Mendadak Dinikahi Brondong

Mendadak Dinikahi Brondong
Terjebak dalam badai


__ADS_3

Sudah Tiga hari dua malam, Baim , Yongki dan Ranti di Surabaya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sedang mereka kelola, dan setelah semua beres , waktunya mereka harus kembali lagi ke Jakarta.


"Yongki, Aku titip Ranti pulang sama kamu ya, karna Aku masih harus disini dulu untuk mengurusi rumahku yang akan Aku jual ." Ucap Baim pada teman nya.


"Yah, Mas Bom-bom gitu sih, Aku malas jika harus jalan sama cowok dingin dan galak kayak Dia." Grutu Ranty dengan suara agak pelan agar tak terdengar oleh Yongki.


"Jadi, kamu positif mau jual rumah ini?" Tanya Yongki.


"Iya, kalau ke Sini lagi, biar Aku nginap di hotel saja, Aku masih merasa trauma dengan kejadian kemarin." Ujar Baim.


"Sudahlah, kamu jangan protes ! " ujar Baim pada Ranti dengan suara pelan juga dan Ranti akhir nya Diam.


Akhirnya Ranti dan Yongki pulang satu mobil.


Dengan wajah di tekuk, Ranti akhirnya terpaksa masuk mobil Yongki, Ia duduk di kursi belakang kemudi, dan sok menjauh dari Yongki.


Dalam perjalanan dari Surabaya menuju ke jakarta itu, Sangat terasa garing bagi Ranti. Ia hanya bisa mendengarkan musik menggunakan headset untuk menghilangkan rasa bosan nya dan memandang ke luar jendela mobil.


Ia sudah terlanjur kurang suka dengan sikap Yongki yang secara terang- terangan membenci wanita, sehingga membuat Dia malas berbicara dengannya. Menurut Ranti, Yongki hanya seorang penyuka sesama jenis.


Duarr.


Suara ban pecah terdengar jelas dari mobilnya dan membuat Ranti dan Yongki tersentak kaget. Yongki segera menepikan mobilnya, kemudian turun untuk mengecek nya, dan benar saja, ban bagian depan pecah ditambah dengan cuaca yang sedang mendung saat itu tiba-tiba turun hujan disertai petir, serta suasana terasa mencekam.


Yongki yang panik karna hujan tiba-tiba turun, membuat Dia tidak sadar kalau Dia masuk mobil di bagian belakang bersisian dengan Ranti.


Iapun ingin segera beranjak keluar untuk duduk di bagian depan, tapi Ranti menariknya.


"Jangan kemana-mana, disini saja, Aku takut petir," raut wajah Ranti terlihat sangat ketakutan.


Ia pun menuruti permintaan Ranti untuk tetap diposisi. Sambil menunggu jasa raharja memperbaiki ban mobilnya.


"Ini tukang tambal ban nya masih lama gak sih, datang nya ?" Gerutu Ranti yang semakin merasa takut karna semakin lama petir nya semakin sering.


"Gak tahu ," jawab Yongki datar.


Hujan semakin lebat, petir pun semakin menggelegar seolah sedang memecah langit dan mampu membuat Ranti sangat ketakutan. Saat petir besar datang, Ia reflek memeluk Yongki untuk bersembunyi, Ia terus bersenbunyi dalam pelukan itu , memejamkan mata karna takut nya.

__ADS_1


Saat Ranti berlindung dalam pelukannya, degup jantung Yongki berpacu lebih cepat, seiring hujan yang lebih lebat, udara yang dingin membuat nya semakin merasa panas tak karuan, sebagai laki-laki normal, Ia bisa merasakan pelukan seorang Ranti yang semakin erat itu mampu membuat hatinya berdesir.


Sedangkan Ranti yang memang benar-benar sedang ketakutan itu tampak semakin mengeratkan pelukannya. Karna dari kecil Ia memang sangat takut dengan petir.


Ranti juga merasa nyaman dalam pelukan itu, padahal bagi nya, Yongki hanya lelaki penyuka sesama jenis.


'Yongki tidak akan bernafsu padaku' pikir Ranti.


Satu jam, menunggu hujan petir masih belum juga reda. Jasa raharja pun belum juga muncul, hingga Ranti pun akhirnya tertidur dalam pelukan Yongki.


Sedangkan Yongki, tubuhnya menegang, tapi Ia mampu menahan diri demi menjaga kehormatan seorang wanita.


Dua jam kemudian, hujan mulai reda, Ranti terbangun dari tidurnya, Ia yang semula tertidur dalam pelukan Yongki kini terbangun dengan posisi kepalanya tidur di bagian paha Yongki dan tanpa sengaja tangan Ranti menyentuh milik Yongki.


Seketika Ranti melonjak kaget.


"Ma-af , Aku tidak sengaja" Ranti merasa malu, begitu juga Yongki.


