Mendadak Dinikahi Brondong

Mendadak Dinikahi Brondong
Serasa Asing


__ADS_3

(Pov Nur)


Sudah hampir sepuluh hari, Mas Baim koma di Rumah sakit, Sungguh sejak pertamakali Aku mendapat kabar kalau suamiku kecelakaan, duniaku terasa gelap, langit terasa runtuh, dan hatiku merasa sempit, bahkan saat Dia terbaring koma dalam beberapa hari ini, Aku merasa seakan tidak punya sandaran hidup.


Namun satu hal yang membuatku tegar, Ternyata Allah meng anugrahkan amanah Nya untuk kedua kalinya disaat kerapuhan melanda hati ini, mungkin itu yang di sebut Anugrah di tengah musibah.


Kehadiran anak keduaku, serta kasih sayang mertuaku, membuatku merasa lebih tenang dan kuat.


Dan Hatiku sangat bahagia, Ibarat kemarau setahun, tersirami hujan semalam, saat Aku mendengar kabar dari Ibu mertuaku, kalau Mas Baim mulai sadar dari tidur panjang nya.


Hatiku berbunga-bunga, ibarat seorang anak manusia yang sedang jatuh cinta lalu orang yang kita cintai menyambut prasaan kita, begitulah prasan bahagiaku saat melihat suamiku sudah sadar dari komanya.


Namun, seketika hati ini hancur saat melihat kenyataan, kalau ternyata, suaminya tidak mengenaliku,


Iya,


Dia mengalami Amnesia, Dia lupa semuanya, termasuk Aku, Istrinya. Sungguh, rasanya perih tak terkira, saat orang yang kita cintai tak lagi mengingat kita.


Taklama setelah Mas Baim sadar, dokter membolehkan Mas Baim di rawat jalan di Rumah, maka Mas Baim pun segera di bawa pulang ke rumah Ibu mertua.


Sementara Mas Baim yang baru pulang dari rumah sakit, terlihat merasa asing di rumahnya sendiri,Ia seolah marah pada dirinya sediri karna tidak bisa mengingat apapun tentang dirinya sendiri, semakin Dia berusaha mengingatnya, maka semakin sakit pula kepalanya.


Malam itu, Saat duduk santai di ruang tamu, dan Aku memperhatikannya dari jauh, Mas Baim tiba-tiba hendak beranjak, melihat itu , Aku segera menghampirinya, menawarkan perhatian untuknya.


"Ayah butuh apa? Mau Mandi ? Atau Mau makan?"


"Jangan panggil Aku Ayah ! Dan Aku tidak mau mandi ataupun makan !"Mas Baim ketus, Ia tampak tidak suka dengan perhatianku.


"Kalau begitu, Ayah Minta dipanggil Mas Alfin ? Atau Mas Baim ?" Tanyaku yang tak mau menyerah dan Aku pun tetap tersenyum dengan senyuman khas ku sebagai istrinya.

__ADS_1


"Iya itu , panggil Aku Baim saja !" Ucap Mas Baim yang kini sudah menjadi seperti orang asing.


"Ayahhhh...Zahiya kangen Ayah !" Tiba-tiba Zahira datang dari arah dapur bersama Ibu mertuaku, Ia seperti segera ingin memeluk Ayahnya Tapi Mas Baim menepisnya, hingga membuat Zahira ketakutan dan langsung beralih memeluk ku.


"Siapa Dia?" Mas Baim menatap Zahira dengan tanda tanya dan mengalihkan pandangannya padaku, seolah bertaya padaku.


"Dia putri kita, Nama nya Zahira, Mas Baim ingat?" Saya berharap, Mas Baim tidak melupakan darah dagingnya.


"Dia putriku? Dan kau istriku?" Baim bertanya dengan menatap aneh pada ku dan juga Zahira yang dianggap asing baginya.


"Iya, Dia Zahira, putrimu dan Dia Nur, istrimu !" IBu mertua membantu menjawab kebingungan Mas Baim.


"Sepertinya ini ada yang salah, kayaknya Aku ini terlihat masih muda deh, dan kamu terlihat lebih tua, kamu lebih pantas ¥jadi kakakku atau bibiku" kata-kata Mas Baim itu mampu membuatku terhenyak seketika, karna ini untuk pertamakalinya setelah menikah Mas Baim mempermasalahkan perbedaan usia antara kami.


"Kita menikah memang beda usia" ku menjawab dengan suara bergetar namun mencoba menetralisir prasaanku yang terasa perih karna pernyataan Mas Baim.


"Memang nya Berapa usia mu Dan usiaku?" Tanya Mas Baim lagi.


