Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 25 ( Harta peninggalan Fahri )


__ADS_3

Mentari kini telah sampai di Kantor pengacara kepercayaan mendiang Fahri. Dan Angga dengan setia selalu mendampingi Mentari sampai-sampai dia membiarkan semua pekerjaannya di kantor menjadi terbengkalai.


Dulu Angga menjabat sebagai Manager di salah satu Perusahaan yang berdekatan dengan Restoran milik Bu Asih, tapi semenjak pulang dari luar Negeri satu bulan yang lalu, Angga lebih memilih untuk membuka perusahaannya sendiri yang kebetulan masih berdampingan dengan perusahaan milik Fahri.


"Selamat datang Bu Mentari, maaf kalau boleh saya tau siapa yang datang bersama Ibu?" tanya Pengacara.


"Ini adalah Bang Angga teman saya sekaligus teman baik mendiang mas Fahri juga Pak," jawab Mentari.


"Maaf jika Pak Angga merasa tersinggung, tapi apa Bu Mentari benar-benar percaya terhadap Pak Angga, sehingga mengajak beliau untuk menyaksikan semua yang akan saya jelaskan?" tanya Pengacara.


"Insyaallah saya sangat percaya dengan Bang Angga karena kami sudah kenal lama juga. Saya sebenarnya kurang faham dengan masalah seperti ini Pak, jadi saya membawa Bang Angga yang lebih paham dengan semuanya," jawab Mentari.


"Baiklah, kalau begitu saya akan memulai saja semua penjelasannya," ujar Pengacara.


"Begini Bu Mentari, sepertinya Pak Fahri sudah mempunyai firasat dengan kejadian buruk yang akan menimpanya, bukan hanya Pak Fahri saja, tapi Bu Asih juga sempat menelpon saya sebelum acara Pernikahan Pak Fahri dan Bu Mentari di gelar, Bu Asih dan Pak Fahri berpesan supaya saya mengalihkan semua harta kekayaan yang mereka punya kepada Bu Mentari apabila terjadi sesuatu hal yang buruk menimpa mereka. Bu Mentari bisa periksa sendiri semua berkas-berkas pengalihan hartanya," jelas Pengacara dengan memberikan semua dokumen kepada Mentari.


Angga yang melihat Mentari kebingungan pun langsung angkat bicara.


"Mentari maaf, apa boleh Bang Angga bantu periksa berkasnya supaya lebih cepat selesai?" tanya Angga.


Mentari langsung tersenyum serta menganggukan kepalanya, lalu kemudian memberikan berkas-berkas tersebut kepada Angga untuk diperiksa.


Angga secara teliti memeriksa semua dokumen pengalihan harta milik Fahri dan Bu Asih yang akan diserahkan kepada Mentari, dan setelah selesai memeriksa semuanya, Angga langsung memberikan kembali dokumen tersebut kepada Mentari untuk di tandatangani.


"Mentari, Bang Angga rasa tidak ada kesalahan dalam dokumen ini, jadi Mentari bisa menandatanganinya sekarang," ujar Angga dengan menunjukan kepada Mentari letak tandatangan yang harus dibubuhkan Mentari dalam dokumen tersebut.


Setelah Mentari menandatangani semua dokumen pengalihan harta, kini giliran pihak Jasa raharja yang menyerahkan dokumen untuk Mentari tandatangani, dan seperti sebelumnya, Angga langsung membantu memeriksa semua dokumen terlebih dahulu supaya tidak terjadi kesalahan.


Setelah semuanya selesai, Mentari dan Angga kini bersiap-siap untuk pulang.

__ADS_1


"Bang Angga, terimakasih banyak ya atas semuanya, Mentari tidak tau apa jadinya jika tidak ada Bang Angga yang membantu Mentari."


"Iya sama-sama, Bang Angga justru senang karena bisa membantu Mentari, lalu apa langkah selanjutnya yang bisa Abang bantu?"


"Mentari berniat menyumbangkan harta warisan yang Mentari punya untuk fakir miskin serta membangun Mesjid atas nama Mas Fahri dan Bu Asih supaya pahalanya senantiasa mengalir kepada mendiang Suami dan Mertua Mentari."


"Alhamdulillah, sungguh mulia sekali niat Mentari, semoga Allah SWT memudahkannya ya, dan pastinya Bang Angga akan selalu membantu Mentari," ujar Angga.


