Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 21 ( Menjadi Janda bukanlah pilihan )


__ADS_3

Angga dan Mentari mengucapkan Salam sebelum masuk ke dalam rumah, Bu Rima dan Pak Hasan pun langsung bergegas menghampiri Mentari karena sejak tadi sudah merasa khawatir.


"Assalamu'alaikum Bu, Pak," ucap Mentari dan Angga secara bersamaan, lalu kemudian mencium punggung tangan Bu Rima dan Pak Hasan.


"Wa'alaikumsalam Nak, Mentari kemana saja? kenapa baru pulang sekarang?" tanya Bu Rima.


"Maaf Bu tadi Mentari pingsan, untung saja ada Bang Angga yang nolongin," jawab Mentari.


"Jadi ini ya yang namanya Nak Angga? makasih banyak ya Nak karena sudah menolong Mentari. Silahkan duduk, Ibu mau ambil minum dulu," ujar Bu Rima.


"Iya sama-sama Bu, saya gak enak jadi ngerepotin," jawab Angga.


"Tidak apa-apa Nak, Bapak bersyukur karena masih ada yang peduli sama Mentari," ucap Pak Hasan.


"Pak, Bang Angga, Mentari tinggal ke kamar dulu ya," ucap Mentari, lalu kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Abang juga pengen ikut ke kamar De, batin Angga dengan terus menatap lekat ke arah Mentari.


"Nak Angga silahkan diminum kopi nya," ujar Bu Rima.


"Eh iya Bu, terimakasih," jawab Angga yang kaget karena dia tengah melamun.


"Bu, Pak, saya turut berduka cita dengan semua kejadian yang menimpa Mentari. Saya dan Fahri sudah berteman dari kecil, bahkan saya sudah menganggap Bu Asih sebagai Ibu kandung saya sendiri karena selama ini keluarga saya tinggal di luar Negeri, makanya saya juga merasa terkejut dengan berita meninggalnya Fahri dan Bu Asih," ujar Angga tertunduk sedih.


"Mungkin ini semua sudah takdir Mentari Nak Angga, karena setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan," ujar Pak Hasan.


"Mentari adalah perempuan yang kuat Pak, saya yakin Mentari bisa melewati semua ini," jawab Angga.


"Semoga saja Nak Angga, kasihan dari kecil hidup Mentari sudah susah, Bapak selalu berharap semoga Mentari mendapatkan sebuah kebahagiaan suatu saat nanti."


"Insyaallah suatu saat nanti Mentari pasti akan bahagia Pak," karena saya akan selalu berusaha untuk membahagiakan Mentari, lanjut Angga dalam hati.


"Pak acara tahlil nya jam berapa ya? kalau tidak keberatan saya mau ikut tahlil juga," ujar Angga.


"Nanti setelah Ashar Nak, Bapak justru senang kalau Nak Angga berkenan untuk ikut tahlil, lebih banyak yang mendo'akan malah lebih bagus Nak," jawab Pak Hasan.

__ADS_1


Pak Hasan dan Angga masih terus berbincang sampai akhirnya pujaan hati Angga datang menghampiri mereka.


"Pak, barusan Mentari dapat telepon dari pihak Jasa raharja, katanya besok Mentari disuruh ke sana, tapi Mentari gak ngerti harus nyiapin apa saja."


"Kalau Mentari gak keberatan biar Bang Angga saja yang antar gimana?" tanya Angga.


"Gak usah Bang terimakasih, mentari gak mau ngerepotin Abang."


"Gak ngerepotin kok, Abang juga masih cuti kerja."


Pak Hasan dan Bu Rima terlihat saling berpandangan, mereka tau jika Angga sudah memiliki perasaan untuk Mentari jauh sebelum Mentari mengenal Fahri.


"Maaf ya Nak Bapak gak bisa antar, keadaan Bapak kan seperti ini, nanti malah Bapak yang ngerepotin Mentari karena harus dorong kursi roda."


"Ibu juga bukannya gak pengen nganter, tapi Ibu gak ngerti kalau ngurusin masalah gituan."


Mentari nampak berpikir, dia sebenarnya tidak enak jika harus pergi bersama Angga, apalagi Suaminya baru meninggal dunia, tapi dia masih takut jika Jingga mengganggunya lagi.


"Udah, gak usah kebanyakan mikir, besok pagi Bang Angga insyaallah jemput ke sini ya."


"Sama sekali gak ngerepotin kok, justru Bang Angga malah seneng bisa bantu Mentari, di rumah juga gak ada kerjaan," jawab Angga.