'Astaga, kenapa Aku sampai memegang milik nya, sungguh malunya Aku ya tuhan , ternyata Dia laki-laki normal, Aku kira Dia tidak bernafsu pada wanita,' ujar batin Ranti sambil menyembunyikan wajahnya.


Sememtara itu Yongki juga merasa malu dan salah tingkah, tapi mau bagaimana lagi, Ranti sudah menyentuh milik nya tanpa sengaja. Kedua nya kini hanya bisa saling diam karna kedua nya sama-sama salah tingkah.


****


Sementara itu, Aisyah dan Arman masih berada di rumah sakit, bukan sedang menunggui Cintya, tapi karna sedang terjebak hujan .


"Sayang, maafkan Aku, tadi tidak bisa mencegah Cintya menemui mu, sehingga membuatmu dilema seperti ini ,"ujar Arman.


"Kalau Aku tidak bertemu dengan Cintya, Aku juga tidak akan pernah tahu kalau suamiku ternyata masih mencintai cinta pertamanya," lirih Aisyah.


"Bukan begitu sayang, Aku hanya.."


"Mas masih mencintainya , kan ?"pertanyaan Aisyah membuat Arman tercekat.


"Kamu istriku, Aku mencintaimu, Aku tidak ingin menghianatimu ," ujar Arman.


"Tapi Cintya sakit, Mas. Kamu pasti berharap bisa memenuhi keinginannya, bukan?" Lagi-lagi Arman terdiam.

__ADS_1


"Mas, nikahilah Cintya, sekarang !" Pinta Aisyah.


Arman langsung terkesiap dengan yang di ucapkan Aisyah.


"Sayang, Kamu tidak salah bicara kan, kamu tidak perlu mengorbankan prasaan seperti ini, Dia memang sakit, tapi bukan berarti harus membuatmu tersakiti ,"guman Arman.


"Nikahilah Dia ! Aku akan mencoba ikhlas," Pinta Aisyah lagi.


"Pernikahan itu bukan main-main, baik pernikahan pertama maupun kedua , semua sama-sama berat tanggung jawab dan kewajiban nya, Aku takut tidak bisa adil ," Arman masih berkilah.


"Aku akan membantumu untuk beebuat adil," Aisyah meyakinkan suaminya.


Akhirnya, sesuai kesepakatan , setelah Cintya tersadar dari pingsan nya, Arman dan Aisyah segera mempersiapkan acara akad nikah di rumah sakit itu, di ruangan dimana Cintya dirawat.


Penghulu dan wali dari Cintya sudah datang datang. Sebagai saksi, ada beberapa dokter dan suster.


Dihadapan Aisyah, Arman mengucapkan Ijab qobul untuk Cintya yang sedang terbaring lemah tak berdaya.


Seutas senyum Ia hadiahkan untuk Cintya yang sekarang sudah menjadi madunya, karna Dia sudah sah menjadi istri kedua suaminya.


Ikhlas tapi tak rela, ikhlas berbagi suami tapi masih merasa tak rela suaminya menyentuh wanita lain yang juga menjadi istrinya.


"Perih, pedih dan rasa sakit yang tak berdarah yang Aku rasakan saat melihat suamiku menikah lagi dihadapan ku. Sungguh rasa sakit ini tak bisa digambarkan ataupun dikiaskan lagi, sebab air mata ini sebenarnya sudah menjadi saksi saat wanita itu mencium tangan suamiku.


Sementara suamiku sedang meletakkan ujung tangan nya di atas ubun-ubun wanita lain yang kini sudah sah menjadi istrinya itu, sama dengan yang Ia lakukan padaku dulu saat kami baru menikah," batin Aisyah bergejolak.


"Aisyah, Aisyah..."Arman membangunkan Aisyah dari lamunan nya .


"Apa yang kamu pikirkan, dari tadi ngelamun, Ayo dimakan bakso nya," ujar Arman lagi.


Aisyah hanya mengaduk-ngaduk bakso yang kini dihadapan nya, Bahkan meski perutnya lapar, Ia enggan untuk menyantapnya, sebab pikirannya sedang melanglang buana.


'Jadi, ternyata tadi hanya anganku saja. Aku terlalu tenggelam dalam prasaannku, Sehingga Aku tak bisa memgontrol diri, dan berhalusinasi sesuatu yang bahkan sangat sakit untuk di bayangkan, ' batin Aisyah masih berperang dengan prasaannya.


"Kayak nya Hujan mulai reda, antar Aku pulang, kasian anak-anak pasti nyariin Bunda nya."


"Oke, setelah ini Kita pulang, tapi habiskan dulu Bakso nya, itu kan makanan kesukaanmu, " ujar Arman.

__ADS_1


"Gak selera !" Sahut Aisyah.


__ADS_2