
Ranti merasa gugup , meski itu bukan untuk pertamakalinya semobil dengan Yongki. Sebelum ke pesta, Yongki mampir ke sebuah toko, membeli sepatu untuk Ranti. Sebab, Yongki tidak tahu ukuran kaki Ranti, sehingga Ia harus membawa orang nya.
Meski tidak terlalu mahal seperti gaun yang di kenakan nya, Tapi sepatu higheels yang di belikan itu cukup membuatnya sengsara, sebab Ia tidak suka mengenakan sepatu seperti itu.
'Sandal kayak gini aja sampai dua juta harga nya. Mana gak enak banget pakai nya, bikin sengsara kakiku, kalau nanti Aku keseleo gimana. Uang dua juta sebenarnya sayang bila dibelikan sandal ginian, mending buat beli makanan atau camilan gitu, kan enak '. grutu Ranti.
"Nanti, disana kamu harus bersikap seolah-olah kamu itu pacarku ya. Tenang , nanti Aku bayar kamu 3 kali lipat gaji mu di Butik ," guman Yongki sembari mengemudikan mobilnya.
"Benarkah !" Mata Ranti melotot kegirangan.
"Gaun dan sepatu yang kamu pake itu juga jadi hak milik kamu setelah ini. Masak Aku bohong memberikan uang senilai 3 kali lipat gajimu!."
"Ya bukan nya gak percaya, cuma kaget aja, kamu sepertinya buang-buang uang hanya untuk mengajakku ke pesta ernikahan. Cowok tajir kayak kamu pastinya gampang dong cari pacar beneran ,"
"Kenapa? Kamu enggak mau ?"
"Ya heran aja, kenapa kamu enggak cari pacar beneran atau nikah gitu ?"
"Males !"
"Tapi kamu masih normal kan ?"
"Normal lah ."
"Hmmm, kamu membayarku bukan untuk membeli harga diriku kan ? Kamu membayarku hanya untuk ke pesta ini saja kan, bukan untuk yang lain nya, "Ranti merasa curiga.
"Harga diri seorang wanita itu tidak akan pernah bisa terbeli oleh materi berapa pun , kecuali wanita itu sendiri yang menjualnya. Sedangkan kamu Aku bayar tulus tanpa modus. Anggap saja sebagai ganti karna kamu lelah dari lembur ."
Mendengar itu Ranti terdiam, dalam hati Ia takjub dengan penuturan Yongki yang tidak merendahkan harga diri wanita meski sikap nya galak dan garang.
"Oke, Sekarang kita sudah sampai. Ingat ya, disana kamu itu pacarku, dan jaga pandanganmu pada makanan, karna Aku tahu, kamu itu penggila kuliner." Ujar Yongki.
Ranti hanya diam, merasa malu karna Dia memang hoby makan.
Yongki meminta Ranti menggandeng tangan nya dengan mesrah di hadapan tamu terutama dihadapan Alda, pengantin yang juga mantan Yongki.
"Selamat ya, " Yongki menyalami kedua mempelai.
"Yongki, ini pacar kamu ?" Tanya Alda.
"Iya, perkenalkan Dia pacarku, Ranti,"
"Cantik juga. Semoga hubungan kalian sampai ke pelaminan ." Aldan menjabat tangan Ranti.
"Amin "hanya Yongki yang menjawab Amin, sementara Ranti celingak celinguk karna merasa asing, sebab memang tidak ada yang Ia kenal.
__ADS_1
"Hey, kamu , sejauh ini, sampai dimana hubngan kamu dan Yongki?" Alda berbisik pada Ranti, saat Yongki tidak bersama nya.
"Ka-mi ya...orang pacaran ya gitu, memang nya mau bagaimana lagi ?" Ranti merasa heran dengan pertanyaan Alda.
"Dia itu gak normal kan ya, makanya dulu Aku putus darinya , pokoknya kamu bakal nyesel pacaran sama Dia ?" Bisiknya lagi.
"Enggak kok, Dia lelaki hebat karna Dia memang tidak mau menyentuh wanita sebelum halal ," jawab Ranti se kena nya, padahal pertamakali Ia mengenal Yongki, Yongki memang terlihat seperti tidakmemyukai wanita.
"Kamu bisa jamin kalau kamu nikah sama Dia bakal dikasih nafkah batin ? Aku catat ya, jika kamu gak jadi nikah sama Dia , berarti Dia memang tidak normal ," setelah memanas-manasi Ranti, Alda berlalu pergi menemui tamu yang lainnya.
Mendengar pernyataan Alda, Ranti seolah terjebak oleh perkataannya sendiri. Dia pun tak berani menjawab. Sementara Yongki sejak tadi mendengar percakapan kedua nya hanya tersenyum lega dengan jawaban Ranti .
"Bagaimana, kamu sudah ambil makanan?" Yongki tiba-tiba menyapa Ranti dari arah belakang.
"Eh, belum. Yong, Dia itu mantan kamu ya ?"
"Iya, ini pernikahan kedua nya, Maka nya Aku meminta bantuanmu , karna Dia selalu menyindirku ."