Kesempatan nih buat PDKT, Pepet terus Angga, suatu hari nanti Mentari pasti membuka hatinya, batin Angga.


Setelah Adzan Ashar berkumandang, Angga ikut Pak Hasan ke Mesjid untuk melaksanakan Shalat Ashar berjamaah.


Semua mata kini menatap kepada Angga, dalam hati mereka penuh tanya tentang siapakah gerangan sosok tampan yang datang bersama Pak Hasan.


"Nak Angga tidak usah peduli dengan tatapan semua orang ya, biasa Nak mereka itu suka Kepo," bisik Pak Hasan.


"Iya Pak, mungkin baru kali ini mereka lihat cowok setampan Angga," jawab Angga dengan tertawa, sehingga Pak Hasan pun ikut tertawa juga.


Sepulang dari Mesjid, acara tahlilan di rumah Pak Hasan langsung di mulai, dan lagi-lagi terdengar kasak-kusuk tentang kehadiran Angga di sana.


"Bu Rima, itu siapa ya cowok tampan yang ada di sebelah Pak Hasan?" tanya salah seorang Ibu-ibu yang hadir di acara tersebut.

__ADS_1


"Itu kerabat mendiang Nak Fahri," jawab Bu Rima karena beliau tidak ingin membuat semua orang heboh jika mengetahui siapa Angga yang sebenarnya.


"Oh..kirain saya itu Calon Suami Mentari," celetuk Ibu-ibu yang lain.


Mentari yang mendengar perkataan Ibu-ibu yang bergosip tentang dirinya pun tidak tinggal diam, sehingga Mentari angkat bicara.


"Maaf Bu, di sini sedang diadakan acara pengajian bukan acara gosip, sebaiknya Ibu-ibu sekalian hargai perasaan oranglain, tidak ada orang di dunia ini yang menginginkan menjadi seorang Janda, karena menjadi seorang Janda bukanlah pilihan saya tapi takdir saya," ujar Mentari dengan berderai airmata, lalu kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Bu Rima bergegas menyusul Mentari karena takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap Mentari yang saat ini kondisinya tengah rapuh.


"Ibu sih kalau ngomong gak bisa dijaga, kasihan kan Mentari pasti tersinggung," ujar Ibu-ibu yang lainnya.


Angga yang dari kejauhan melihat Mentari menangis pun ikut sedih juga, rasanya dia ingin membawa Mentari ke dalam pelukannya.


Aku janji Mentari, suatu saat airmata kesedihan yang kamu tumpahkan akan menjadi airmata kebahagiaan, batin Angga.


Beberapa saat kemudian Acara tahlil telah selesai dilaksanakan dan semua yang hadir dalam acara tersebut sudah pulang. Bu Rima terlihat keluar dari kamar Mentari, dan Angga bergegas menghampiri Bu Rima untuk menanyakan keadaan Mentari.


"Bu bagaimana keadaan Mentari sekarang? apa dia baik-baik saja?" tanya Angga.


"Mentari sepertinya sedang tidak baik-baik saja Nak Angga, karena dari kemarin dia juga tidak mau makan," jawab Bu Rima.


"Apa boleh Angga menemui Mentari? siapa tau Angga bisa membujuknya."


Bu Rima bingung harus menjawab apa, tapi dia juga tidak enak jika menolak keinginan Angga.


"Sudahlah Bu, biarkan Nak Angga menemui Mentari, siapa tau Nak Angga bisa membujuk Mentari untuk makan," ujar Pak Hasan.


Bu Rima akhirnya membukakan pintu kamar Mentari untuk Angga, dan Angga pun membiarkannya terbuka supaya tidak terjadi fitnah.


"Assalamu'alaikum Tuan Putri," ujar Angga ketika masuk ke dalam kamar Mentari.


"Wa'alaikumsalam," jawab Mentari singkat.


"Mas Angga tau jika semua ini sangat berat untuk Mentari, tapi apa Mentari tidak kasihan kepada Ibu dan Bapak yang merasa khawatir melihat keadaan Mentari saat ini? jangan menyiksa diri seperti ini, bangkitlah demi orang yang menyayangi Mentari. Yuk kita makan, Bang Angga sudah lapar banget nih, Mentari gak mau kan kalau Bang Angga pingsan karena kelaparan?" ujar Angga dengan tersenyum.

__ADS_1


Mentari tampak merenungkan kata-kata Angga, lalu kemudian dia tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya.


__ADS_2