Mendadak Dinikahi Brondong

Mendadak Dinikahi Brondong
kehadiran Ibu kandung


__ADS_3

Setelah kejadian penculikan Baim, ada rasa trauma dalam keluarga Bu Hanum. Baik Nur maupun Bu Hanum sendiri yang selalu kawatir dengan keselamatan Baim.


"Ayah tidak usah ke kantor dulu, biar urusan Butik Ranti saja yang ngurus." Ujar Nur.


"Tapi Aku sudah seminggu tidak ke Butik, lagi pula Aku ada janji dengan klien hari ini," sahut Baim sambil memasang kancing kemeja putih nya, sementara Nur memasangkan dasinya.


"Kan bisa Ranti atau Yongki yang bertemu klien nya, Aku kawatir Mas hilang lagi atau diculik lagi !" Nur memeluk Baim manja, seolah seorang anak yang takut ditinggal Ibunya.


"Bunda jangan kawatir, Aku bisa jaga diri, percayalah, tidak akan terjadi apa-apa, doakan saja suamimu ini, semoga dijauhkan dari marabahaya." Baim meyakinkan istri nya.


"Aku selalu mendoakanmu tanpa Ayah minta. Tapi sejak kejadian kemarin, Aku sangat takut kehilanganmu , Aku takut terjadi apa-apa lagi padamu, Aku takut Ayah disiksa lagi seperti kemarin ," Nur terlihat sedih mengingat insiden penyekapan suaminya.


"Bunda jangan kayak Zahira gini dong, Ayah benar-benar harus berangkat, ini penting sekali bagi Butik kita ." Ujar Baim dengan nada pelan, karna dia faham kekhawatiran istrinya itu .


"Ya sudah, doakan Ayah, semoga selalu dilindungi oleh Allah, dijsuhkan dari mara bahaya dan dijauhkan dari orang-orang jahat . Assalamualaikum ." Baim ceat-cepat berjalan keluar setelah ber pamitan, karna takut dihalangi lagi kepergian nya.


Akhirnya, dengan prasaan berat, Nur melepas suaminya dengan jawaban salam.


Sementara itu Ranti sudah sedari tadi menunggu Baim di sebuah Cafe, tempat dimana mereka akan bertemu klien mereka . Awalnya Ranti cukup mumuni untuk menjelaskan hal-hal penting mengenai Butik mereka pada klien tersebut, namun klien itu meminta bertemu langsung dengan owner nya, yang tak lain adalah Baim.


Taklama kemudian Baim pun sampai ke tempat itu. Disana, Ia yang memang sedang ditunggu langsung menyapa klien nya.


"Ini Dia Bu owner Zahira Butik. Seperti yang Ibu katakan , ingin bertemu dengan nya langsung, bukan. !" Ranti meperkenalkan Baim pada tamu nya.


"Assalamualaikum, Maaf jika Saya datang terlambat, perkenalkan, Saya Alfin Ibrahim , pemilik Butik Zahira ." Baim memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan pada tamunya.


"Saya Gladis. Senang bisa bertemu dan bekerjasama denganmu !" Ucap nya dengan tersenyum manis menyambut uluran tangan Baim.


"Ternyata owner nya masih muda dan gagah ya. Hebat, masih muda sudah sukses !" Gladis memuji Baim dengan cara yang anggun.


"Ah, Ibu Gladis juga masih muda , tapi sudah sukses menjadi pengusaha " Baim balik memuji.


"Kalau masih muda, berarti jangan panggil Ibu dong !" Gladis merajuk.


"Baik, Aku panggil mbak Gladis saja ."ujar Baim.

__ADS_1


Dan Mereka akhirnya membicarakan hal serius mengenai pekerjaan. Gladis yang tak lain adalah putri dari Yurika itu terlihat sangat meyakinkan dengan tampilan yang berbeda, Ia tampak terlihat anggun dan aura kecantikan yang akan membuat siapa pun terpesona.


Baim maupun Ranti jelas tidak mengetahui siapa gadis yang sedang berbicara dengan mereka. Baim yang pernah di sekap oleh Gladis pun tidak mengenalinya, sebab Gladis memerintahkan Viona, yang merupakan tangan kanan nya, saat penyekapan itu terjadi, sehingga Gladis tidak perlu turun tangan langsung saat penyergapan Baim terjadi.


****


Mendengar kabar Cintya meninggal. Sebagai perempuan, Aisyah bisa merasakan kesedihan Cintya yang tidak bisa bersama dengan orang yang Ia cintai .


Hari ini, Aisyah berencana mengunjungi makam Cintya sendirian, Setelah mengantar Rangga ke sekolah. Kemarin saat pemakaman, Arman tidak sempat mengajak Aisyah karna sibuk mengurusi pemakaman Aisyah, sebagai ganti dari pihak keluarga Cintya .


Sesuai rencana, Aisyah langsung ke makam Cintya . Aisyah sudah menganggap Cintya adalah sahabatnya sendiri.


"Cintya, maafkan Aku yang tidak mampu menyatukanmu dengan cinta pertamamu, maafkan Aku ! Aku hanya wanita biasa yang belum mampu jika harus berbagi suami. Semoga kamu bahagia di alam sana ," ucap Aisyah dengan suara pelan.


