
Acara syukuran di kediaman Angga dan Mentari akan dilangsungkan setelah Ashar, sehingga Angga memutuskan untuk terlebih dahulu menghadiri Meeting di Kantornya.
"Sayang, gak apa-apa kan Abang pergi ke kantor dulu? Abang gak lama kok, paling selepas Dzuhur juga Abang pulang," ujar Angga.
"Iya gak apa-apa Bang, Abang gak usah khawatir, kan ada Ibu dan Bapak yang bisa membantu Mentari mempersiapkan acara empat bulanan, tadi juga Mang Diman sudah sempet belanja buah-buahan buat bikin rujak," jawab Mentari.
"Seneng banget sih punya Istri yang cantik serta pengertian, Abang jadi betah diem di rumah, kalau gak terpaksa harus menghadiri meeting dengan pemegang saham yang baru, Abang rasanya pengen seharian meluk Mentari," ujar Angga yang merasa enggan melepaskan pelukannya.
"Abang harus semangat ya, apalagi kita bakalan punya si Kembar, jadi Ayah nya harus lebih semangat kerja juga buat si Kembar," ujar Mentari.
"Iya sayang, Abang pasti semangat demi kalian, sehat-sehat terus ya kesayangan Ayah, sekarang Ayah mau berangkat kerja dulu cari uang buat kembar kesayangan Ayah," ujar Angga dengan mengelus serta mencium perut Mentari.
Mentari selalu merasa terharu dengan perlakuan Suaminya yang terlihat sangat menyayangi dirinya serta Bayi yang saat ini berada dalam kandungannya.
Setelah kepergian Angga ke Kantor, Mentari bergegas ke dapur untuk membantu Ibunya membuat rujak.
"Bu, sini Mentari bantu kupas buahnya," ujar Mentari.
"Nak, sebaiknya Mentari istirahat saja kan ada Bapak yang bantu Ibu, Alhamdulillah kondisi Bapak juga sudah lebih baik, Bapak juga sedikit-sedikit sudah bisa menggerakkan kedua tangannya."
"Alhamdulillah jika kondisi Bapak sekarang sudah lebih baik, Mentari bahagia dengernya, tapi Mentari bakalan tetep bantuin Ibu, Mentari bosan Bu kalau hanya tiduran saja," ujar Mentari.
"Bagus deh kalau kamu ada kegiatan, jadi kamu tidak jadi Benalu terus di rumah ini, lagian rugi kan karena hari ini kamu gak bisa jualan gara-gara mau mengadakan acara empat bulanan, kenapa sih kalian suka sekali hambur-hamburin uang? gak tau apa cari uang itu susah," tutur Mommy Sandra.
__ADS_1
"Apa maksud Bu Sandra barusan? Apa Ibu juga menyuruh Anak kami untuk berjualan? Kenapa Ibu tega memperlakukan Anak kami seperti itu?" tanya Bu Rima dengan berderai airmata.
"Gak usah lebai deh, bagus aku cuma nyuruh si Benalu buat jualan makanan hasil memasaknya, bukan buat ngemis di jalanan atau mulung rongsokan. Lumayan kan hasilnya bisa buat bantu-bantu kebutuhan dia sendiri tanpa harus membebani Anakku," ujar Mommy Sandra yang tidak merasa berdosa sedikit pun.
"Astagfirullah, kok bisa-bisanya Anda mempunyai pemikiran seperti itu, bukankah seharusnya seorang Suami memang berkewajiban memberikan nafkah kepada Istrinya? Bagaimana perasaan Anda jika itu semua sampai terjadi kepada Putri Anda sendiri?" tanya Bu Rima yang sudah merasa geram terhadap perlakuan Mommy Sandra terhadap Mentari.
"Enak saja kamu kalau bicara, Anak aku akan selalu menjadi Ratu di rumah Mertuanya, kalau si Benalu pantasnya memang menjadi Babu," ujar Mommy Sandra dengan tertawa terbahak-bahak.
Bu Rima yang mendengar perkataan Mommy Sandra pun merasa geram, kemudian beliau langsung saja menjambak rambut Mommy Sandra yang habis di salon.
