
Mentari kini menarik lembut tangan Angga yang masih terpaku untuk meninggalkan Bramantyo yang masih terlihat diam mematung juga.
Setelah sampai di dalam Restoran, Mentari pun angkat bicara.
"Maaf Bang Angga atas perkataan Mentari tadi."
"Perkataan yang mana? Bang Angga lupa," ujar Angga pura-pura lupa.
"Masa lupa sih? itu yang barusan Mentari ngaku Bang Angga calon Suami Mentari."
"Tapi itu beneran dari hati Mentari kan?" tanya Angga.
Mentari nampak berpikir, lalu terlihat menghembuskan nafas berkali-kali.
"Kalau masalah Jodoh kan gak ada yang tau Bang, mungkin untuk saat ini Mentari belum memikirkan semua itu, tapi kita gak tau kedepannya akan seperti apa. Maaf ya Bang, bukannya maksud Mentari menggantung hubungan kita, Abang sendiri tau kan kalau Mentari saat ini sedang menjalani masa idah, sebenarnya Mentari malu jalan berdua dengan lelaki yang belum menjadi muhrim Mentari, namun keadaan saat ini tidak memungkinkan untuk Mentari jalan sendiri juga."
"Abang sangat mengerti dengan semua yang Mentari rasakan, Mentari juga tau kan kalau Bang Angga sudah lama menunggu Mentari dan tidak pernah menyerah? apalagi dengan situasi Mentari saat ini, jadi Bang Angga akan terus menunggu sampai waktu itu tiba," ujar Angga dengan menggenggam erat tangan Mentari.
"Makasih banyak ya Bang Angga atas semuanya, tidak ada lagi yang dapat Mentari ucapkan selain kata terimakasih."
"Iya sama-sama, kalau ada apa-apa Mentari jangan sungkan ya untuk meminta bantuan Bang Angga," ujar Angga, dan Mentari pun menganggukan kepalanya dengan tersenyum.
"Ya sudah, sekarang Bang Angga mau pesan apa?" tanya Mentari.
"Apa aja yang Mentari pesankan, pasti bakalan Bang Angga makan," jawab Angga.
"Bagaimana kalau steak sama es jeruk aja?"
"Boleh tuh, kayaknya enak juga," jawab Angga.
Mentari pun memanggil pelayan, lalu memesan dua porsi steak dan dua gelas es jeruk.
Bram yang melihat kedekatan Mentari dan Angga dari kejauhan pun terlihat mengepalkan kedua tangannya, lalu dia masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobilnya.
"Siaaaal, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu Mentari, lihat saja nanti, karena aku akan menghalalkan segala cara untuk membuatmu bertekuk lutut di hadapanku !!" teriak Bram dengan memukul setir mobilnya.
__ADS_1
Lagi-lagi orang suruhan Fajar memotret Bram yang tadi dipukul oleh Angga, lalu mengirimkannya kepada Fajar.
Fajar tersenyum melihat Bram yang babak belur, tapi dia merasakan getaran aneh dalam dadanya ketika melihat wajah Mentari dalam foto tersebut yang begitu cantik alami.
"Kenapa lagi-lagi jantungku berdetak kencang ketika melihat sosok perempuan cantik yang berada di dalam foto ini? siapa gadis cantik ini sebenarnya? kenapa dia selalu di ganggu oleh Jingga dan Bram?" gumam Fajar yang merasa penasaran dengan sosok Mentari.
Fajar akhirnya menyuruh Anak buahnya untuk mencari informasi mengenai Mentari juga, karena selama ini dia belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta dikarenakan terlalu sibuk bekerja dan kuliah, apalagi saat ini Fajar juga harus mengurus kedua keponakannya yaitu Anak mendiang Dewi dan Bram.
......................
Setelah selesai makan, Mentari dan Angga memutuskan untuk pulang.
Sebenarnya Angga ingin sekali mengajak Mentari untuk jalan-jalan dulu sebelum mereka berdua pulang, tapi dia menyimpan keinginannya mengingat Mentari yang baru saja pulih dari sakitnya.
Setibanya Mentari dan Angga di halaman rumah, Bu Rima dan Pak Hasan sudah berada di beranda rumah mereka untuk menyambut kepulangan Mentari dan Angga.
