
Bagaimana vid, kamu bersedia jika tinggal bersama kami disini?" Tanya Pak Bagas.
"Hmmm, Aku sih mau saja, Nadia pasti juga mau, iya kan sayang ?" Ujar David tanpa bertanya dulu pada Nadia.
"Iya, Aku mau Mas." Jawab Nadia dengan tersenyum.
Sedangkan Bu Nita masih menatapnya dengan tatapan kebencian.
'Aku takkan biarkan kamu betah tinggal disini, Heh, kamu pikir bisa seenaknya kamu menikah dengan anak Saya yang mapan dan tanpan itu. sedangkan kamu hanya seorang janda beranak satu, dan sudah dua kali menjanda, bahkan pernah mendapat predikat pelakor, punya mimpi menikah dengan laki-laki mapan dan tampan seperti David, pokoknya awas aja kamu!.' Batin Bu Nita .
Setelah makan malam selesai. Dava dan David masih mengobrol berbagai permasalah dalam dunia mereka. Begitu juga Anggun dan Nadia yang kini sudah menjadi ipar.
Nadia memaklumi sikap mertuanya pada nya, karna sejak awal Bu Nita memang tidak mau menerimanya serta tidak menyukainya. Namun Ia tetap berusaha tenang, meski mertuanya sengaja memanas-manasinya.
Anggun, sang ipar merasakan kalau Ibu mertuanya sedang mengacuhkan Nadia, Tapi Dia berusaha untuk tidak mengabaikan nya. Demi menjaga prasaannya.
"Nadia, kamu itu mantan istrinya Mas Arman kan ya?" Sapa Anggun. Sebenarnya pertanyaan itu terasa nyeri di dengar, tapi Anggun tidak bermaksud menjatuhkan dengan pertanyaan itu.
"Iya, oh iya Aku baru ingat, kamu kan saudara satu Ayah sama Mas Arman ." Jawab Nadia ramah.
"Iya, ternyata dunia itu sempit ya ?" Anggun pun tersenyum sumringah.
"Apa kamu sering bertemu Rangga?". Anggun mencoba mencairkan suasana dengan mengajaknya ngobrol , saat mereka berdua saja di ruang tamu.
"Tidak sering sih, hanya seminggu sekali. Sebenarnya pingin nya setiap hari, tapi dulu saat Rangga bersamaku, Aku malah mengabaikannya. Jadi Aku terima kondisinya sekarang, jika Rangga lebih suka tinggal bersama Ibu sambung nya,". Nadia datar.
"Jika Ibu mertua kita belum bisa menerimamu, kamu yang sabar ya, suatu saat pasti Dia akan menerimamu. Dulu sebenarnya, beliau tidak menyukaiku, tapi ketika Mas Arman memberi pengertian, akhirnya Mama Mas Dava menerimaku," Anggun menyemangati Nadia.
"Tapi Aku rasa, Mungkin ini memang karma untukku. Karna dulu, Aku sering membantah dan menyakiti hati Ibunya Mas Arman. Mengingatnya, Aku jadi teringat akan kebaikan dan kasih sayang nya pada ku ," guman Nadia sedih.
"Iya nih, Aku juga kangen sama beliau, sudah lama Aku tidak bertemu dengan nya,".ujar Anggun.
Dan obrolan mereka pun berlanjut seru, tentunya dengan topik yang berubah-ubah.
__ADS_1
****
Sementara itu, sudah beberapa hari ini Bu Hanum di rawat di rumah sakit. Ia Masih merasakan sakit di perutnya, obat-obatan yang di berikan Arman tidak bereaksi sama sekali.
"Armannnnn...perut Ibu sakit lagi, Aduhhhh.." malam itu Bu Hanum meronta kesakitan sambil memegangi perutnya. Arman pun panik.
"Iya Bu, Arman juga sedang berusaha agar Ibu tidak kesakitan lagi, tapi rasa sakit yang dialami Ibu ini tidak bisa terdeteksi oleh medis. Ibu yang sabar ya Arman akan berusaha lagi."ujar Arman menenangkan Ibunya.
Malam itu, Bu Hanum yang kesakitan terus meronta- ronta . Sakit nya kadang berhenti sebentar , tapi kambuh nya lama
Arman yang menemani Ibunya sendirian itu tidak bisa berbuat apa-apa meski Ia seorang dokter selain menenangkan nya.
"Aduh.....Arman...perut Ibu kambuh lagi ," Bu Hanum mengerang lagi, setelah tadi sakitnya hilang sebentar.
Arman pun tambah panik.
Tiba-tiba ada seorang yang tak sengaja lewat di depan kamar Bu Hanum di rawat. Kemudian orang itu mengetuk pintu dan mengucap salam dan Arman pun segera membukanya.
