
Mentari dan Angga saat ini sudah mengarungi bahtera rumah tangga selama tiga bulan. Pernikahan mereka berdua berjalan dengan harmonis tanpa ada gangguan yang berarti.
Pagi ini Mentari terus bolak-balik ke toilet karena merasakan gejolak hebat dalam perutnya. Dia merasakan mual sehingga terus saja memuntahkan semua isi perutnya.
"Sayang, kamu kenapa dari tadi muntah-muntah terus?" tanya Angga dengan memijit tengkuk leher Mentari.
"Gak tau Bang, daritadi rasanya mual terus, belum lagi kepala Mentari pusing banget," jawab Mentari dengan lirih, karena dia sudah merasa lemas bahkan hampir pingsan.
"Kalau begitu sebaiknya sekarang kita periksa dulu ke Dokter ya, Abang gak mau kalau sampai Mentari kenapa-napa," ujar Angga, lalu kemudian menggendong tubuh Mentari.
"Maaf ya Bang, Mentari sudah ngerepotin, padahal Abang pasti berat harus gendong Mentari."
"Gak apa-apa sayang, ke ujung dunia pun Abang bakalan mau gendong istri Abang yang cantik ini," goda Angga, sehingga membuat Mentari tersipu malu.
Sepanjang perjalanan ke Rumah Sakit, Angga terus saja menggenggam erat tangan Mentari, dia merasa khawatir melihat wajah Mentari yang pucat.
Sesampainya di Rumah Sakit, Angga bergegas membawa Mentari ke IGD supaya tidak mengantri lama, dan Dokter pun bergegas memeriksa keadaan Mentari yang terlihat lemas.
"Sepertinya saat ini Ibu tengah hamil, tapi untuk memastikannya saya akan melakukan USG," ujar Dokter.
Mentari dan Angga terlihat harap-harap cemas dengan hasil USG yang akan dilakukan oleh Dokter.
Setelah menempelkan alat USG di perut Mentari, Dokter pun kembali angkat bicara.
"Selamat ya Bu, Pak, karena sebentar lagi Ibu dan Bapak akan menjadi orangtua, saya melihat bukan hanya satu bayi yang Ibu kandung, tapi ada dua bayi," ujar Dokter.
Mentari dan Angga sampai menangis mendengar berita bahagia yang mereka dapatkan, tiada hentinya mereka mengucap syukur karena telah diberikan harta yang sangat berharga.
__ADS_1
Terimakasih Ya Allah, karena Engkau telah memberikan titipan yang sangat berharga untuk kami, batin Mentari.
"Terimakasih ya sayang atas semua kebahagiaan yang telah Mentari berikan kepada Abang," ujar Angga dengan tiada hentinya menciumi wajah Mentari. Angga tidak sadar kalau saat ini mereka masih berada di ruangan Dokter sampai akhirnya Angga sadar ketika Dokter kembali bicara.
"Kalau begitu saya akan memberikan resep untuk mengurangi mual muntah, vitamin dan obat pusing saja. Sekali lagi saya ucapkan selamat dan semoga Ibu dan bayi nya selalu diberikan kesehatan. Untuk olahraga malam nya sebaiknya dikurangi dulu ya, soalnya di usia kehamilan trimester pertama kandungannya masih belum kuat," jelas Dokter, sehingga membuat Angga dan Mentari tersenyum malu.
"Terimakasih banyak Dok atas bantuannya," ujar Mentari yang saat ini dibantu oleh Angga keluar dari ruangan Dokter.
"Abang, Mentari malu sama Dokternya. Abang sih gak tau tempat pake cium-cium segala," ujar Mentari.
"Biarin, Dokter juga pasti mengerti kalau kita masih pengantin baru," jawab Angga dengan terus menggandeng tubuh istrinya.
"Ya udah gimana Abang aja deh, yang penting Abang bahagia, lagian sepertinya Anak-anak Abang ini pengen deket-deket terus sama Ayah mereka," ujar Mentari dengan tersenyum.
"Mereka tau kalau Ayah nya ganteng," celetuk Angga.
