Mendadak Dinikahi Brondong

Mendadak Dinikahi Brondong
Rindu Ayah


__ADS_3

Keluarga Ayu sangat harmonis, meskipun setelah kepergian suaminya, Ayu hidup bahagia bersama Anggun putri pertamanya dengan Bambang dan Yoga, putra dari suami keduanya.


"Terimakasih ya Ma, nasi goreng buatan Mama memang selalu enak " puji Anggun pada Ayu.


"Iya, kayak ada rasa cinta nya gitu , pasti karna Mama membuatnya dengan penuh cinta hmmm, Tiba-tiba Aku jadi kangen sama Papa, dulu kalau sarapan gini Papa selalu memuji Mama dan memberi semangat kepada kami, semoga Papa tenang disana." Ucap Yoga dengan raut wajah yang berubah sendu.


"Asalkan Yoga tidak lupa mendoakan Papa dan menjadi anak yang baik dan sholeh seperti Papa, Pasti Papa bahagia disana," ujar Ayu , sambil mengenang keharmonisan mereka bersama mendiang suaminya.


"Iya Ma, Yoga ingin seperti Papa , baik, Sholeh, bertanggung jawab dan sangat menyayangi keluarga" ujar Yoga yang memang sangat mengidolakan Papa nya.


"Amin..." semua mengucapkan Aminn.


"Oh iya Ma, tadi malam Anggun bermimpi bertemu dengan Papa kandung Anggun" sontak Ayu menyemburkan minuman yang sedang diminum nya,


"Terus ?"


"Dalam mimpi itu, Anggun di peluknya, kemudian Papa meminta maaf sama Anggun sambil menangis, dan Papa juga bilang kalau Dia ingin Aku menjeguk nya, Dia memintaku untuk menyelimuti nya, Dia butuh Aku. Katanya kalau mimpi minta diselimuti berarti Dia butuh doa, dan butuh di ziarahi ke kuburan nya ngomong-ngomong makam Papa dimana ya Ma?" Mendengar itu Ayu semakin gelabakan.


"Papa mu kan dulu terkena musibah tsunami, jadi mana Mama tahu makam nya" sergah Ayu.


"Kalau begitu Aku akan ke Aceh, Aku akan mencarinya sampai ketemu, minimal Aku akan berdoa di tempat yang banyak korban nya dulu, semacam kuburan massal gitu"


"Kenapa harus begitu?"


"Karna Papa selalu datang dalam mimpiku setiap malam selama 7 hari ini, Papa terlihat sedih dan menangis, memohon padaku untuk menjenguknya"


"Sebaiknya kamu berangkat kerja dulu, kita bahas ini lain kali" Ayu semakin tidak karuan mendengar pernyataan anak nya. Ayu tahu, sifat Anggun yang teguh pada pendiriannya, jika Ia ingin ke Aceh, berarti Ia sungguh-sungguh , dan itu yang sangat Ayu kawatirkan.


"Ayo mbak, kita segera berangkat, Aku ada ulangan, harus segera nyampe di sekolah secepatnya" ucap Yoga yang masih duduk di kelas sebelas sekolah menengah atas.


"Ayo, mari Ma, kami berangkat dulu, Assalamualaikum "


"Waalaikumsalam" jawab Ayu.


Anggun dan Yoga pun berlalu dari pandangan Ayu, Ayu benar-benar merasa tertampar, ternyata ikatan batin antara Anggun dan Bambang sangat kuat.


'Ternyata Selama tujuh hari Anggun di datangi Ayah nya dalam mimpi, dimana tujuh hari pula kematian nya, Ya Allah, ada apa ini, apa Aku begitu kejam tidak memberitahu tentaang Ayah nya pada Anggun' diam-diam Ayu menyesali.


Setelah mengantar adiknya ke sekolah, Anggun pun segera menuju ke kantor nya.


"Mama Aneh deh, kenapa Mama seperti tegang begitu bila Aku bahas Almarhum Papa, biasanya tidak begitu" Anggun bicara sendiri saat menyetir mobilnya, hingga tanpa sadar Ia menabrak sesuatu,

__ADS_1


" Astaghfurullohal adzim " Ia pun segera turun dari mobilnya dan melihat yang di tabraknya.


"Maaf, kamu tidak apa apa ?" Anggun merasa bersalah.


"Sebaiknya kita segers ke Rumah sakit dulu Mas, lihat, tangan dan kakimu terluka begini, maaf ya, tadi saya tidak sengaja" Anggun panik, Ia segera memapah orang yang di tabraknya.


Karna jalan menuju Rumah sakit macet, Anggun pun memilih pergi ke klinik.


Sesampainya di klinik, orang yang di tabrak Anggun segera di tangani, tangan dan kakinya memang luka ringan, tapi Anggun melihat orang yang di tabraknya itu seperti menahat sakit di kepalanya, yang membuatnya kawatir.


"Mas, mau kemana biar Aku anter, oh iya kenalkan, nama saya Anggun , nama Mas siapa?"


