
Sesuai janji Dafa pada Anggun. Malam itu, Dafa datang ke rumah Anggun dengan kedua orang tuanya untuk melamar Anggun, Ayah Dafa sangat senang dengan rencana Dafa yang akan segera menikah, sementara Ibu Dafa seperti sengaja memasang wajah kurang ramah pada keluaraga Ayu yang memang sejak awal kurang menyukai Anggun.
Anggun menyambut hangat keluarga Dafa, hanya bersama Ibunya. Tanpa kehadiran sosok orang tua laki-laki, karna Ayah kandung maupun Ayah sambung nya memang sudah tiada.
"Baiklah, sebagaimana kita ketahui, Kedua anak kita sudah sepakat untuk saling mengikat cinta mereka dalam pernikahan, pertemuan ini hanya untuk menyambung silaturahim dan membuat kesepakatan untuk pesta pernikahan yang akan diselenggarakan nanti.
Oh iya, Ayah dari Anggun katanya sudah lama tiada, Saya hanya ingin tahu, siapa yang akan menjadi walinya nanti?" Pak Bagas, Ayah dari Dafa membuka percakapan keluarga itu, setelah beramah tamah sebelumnya.
Mendengar pertanyaan itu, Ayu tergugu, Ia bingung harus menjawab apa.
"Kami akan menggunakan wali hakim saja Pak!" Jawab Ayu.
"Apakah Anggun itu anak hasil dari hubungan di luar nikah?" Tanya Bu Nita yang sengaja memanfaatkan hal itu.
Seketika suasana menegang.
"Ma, kok bertanya seperti itu sih?"ujar Dafa yang langsung merasa tidak enak pada Anggun dan Ibunya.
"Pertanyaan Mama benar kan, apa nya yang salah?"
"Maaf Bu, Anggun bukan anak hasil hubungan di luar nikah, Dia anak yang sah, Ayah Anggun wafat saat musibah tsunami di Aceh , Ayahnya adalah seorang tentara, dulu kami menikah secara sah dimata agama di kampungku, disaksikan banyak orang" Ayu mencoba untuk tenang.
"Kalau begitu, pasti Almarhum punya saudara atau orang tua, atau apa lah yang bisa menggantikan Ayah nya menjadi wali dari Anggun" Bu Nita masih bersikeras dengan pertanyaannya.
"Kami tidak tahu saudara atau keluarga dari Almarhum,"
"Itu mustahil, pernikahan macam apa itu, sehingga tidak tahu keluarga suami, jangan-jangan kamu juga tidak tahu suamimu berasal dari mana dan di mana rumahnya"
"Ma, kenapa Mama mrmpermasalahkan yang tidak penting seperti ini"Dafa kembali mencoba mengingatkan Ibunya.
"Justru ini sangat penting bagi kami, anak kami ini lahir dari keluarga terhormat dan Saya berharap calon menantu kami juga jelas bebet bobot dan bibit nya, sekarang tentang Ayah nya saja tidak jelas begini, bagaimana mau jadi bagian dari keluarga kami" keukeh Bu Nita.
"Sudah cukup nyonya ! kami memang tidak sepadan denganmu, sudah cukup penghinaan yang kau lontarkan pada keluarga kami, Anggun anak Saya yang sah, Dia wanita terhormat dan anak dari keluarga yang terhormat, Ayah nya seorang tentara yang gugur, hanya karna kami tidak tahu keluarga Almarhum , Ibu tidak bisa seenaknya menghina kami seperti itu" Ayu mulai terpancing emosi.
"Jujur, dari dulu Aku tidak suka dengan hubungan Dafa dan Anggun, Saya juga terpaksa datang kesini karna dipaksa Dafa" ujar Bu Nita.
"Saya tidak bisa terima perlakuan Nyonya pada kami, bagaimana keadaannya anak Saya nanti jika Dia punya mertua jahat seperti anda" Ayu semakin geram dengan ucapan Bu Nita.
"Saya juga tidak mau mempunyai menantu tidak jelas seperti Dia" tambah Bu Nita lagi.
"CUKUP MAMA ! Hentikan Ma! Jaga sikap dan ucapan Mama" Pak Bagas mulai marah.
"Sudah cukup penghinaan nyonya pada anakku, sebaiknya kalian pergi saja dari rumah ini!" Akhirnya Ayu mengusir mereka.
"Bu, Saya mohon maafkan sikap dan perkataan istri Saya!" Pinta Pak Bagas.
"Kenapa Papa minta maaf, kita tidak bersalah Pa, mereka hanya keluarga yang tidak jelas saja !"
__ADS_1
"Mama ! Dafa mohon, mintalah maaf pada mereka" Dafa membujuk Ibunya.
"Tidak, mama tidak bersalah"Bu Nita masih keukeh.
"Sebaiknya kalian pergi saja dari rumah orang yang tidak jelas seperti kami ini "
"Ma...tolong ma jangan bersikap seperti ini ma, minta maaflah pada Bu Ayu." ujar Dafa pada Ibunya.
"Ma tolong maafkan Mama nita !"Anggun juga membujuk Mamanya untuk memaafkan calon mertuanya itu.
"Aku sangat mencintai nya jangan sampai pernikahan ini gagal hanya karna sikap mama"Dafa merendah.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini, males Aku disini !"ucap Bu Nita.
"Ma.."Dafa terlihat sedih dan kecewa pada Mamanya.
"Saya sudah punya calon yang cocok dan sebanding denganmu, Anggun itu tidak jelas orang tuanya"ucap Bu Nita sesaat setelah keluar dari Rumah Anggun.