"Aaaaa sakit, lepasin gak, pantesan saja Anaknya gak punya etika, ternyata keturunan dari kamu !!" teriak Mommy Sandra yang merasa kesakitan.
"Istighfar Bu, lepasin Nyonya Sandra, kasihan rambutnya pasti sakit," ujar Mentari dengan mencoba menarik tangan Ibunya, tapi tarikannya semakin kuat sehingga membuat rambut Mommy Sandra banyak yang rontok.
"Tidakkk..rambutku, mahkotaku, lihat perbuatan Ibu kamu Benalu, dia bar-bar seperti beruang yang menginginkan madu saja," teriak Mommy Sandra, lalu Bu Rima pun mengucap istighfar karena baru kali ini dia sampai kelepasan.
"Maafin Mentari Bu, Mentari tidak mau jika sampai membuat Ibu dan Bapak menjadi kepikiran terhadap cobaan yang saat ini Mentari lalui. Mentari insyaallah kuat menjalani semuanya, jadi Ibu dan Bapak jangan merasa khawatir ya," jawab Mentari yang merasa tidak enak terhadap kedua orangtuanya.
"Ibu mohon, mulai sekarang Mentari harus selalu berkata jujur terhadap kami, jangan sampai menyimpannya semuanya sendirian," ujar Bu Rima dengan memeluk tubuh Mentari.
......................
Di Kantor Angga, semua pemegang saham sudah hadir, kecuali pemegang saham baru yang masih belum Angga ketahui identitasnya.
__ADS_1
Setelah meeting hampir di mulai, semua mata tertuju pada sosok perempuan cantik yang baru datang.
"Maaf saya terlambat," tutur perempuan yang memiliki paras dan lekuk tubuh yang begitu sempurna, sehingga semua kaum Adam yang berada di ruangan tersebut tidak berkedip melihat kecantikan Jingga kecuali Angga.
"Bagaimana kabar kamu Adik iparku sayang?" tanya Jingga yang tiba-tiba memeluk serta mengecup pipi Angga, sehingga membuat orang iri.
"Maaf Nyonya Jingga, silahkan Anda duduk, dan saya harap Anda bersikap profesional dalam bekerja," ujar Angga dengan ekspresi datar.
Menarik, kamu sepertinya bukan lelaki hidung belang seperti para lelaki lainnya yang berada di dalam ruangan ini, karena aku lihat mereka sampai meneteskan air liur melihat kecantikan yang aku miliki, tapi itu membuatku semakin terobsesi untuk memilikimu Angga, jangan panggil aku Jingga jika tidak bisa membuatmu bertekuk lutut, ucap Jingga dalam hati dengan tersenyum licik.
Angga yang sudah melihat gelagat Jingga pun mulai waspada dengan apa yang akan dilakukan oleh Jingga, karena Angga sudah tau betul jika Jingga adalah perempuan yang licik.
Kenapa harus Jingga pemegang saham baru di perusahaan ini? mulai sekarang aku harus lebih waspada karena Jingga adalah perempuan licik yang selalu menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisinya, batin Angga.
Meeting berjalan dengan lambat, sehingga Angga terus saja melirik ke arah jam tangan yang dipakainya.
Bagaimana ini, aku bisa telat datang ke syukuran empat bulanan Mentari, sekarang sudah jam dua, belum lagi di jalan pasti macet, batin Angga.
"Maaf semuanya, apa bisa meeting hari ini sampai di sini saja? sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, tapi hari ini saya akan mengadakan acara syukuran empat bulanan kehamilan Istri saya," jelas Angga.
"Iya tidak apa-apa Pak Angga kami memakluminya, mohon maaf jika kami semua tidak mengetahui acara yang akan diadakan di kediaman Pak Angga," ujar salah satu pemegang saham.
"Kalau begitu jika tida keberatan saya meminta kehadiran Bapak dan Ibu di rumah saya," ujar Angga.
__ADS_1
"Tentu saja sayang, aku akan ikut ke rumah kamu," bisik Jingga di telinga Angga sehingga Angga merasa risih.
Aku lupa kalau sekarang ada Nenek Sihir di sini, semoga saja nanti Jingga tidak melakukan keributan, batin Angga.