"Nama ku Baim, Entahlah Aku seperti tidak punya tujuan hidup" tiba-tiba Baim ingin curhat.


"Jangan bilang, Mas tadi itu ingin bunuh diri ?"Anggun terperangah.


"Tidak, bukan begitu, Saya hanya sedang marah pada diriku sendiri, maaf jadinya curhat"


"Tidak apa-apa, cerita lah" Anggun membenarkan posisi duduknya di lobi klinik yang saat itu sepi pengunjung .


"Aku pernah mengalami kecelakaan parah, Setelah mengalami kecelakaan itu, Aku hilang ingatan, semakin saya berusaha mencoba mengingat sesuatu, semakin sakit kepala ku"


"Yang membuatku semakin marah pada diriku sendiri adalah, ketika Ayahku meninggal 7 hari yang lalu, Aku bahkan tidak merasakan sedang kehilangan seorang Ayah, karna Aku memang tidak ingat pada nya"


"Ayahku sudah meninggal saat Aku berumur sekitar 5 tahun, Beliau adalah tentara, tapi Beliau gugur saat musibah tsunami, Aku belum pernah melihat wajahnya, kamu beruntung masih bisa bersama Ayahmu , meski Kamu hilang ingatan"


"Itulah yang membuatku marah pada diriku sendiri, Aku seolah kehilangan semuanya sejak ingatanku hilang" Baim merasa nyaman curhat pada Anggun, padahal mereka bertemu untuk pertamakalinya.


Ponsel Baim berdering.


"Halo Bu, Aku sedang di luar, iya, sebentar lagi Baim pulang"Baim menjawab panggilan ponselnya.


"Biar Aku antar "


"Tidak usah, nanti merepotkan !"


"Tidak, justru Aku merasa bersalah karna tidak mengantarmu, anggap ini bentuk tanggung jawabku, karna tadi Aku menabrakmu".


"Baiklah !" Baim pun menerima tawaran Anggun. Mereka pun akhirnya pulang menuju rumah Baim.


"Assalamualaikum "ucap Anggun sesampainya di rumah Baim.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," Nur menjawab salam nya setelah membukakan pintu, Namun seketika wajah nya berubah tatkala Ia melihat Baim bersama seorang perempuan.


"Maaf mbak, Aku tadi menabrak Mas ini, jadi Aku antar Mas nya pulang"ucap Anggun karna takut salah faham.


"Owh, mari silahkan masuk ! Mas Baim tidak apa-apa?" Nur panik.


"Aku tidak apa-apa" Jawab Baim datar, Ia masih bersikap dingin , sehingga mereka masih seperti orang asing, Baim pamit pada Anggun untuk masuk ke kamarnya.


"Siapa yang datang Nur ?" Sahut Bu Hanum dari dalam.


"Ini Bu, Mas Baim, di antar seseorang" kemudian, Nur juga permisi untuk masuk ke dalam dan membiarkan Anggun dan Bu Hanum berdua.


"Kamu siapa ?" tanya Bu Hanum.


"Perkenalkan Nama Saya Anggun Bu, Saya kesini mengantar Mas Baim karna tadi Saya menabraknya, tapi Saya sudah membawanya ke klinik kok!"


"Wajahmu sepertinya tidak asing bagiku, siapa nama Ibumu?" Bu Hanum merasakan kalau gadis di depan nya itu seperti tidak asing baginya.


"Rahayu, biasa dipanggil Ayu, memang nya Ibu kenal?"


"Tidak, Aku hanya mengira, siapa tahu kenal, "Bu Hanum mengira, Dia anak dari wanita yang mengaku istri dari mendiang suaminya.


"Oh iya, saya ikut berbela sungkawa, kata Mas Baim Ayah nya meninggal 7 hari yang lalu "


"Iya, terimakasih, Dia korban tabrak lari, dan nyawanya tidak bisa tertolong. Saya bersyukur, kamu masih mau bertanggung jawab pada Baim"


"Itu memang sudah kewajiban saya bertanggung jawab Bu, Ayah saya meninggal saat saya berumur 5 tahun, bahkan Saya tidak tahu wajah Ayah saya, Saya tidak se beruntung Mas Baim" ucap Anggun dengan Nada sedih.


"Kasihan, kamu yatim sejak kecil, kamu pasti merindukan Sosok Ayahmu"


"Tapi, Saat Ibuku menikah lagi, Suaminya adalah seorang Ayah sambung yang baik, Beliau sudah menganggapku sebagai anak kandungnya sendiri, dari beliau lah Saya bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah, tapi beliau sudah tiada tiga tahun yang lalu"


"Kamu beruntung"


"Oh iya, kalau begitu saya permisi dulu, saya mau ke kantor, takut terlambat , Saya merasa senang bisa kenal keluarga Ibu, Mar Bu, Assalamualaikum."Anggun pamit.


"Waalaikumsalam, Saya juga senang kenal denganmu nak, lain kali main kesini lagi ya"


"Iya Bu"


Anggun pun berlalu, Bu Hanum melepas kepergian Anggun dengan prasaan yang aneh, seolah Anggun adalah keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2