"Owh Pantas, Aku merasa Kamu lebih tua dari Aku, ternyata jaraknya memang jauh" lagi, ucapannya tentang perbedaan usia di antara kita terasa perih saat Dia mengungkitnya.


"Iya, kita menikah tiga tahun yang lalu, saat Mas Baim berusia 20 tahun". Aku mencoba menjelaskan sedikit demi sedikit.


"Tidak ! Aku tidak percaya kalau kau istriku, kepalaku juga sangat sakit bila mencoba mengingatnya, pokoknya selama Aku belum bisa mengingatmu, kau bukan istriku, Aku ingin sendiri dulu, Aku tidak mau punya istri yang jauh lebih tua dariku !" Ucapan Mas Baim kali ini tampak berbarengan dengan nada emosi.


"Masss !! " Suaraku lirih seperih hatiku saat mendengar pernyataan suaminya itu.


"Biarkan Aku sendiri dulu ! pokoknya selama Aku belum bisa mengingat apa-apa, kamu itu bukan istriku !" Mas Baim menegaskan kembali pernyataannya.


"Alfinn...!" IBu mertuaku murka, namun juga segera meredamnya, karna Ia sadar Baim Sedang hilang ingatan.

__ADS_1


"Jangan panggil Aku Alfin, panggil Aku Baim Saja, biar Aku tidak bingung dan Aku lebih suka nama itu" ujar nya sambil berlalu ke kamarnya kemudian menutup pintu itu dengan keras.


"Saat ini, Dia seperti bukan dirinya sendiri, Ia sangat sensitif sekali, Ia suka marah, bukan hanya karna Dia yang tidak mengenali kita, kita pun kini tak lagi bisa mengenalinya lagi, Dia seperti orang asing bagi kita, karna Dia masih sakit, kita harus sabar menunggu nya ya" bujuk IBu mertuaku saat melihatku yang sangat terpukul.


"Bu, Tapi Mas Baim, Tadi secara tidak langsung telah mentalak ku Bu, Dia mentalakku Bu....!!"lagi-lagi Aku tidak bisa menahan tangisku, Aku pun berhambur kepelukan mertuaku


"Bunda, Ayah kenapa mayah begitu Bun, dan kenapa Bunda menangis ?" Zahira yang polos ikut menangis menanyakan kenapa Ayahnya marah.


"Ayah sedang sakit sayang, kepalanya sakit, jadi Ayah marah, Tapi sebentar lagi Ayah akan sembuh kok, Ayah tidak akan marah-marah lagi, Zahira doakan Ayah ya agar Ayah cepat sembuh !"Ibu mertuaku menjawab pertanyaan Zahira yang kemudian menggendong dan menciumnya nya.


"Iya Omah "Zahira polos.


"Untuk sementara ini, Kamu tidur di kamar tamu saja. jangan sedih ya nak, kasihan bayimu, Ibu selalu ada bersama mu, anggap ini sebagai ujian dari rumah tanggamu, Suamimu pasti akan segera mengingatmu, mengingat Ibu, Zahira dan ingat semuanya, jangan lelah berdoa ya nak !" Ibu mertuaku menenangkan hatiku.


Hatiku pun merasa lebih tenang. Aku mencoba untuk kembali mengumpulkan serpihan hati yang telah hancur oleh perkataan Mas Baim.


Yang lebih sakit dari tidak dihargai dalam hidup ialah ketika kita dianggap asing oleh orang yang kita cintai, kita masih hidup tapi di anggap tidak ada.


Cintaku datang secara asing, dan kini cinta itu seakan pergi dalam keadaan asing.


Dulu Mas Baim tiba-tiba hadir membawa cinta dan kehidupan untukku , kini seolah Dia juga yang mengambil cinta dalam hidupku.


Sesakit inikah di asingkan oleh yang terkasih ?


Saat menuju ke Kamar Tamu, Kamar yang akan Aku huni sebentar lagi, Aku baru menyadari, kalau pakaianku masih berada di kamarku, dan Akupun mencoba untuk mengetuk pintu, dimana Mas Baim ada di dalam nya


"Mas Baim...bisa minta tolong buka kan pintu sebentar, pakaian dan perlengkapan ku masih berada di dalam, bisa Aku ambil sebentar?" Ucapku perlahan. Taklama kemudian, Pintu kamar itu pun di buka.


"Aku beri waktu tiga puluh menit untumu membereskan semua baju-baju mu di kamar ini,!" Ucap Mas Baim yang kemudian beranjak ke kamar mandi yang letaknya berada di luar.

__ADS_1


Akupun segera mengambil pakaianku dan juga pakaian Zahira secepatnya, agar Mas Baim tidak marah.


Begitu Aku selesai membereskan nya, Akupun segera pergi, membawa perasaan yang terluka ini.


__ADS_2