Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 29 ( Pernikahan tanpa restu )


__ADS_3

Mentari menelpon kedua orangtuanya untuk datang ke Rumah Sakit karena dia dan Angga akan melangsungkan pernikahan, meskipun hanya secara siri dahulu.


📞"Assalamu'alaikum Bu," ucap Mentari.


📞"Wa'alaikumsalam, Mentari bagaimana keadaan Nak Angga sekarang?" tanya Bu Rima yang sebelumnya sudah Mentari beritahu kalau mereka berdua mengalami musibah.


📞"Alhamdulillah Bu, Bang Angga sekarang sudah siuman. Ibu dan Bapak bisa ke Rumah Sakit sekarang gak? kalau bisa Ibu bawa Pak Ustad sekalian untuk menikahkan kami," ucap Mentari dengan malu-malu.


📞"Alhamdulillah, jadi Mentari sudah mau menikah dengan Nak Angga? kalau begitu sekarang juga Ibu dan Bapak bersama Pak Ustad bakalan ke sana sebelum Mentari berubah pikiran," ujar Bu Rima dengan antusias lalu kemudian menutup telponnya sampai lupa mengucap Salam.


"Ibu_ibu saking senengnya sampai lupa ngucapin Salam," gumam Mentari dengan geleng-geleng kepala.


Angga yang mendengarnya pun tersenyum bahagia.


Pada saat Mentari menelpon orangtuanya, Angga juga menelpon Ibunya untuk meminta do'a restu, tapi Angga harus menelan pil pahit karena Ibu ataupun keluarganya tidak ada yang merestui pernikahan Angga dan Mentari, sehingga Angga memutuskan akan menikahi Mentari walaupun tanpa restu dari keluarganya.


"Apa Bang Angga sudah meminta do'a restu kepada keluarga Abang untuk menikahi Mentari?" tanya Mentari.


"Sudah sayang, Bang Angga juga barusan sudah sempat telpon," jawab Angga.


"Alhamdulillah deh kalau Abang sudah meminta restu, soalnya restu dari keluarga sangat penting Bang, supaya nanti rumah tangga kita senantiasa diberikan keberkahan," ujar Mentari.


Maafin Abang ya Mentari karena Abang harus berbohong, tidak mungkin Abang bilang kepada Mentari jika keluarga Bang Angga tidak merestui pernikahan kita karena Mentari pasti akan membatalkannya, batin Angga.


Mentari kemudian menyuruh karyawan Restoran nya untuk mengantarkan makanan yang akan di hidangkan di acara pernikahan dadakannya. Dan setelah satu jam kemudian kedua orangtua Mentari beserta Ustad dan saksi pernikahan akhirnya sampai di Rumah Sakit.


Setelah mengucapkan Salam dan semuanya masuk, mereka terlebih dahulu melihat kondisi Angga yang masih terbaring lemah.


"Nak Angga semoga cepat sembuh ya," ucap Bu Rima.


"Iya Bu, insyaallah Angga pasti akan cepat sembuh karena mempunyai Dokter cinta," jawab Angga dengan cengengesan.


"Kalau begitu apa Nak Angga sudah siap untuk melakukan ijab kabul?" tanya Pak Ustad.


"Insyaallah saya sudah siap Pak," jawab Angga.


Angga kini menjabat tangan Pak Hasan yang menjadi wali nikah Mentari, dan dengan satu kali helaan nafas Angga berhasil mengucapkan ijab kabul pernikahannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap semua yang berada di sana.


Mas Fahri, sekarang Mentari sudah menikah lagi, Mentari akan selalu mendo'akan mas Fahri semoga selalu bahagia di alam sana, dan nama mas Fahri akan selamanya tersimpan di dalam hati Mentari, batin Mentari dengan meneteskan airmata.


Mentari kini mencium punggung tangan Angga yang telah resmi menjadi Suaminya secara agama, dan Angga pun mencium kening Mentari.


Semua orang yang berada di sana mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.


"Selamat ya Nak, semoga kalian berdua selalu berbahagia," ujar Bu Rima dengan memeluk tubuh Mentari.


"Makasih ya Bu, Mentari juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang telah hadir, dan semoga ini menjadi pernikahan terakhir untuk Mentari dan Bang Angga," ucap Mentari yang di amini oleh semua orang.


