Mendadak Dinikahi Brondong

Mendadak Dinikahi Brondong
Nadia diserang


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Nadia waktunya pulang, hari itu Ia ambil shif siang, sehingga sore Ia bisa segera pulang. Awalnya David menawarkan diri untuk mengantarnya pulang dengan mobil, tapi Nadia menolak dengan alasan tidak enak dengan Hesti.


Akhirnya David hanya mengawasi Nadia sampai ojek pesanannya datang, dimana Ia menunggu di depan cafe Ia bekerja,


'Nadia, sebenarnya sejak dulu Aku menyukaimu, tapi dulu kau lebih memilih Alfin yang tiada putus asa mengejar cintamu, dan apalah dayaku, saat itu Aku kalah rupa dan harta, sebab Dulu Aku hanya orang tak punya, sekarang saat Aku merasa mampu untuk mendapatkanmu, kau malah tak melirik harta lagi, tapi Aku justru suka itu, tapi masalahnya, sekarang Aku sudah di jodohkan dengan Hesti, apakah ini berarti kita memang tiada berjodoh?' David membatin lirih.


'Sebenarnya, Aku ingin sih diantar lelaki tampan dan kaya seperti David, apalagi dengan mobil mewah seperti itu, wanita mana sih yang bisa menolak nya, namun, Aku bertekad untuk tidak tenggelam dalam impiannku yang dulu, yang mana Aku selalu bermimpi untuk menikah dengan orang kaya.


Dan Aku harus mengubur impianku itu dalam-dalam, karna sekarang impianku tak lagi sama dengan yang dulu, saat ini Aku hanya ingin menjalani hidup dengan rasa syukur, serta memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik, sebab kelak jodohku adalah cerminan dari diriku, makanya Aku ingin memperbaiki diri dahulu'


pikiran Nadia pun berkelana hingga Ia tak fokus dengan kondisi disekitarnya saat itu, hingga teriakan kencang membuyarkannya dari lamunannya.


"Nadiaaaa...Awassss!!!"tiba-tiba lamunan Nadia ambyar karna teriakan David yang sedari tadi memperhatikannya.


Saking paniknya, Nadia belum sempat mencerna teriakan David itu, namun refleks Ia menghindar setelah dirasa ada dua orang pengendara sepeda motor yang satu memegang kemudi yang satu menyiramkan sesuatu di wajah nya.


Meski sempat menghindar, ternyata air yang terasa perih dan panas itu berhasil disiramkan ke kulit wajah Nadia. Namun yang terkena hanya sedikit, yaitu di bagian pipi bagian bawah yang untung terhalang masker, sebab selama bekerja Ia memang selalu menyebunyikan wajah nya dari Netizen, di balik Masker.


Nadia pun terjatuh, Ia merasakan panas dan perih meski maskernya sudah di lepas, sementara 2 orang pengendara sepeda motor itu di hadang massa yang kebetulan ada beberapa, sehingga massa berhasil menangkap keduanya, berkali-kali keduanya terkena bogeman dari tangan- tangan yang memang sering menjadi hakim yang kadang lebih kejam dari tangan algojo.


Sementara Nadia yang sangat sock dan merasa kesakitan di pipinya itu segera di gendong oleh David dan memasukkan nya ke mobilnya untuk segera di bawa ke Rumah sakit, Ia meronta-ronta tak menentu menahan rasa perih dan panas yang menjalar.


"Tenanglah Nadia, Aku akan segera membawamu ke rumah sakit, tenang ya!"Setengah sadar, Nadia merasakan sentuhan dari hati yang tulus yang David berikan pada nya, dan debaran-debaran pun kini mulai muncul di hatinya.


Sesampainya di Rumah Sakit, David langsung menggendong Nadia menuju ke ruang IGD, kemudian David menunggunya dengan prasaan yang tak menentu di luar.


"Halo Fin, coba kamu selidiki kedua orang yang menyerang Nadia di depan Cafe kita, secepatnya! Sepertinya mereka sudah di bawa ke kantor polisi, kamu capat cari tahu tentang mereka dan siapa yang menyuruh mereka !" ujarnya melalui ponselnya pada Dafin, karyawan yang juga tangan kanan David.


"Oke Bos, Aku mengerti maksud Bos, Akan segera Aku laksanakan !"Dafin menutup ponsel dan segera melakukan tugas dari David dengan sigap.


Sementara itu, dokter yang menangani Nadia menemui David.


"Luka akibat air keras itu tidak terlalu parah, hanya saja, kulit wajah yang terkena cairan itu cukup membuat wajahnya cacat, meski hanya 30% dari keseluruhan wajahnya"

__ADS_1


"Berarti wajahku cacat dok ?" Nadia terhenyak.


"Bisa dibilang begitu, tapi tidak parah, Hanya 30% saja." Jawaban dokter itu membuat Nadia menangis.


"Tenang..tenang, Yang sabar ya, Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidiki siapa pelaku dari penyerangan itu!" bujuk David.


