Menantu Benalu

Menantu Benalu
Bab 28 ( Dokter Cinta )


__ADS_3

Mentari langsung berhambur memeluk tubuh Angga yang pada saat ini tidak sadarkan diri. Anak buah Fajar pun akhirnya membantu Mentari untuk membawa Angga ke Rumah Sakit.


"Terimakasih Pak karena sudah membantu kami," ujar Mentari ketika berada dalam perjalanan ke Rumah Sakit.


"Iya sama-sama Bu," ucap Anak buah Fajar.


Mentari saat ini memangku kepala Angga di atas pahanya, dan dia terus saja menangisi keadaan Angga yang terlihat begitu memprihatinkan.


"Bang Angga bangun, maafin Mentari Bang," ucap Mentari yang masih saja menangis dengan mengelap wajah Angga yang penuh dengan darah.


Sesampainya di Rumah Sakit, Angga langsung di bawa ke ruang IGD, sedangkan Anak buah Fajar memutuskan untuk pergi setelah sebelumnya memberikan kunci mobil Angga kepada Mentari.


Setelah keluar dari Rumah Sakit, Anak buah Fajar melaporkan hasil kerjanya kepada Fajar dengan menelponnya.


📞"Pak Fajar, kami sudah selesai melakukan perintah Bapak, sekarang apa tugas yang harus kami lakukan?" tanya Anak buah Fajar.


📞"Kamu tetap awasi gerak-gerik Bram dan Jingga, jangan sampai mereka berhasil menyakiti Mentari, serta terus awasi Mentari, dan jika dia berada dalam bahaya, kalian harus segera membantunya," titah Fajar, kemudian dia menutup telponnya.


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu Mentari. Mungkin ini yang namanya perasaan cinta, meskipun aku tidak dapat memilikimu karena kamu sepertinya sudah mencintai lelaki lain, setidaknya aku akan merasa bahagia jika bisa selalu melindungimu," gumam Fajar dengan terus menatap lekat wajah Mentari yang berada di dalam foto


Fajar sengaja mencetak besar Foto Mentari dan memakaikannya bingkai, dan ia memajang banyak foto Mentari hampir di setiap ruangan.


"Mungkin aku sudah gila karena sudah jatuh cinta kepada seorang perempuan hanya dengan melihat fotonya saja, tapi aku begitu mencintainya dan tidak ingin melihat dia menderita, semoga saja lelaki yang Mentari cintai bisa membahagiakannya, karena kalau sampai dia menyakiti Mentari, aku tidak akan segan-segan untuk merebutnya," gumam Fajar.


......................


Di Rumah Sakit, Mentari terlihat mondar mandir menunggu Dokter yang saat ini masih melakukan tindakan kepada Angga.


"Ya Allah, semoga Bang Angga baik-baik saja, Jika Bang Angga sadar, Mentari insyaallah akan segera memutuskan untuk menikah dengannya," gumam Mentari dengan berderai airmata.


Satu jam pun telah berlalu, dan akhirnya Dokter keluar dari ruang tindakan.


"Dok, bagaimana keadaan Bang Angga saat ini?" tanya Mentari.


"Pasien saat ini masih belum sadar, tapi kami sudah berusaha mengobati semua lukanya, semoga saja pasien bisa segera melewati masa kritisnya," jawab Dokter, kemudian berlalu meninggalkan Mentari.

__ADS_1


Setelah Mentari selesai membereskan administrasi, Akhirnya Angga di pindahkan ke Ruang VVIP, dan saat ini Mentari setia menunggu Angga dengan duduk di samping ranjang pesakitan Angga serta terus menggenggam erat tangannya.


Mentari terus menatap lekat wajah tampan yang saat ini terbaring lemah di hadapannya. Mentari tiba-tiba merasakan debaran dalam dada nya ketika melihat wajah Angga.


Apa aku sudah mulai jatuh cinta kepada Bang Angga? kenapa jantungku berdetak lebih kencang ketika menatap wajahnya. Mungkin ini sudah saatnya aku membuka hatiku untuk Bang Angga, batin Mentari.


Mentari yang mengantuk sampai tertidur di kursi samping ranjang Angga dengan kepalanya yang bersandar di atas ranjang.


Ketika Angga mulai sadar, dia langsung tersenyum karena melihat pujaan hatinya berada di hadapannya dengan terus memegang erat tangan Angga.


"Terimakasih Mentari, karena sudah setia menungguku," gumam Angga dengan mengelus lembut kepala Mentari.