Setelah semuanya selesai makan, orangtua Mentari dan yang lainnya memutuskan untuk pulang.


"Sayang, rasanya buat Abang semua ini seperti mimpi karena akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga," ucap Angga yang kini memeluk erat tubuh Mentari.


"Mentari juga tidak menyangka jika kita akan menikah sekarang, semoga kita bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah ya Bang," jawab Mentari.


"Iya Amin, tidak sia-sia Bang Angga babak belur juga, karena akhirnya Abang bisa mendapatkan pujaan hati Abang yang sudah Abang kejar-kejar selama 3 tahun, meskipun sampai sepuluh kali di tolak," celetuk Angga dengan terkekeh.


"Abang mau makan Mentari saja," ucap Angga dengan tersenyum sehingga Mentari mendelikkan matanya.


"Abang gak sadar badan masih sakit gitu?"


"Iya_iya, Abang juga cuma bercanda, tapi jadi gak sabar deh pengen cepet sembuh," ujar Angga dengan cengengesan.


"Ya sudah kalau mau cepet sembuh makan yang banyak sama minum juga obatnya," ujar Mentari.


"Iya_iya Istriku yang cantik," jawab Angga dengan terpaksa melepaskan pelukannya terhadap Mentari.


Akhirnya Mentari pun menyuapi Angga dengan telaten, lalu kemudian memberikannya obat.


"Makasih ya sayang," ucap Angga.


"Abang gak perlu bilang makasih sama Mentari, karena itu sudah menjadi kewajiban Mentari sebagai seorang Istri. Mulai sekarang Mentari akan belajar menjadi istri yang baik untuk Abang, semoga kita bisa saling mengingatkan jika salah satu dari kita melakukan kesalahan."


"Iya sayang, semoga Bang Angga juga bisa menjadi Suami yang baik, dan bisa membimbing istri Bang Angga yang cantik ini," ujar Angga.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu sekarang Abang harus istirahat lagi ya, Mentari bakalan selalu di sini jagain Abang."


Angga kemudian menggeser tubuhnya, dan ia menyuruh Mentari untuk ikut berbaring di ranjang pesakitan nya.


"Sayang, tidur di sini dong," ujar Angga.


"Tapi ranjangnya sempit Bang, Mentari takut nanti Bang Angga kesenggol luka nya sama Mentari."


"Sebentar aja sampai Bang Angga tidur," ujar Angga dengan cemberut.


"Gak usah cemberut gitu Bang," ujar Mentari yang tiba-tiba mencium bibir Angga yang manyun.


Angga yang merasa terkejut dengan inisiatif Mentari pun malah tidak mau melepas bibirnya, ketika Mentari terlihat kehabisan nafas, Angga baru melepas pagu*tannya.


Mentari kini tertunduk malu, dan Angga langsung mengangkat dagu Mentari yang saat ini berbaring dengan berhadapan dengannya.


"Kenapa malu? sekarang kita kan sudah halal," ujar Angga.


"Abang sih lama ngelakuinnya," ujar Mentari dengan malu-malu.


"Ngelakuin apa?" goda Angga.


"Au ah pake pura-pura pikun segala," ujar Mentari dengan menelusup ke dalam dada bidang Angga.


"Terus tadi siapa yang duluan mancing-mancing Abang?"


"Iya_iya, udah yuk tidur, biar Abang juga cepet sembuh," ajak Mentari dengan memeluk tubuh Angga.


Angga langsung membalas pelukan Mentari dan mendekap nya dengan erat, sampai akhirnya mereka berdua masuk ke dalam mimpi.


......................


Di tempat lain Fajar merasakan sesak dalam dada nya ketika mengetahui info dari Anak buahnya jika Mentari sudah menikah dengan Angga.


"Kenapa hatiku terasa sakit? padahal Mentari juga bukan siapa-siapa aku, seharusnya aku bahagia jika Mentari sudah menemukan kebahagiaannya," gumam Fajar yang tanpa terasa telah meneteskan airmata.


Kamu harus fokus dengan balas dendam kamu terhadap Jingga dan Bram Fajar, batin Fajar dengan mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


__ADS_2