"Tapi Aku cacat vid , Aku tidak mauuu cacat !!" Nadia histeris.


"Tenangkan dirimu dulu, Aku akan selalu berada disisimu , jangan merasa sedih lagi ya! Kau akan tetap selalu cantik di mataku, apapun keadaanmu" David memeluk Nadia dengan penuh ketulusan, sementara Nadia pun merasa nyaman menyandarkan dagu di pundak David dan Ia teruskan tangisan nya disana.


*****


Sementara di rumah Arman yang damai,


Arman sedang bermain dengan anak-anak nya di teras. Kebetulan Arman sedang ada di Rumah, jadi Dia menggunakan waktu senggang itu untuk bercengkrama dengan kedua anak nya, Rangga dan Radit, dan Aisyah yang baru datang dari dalam , merasa bahagia melihat nya


Saat Dia bermain bersama anak-anak nya di teras rumahnya yang memang di kelilingi pagar yang exentrik, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya dengan baju compang camping memanggil nama Aisyah, sontak mereka menoleh secara bersamaan pada sumber suara.


"Ibu ini siapa ya?" Tanya Arman heran, yang langsunv menuju pagar nya, untuk melihat siapa yang datang.


"Aisyah..., Aisyah..., apakah kamu tidak mengenali Ibumu?" Wanita itu masih tetap menyebut nama Aisyah dan tidak peduli pertanyaan Arman.


"Ibu ? " Aisyah tersentak mendengarnya dari depan teras, karna Ia nyaris tak mengenali Ibu nya lagi.


"Ada apa dengan Ibu, kenapa Ibu jadi seperti ini?"tanya Aisyah lagi.


"Bolehkah Ibu masuk, Ibu lapar, sudah dua hari tidak makan, ijinkan Ibu makan ya Nak!" suaranya terdengar kering, dan tubuh nya gemetar.


"Masuklah Bu, Ayo Aisyah siapkan makanan !"Ajak Aisyah dengan prasaan pilu melihat Ibunya seperti itu.


"Terimakasih ya Nak !" Ia pun segera masuk.


Kemudian Aisyah melayani Ibunya dengan baik dan meninggalkan anak dan suaminya di teras.

__ADS_1


"Aisyah, bolehkah Ibu tinggal disini bersamamu!" Swtwlah dirasa kenyang dan sudah beraih karna Aisyah menyuruh Ibunya mandi, Bu Suci memohon pada Aisyah.


"Bukan nya Aku melarang, tapi Aku harus bertanya dulu pada suamiku !"Guman Aisyah ragu, takut Ibu nya marah.


"Kamu itu anakku, yang melahirkanmu, dan merawatmu, tapi saat Ibumu terlantar seperti ini, kamu malah lebih mementingkan ijin suamimu !" Benar saja, Bu Suci langsung tersinggung.


"Bukan begitu maksud ku, karna Bagaimanapun juga ijin suami itu penting Bu"


"Boleh Sayang, Ibumu boleh tinggal disini!" Sahut Arman yang dari tadi mendengar dari ruang tamunya.


"Alhamdulillah, Mas Arman mengijinkan Ibu tinggal disini. Tapi, memang nya kenapa Ibu kok sampai menggelandang gini?"


"Saat Ibu pergi dari Bapkmu, Ibu menikah dengan seorang duda kaya, anaknya se usia kamu. Tapi anak tiriku itu tidak mau menerimaku! Hingga akhirnya Aku diusir karna difitnah oleh nya," cerita Bu Suci sedikit meyakinkan Aisyah, sehingga membuat Aisyahpun percaya.


"Ya sudah, sekarang Ibu bisa tinggal disini" guman Aisyah.


Sesuai keputusan Arman, akhirnya Bu Suci tinggal bersama mereka,


"Dua ini anak mu, syah ?" Tanya Bu Suci yang melihat Rangga dan Radit bermain kejar-kejaran.


"Oh iya ini Radit, anak ku dan ini Rangga, Dia anak Mas Arman dengan istri nya dulu!, anak-anak kenal kan, ini nenek !"


"Jadi Arman itu duda beranak satu,"


"Iya Bu, memang nya kenapa?"


"Gak kenapa-kenapa kok, oh iya, apa pekerjaan suamimu?"


"Dia dokter spesialis penyakit dalam Bu !"


"Lumayan tuh gajinya, kamu beruntung punya suami yang mapan dan tampan, tapi sayang, anak bawaan nya membuart kamu kayak kerepotan, seharusnya Anak seumuran Dia itu ikut Ibu nya" bisik Bu Suci karna takut di dengar menantunya.


"Aisyah senang kok bu merawatnya, dan Aisyah sudah menganggap nya seperti anak kandung Aisyah sendiri" jawaban Aisyah membuat Ibunya sedikit kesal, karna baginya Ia tak sepemikiran dengan nya.

__ADS_1


__ADS_2