Kemudian setelah mengirimkan surat Alfatihah yang khususkan untuk Cintya, Ia meletakkan seikat bunga mawar di dekat batu nisan yang bertuliskan Cintya Binti Nugroho. Kemudian Aisyah pun hendak beranjak.


Namun tiba-tiba, datanglah seorang wanita paruh baya, dengan rambut ikal panjang sebahu, menangis di pusara Cintya.


"Cintya...Cintya... kenapa Kamu tinggalin Mama begitu cepat sayang. Maafkan Mama sayang , Mama belum bisa memaafkan diri Mama, karna Mama sadar, selama ini Mama kurang memperhatikanmu ."


"Maaf, Tante, Mama nya Cintya, Saya turut berduka cita atas kepergian nya ya !" Aisyah menyampaikan bela sungkawa.


"Kamu siapa nya Cintya?"


"Saya Aisyah, teman nya Cintya" Aisyah mengaku teman, meski hanya beberapa hari saja dekat denganya.


"Saya Rosa, terimakasih sudah mengunjungi makam anak Saya" ucap Ros sambil memperhatikan wajah Aisyah.


"Wajahmu rasanya tidak asing bagi Tante, kamu bener temannya Cintya ? Sudah berapa lama ?" Pertanyaan Rosa membuat Aisyah keheranan.


"Ya sebenarnya , Kami mulai berteman sejak lima hari yang lalu saat Dia di rumah sakit. Kebetulan Dia pasien suamiku. Aku hanya tidak tega Dia sendirian di rumsh sakit tanpa di dampingi keluarga nya." Jawab Aisyah jujur.


"Saya Akui, Selama ini Saya memang kurang memperhatikan nya, karna Saya tinggal di Luar negri. Dan sebagai Ibu nya, Saya justru tidak tahu tentang penyakitnya." Ucap nya dengan tatapan nanar.


"Kemarin ada keterlambatan penerbangan dari Amerika ke Indonesia, sehingga Saya tidak sempat melihat wajah Cintya untuk terakhir kalinya. Ini Saya untuk yang keduakalinya kesini, meski suami Saya melarangku kesini, takut sedih katanya. Oh iya, kalau boleh tahu, Siapa nama panjang mu?" Rosa bertanya lagi.

__ADS_1


"Aisyah Nahda Ayudira ," jawab Aisyah.


Mendengar jawaban Aisyah, Rosa tampak semakin antusias, dan terus bertanya "Siapa nama Ayahmu ?."


"Ahmad shodiq ." Seketika Rosa memeluk Aisyah dengan erat setelah Aisyah menyebut nama Ayah nya.


"Aisyah...Aisyah...kamu itu anakku, hiks hiks," Rosa menangis di pelukan Aisyah. Sementara Aisyah heran, karna yang Ia tahu, Ibunya sudah meninggal kata Bu Suci yang belakangan Ia tahu ternyata Bu Suci hanya Ibu tirinya.


"Tapi ada yang bilang, katanya Ibu kandungku telah lama meninggal ," ujar Aisyah.


"Siapa Yang bilang, Ayahmu?"


"Bukan."


"Pasti Suci."


"Iya, Tante tahu Bu Suci ?"


"Jelas tahu. Dulu, saat Kamu masih berusia dua tahunan, Suci merebut nya dari Mama, Mas Shodiq juga seperti sudah terpedaya oleh nya. Mama jga difitnah berselingkuh, sehingga Ayahmu menceraikanku dan melarangku menemuimu atau mengakuimu sebagai anakku untuk selama nya. Sekarang bagaimana kabar Ayshmu."


"Jadi tante benar Ibu kandungku?" Aisyah seakan tak percaya dan kini Ia yang memeluk Rosa dengan penuh kerinduan.


"Ternyata Ibu kandungku masih hidup ? " ucap Aisyah lagi, Masih dalam tangis haru nya.


"Ayah sudah meninggal Ma . Sudah lama Ayah sakit-sakitan hingga harta nya habis untuk berobat , karna jatuh miskin dan sakit-sakitan, Bu Suci kabur meninggalkan Ayah " ujar Aisyah.


"Kasian Ayahmu, semoga Dia tenang di alam sana . Sekarang kamu tinggal dimana ?"


"Saya sudah menikah, anak ku satu , namanya Radit. Suamiku seorang dokter." Terangnya.


"Semoga rumah tanggamu bahagia nak, dan dijauhkan dari pelakor . Ayo ajak Mama ke rumah mu, Mama ingin ketemu dengan cucu Mama ," pinta Rosa dengan senyum bahagia yang mengembang.


"Berarti Cintya itu adikku Ma?" Tanya Aisyah.


"Iya, Dia anak kandung Mama dengan suami Mama yang sekarang ."

__ADS_1


Mereka pun melangkah berangkulann menuju ke rumah Aisyah. Dalam perjalanan pun mereka saling bertukar kisah antara Ibu dan anak yang sudah lama bahkan bertahun-tahun tidak berjumpa.


__ADS_2