Mendadak Dinikahi Brondong

Mendadak Dinikahi Brondong
Sebuah pengakuan


__ADS_3

Pagi harinya, sesuai rencana, Anggun dan Ayu hendak mengunjungi keluarga Almarhum Pak Bambang. Tampak Anggun sangat bahagia, prasaannya campur aduk, karna Ia akan menemui Ayah kandung nya meski hanya di sebuah pusara.


Dia juga merasa senang, sebab akan menemukan orang yang akan menjadi wali nikahnya nanti, lebih dari itu, Anggun sebenarnya juga merindukan keluarga Ayahnya.


Meski sebenarnya ada rasa perih dihatinya saat tahu bahwa Ayahnya dulu tidak mau mengakuinya, namun rasa Iba tatkala Ayahnya meminta maaf saat mendatanginya dalam mimpi, membuatnya merasa kalau Ayahnya cukup tersiksa di alam barzah, alasan itulah yang membuat Anggun memaafkan dan melupakan kesalahan Ayahnya serta bertekad untuk menyambung silaturahim dengan keluarga Almarhum Ayahnya.


Sementara Ayu, jantungnya berdegup lebih kencang, prasaan takut dan kawatir mendominasi suasana hatinya saat itu. Sebab, Butuh banyak waktu bagi Ayu mengumpulkan keberanian untuk mengungkap sebuah kebenaran ini, dimana Ia harus berkata jujur tentang masalalu nya dengan Almarhum Bambang kepada istri pertama nya yang mana dapat di pastikan kalau istri pertamanya akan sock dan marah, serta dipastikan akan ada penolakan.


Tapi ini semua demi Anggun, bagaimanapun juga Dia berhak tahu, siapa Ayah nya dan siapa saudara nya serta keluarga Ayahnya, pikir Ayu.


"Seperti nya , Alamat yang di berikan orang suruhanku benar ini !" Ujar Ayu pada Anggun.


"Beneran Ma ? Soalnya Aku pernah kesini"Anggun tak percaya, karna jalan yang Ia lalui saat ini adalah jalan menuju Rumah Baim, orang yang pernah di tabraknya.


"Memang nya ada perlu apa kamu kesini ?"


"Aku pernah nabrak orang, kemudian Aku mengantar nya pulang sampai ke rumahnya, ya di sini ini" Anggun antusias.


"Masak sih.".


Kemudian mobil yang mereka tumpangi pun berhenti di depan rumah Bu Hanum. Anggun semakin terperranjat, ternyata rumah yang mereka datangi memang benar rumah yang pernah Ia datangi beberapa waktu yang lalu.


"Ma.., Ini beneran Rumah orang yang Aku ceritakan sama Mama tadi."


"Sebaiknya kita pastikan dulu !."


"Assalamualaikum.."ucap Anggun sambil celingak celinguk mencari orang.


"Waalaikumsalam " Bu Hanum menjawab salam Anggun dan langsung menyambutnya dengan senyum saat mengetahui kalau yang datang adalah Anggun.


"Eh Nak Anggun, Bagaimana kabarnya?"Bu Hanum menyambutnya dengan senyum hangat.


"Alhamdulillah baik Bu, oh iya, kenalkan ini Mama Saya"

__ADS_1


Saat Anggun memperkenalkannya pada Bu Hanum, seketika tubuh Ayu menegang, rasa takut dan kawatir mulai menyerang nya lagi.


"Sa-saya Rahayu " Ayu memperkenalkan diri dengan pura-pura bersikap tenang.


"Saya Hanum, mari silahkan masuk !"


Mereka pun segera masuk dan dan segera duduk saat Hanum mempersilahkan,


"Apa benar ini Rumah Almarhum Pak Bambang?" Tanya Ayu.


"Iya"mendengar jawaban Bu Hanum, Anggun dan Mama nya lega, karna langsung menemukan yang mereka cari.


"Oh iya Bu, Baim ada di rumah?"Anggun juga bertanya


"Iya ada"


"Anak Ibu ada berapa ya " tanya Ibu yang terkesan seperti basa-basi padahal pertanyaan itu serius dari hati.


"Anakku dua, laki-laki semua"jawab Bu Hanum.


"Tolong panggilkan kedua anak Ibu juga, ada hal serius yang ingin Aku sampaikan tentang Pak Bambang pada keluarga ini" ucap Ayu, yang mencoba menyembunyikan raut wajah tegang nya.


Bu Hanum pun memanggil Baim, juga Nur, dengan tanda tanya besar. Sementara Arman tidak ada karna sedang bertugas di rumah sakit.