Setelah itu, terjadi perdebatan sengit antara Anggun dan Ibunya.
"Mama, tolong jelaskan, siapa sebenarnya Ayah Anggun, tolong katakan Ma, tolong, dari dulu mama hanya mengatakan kalau Ayah seorang tentara, selebihnya Anggun tidak tahu apa-apa tentang Ayah"
"Sudahlah, itu tidak penting"
"Ini sangat penting untukku Ma"
"Apah, Ayah tidak mengakui ku ? Mama bicara yang jelas Ma, Saya anak perempuan, Anggun butuh seorang Ayah atau keluarga dari Ayah untuk menikah, atau kalau tidak Anggun yang akan mencarinya sendiri ke Aceh"
"Baiklah, Mama akan cerita yang sebenarnya, tapi beri Mama waktu, besok Mama ceritakan"
~~ ** ~~
Pagi itu, Tukang sayur yang biasa nongkrong di komplek perumahan kediaman Bu Hanum, sedang asyik melayani pembeli nya yang kebanyakan Art ataupun Ibu-ibu penghuni komplek, dan sudah banyak yang memilah dan memilih dagangan nya.
"Bu Ajeng, Bu Hanum itu sudah lama ya gak keluar rumah,?" Ucap Bu Rahma, salah satu penghuni komplek.
"Kan kalau ditinggal mati oleh suami, Istri memang belum boleh keluar rumah selama empat bulan sepuluh hari, itu masa iddah nya Bu." Sahut kang Sayur
"Bukan karna itu sih menurutku, Bu Hanum itu pasti malu karna pas hari dimana suami nya meninggal, ada perempuan yang ngaku istrinya pak Bambang," ujar Bu Ajeng.
"Iya juga sih, waktu itu Aku berada disitu "
"Kasian ya bu Hanum, dia pasti sedih ternyata selama ini pak Bambang menghianatinya"sahut Bu Indri
"Iya, Bu Hanum pasti sangat malu, sakit tak berdarah, sebab tahu penghianatan suaminya justru di hari kematiannya..." Bu Rahma menghentikan ucapannya karna tiba-tiba Nur datang.
"Bang, pesanan ayam saya sudah ada ?"tanya Nur setelah tersenyum menyapa Emak-emak yang sedang beli sayur.
__ADS_1
"Ada mbak nur, ini sudah Saya siapkan."
"Makasih bang, oh iya tambah kan tempe sama tahu. Juga tomat dan cabe nya sekalian." tambah Nur, Kang sayur pun sibuk membungkuskan nya.
"Mbak nur, gimana kondisi Bu hanum sekarang?" Tanya Bu Ajeng.
"Iya, lama sekali dia gak kluar, Mbak nur kayaknya juga baru kluar sekarang" ujar Bu Rahma.
"Alhamdulillah, mertua saya sehat kok, beliau tidak keluar karna sedang menjalani masa iddah Bu, Saya juga baru sempet keluar, karna suamiku sedang sakit" Ujar Nur Ramah, tapi sebenarnya Ia malas meladeni Ibu-ibu itu.
"Sakit apa mbak?" Ajeng sok kaget.
"Habis kecelakaan".
"Ini Mbak , belanjaan nya, total semuanya 127 ribu !"Ujar kang Sayur.
"Terimakasih ya Bang , ini uang nya !" Ucap Nur yang kemudian pamit pada Ibu-ibu.
"Ada dosa apa ya keluarga bu Hanum, sudah suami meninggal, istri mudanya datang dan anak bungsunya kecelakaan juga belum sembuh-sembuh" ujar Bu Rahma setengah berbisik, namun terdengar oleh Nur.
"Iya, kemarin Aku lihat Alfin aku tegur gak nyahut, kayak orang linglung gitu" Bu Ajeng membenarkan.
"Lebih mirip Kayak orang gak warah sih menurutku." tambah Bu Indri
"Maaf bu Ibu, suami saya tidak gila atau linglung, dia hanya sedang Amnesia "Nur yang samar-samar mendengar itu merasa panas.
"Berarti bener dong, dia linglung, pasti dia lupa sama istrinya" ujar Bu Ajeng.
"Tapi bu, kemarin aku lihat Alfin itu dianter wanita cantik, kayaknya wanita kantoran gitu" Tambah Bu Rahma
"Wanita itu orang yang menabrak suamiku, jadi dia hanya mengantar sebagai pertanggung jawaban," ujar Nur.
"Buat apa kalian mengurus urusan orang lain, sebaiknya urus saja kehidupan kalian masing-masing, jangan buat pahala kalian hilang sia-sia krn nge gosipin orang" tiba-tiba Baim hadir di antara mereka dengan nada marah. Kemudian segera menarik Nur untuk segera pulang.
"Kamu mengapa ngeladenin mereka, mereka tidak akan pernah berhenti berkomentar pada kehidupan orang lain, mereka tak akan pernah puas membicarakan orang lain sudah belinya ngutang, suka ngomongin orang, mengunjing orang, pamer, makanya Aku males jadi tukang sayur " sesampainya di depan rumahnya, Baim mengomel.
"Mas Baim ??!"Nur terkesiap
"Apa,?"
"Mas Baim ingat kalau dulu pernah jadi tukang sayur?"
"Aku pernah jadi tukang sayur?" Baim tidak yakin
"Iya, tadi mas baim yang bilang sendiri"
"Benarkah ?"Baim masih belum yakin
__ADS_1
"Terimakasih ya Allah !"Nur memeluk suaminya dengan rasa syukur dan haru.