"Assalamu'alaikum Pak, Bu," ucap Mentari dan Angga secara bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Hasan dan Bu Rima yang langsung memeluk tubuh Mentari.
"Alhamdulillah Bu, Mentari sekarang sudah sehat," jawab Mentari.
"Nak Angga, terimakasih banyak ya atas semua yang telah Nak Angga lakukan untuk Mentari, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Nak Angga," ujar Bu Rima.
"Sama-sama Bu, itu sudah kewajiban Angga sebagai...." ucapan Angga terpotong ketika dia melihat Mentari.
"Sebagai apa Nak Angga?" tanya Bu Rima yang merasa penasaran.
"Sebagai sesama manusia kita kan harus saling menolong, iya itu dia maksud Angga," jawab Angga dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hampir saja aku keceplosan bilang sebagai calon Suami Mentari. Mungkin sekarang belum waktunya, karena Mentari masih belum bisa melupakan mendiang Fahri, batin Angga.
"Nak Angga sebaiknya kita makan dulu, tadi Ibu sudah memasak untuk kalian," ajak Bu Rima.
"Tidak usah Bu, terimakasih. Angga sudah makan barusan di traktir sama Mentari lho," ujar Angga yang terlihat bahagia.
__ADS_1
"Kalau begitu Angga pamit ya, kasihan Mentari pasti mau istirahat juga," ujar Angga dengan mencium punggung tangan Bu Rima dan Pak Hasan.
"Eh tunggu sebentar Nak Angga," ucap Bu Rima dengan masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian Bu Rima datang dengan membawa rantang makanan untuk Angga.
"Ini Nak Angga bawa pulang ya, kasihan di rumah pasti gak ada yang nyiapin makanan," ujar Bu Rima dengan memberikan Rantang makanan kepada Angga.
"Terimakasih banyak ya Bu, maaf Angga jadi ngerepotin."
"Tidak sama sekali Nak Angga, malah kami yang sudah merepotkan Nak Angga karena harus menjaga Mentari di Rumah Sakit selama satu minggu," jawab Pak Hasan.
Angga pun hanya tersenyum menanggapi perkataan Pak Hasan, karena dia takut keceplosan lagi.
Angga kemudian pulang dengan hati bahagia setelah sebelumnya mengucapkan Salam.
......................
Setibanya di rumah, Angga langsung merebahkan diri di atas kasur. Dia senyum-senyum sendiri mengingat saat-saat yang telah dia lewati bersama Mentari, apalagi ketika mengingat Mentari yang mencoba untuk membelanya di depan Bram dengan mengakui Angga sebagai calon Suaminya.
"Semoga saja semua itu menjadi kenyataan, dan secepatnya kita bersatu sayang," ucap Angga dengan memeluk guling lalu menciumnya. Angga membayangkan jika guling itu adalah Mentari.
Lamunan Angga terganggu ketika dia mendengar handphone nya berbunyi.
Di layar handphone Angga tertulis nama Mommy, dan Angga langsung saja mengangkat telpon dari Ibunya tersebut.
📞"Halo Mom," ucap Angga.
📞"Angga, jangan pikir Mommy tidak tau kalau selama satu minggu ini kamu sudah bolos berangkat ke Kantor hanya untuk merawat Janda kegatelan itu !!" teriak Mommy Sandra, sehingga Angga menjauhkan handphone nya karena kuping Angga terasa sakit mendengar teriakan Ibunya.
📞"Mommy bicara apa sih? kata siapa Mentari gatel? dia juga gak pernah minta digaruk sama Angga kok."
📞"Kamu bisa serius gak? Mommy dan Daddy buatin kamu perusahaan bukan untuk kamu bikin bangkrut !! teriak Mommy Sandra lagi.
📞"Angga sangat mencintai Mentari Mom, dan Angga akan berjuang supaya bisa mendapatkannya," jawab Angga.
__ADS_1
📞"Kamu sudah dibutakan oleh perasaan cinta untuk gadis kampung itu Angga, sampai kapan pun Mommy dan semua keluarga tidak akan merestui hubungan kamu, apalagi Mentari sudah berstatus Janda miskin !!" ujar Mommy Sandra dengan penuh penekanan.