"Ini anakku dan menantuku, anak sulungku sedang berada di rumah sakit, karna Dia seorang dokter"


"Ohw iya tidak apa-apa"


Suasana mulai tampak tegang ,


"Sebelum nya Saya minta maaf jika nantinya apa yang Saya bicarakan ini akan membuat kalian marah, ini tentang Pak Bambang, tapi saya harap dengarkan dulu penjelasan saya sampai selesai" Bu Hanum semakin penasaran, begitu juga dengan Baim dan Nur.


"Dua puluh empat tahun yang lalu, saat Pak Bambang sedang bertugas di Pontianak, Mas Bambang menikahi seorang gadis sah secara agama"

__ADS_1


Deg.


Jantung Bu Hanum berdetak lebih kencang,


'Apakah ini yang di maksud suamiku, tentang sebuah penghianatannya, atau ini hanya rekayasa seperti Rani. Tapi wanita ini bicara tentang masa lalu' batin Bu Hanum.


Bu Hanum pun lebih memilih diam dan mendengarkan apa yang dibicarakan Ayu.


"Karna tugas nya dulu disana hanya enam bulan, Pak Bambang kemudian berpamitan pada istrinya itu sekaligus menceraikannya meski Pak Bambang tahu kalau istrinya sedang hamil, Bahkan Pak Bambang tidak mengakui anak itu. Karna takut ketahuan istri pertamanya"


'Astaghfirullahal adzim, Mas Bambang bukan hanya tega menghianatiku, tapi Dia juga tega menterlantarkan istri dan anaknya' pekik Batin Bu Hanum


"Kemudian istri Pak Bambang itu pun melahirkan seorang putri tanpa di dampingi suami. Wanita itu merawat dan menafkahi putrinya seorang diri, wanita itu sebenarnya ingin mencari Keberadaan Pak Bambang sekedar ingin memberitahukan bahwa anaknya sudah besar hingga saat putrinya itu berusia lima tahun, terdapat lah sebuah kabar kalau Pak Bambang meninggal dalam musibah tsunami di Aceh, dan wanita itu menganggap mantan suaminya sudah meninggal, juga anak nya yang sudah menanggap dirinya anak yatim.


"Astaghfiruahal adzim" Bu Hanum kini tak bisa menahan tangisnya, Ia tak bisa membayangkan penderitaan wanita yang telah di telantarkan suaminya.


"Kemudian, wanita beranak satu itu menikah kembali dengan seseorang lelaki yang baik, kemudian suaminya itu membawa wanita dan anaknya ke jakarta. Bertahun-tahun kemudian wanita itu ternyata bertemu dengan Pak Bambang, dan barulah Dia tahu kalau ternyata Pak Bambang masih hidup. Tapi putri masih belum tahu.


Namun beberapa hari yang lalu, kami mendapat kabar kalau Pak Bambang ternyata sudah meninggal.


Aku merasa harus menceritakan ini semua karna ini sudah waktunya memberitahukan pada putri Pak Bambamg itu kalau Ayah nya baru saja meninggal, putri itu kini sangat merindukan Ayahnya, meski Ayahnya sudah tak lagi berada di dunia ini" Ayu menghentikan ceritanya dengan menunduk dan meneteskan air mata.


"Dan anak itu adalah Anggun?" Terka Bu Hanum.


"Iya dan Aku adalah wanita yang pernah menjadi istri Almarhum, Anggun baru tadi malam Aku beri tahu tentang semua ini" Ayu terisak.


"Jujur sebenarnya Mas Bambang sering mendatangiku dalam mimpi, Dia meminta maaf padaku dan Dia juga tampak sedih dan pucat, seolah-olah Dia meminta Aku untuk memberitahukan ini pada Anggun dan juga pada kalian." Tambah Ayu.


"Maafkan Mas Bambang yang telah menyia nyiakanmu dan anakmu," bukannya marah, Bu Hanum malah memeluk Ayu.


"Mbak tidak marah pada kami"


"Justru Aku merasa sangat malu atas perbuatan Mas Bambang pada kalian. Aku tidak marah pada kalian, Mas Bambang lah yang pantas disalahkan, namun sekarang Dia sudah tiada dan Dia butuh maaf kita"

__ADS_1


"Saya memaafkan Ayah, karna akhir -akhir ini Ayah sering mendatangiku , meminta agar Aku mendoakannya, iya, beliau memang sangat butuh doa dan maaf dari kita" Bu Hanum juga memeluk Anggun, begitu juga Baim, meski sebenarnya ingatan nya belum pulih, dan mereka tampak senang dengan kehadiran Anggun.


Setelah itu mereka segera mengunjungi pusara Pak Bambang.


__ADS_2