
Sejatinya, yang hidup pasti akan mati, entah kapan dan dimana maut itu datang, tiada seorang pun yang dapat mengiranya.
Ayu meninggal dalam keadaan sakit , selama sakit Ia tidak bisa bicara atau pun berjalan, dalam hatinya Ia terus menangis, menyesali dosa-dosa nya, terutama dosa yang telah Ia lakukan pada mantan suaminya, yang telah merencanakan kecelakaan namun berakhir kematian.
Bagaimanapun juga , Ayu hanya wanita biasa yang akan merasakan sakit hati, bila disia-siakan seperti yang dilakukan mantan suaminya itu pada nya.
Nalurinya mengakui , karna dendam, Ia telah terjebak melakukam dosa , dengan menghilangkan nyawa seseorang. Namun penyesalan nya tak sanggup Ia ungkapkan pada siapapun, hingga ajal menjemputnya pun, Tidak ada yang mengerti.
Kini, Anggun sedang berduka, Mama nya telah tiada , setelah sebelumnya beberapa bulan yag lalu, Ayah kandung nya juga tiada. Namun kini Ia tidak merasa sendirian lagi, ada Ibu sambung dan saudara baru yang menyayangjnya sepenuh hati, juga suami yang sangat mencintainya.
Kluarga Bu hanum pun datang memberi dukungan pada Anggun saat berta'ziyah. Disana semua hadir meski Bu Hanum sendiri sedang dalam keadaan sakit, hanya Aisyah tidak hadir, hingga membuat Aisyah marah pada Suaminya.
"Tega sekali Mas Arman itu, sudah menginap di rumah Ibu gak bilang-bilang, sekarang malah gak ngajak Aku untuk ikut ta'ziyah, padahal ini hari minggu, Rangga sedang libur sekolah. Tadi nelfon nya cuma ngasih tahu kalau pulang telat lagi karna ta'ziyah di rumah Anggun.
Kenapa akhir-akhir ini sikap Mas Arman berubah?, Aku merasa rumah tanggaku tak lagi seperti dulu." Batin Aisyah bergejolak, sambil memasak dan melakukan aktifitas lain nya menjadi Ibu rumah tangga.
Saat masakan sudah matang dan siap, Ia mencoba memanggil Ibunya untuk makan. Sementara Anak-anak nya masih sibuk main.
"Kamu tahu gak, tadi malam suaminya gak pulang , pertengkaran demi pertengkaran membuat hubungan mereka semakin renggang dan kepercayaan Aisyah perlaha-lahan sudah mulai terkikis"
Suara Bu Suci lamat-lamat terdengar di balik pintu oleh Aisyah yang menempelkan telinganya di daun pintu kamar Bu Suci, jelas hatinya mulai berdesir hebat.
'Bicara dengan siapa Ibu, kenapa Dia tega padamu' batin Aisyah menangis.
Suaranya sepi, tanda orang yang sedang dihubungi Bu Suci itu sedang bicara.
"Kenapa memang nya kalau Aku tega, toh Dia bukan anak kandungku."
Deg.
Hati Aisyah kini tambah bergemuruh hebat mendengar kalimat yang di ucapkan wanita yang selama ini Ia kira Ibu kandung nya.
"Jadi, Aku ini bukan anak kandungnya!!?" Mata Aisyah membulat sempurna mendengar penuturan Bu Suci pada teman nya melaui telpon seluler.
"Sudah dulu ya, Aku tutup dulu telfon nya. "
Mengetahui Bu Suci sudah selesai dengan telfon nya, Aisyah segera pergi dari depan pintu kamar itu sembari menyeka air matanya.
"Aisyah...makaanan nya sudah belum?" Teriak Bu Suci.
"Sudah bu!" Ucap Aisyah sambil menyiapkan makan nya, Ia pura-pura tidak mengetahui apa yang Ia dengar dari percakapan Ibunya tadi.
__ADS_1
"Suamimu belum pulang syah ?"tanya Bu Suci yang langsung menyambar makanan di meja.
"Belum, Bu."
"Pasti, ini sudah jelas, Ia benar-benar selingkuh , Dia pasti nginap sama selingkuhannya. Kamu tidak boleh tinggal diam Syah !"
"Memang nya apa yang harus Aku lakukan, Bu ?."Aisyah pura-pura meminta pendapat, padahal hatinya merasa sesak, karna ternyata, Justru Ibu nya lah yang menghasut keharmonisan dalam rumah tangga nya.
"Ya, mau bagaimana lagi, jika ketemu, labrak Dia dengan selingkuhan nya, kemudian minta cerai! Dan jangan lupa pembagian harta gono gini nya "Aisyah pun hanya diam,
'Jadi Ibu ingi Aku bercerai dari Suamiku? Ibu ingin merusak rumah tanggaku dengan menghasutku agar selalu berpikiran buruk padanya.' batin Aisyah mulai bergejolak.