"Bukan ganteng, tapi ganteng banget, ujar Mentari sehingga membuat Angga berbunga-bunga.
"Mas, ada apa? siapa yang barusan telpon?" tanya Mentari.
"Sayang, barusan Mommy ngasih tau kalau Daddy meninggal karena serangan jantung," jawab Angga dengan berlinang airmata.
Mentari yang mendengar berita duka tentang kematian Mertua nya pun ikut menangis, padahal Mentari belum pernah bertemu dengan keluarga Suaminya, tapi sekarang mereka harus mendengar berita duka pada saat mereka sedang berbahagia karena kabar kehamilan Mentari.
"Innalillahi waina ilaihi raji'un, yang sabar ya Bang, kalau memang Abang mau berangkat ke Australia sekarang, Mentari gak apa-apa kok ditinggal, saat ini Mommy sama Adik Abang pasti sedang membutuhkan kehadiran Abang."
"Ya sudah kalau begitu Abang berangkat sekarang ya, tapi sebaiknya Mentari tinggal di rumah Ibu sama Bapak dulu biar ada yang nemenin, Abang takut kalau ninggalin Mentari sendirian di rumah, apalagi dalam keadaan sedang hamil," ujar Angga dengan memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
Setelah selesai mengantri obat, Angga dan Mentari langsung pulang ke rumah orangtua Mentari.
"Assalamu'alaikum," ucap Angga dan Mentari ketika sampai halaman rumah, karena Ibu Mentari sedang berada di warung.
Mentari selalu memberikan uang bulanan untuk memenuhi semua kebutuhan orangtuanya, tapi Bu Rima tidak pernah mengambilnya dan membiarkan uang tersebut tersimpan di dalam buku tabungan, sehingga beliau masih membuka warung yang sudah Mentari renovasi menjadi lebih besar untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, meskipun Mentari sudah melarangnya supaya tidak kecapean. Begitu juga dengan Pak Hasan yang saat ini membuka usaha menjadi pengepul rongsokan, karena kedua orangtua Mentari tidak mau menyusahkan Mentari.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Rima.
Mentari langsung berhambur memeluk Ibunya dengan menangis.
"Mentari kenapa menangis?" tanya Bu Rima.
"Mentari bahagia Bu karena saat ini Mentari tengah hamil, tapi Mentari juga sedih karena barusan mendapatkan kabar kalau Daddy meninggal dunia.
"Innalilahi waina ilaihi raji'un, semoga amal ibadahnya di terima oleh Allah SWT," ucap Bu Rima yang di amini oleh Angga dan Mentari.
Bu Rima langsung saja bergegas memanggil Pak Hasan yang berada di belakang rumah.
"Nak Angga, Bapak turut berduka cita ya atas meninggalnya Ayah Nak Angga, dan mohon maaf jika Bapak dan Ibu tidak bisa melayat beliau," ucap Pak Hasan.
"Iya tidak apa-apa Pak, Bu. Angga titip dulu Mentari di sini ya, karena sekarang Angga akan berangkat ke luar Negeri."
"Nak Angga tidak usah khawatir, kami pasti akan menjaga Anak dan cucu kami," ujar Bu Rima.
"Sayang, sebaiknya Mentari sekarang istirahat dulu ya, ayo Abang antar ke kamar sebelum Abang berangkat," ujar Angga yang saat ini membopong Mentari menuju kamar nya.
"Maafin Abang ya karena harus meninggalkan Mentari pada saat hamil muda seperti ini, insyaallah Abang akan pulang secepatnya, Mentari jaga diri baik-baik ya, Abang pasti akan sangat merindukan kalian," ujar Angga dengan mengelus lembut perut Mentari, lalu kemudian menciumnya.
__ADS_1
"Jaga Bunda baik-baik ya Kembar, jangan sampai nyusahin Bunda juga," ujar Angga yang saat ini berbicara di hadapan perut Mentari. Mentari yang melihat kelakuan Angga pun hanya bisa tersenyum dengan mengelus lembut rambut Suaminya yang saat ini masih berjongkok
Akhirnya, dengan berat hati Angga meninggalkan Mentari untuk pergi ke luar negeri.