," ujar Angga.
"Maaf ya Nak Angga kami sudah merepotkan," ujar Bu Rima dan Pak Hasan yang merasa tidak enak hati kepada Angga.
"Tidak apa-apa Bu, Pak, Angga pasti akan menjaga Mentari dengan baik," ujar Angga dengan mengangkat tubuh Mentari dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Maaf ya Nak Angga, Ibu tidak bisa ikut mengantar karena kasihan Bapak gak ada yang ngurus, tapi kalau Mentari harus di rawat, besok pagi Ibu nyusul ke Rumah Sakit," ujar Bu Rima yang dijawab oleh Angga dengan Anggukan kepala.
Setibanya di Rumah Sakit, Angga langsung menggendong Mentari menuju IGD, Dokter dan perawat yang melihatnya pun langsung membantu Angga.
Beberapa saat kemudian Dokter terlihat keluar dari ruang tindakan, dan Angga bergegas menghampirinya.
__ADS_1
"Dok bagaimana keadaan Mentari?" tanya Angga.
"Sepertinya pasien mengalami trauma dan terlalu banyak pikiran, jadi sebaiknya pasien di rawat dulu supaya besok bisa mendapatkan penanganan juga dari Psikolog," jelas Dokter dengan berlalu meninggalkan Angga.
Angga bergegas mengurus Administrasi dan meminta supaya Mentari dipindahkan ke ruang VVIP.
Setelah semuanya selesai, Mentari langsung dipindahkan ke kamar perawatannya.
Angga dengan setia menunggu Mentari dengan terus menggenggam erat tangannya.
"Bangun sayang, Bang Angga yakin Mentari bisa melewati semua ini," ujar Angga dengan mengelus lembut punggung tangan Mentari.
"Mas Fahri, Mas Fahri, jangan tinggalin Mentari mas," ucap Mentari masih dalam keadaan pingsan.
"Sepertinya kamu sangat mencintai Fahri Mentari, bahkan dalam keadaan tidak sadar pun kamu masih memanggil namanya," gumam Angga yang merasakan sakit dalam dadanya sehingga dia secara perlahan mencoba untuk melepaskan pegangan tangannya pada Mentari.
"Mas Fahri jangan pergi," ucap Mentari dengan menarik tangan Angga, lalu kemudian Angga pun hilang keseimbangan dan jatuh di atas tubuh Mentari.
Angga menatap lekat wajah cantik Mentari yang masih pingsan, sampai akhirnya Angga terbuai dan secara tidak sadar menempelkan bibirnya ke bibir Mentari.
Cup..cup..cup.
Angga mengecup bibir Mentari, dan betapa terkejutnya dia ketika Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Maaf Pak kalau kedatangan kami mengganggu aktifitas Bapak dan Istri," ucap Dokter yang merasa tidak enak dengan Angga.
Angga langsung bergegas bangun dari pelukan Mentari dan dia hanya tersenyum kikuk serta tidak menyangkal ucapan Dokter yang sudah mengira jika dia dan Mentari adalah sepasang Suami-istri.
Dokter kini memeriksa kondisi Mentari yang masih belum sadar, dan perawat pun membantu untuk memeriksa tensi darah Mentari.
"Bagaimana Dok keadaan Istri saya?" tanya Angga yang tidak sadar jika telah mengaku kalau Mentari adalah Istrinya.
"Alhamdulillah kondisinya sudah mulai membaik dan tensi darahnya juga sudah normal, mungkin karena mendapatkan sentuhan dari Suaminya," ujar Dokter dengan tersenyum dan keluar dari kamar perawatan Mentari. Angga pun tersenyum malu dengan terus memegangi bibirnya.
__ADS_1