Mentari yang merasakan usapan lembut pada kepalanya langsung mendongakkan wajah ke arah Angga, dan secara reflek dia langsung memeluk tubuh Angga saking bahagianya karena melihat Angga yang sudah sadar.


"Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya Bang Angga sadar juga. Bang Angga sudah membuat Mentari khawatir tau," ucap Mentari dengan menangis.


"Maaf ya sayang kalau sudah membuat Mentari cemas, Bang Angga janji gak akan pernah ninggalin Mentari, lepas dulu donk pelukannya, luka Abang masih sakit, nanti ya kalau sudah sembuh peluk lagi," ujar Angga dengan cengengesan, Mentari pun langsung melepas pelukannya kepada Angga, dan dia merasa kaget.


Kok aku bisa sampai peluk Bang Angga sih, malu-maluin aja, batin Mentari.


"Maaf ya Bang, Mentari gak sengaja," ujar Mentari dengan wajah bersemu merah karena menahan malu.


"Mentari gak boleh tinggalin Bang Angga, yang Bang Angga butuhkan saat ini bukan seorang Dokter, tapi Dokter Cinta," ujar Angga.


"Bang Angga lepasin dulu tangannya, Mentari keluar cuma sebentar kok."


Mentari sebenarnya mencoba untuk menghindar dari Angga karena setiap berdekatan dengan Angga, jantung Mentari akan berdetak kencang.


"Kalau mau panggil Dokter, kenapa gak langsung tekan tombol darurat aja?" tanya Angga.


Duuh..kenapa aku bisa sampai lupa? Bang Angga pasti curiga nih, batin Mentari.


"Oh iya ya, Mentari lupa Bang."


Angga langsung menarik tangan Mentari, lalu Mentari terjatuh dalam pelukannya.

__ADS_1


"Bang Angga tidak akan melepaskan Dokter cintanya Bang Angga lagi, jadi tetaplah berada di samping Abang supaya Abang cepat sembuh," bisik Angga di telinga Mentari.


"Katanya badannya masih sakit? lepasin dulu Bang pelukannya," ujar Mentari yang kini terlihat gugup.


"Bang Angga gak bakalan lepasin sampai Mentari bilang iya."


"Iya Bang, udah ya sekarang lepasin."


"Alhamdulillah, akhirnya Mentari mau jadi Istri Bang Angga juga," ujar Angga.


"kok bisa gitu?" tanya Mentari heran.


"Tadi Mentari kan udah bilang iya," ujar Angga.


"Tapi..tadi maksud Mentari iya karena.."


Cup


Angga membungkam Mentari dengan sebuah ciuman, sampai Mentari membulatkan matanya.


"Kenapa Bang Angga lakuin itu? kita kan belum menjadi muhrim," ujar Mentari.


"Bang Angga ingin Mentari menjadi muhrim Bang Angga hari ini juga, apa Mentari bersedia?" tanya Angga.


Mentari terlihat berpikir, dan dia kemudian menganggukan kepalanya.


"Terimakasih sayang," ujar Angga dengan memeluk tubuh Mentari.


"Awwww" Pekik Angga yang merasa kesakitan.


"Makanya sabar dulu jangan main sosor aja, udah tau lagi sakit juga," ujar Mentari.


"Mentari kenapa mau menikah dengan Bang Angga? Bang Angga kan masih sakit jadi gak bisa langsung ngasih nafkah batin buat Mentari," ujar Angga dengan tersenyum.


"Bukannya tadi Bang Angga yang minta? apa mau Mentari berubah pikiran lagi?"

__ADS_1


"Eh jangan donk, 1 tahun aja udah lama banget, gimana harus nambah lagi, yang ada nanti Bang Angga lumutan."


"Ya sudah kalau begitu Mentari mau telpon Bapak dan Ibu dulu untuk mempersiapkan semuanya, kita Nikah siri dulu aja ya Bang biar prosesnya cepet, nanti Mentari suruh Bapak buat bawa ustad ke sini. Kalau Bang Angga udah sembuh, baru kita Nikah resmi. Niat Menikah itu kan ibadah Bang, Mentari juga gak mau jadi fitnah kalau terus berduaan sama Bang Angga, apalagi Bang Angga saat ini sedang sakit, jadi harus ada yang merawat juga, kalau kita belum menjadi muhrim nanti kita berdosa, jadi Mentari bakalan jadi Dokter cintanya Bang Angga," ujar Mentari dengan tersenyum, sehingga membuat hati Angga berbunga-bunga.


__ADS_2