"Waalaikumsalam, Maaf anda siapa ya ?" Arman menatap heran laki-laki yang berada di hadapan nya itu. Laki-laki itu mengenakan peci putih dengan baju koko serta mengenakan sarung. Dari gaya nya, Arman kini yakin kalau orang tersebut mungkin seorang ustad.
"Maaf, Saya Hamzah , Tadi Saya lewat, tak sengaja mendengar teriakan Ibunya kesakitan, dan Saya mencium ada aura hitam yang meliputi kamar ini, boleh Saya melihatnya !" Ucapnya.
"Mari silahkan masuk Ustad, Maksud Ustad, Ibu Saya terkena guna-guna, gitu ??! " Arman semakin panik.
Kemudian Hamzah memperhatikan sekeliling Bu Hanum dengan seksama, Ia mengangkat tangannya di atas Bu Hanum, seolah mendeteksi sesuatu dengan meraba tanpa menyentuh.
"Saya tidak bisa menyimpulkan secara langsung, tapi saran Saya mungkin sebaiknya, Ibu ini tidak di obati secara medis. Alangkah baiknya jika Ibu anda diobati dengan metode ruqyah saja," saran Hamzah
"Apakah saudara bisa mengobati Ibu saya?"
"Saya hanya bisa meruqyah yang standar saja, karna itu mengapa Tadi Saya bisa merasakan aura ilmu hitam saat Ibu kesakitan. Tapi kalau untuk mengobati dari santet ataupun teluh, Saya belum bisa. Namun, guru saya insyaAllah bisa ," ujar Hamzah.
" Bisa tolong antar kami berobat ke guru ustad ?" Arman penuh harap.
__ADS_1
"Bisa, mungkin besok bisa Saya antar. Oh iya, Saya disini sedang menunggui Bapak Saya yang sedang di rawat juga, beliau habis operasi batu empedu, besok istri Saya yang akan mengganti Saya, jadi besok Saya bisa mengantar anda." Ujar Hamzah.
"Terimakasih ustad dan Semoga Bapak anda segera pulih ,"jawab Arman.
Keesokan harinya.
Arman membawa Ibunya ke kediaman Ustad Danu, guru dari Hamzah.
Disana Bu Hanum sudah dibaringkan di tempat khusus. Setelah Arman menceritakan yang di alami Ibu nya, ustad Danu langsung menangani nya.
"Iya, sakit Bu Hanum memang sengaja di kirim oleh seseorang yang dengki," ujar Ustad Danu sembari memberi minum air putih yang sudah di bacakan ayat-ayat suci Al qur an.
"Siapa orang yang tega mengirim sihir itu Ustad ?"Arman geram.
"Kita tidak bisa langsung mengetahui secara gamblang apalagi menyebutkan siapa yang mengirimkan sihir itu. Sebab itu masalah gaib yang cendrung mengarah pada fitnah.
Biasanya orang yang terkena sihir, akan bermimpi di datangi orang yang diperidiksi mengirimi sihir itu. Hal tersebut sebenarnya hanya opini yang di dengungkan syetan agar msnusia mencurigai sesama nya." Papar Ustad Danu.
"Jadi kita tidak bisa tahu siapa yang mengirim sihir ke Ibu?" tanya Arman yang didampingi Hamzah.
"Sebenarnya tugas kita hanya fokus menyembuhkan , bukan mencari tahu siapa yang mengirimi sihir ini." Ujar Ustad Danu. Kemudian Arman diam karna memang Ustad Danu sedang khusu' membaca ayat-ayat ruqyah pada Bu Hanum.
Bu Hanum tampak meraung semakin kesakitan. Ustad Danu tak berhenti membaca ayat-ayat, sementara ada Bu Hanum dipegangi seorang wanita yang merupakan santri ustad Danu yang khusus membantu jika ada pasien perempuan.
Ternyata semakin lama Ustad Danu membacakan ayat-ayat ruqyah, Bu Hanum semakin berteriak kesakitan dan itu berlangsung hampir setengah jam , hingga akhirnya Bu Hanum Diam dan tenang seiring selesai nya bacaan yang dibacakan ustad Danu.
"Alhamdulillah, kondisi Bu Hanum sekarang sudah lebih baik, karna sihir yang dikirim orang itu sudah Aku keluarkan , tapi Bu Hanum masih butuh terapi mandiri yang harus Ia laksanakan sendiri agar sihir itu tidak lagi mengenai nya.
Nanti akan Saya kasih dzikir dan wirid yang harus Bu Hanum baca ," ujar Ustad Danu.
"Terimakasih banyak Ustad, Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa terimaksih ini." Arman sangat bersyukur.
"Jangan berlebihan seperti itu, ini semua atas ijin Allah.
__ADS_1