"Dia memang cantik, pantas kamu belum bisa move on dari nya ,"
"Siapa bilang , justru karna Aku bisa move on Aku datang kesini , kalau dipernikahan pertamanya, Aku akui , Aku memang belum bisa move on,"
Setelah selesai acara, Ranti pun segera diantar pulang oleh Yongki. Namun dalam perjalanan, Ranti tertidur di mobil.
"Ternyata kamu manis juga ya, kalau tidur gini, Gak crewet, apalagi suka makan ." Yongki mengkagumi kecantikan Ranti.
"Mungkn Dia kecapek an, maaf ya Tante, Aku yang memaksa mengajak nya pergi kondangan, padahal Dia baru datang dari lembur." Ujar Yongki pada Bu Hanum, yang saat itu membukakan pintu untuk mereka.
"Iya, tidak apa-apa, terimakasih sudah menjaga nya dengan baik ," ucap Bu Hanum.
"Kalau begitu saya pamit Tante, mari...Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam ."
****
Sementara di tempat lain, Nadia yang sudah hampir satu bulan lebih tinggal di rumah mertua nya , sedang merasa kelelahan. Karna selalu di suruh bersih -bersih terus oleh mertuanya.
Nita sengaja mengeluarkan asisten rumah tangga nya , sehingga semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh Nadia.
"Ma, cuci piring nya nanti dulu ya, kepalaku sakit, Aku mau istirahat dulu sebentar ya !" Ujar Nadia, yang pagi itu meminta ijin pada mertua nya.
"Alasan ! gak ada acara istirahat, " bentak Bu Nita .
Seketika Nadia teringat sikap nya pada Bu Hanum yang dulu pernah jadi mertuanya . Dimana Dia selalu merasa malas membantu pekerjaan rumah , meski Bu Hanum kecapek an sekalipun. Ia lebih sering leyeh-leyeh di rumah mertuanya dulu, sekarang seolah dibalik.
__ADS_1
Sakit Kepala yang Ia rasakan saat itu benar-benar tak tertahan , hingga akhirnya Ia jatuh pingsan.
Melihat menantunya pingsan, Bu Nita merasa takut.
"Apa Aku keterlaluan ya pada nya ?" Guman Bu Nita sendirian. Ia belum mau menolong Nadia serta tetap membiarkan Nadia pingsan di lantai.
"Nadia...! sayang...kamu dimana ?" Suara Dafid tiba- tiba menggema dari ruang tamu.
"Dafid ? Kok Dia balik lagi ?"Bu Nita panik.
"Nadia ? Nadia kenapa Ma ?" Dafid yang saat itu menuju dapur, panik menemukan Istrinya terkulai di lantai.
"Entahlah, Tadi Dia bilang sakit kepala, lalu Mama suruh istriahat, setelah itu Dia langsung pingsan ."
Dafid segera menggendong istrinya ke dalam kamar.
"Kamu kenapa kok balik lagi , ada yang ketinggalan ?" Tanya Bu Nita pada Dafid.
"Tidak, David memang sengaja pulang karna mau ngasih rujak buah ini ," Dafid menunjukkan rujak buah yang di bawanya.
"Rujak ? Siapa yang minta ?" Bu Nita heran.
"Nadia , pagi-pagi Dia merengek minta rujak manis, ya sudah Aku tadi sengaja nyari di pasar. Tapi sampai keliling pasar Dafid enggak ketemu , hingga akhirnya dibuatin sama tukang buah nya !" Ujar Dafid.
"Apah ? Nadia ngidam ? Nadia hamil ?" Bu Nita terperanjat.
"Dafid tidak tahu , Dia hanya merengek minta rujak "
"Dia pasti sedang hamil. Coba kamu bangunin Dia !"
"Nadia...sayang, bangun yuk , ini rujak bah nya sdah ada, katanya tadi pagi mau rujak buah,"
"Mas Dafid, kamu sudah pulang? dapat rujaknya?" Taklama kemudian, Nadia terbangun dan langsung menanyakan rujak pesanan nya.
"Nadia, apakah kamu hamil ?"tanya Bu Nita.
Nadia mengangguk , kemudian mengambil tespek bergaris dua dari laci dan menyerahkannya pada suaminya.
Seketika senyum sumringah terlukis jelas di sudit bibirnya, dan langsung memeluk Nadia.
"Terimakasih sayang, terimakasih...mungkin tadi kamu pingsan karna kecapek an, Mlai sekarang kamu tidak boleh capek , biar Aku ambil art lagi. Pokoknya kamu harus banyak istirahat "
"Rujak nya mana ?, Aku sudah tak tahan lagi pingin makan rujaknya !" Nadia merengek.
Melihat itu, Bu Nita sebenarnya merasa bahagia, tapi Ia merasa malu mengungkapkan kebahagiaannya.
__ADS_1
"Mama , mau rujak nya juga, ini enak banget Ma !" Nadia makan dengan sangat lahap .
"Makan saja kamu semua nya, kasian bayi mu , sangat pingin makan rujak sampe pingsan segala. " ucap Bu Nita dengan sedikit senyum.