"Kalau begitu bagaimana kalau sekarang Mentari traktir Bang Angga sebagai bentuk terimakasih Mentari?"


"Boleh deh, kapan lagi Abang ditraktir sama pujaan hati Abang, rezeki kan gak boleh ditolak," ujar Angga dengan terkekeh.


Sebenarnya Angga belum pernah ditraktir oleh siapa pun, apalagi seorang perempuan karena biasanya dia yang selalu mentraktir teman-temannya, tapi dia tidak mau membuat Mentari kecewa, jadi Angga mengikuti kemauan Mentari saja.


"Bang kita berhenti di Restoran yang berada di depan sana saja ya, sepertinya Restorannya lagi sepi," ajak Mentari.


"Siap Bos, semoga saja gak terlalu rame, sekarang sudah lewat jam makan siang juga," jawab Angga.


"Mentari," ucap seorang lelaki yang kini menghampirinya.


"Kamu Mentari kan?" tanya Lelaki tersebut, lalu kemudian hendak cipika-cipiki sama Mentari, tapi Angga langsung mendorongnya.


"Anda Mas Bram kan?" tanya Mentari.


"Iya, masa kamu lupa sama Kakak ipar sendiri," jawab Bram.


"Lho, Mas Bram sedang apa di sini? padahal tadi Mentari ketemu sama Kak Jingga di Rumah Sakit, kenapa Mas Bram tidak mengantarnya?"


"Mas habis ketemu klien di sini dan sekarang mas mau pulang. Oh..ternyata Jingga jadi juga pergi ke Rumah Sakit, bagus deh kalau dia mau berangkat sendiri, lagian dia juga bukan Anak kecil yang harus di antar segala," jawab Bram dengan entengnya.

__ADS_1


"Kenapa mas Bram bicara seperti itu? memangnya Kak Jingga sakit apa?"


"Dia kemarin bilangnya sedang hamil, mungkin dia mau memeriksakan kandungannya," jawab Bram.


"Astagfirullah, Mas Bram kok tega sekali sih, Istri sedang hamil malah dibiarin berangkat sendiri," ucap Mentari.


Sejak Bram mengetahui kehamilan Jingga, Bram bersikap dingin kepada Jingga karena Jingga tidak bisa memuaskan hasratnya, sehingga Bram kembali kepada kebiasaan lamanya yaitu mencari kepuasan dari perempuan lain.


"Mentari, mas dengar sekarang kamu Janda ya? boleh dong kalau mas Bram deketin kamu?" ujar Bram dengan pandangan penuh damba.


"Maaf mas, tidak seharusnya mas Bram berbicara seperti itu, apalagi saat ini kondisi Kak Jingga tengah hamil," jawab Mentari.


"Ayolah sayang, kamu jangan jual mahal, aku bisa memberikan semua yang kamu mau, yang pasti kamu hanya harus memuaskan hasratku saja, aku lihat kamu juga sepertinya belum pernah disentuh oleh mendiang Suami kamu," ujar Bram dengan hendak memegang pipi Mentari, tapi Angga langsung memberikan bogem mentah kepada Bram.


Brugh..brugh..


Angga menonjok wajah serta memukul perut Bram.


"Jaga mulut Anda tuan Bramantyo yang terhormat, jangan mentang-mentang Anda pengusaha sukses sehingga Anda dengan mudah merendahkan harga diri perempuan. Mentari adalah perempuan baik-baik, dan saya minta Anda jangan pernah mendekati Mentari lagi !!" ucap Angga.


Brugh..brugh..


Bram tidak mau kalah sehingga membalas Angga dengan pukulan di wajah dan perutnya juga.


"Apa hak mu melarang aku untuk mendekati Mentari? memangnya kamu siapa dia? status Mentari saat ini adalah seorang Janda, jadi aku bebas mendekatinya !!" tegas Bram.


Angga diam tanpa menjawab pertanyaan dari Bram, dia sadar jika saat ini Angga bukanlah siapa-siapa Mentari, sehingga dia tidak berhak melarang siapa pun untuk mendekati pujaan hatinya tersebut.


Mentari yang melihat Angga diam pun kini angkat bicara.

__ADS_1


"Maaf mas Bram, mungkin Anda belum mengetahui jika mas Angga adalah calon Suami saya !!" ujar Mentari penuh penekanan, sehingga membuat Angga dan Bram diam mematung tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


__ADS_2