Aisyah meninggalkan Ibu nya di meja makan dan berlalu untuk menyuapi Rangga dan Radit.
'Maafkan Aisyah , Mas ! Selama ini Aku tidak percaya padamu bahkan sering berpikiran buruk padamu ' Aisyah menyesali sikapnya selama ini pada suaminya itu.
***
Tentang hubungannya dengan David, yang tak kunjung mendapat restu dari Bu Nita, Nadia tak terlalu memikirkannya, Ia sudah tidak terlalu berambisi untuk secepat nya bisa punya suami . Ia hanya berpikir untuk mencari pekerjaan baru.
Saat Ia sedang istirahat di sebuah taman kota, karna merasa lelah sebab sudah berjalan cukup jauh mencari pekerjaan, Nadia melihat seorang wanita sedang bertengkar dengan pasangan nya.
"Hei bung ! berani -berani nya main kasar sama cewek ya!" Teriak Nadia pada pria itu, sontak pria itu menoleh, sementara si cewek masih terduduk karna menahan rasa perih di pipinya.
"Siapa kau? Berani nya ikut campur urusanku Hah !!" Pria itu geram dan ternyata ingin menampar Nadia .
"Tolong ! Tolong! Tolong ada perampok !! "Nadia segera berteriak , spontan pria yang cukup tinggi dan berperawakan macho itu panik, serta merta Pria itu segera kabur dengan sepeda motor nya.
"Mbak, kamu tidak apa-apa?" Nadia menghampiri wanita yang di pukul tadi.
"Kamu ?!
"Alexa ?!" Nadia terperanjat, ternyata wanita yang di pukul itu adalah Alexa.
Tanpa berkata apapun, Alexa langsung memeluk Nadia dan menangis seolah merasa aman disana.
Setelah memberikan Alexa minum dan terlihat tenang, barulah mereka bicara dari hati ke hati sebagai sesama perempuan.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Nadia, dan Alexa hanya mengangguk kan kepala.
"Tadi itu siapa?"
__ADS_1
"Itu Riki, pacar Saya ." Ucap Alexa dengan wajah sedih.
"Kenapa Dia jahat sama kamu, sampe memukulmu seperti itu?" Mendengar pertsnyaa ktu, Alexa menangis.
"Aku hamil, Dan Dia tidak mau bertanggung jawab, Dia marah karma Aku selalu meminta nya untuk menikahiku, sampai Dia memukulku seperti tadi." Suaranya berat, seberat beban dan cobaan yang Ia rasakan saat itu.
"Mama mu sudah tahu?"
"Aku tidak berani mengatakan nya?" Alexa dilema.
"Tapi, sebaiknya Mamamu harus tahu."
"Aku tidak berani"
" bagaimana kalau kita bicarakan ini pada Ayah ku, hmmm maksud nya Ayah kita" ajak Nadia.
"Tapi..."
" kalau boleh Aku tahu, apakah kamu sendiri ingin anak ini hidup" Alexa hanya menunduk dan mengelus elus perutnya yang masih terlihat buncit itu.
"Sebagai seorang wanita, Aku punya nalurj keibuan, Aku sudah melakukan dosa,haruskah dosa itu Aku tambahi dengan membunuh nya?
Dan , maafkan Aku yang selama ini jahat padamu, bakan menyebabkan kamu keguguran, dan setelah Aku tahu kita memiliki Ayah yang sama, Aku merasa semakin bersalah padamu" Alexa memeluk Adiknya itu.
"Aku juga minta maaf, apa yang kulami ith bkarna memang Aku yang salah, seterusnya bagaibmana kalau kita rajut persaudaraan ini, kau kalakku dan Aku adikmu." Nadia pun menyambut Alexa dengan hati yang terbuka.
Mereka akhirnya memutuskan untuk menemui Ayah mereka, Burhan. Karna Pak Burhan belum pulang dari pekerjaan nya, Nadia membawa Alexza ke kamar nya, dan Susi terkejut.
"Ngapain perempuan itu kesini, bukankan kau sangat membenci Nadia dan bahkan selalu jahat pada nya?!" Suara Bu Susi keras,, setengah
memarahi.
"Mama, Alexa sekarang baik kok, kami sekarang berteman,"
"Berteman ? Kamu gila ya, Dia yang sudah mengjancurkan hidupmu !! Dia kan ...".
"Sudah lah Ma, Nadia sudah melupakan semuanya, biarkan Alexa disini sebentar, terimalah Dia sebagai teman Nadia"
Dan Susi hanya berlalu tanpa jawaban, karna Ia merasa bingung dengan sikap Nadia yang tiba- tiba baik pada Alexa yang jelas-jelas jahat pada nya.
Sementara Nadia, Ia juga merasa dilema karna Mama nya belum tahu kalau sebenarnya Alexa adalah anak dari Burhan.
__ADS_1